Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Bantulah Aku


__ADS_3

Malam yang panjang telah usai diganti dengan hari yang menampakan suasana pagi yang cerah. Sinar mentari pagi sudah menembus ruang kamar luas yang berada di lantai dua sebuah rumah mewah.


Arzan menggeliat, merasa terusik dengan kemunculan mentari yang sinarnya sudah menembus kamarnya melalu jendela besar yang tirainya sudah dia buka sejak subuh tadi.


Selesai melaksanakan kewajiban subuhnya, rasa kantuk kembali menyerang. Arzan tak kuasa menampik hingga akhirnya dia kembali bergelut di bawah selimut tebal di atas ranjang king sizenya.


Tidak ada yang berani membangunkannya, hingga akhirnya dia sendiri terbangun dengan wajah berkerut karena ternyata pagi sudah menjelang.


Bukan tanpa alasan dirinya merasakan kantuk berat seusai subuh. Semalam dirinya baru keluar sekitar pukul dua pagi dari ruang kerjanya.


Arzan yang sudah berhasil mengumpulkan nyawanya, belum terlihat akan beranjak dari tempat tidurnya. Di bukanya selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan sebelah tangannya.


Dengan tubuh yang masih terlentang, dia melipat kedua tangan dan menyimpannya di bawah kepala sebagai bantal.


Matanya menatap langit-langit kamar putih polos. Bayangan peristiwa semalam kembali hadir dalam ingatannya. Kedua sudut bibirnya terangkat saat dirinya mengingat semua rangkaian peristiwa semalam yang terjadi antara dirinya dengan Tiara.


"Tuan...." Tiara menahan dada Arzan yang sedikit menjauh setelah melepas pagutannya. Namun lagi-lagi Arzan mengulangnya kembali, ternyata dia hanya memberi jeda sebentar untuk dirinya dan Tiara mengambil nafas.


"Tu...." mulut Tiara kembali dibungkam untuk ke sekian kalinya, Arzan terus menyerangnya. Dia tidak memberi kesempatan pada Tiara untuk menyelesaikan setiap kalimatnya.


Tiara pun pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Berkali-kali dia berusaha mencoba melepaskan diri dari kungkungan suaminya tapi tenaganya jauh kalah besar.


Tiara sudah terlentang pasrah di atas sofa empuk di ruang kerja Arzan. Sofa yang sebenarnya hanya muat untuk satu orang jika digunakan untuk posisi tiduran terlentang. Tapi entah bagaimana caranya nyatanya kini sofa itu dihuni oleh dua insan yang saling menumpahkan rasa yang ada di hatinya masing-masing.


"Tuan....anda ..." Tiara mulai bisa berbicara dengan jelas setelah Arzan puas dengan apa yang dilakukannya.


Arzan menarik Tiara untuk kembali ke posisi duduk dan merekapun duduk berhadapan dengan tatapan yang masih saling beradu.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, jangan panggil aku tuan. Aku adalah suamimu" bisik Arzan di telinga Tiara yang membuatnya meremang seketika. Arzan kembali menjalankan aksinya menikmati bibir merah muda yang sudah seperti magnet yang membuatnya selalu tertarik ingin mencumbunya.


"Tuan, kenapa anda melakukan ini?" tanya Tiara dengan suara seakan tercekat di tenggorokan akibat serangan bertubi suaminya,


"Kenapa? bukankah aku berhak atas dirimu?" Arzan balik bertanya dengan santainya, senyuman yang terlihat menakutkan bagi Tiara tersungging di bibirnya.


"Tapi saya takut...." Tiara menjeda ucapannya, dia menatap dalam netra indah milik Arzan yang baru kali ini bisa dia nikmati begitu lsm. Wajah Arzan pun berjarak begitu dekat dengan wajahnya,


"Takut apa heumm...?" tanya Arzan, dia mengusap lembut pipi Tiara yang sudah merona sejak tadi, jarinya menyusuri setiap lekuk wajah Tiara dengan penuh kelembutan. Tatapannya tak sedikit pun beralih dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu sejak cukup lama,


"Saya takut saya tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada tuan" jawab Tiara pelan, dia menundukkan sedikit kepalanya karena saat ini wajahnya semakin memanas setelah mengatakan itu


Sebagai wanita dewasa normal, dirinya mengakui jika hatinya begitu mendamba sosok yang kini berada tepat di hadapannya itu, bohong jika dirinya tidak tertarik. Siapapun wanitanya pasti tidak akan bisa menolak pesona duda beranak satu ini.


"Memangnya kenapa kalau kamu jatuh cinta padaku? memangnya selama ini kamu belum mencintaiku?" Arzan masih betah mendaratkan tangannya pada wajah putih bersih itu,


Bagaimana dia bisa percaya diri jika Arzan akan mencintainya, beberapa kali dirinya seolah diberi harapan karena sikap manis suaminya itu namun kembali dijatuhkan dengan kenyataan jika Arzan hanya menganggapnya sebagai pengasuh Qiana.


Deg.....Arzan merasa tertampar dengan rangkaian kalimat yang keluar dari bibir mungil Tiara, bibir yang sejak tadi dinikmatinya namun kini mengucapkan kalimat yang cukup menohok hatinya.


"Aku...." Arzan memalingkan wajahnya, dia menurunkan tangannya dari pipi Tiara dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sedikit menjauh dari posisi gadis itu.


"Saya tahu tuan, saya adalah wanita halal untuk disentuh oleh tuan. Saya akan menerima jika tuan menginginkannya karena saya sadar sebagai istri ridho suami adalah segalanya. Saya bangga telah menyerahkan apa yang selalu saya jaga selama ini pada laki-laki halal saya, walau pun saya tidak tahu perasaan seperti apa yang tuan rasakan saat menyentuh saya" ucapan Tiara kembali membuat dada Arzan terasa sesak, sejahat itukah dirinya sebagai suami memperlakukan istrinya.


"Aku cemburu!" ucap Arzan tegas,


Tiara mendongakkan wajahnya, matanya kembali menatap dalam Arzan mencari maksud dari apa yang diucapkan suaminya itu.

__ADS_1


"Aku cemburu. Aku cemburu mengetahui kamu selama tiga hari kemarin bersama Kemal di sana. Aku cemburu melihat Nathan mendekati kamu dengan tatapan memuja, dan aku pun cemburu saat mantan kekasihmu kembali mendekatimu karena menyesal telah meninggalkanmu" jelas Arzan panjang lebar, dia akhirnya menepis egonya. Perasaan di hatinya sudah terlalu membuncah, tak mampu lagi untuk dipendamnya.


"Apakah menurutmu aku sudah mencintaimu karena aku cemburu?" tanya Arzan pada Tiara yang hanya bengong mendengar semua pengakuan Arzan.


Baru kali ini dia mendengar suaminya itu berbicara cukup banyak padanya, apalagi yang dibicarakannya adalah tentang perasaannya terhadap dirinya. Tiara mematung, terkesiap mendengar semua yang Arzan katakan.


"Mulai saat ini aku minta jangan pernah dekat atau berinteraksi secara sengaja lagi dengan mereka, aku tidak rela" lanjut Arzan membuat Tiara semakin terkesiap, lidahnya kelu tak mampu berucap satu patah katapun.


"Tuan.... saya....." ucapan Tiara kembali terjeda,


"Maafkan perlakuanku selama ini. Aku sadar ternyata aku memang sudah terjebak dalam cinta tulus yang diberikan seorang gadis tukang cuci piring untuk putriku. Dan mulai malam ini tolong bagilah cinta tulusmu untuk Qiana dengan diriku" Arzan mengatakannya dengan tatapan penuh harap, imej seorang Arzan yang terkenal dingin dan tegas itu sungguh sirna malam ini.


"Tapi tuan...bagaimana dengan nona Mitha?" Tiara menghela nafas menjeda ucapannya, dia menatap dalam Arzan yang tak merespon apapun saat dirinya menyebut nama almarhumah istrinya.


"Selama tuan belum bisa mengobati rasa trauma karena kepergian nona Mitha, selama tuan tidak berdamai dengan masa lalu, selama itu saya tidak akan pernah mampu menempati ruang hati tuan. Karena tuan tidak memberikan celah sekecil apapun untuk saya memasukinya"


"Tuan, bukan ragamu yang harus ditaklukkan tapi rasa traumamu yang harus dipadamkan. Selama tuan tidak memaafkan masa lalu tuan, tuan akan terus menyakiti siapapun yang mencintai tuan " lanjut Tiara berbicara dengan tenang dan penuh kelembutan.


"Beri aku waktu, dan bantu aku" ucap Arzan mantap, dia menatap Tiara dengan mata yang sayu. Perlahan tangannya tergerak meraih bros dagu jilbab Tiara,


Arzan melepaskan bros itu dengan sebelah tangannya, satu tangannya yang lain kemudian terulur untuk membuka jilbab yang menutupi kepala Tiara.


Semenjak menikah belum sekalipun Arzan melihat Tiara melepaskan jilbabnya. Bukan tanpa alasan Tiara melakukannya, sikap Arzan yang membatasi privasinya dan menyatakan jika Tiara hanya dinikahi untuk mengasuh putrinya membuat Tiara enggan untuk memperlihatkan mahkotanya pada Arzan. Selama ini dia selalu menjaganya dengan baik.


Arzan menatap Tiara tanpa kedip, jilbab yang digunakan Tiara sudah terlepas sempurna. Kini menampilkan rambut hitam tebal yang di ikat tinggi membuat leher jenjang nan mulus istrinya itu terekspos sempurna.


"Dan bantulah aku untuk melupakan masa laluku dan melepaskan rasa bersalahku mulai malam ini" Arzan kembali meraup bibir ranum yang sudah menjadi candunya, tidak ketinggalan tangannya pun sudah bergerilia menyusuri leher jenjang putih mulus yang tampak menggoda itu.

__ADS_1


__ADS_2