
Bughh.....
Satu pukulan mendarat di wajah Nathan, tanpa mempedulikan siapapun yang ada di ruangan itu Arzan melakukan apa yang ingin dia lakukan, meninju Nathan tepat di wajahnya.
"Brengsek, bicara apa lo!" sentak Arzan setelah Nathan tersungkur karena dia tidak menghindar saat pukulan Arzan memburunya.
"Arzan!" teriak mami Ratna yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kebrutalan sang putra yang membabi buta memukuli Nathan yang tak kunjung melawan membuat Arzan semakin terpancing emosi. Dia terus melayangkan tinjunya ke wajah Nathan yang kini sudah tergeletak di lantai.
Teriakan mami Ratna tampaknya diabaikan Arzan, dia benar-benar melampiaskan kemarahannya pada Nathan, sampai akhirnya mami Ratna meminta Arga dan Bayu untuk menghentikan kebrutalan Arzan.
"Bro, sudah cukup. Lo harus tenang biar bisa berpikir dengan benar" Arga mengingatkan, dia bersama Bayu dengan susah payah menarik Arzan yang menindih Nathan dan terus melampiaskan kemarahannya.
"Diam lo! Lo tahu apa yang dikatakan bajingan ini? Lo dengar kan? dia bilang Qiana anaknya. Jadi selama ini antara mereka benar-benar terjadi hubungan? bukan si brengsek ini saja yang terobsesi sama istri gue?" teriak Arzan pada Arga, asisten sekaligus sahabatnya pun akhirnya menjadi sasaran dan Arga pun tidak jauh beda hanya diam mendengarkan, membiarkan Arzan mengeluarkan isi hatinya dan meluapkan kemarahannya.
"Makanya lo harus tenang, walau bagaimana pun inilah kenyataannya sekarang dan lo harus bisa terima itu" Arga kembali berusaha menenangkan Arzan, namun sayang pernyataannya justru semakin memantik amarah Arzan.
"Apa? Apa maksud lo bilang begitu? jadi selama ini lo juga sudah tahu dengan kebenaran ini? Lo sudah tahu jika si brengsek ini ayah biologis Qiana?" cerca Arzan, membuat Arga menegang. Kemarahan Arzan kali ini bukan main-main, namun Arga harus tetap berusaha tenang.
"Ya, gue tahu" jawab Arga pelan namun terdengar jelas di telinga Arzan,
Bughhh.....satu tinju kembali melayang dan mendarat tepat di pipi Arga.
"Brengsek lo! Kalian semua brengsek. Kenapa lo gak bilang?kenapa lo bohongin gue?" Kemarahan Arzan semakin meledak, namun kali ini Arga tidak tinggal diam. Dia akan berusaha membuat Arzan sadar.
"Dengar, kalau dulu gue bilang bahwa istri yang sangat lo cintai itu sudah bersedia tidur dengan sahabat lo sendiri, apa lo akan percaya, hah? Bukankah sejak dulu lo memang sudah dibutakan dengan cinta? Sampai-sampai hal yang begitu terlihat jelas di mata semua orang nyatanya tampak kasat di mata lo!"
"Lo sadar, mikir.... apa yang membuat istri lo seperti itu? Mitha bilang lo terlalu sibuk dengan pendidikan dan pekerjaan lo sampai dia merasa sangat kesepian hingga akhirnya dia memilih mencari kehangatan dari laki-laki lain yang jelas-jelas sangat mencintainya, sahabat lo sendiri. Gue saksi hidup bagaimana malam itu istri lo datang ke apartemen Nathan sambil menangis karena alasan lo tak kunjung pulang dan lebih memilih menyelesaikan pekerjaan di banding merayakan anniversary kalian!" Arga berbicara berapi-api, membuat Arzan seketika membatu.
__ADS_1
Deg....Arzan mendongak, menatap Arga yang menatap tajam padanya. Raut wajahnya seketika berubah, tubuhnya terlihat melemah, dia terduduk seketika di lantai, pikirannya melayang ke beberapa tahun silam saat dirinya kehilangan sang ayah secara tiba-tiba dan terpaksa menjadi penerus perusahaan besar yang sedang bergejolak karena ditinggalkan sang pemiliknya secara tiba-tiba.
Arzan ingat betul jika saat itu dirinya yang baru menyelesaikan studinya dari luar negeri dan berharap dapat segera berkumpul dengan istri tercintanya dihadapkan dengan kenyataan jika sang ayah meninggal dan sang ibu cukup terpukul karenanya, hingga sempat depresi. Keadaan perusahaan yang tidak stabil pun membuat dia harus kembali meninggalkan Mitha karena tugas berat yang diembannya yaitu menyelamatkan perusahaan sang ayah.
Bukan hanya Mitha yang saat itu harus kembali terkorban tapi juga Arzan, kerinduannya yang tak kunjung terbalas karena jarak kembali memisahkan mereka. Namun Arzan berusaha menahan diri, dia berusaha keras untuk mengembalikan perusahaannya agar kembali stabil, meyakinkan banyak investor agar tetap mempertahankan kerja sama mereka dan meyakinkan mereka jika di tangannya perusahaan akan baik-baik saja dan akan lebih berkembang. Dia bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah tiada lain dan tiara bukan supaya bisa segera kembali ke tanah air dan kembali berkumpul dengan orang-orang tercintanya, istri dan ibunya.
Arzan selalu menjaga hatinya, sesibuk apapun dirinya dia tetap menjaga intensitas komunikasinya dengan Mitha. Arzan selalu memastikan Mitha tidak kekurangan sesuatu apapun. Selain mereka selalu bertukar kabar, Arzan bahkan menyiapkan orang kepercayaannya yang tak lain adalah Arga untuk menjaga istrinya tanpa sepengetahuan Mitha. Yang Mitha tahu saat itu Arga hanya sahabat yang dijadikan orang kepercayaan Arzan untuk mengurus perusahaannya yang ada.dindalam negeri. Namun apa yang didengarnya saat ini, sungguh tidak pernah terlintas di pikirannya. Bagi Arzan kesetiaan adalah tingkatan mencintai paling tinggi dan dia sangat menjunjung tinggi hal itu.
Dia tidak menyangka jika Mitha tega menghancurkan kepercayaan dan mengkhianati cintanya.
"Arrggghhhh....." Arzan berteriak dan melukai tangannya dengan meninju dinding, dia merasa benar-benar hancur. Cintanya untuk Mitha yang selalu diagung-agungkan nyatanya hanya bom waktu yang akhirnya meledakan kenyataan yang membuat hatinya terluka dan harga dirinya terkoyak.
"Arzan"
"Mas"
Bersamaan mami Ratna, Tiara dan Bayu berteriak memanggil Arzan saat melihat darah bercucuran dari punggung tangannya. Tiara yang akan mendekat mendadak berhenti karena Arga melarangnya lewat gelengan kepala. Dia takut jika Arzan lepas kendali dan malah melampiaskannya pada Tiara.
Tok...tok...tok...
Ketukan pintu mengalihkan perhatian semua orang yang tampak syok dengan peristiwa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Seorang perawat tiba-tiba masuk dan berbicara dengan paniknya.
"Permisi, maaf dokter Bayu. Pasien atas nama Qiana kritis, kata dokter Rendra harus segera dilakukan tindakan operasi. Beliau menunggu anda" jelas perawat itu membuat ketegangan kembali tercipta.
Nathan menjadi orang pertama yang bangkit, dengan wajah babak belur Nathan menghampiri Bayu.
"Bay, tolong anak gue, selamatkan anak gue" ucap Nathan memohon, sementara Arzan hanya memalingkan muka melihat apa yang dilakukan Nathan. Kekhawatiran di hatinya sangat besar untuk Qiana, namun kenyataan membuat logikanya lebih mendominasi hingga menutupi hatinya.
__ADS_1
Tanpa menjawab permohonan Nathan, Bayu segera keluar ruangan dan berlari menuju ruang operasi diikuti Nathan yang berjalan limbung akibat pukulan Arzan yang bertubi-tubi.
Bayu memilih memapah mami Ratna yang tampak syok dengan kejadian barusan, membawa mami yang memegangi dada kirinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan dokter Bayu.
"Mami tenang ya" ucap Arga lembut,
"Mas...." Tiara memberanikan diri mendekati suaminya, sejak tadi dia hanya diam seribu bahasa, syok mendengar kebenaran perihal hubungan terlarang antara Mitha dan Nathan, dia pun syok menyaksikan apa yang terjadi batu saja di depan matanya. Tanpa semua orang sadari wajah Tiara yang semakin memucat.
"Diam" sentak Arzan, rupanya emosinya belum stabil.
"Keluar!" titahnya,
"Tapi Mas, tanganmu berdarah, biarkan aku mengobatinya ya" Tiara berusaha tenang menghadapi kemarahan suaminya, dia faham betul apa yang dirasakan Arzan saat ini. Bukan hanya sakit karena dikhianati sahabatnya yang sepengetahuannya hanya mencintai istrinya dalam diam di masa lalu namun pengkhianatan sang istri yang amat sangat dicintainya itu dan kenyataan jika Qiana adalah buah dari hubungan terlarang istri dan sahabatnya jauh lebih membuatnya sakit dan kehilangan harga diri.
"Tidak!" tolak Arzan,
"Pergi!" usir Arzan,
"Semuanya pergi!" teriaknya lagi,
Arga yang melihat Tiara dibentak kembali geram, dia mengajak Tiara untuk keluar dari ruangan itu sambil memapah mami Ratna yang masih diam seribu bahasa.
"Ayo, biarkan dia sendiri" ajak Arga.
Mereka pun memutuskan untuk keluar dari ruangan dokter Bayu dan membiarkan Arzan sendiri.
Namun baru saja pintu terbuka, tiba-tiba...
__ADS_1
Brughh....Tiara terjatuh dan pingsan.