
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa" Tiara berkali-kali menolak permintaan konyol Nyonya Ratna, Tiara menyebutnya itu adalah permintaan konyol karena terjadi begitu saja dan tanpa pertimbangan yang benar menurutnya. Bagaimana bisa dia yang baru saja mengenal anak kecil bernama Qiana beberapa bulan yang lalu dan bekerja sebagai pengasuh anak itu dan hari ini didaulat untuk menjadi ibu sambungnya.
Satu minggu setelah perbincangan malam itu dengan Arzan Tiara kembali menjalani rutinitas hariannya seperti biasa. Bekerja di perusahaan El-Malik Group sebagai tugas magang kuliahnya, dilanjutkan dengan memasak dan menemani Qiana sampai jam sembilan malam. Sabtu dan Minggu pagi dia gunakan untuk bekerja di restoran sebagai tukang cuci piring.
Dan hari Senin, hari yang selalu menjadi penyemangat untuk Tiara menyambut harapan baru tiba-tiba saja dia kedatangan ibunda dari pemilik perusahaan besar tempatnya bekerja, Nyonya Ratna.
Tidak tanggung-tanggung, bagian HRD langsung memanggil Tiara untuk datang ke ruangan sang CEO sesuai permintaan nyonya besar.
"Saya tahu permintaan saya mungkin terlalu mendadak, tapi saya sudah memikirkannya dengan matang. Saya rasa setelah enam tahun berlalu kamu adalah hadiah yang Tuhan datangkan kepada keluarga kami. Tolong demi Qiana, bersedia ya?" Nyonya Ratna kembali mengiba, dia pantang menyerah terus meminta dan meminta agar Tiara bersedia.
Arga yang berada di ruangan itu pun turut bingung dengan permintaan tiba-tiba nyonya besar yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
"Nyonya, mungkin Tiara mempunyai alasan tersendiri kenapa dia menolak" Arga mencoba memberi pengertian, berharap itu dapat menghentikan permintaan nyonya Ratna. Sejujurnya mendengar nyonya Ratna meminang Tiara untuk menjadi ibu sambung dari Qiana ada rasa kecewa dalam hatinya.
Selama ini Arga memang menaruh rasa lebih terhadap Tiara. Baginya Tiara bukan pengasuh biasa, apalagi setelah mengetahui latar belakang Tiara hal itu membuat Arga semakin memiliki harapan besar pada gadis itu. Tapi Arga menyadari jika kepentingan atasannya jauh lebih penting dari perasaannya sendiri.
"Nyonya, saya tidak cukup percaya diri untuk menerima permintaan Nyonya. Saya hanya gadis biasa yang berasal dari keluarga biasa, ayah saya seorang narapidana karena kasus korupsi yang menjeratnya. Saya juga mempunyai seorang ibu yang saat ini tengah sakit-sakitan karena kasus yang menjerat ayah saya. Saya juga mempunyai dua adik laki-laki yang masih bersekolah dan mereka semua adalah tanggung jawab saya. Apalagi saya juga masih punya kewajiban untuk menyelesaikan kewajiban saya yaitu menyelesaikan kuliah"
"Maaf nyonya, saya sungguh hanya akan membuat anda dan keluarga anda malu jika menjadikan saya bagian dari keluarga anda" Tiara kembali menjelaskan semua tentang keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Justru itu mami tahu Tiara, mami tahu semuanya tentang kamu. Mulai sekarang semua tanggungan kamu akan kami bantu. Kasihan kamu jika harus terus menanggungnya sendiri, selama ini kamu sudah berjuang sendirian Tiara dan kali ini mami ingin kamu membaginya dengan kami. Kamu memang wanita yang kuat" Nyonya Ratna mendekati Tiara yang masih duduk di sofa yang ada di ruangan sang CEO itu, ruangan yang megah dengan nuansa klasik yang menunjukkan betapa sang penghuninya begitu kharismatik.
Arga menarik nafasnya panjang, jika nyonya besar sudah bertitah seperti itu tak akan ada yang bisa menghalangi. Arga turut berbahagia jika pada akhirnya Tiara akan menerima ini dan mengurangi sebagian bebannya. Perihal cintanya, biarlah hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
"Tapi Nyonya...." Tiara masih berusaha mengelak dari situasi ini, namun perkataannya tiba-tiba terpotong ketika Qiana hadir di tengah-tengah mereka.
"Kakak cantik..." pekik Qiana begitu girang ketika mendapati sang pengasuhnya berada di ruangan papinya. Dia segera berhambur ke pelukan Tiara.
Nyonya Ratna tersenyum bahagia melihat pemandangan di hadapannya itu. Ini adalah hal yang sangat diimpikannya sejak dulu, cucunya menemukan sosok ibu. Sekarang dia lega karena wanita yang pas untuk dijadikan ibu sambung cucunya sudah ada di hadapannya.
Di saat bersamaan Arzan memasuki ruangannya, dia baru saja menghadiri pertemuan intern dengan beberapa direktur perusahaannya. Arzan sempat heran karena ternyata semua anggota keluarganya berkumpul di ruangannya dengan suasana yang haru.
"Ada apa ini?" tanya Arzan mengurai keheranannya.
__ADS_1
"Hallo sayang, sudah selesai rapatnya?" tanya Nyonya Ratna menyambut kedatangan sang putra.
"Ya Mam, ada apa ini? kenapa semuanya berkumpul di sini?" Arzan kembali mengulangi pertanyaannya setelah dia mencium kening sang ibu, dia pun menerima pelukan sang putri yang turun dari pangkuan Tiara setelah melihat kedatangannya.
"Papi...." Qiana berhambur ke pelukan Arzan.
"Sayang, Tiara sudah setuju untuk menjadi ibu sambung dari Qiana, selamat ya sayang akhirnya cita-citamu mempunyai mommy akan segera terwujud" jelas nyonya Ratna dengan binar bahagia di matanya, begitu pun Qiana yang tak kalah antusias menerima kabar bahagia dari neneknya.
"Benarkah Oma?" tanya Qiana memastikan, dia turun dari pangkuan Arzan dan kembali berhambur ke pelukan Tiara mengungkapkan kebahagiaannya.
"Kakak cantik mau jadi Mommy Qiana? iya kan? Qiana janji kalau kakak cantik jadi mommynya Qiana, Qia bakalan makin rajin belajar, Qia enggak bakalan nakal, Qia bakalan nurut semua kata Oma, Papi dan Mommy. Horreeee......Qia punya mommy, Qia punya mommy" Qiana terus berteriak dan berputar-putar mengekspresikan kebahagiaannya karena akhirnya akan memiliki mommy yaitu Tiara.
Sementara Tiara, dia masih terlihat bingung dengan kenyataan yang dihadapinya saat ini. Dia sudah kehabisan kata untuk dan cara untuk keluar dari situasi ini. Sekilas dia melirik Arga seolah meminta bantuan, namun Arga hanya mengerdikan bahunya. Tiara pun melirik ke arah Ana, sesama pengasuh Qiana yang selama ini sudah menjadi teman baiknya, namun lagi-lagi Ana hanya melemparkan senyum padanya.
Tiara memberanikan diri menatap Tuan Arzan yang saat ini tengah duduk di kursi kebesarannya, tanpa sengaja Tiara melihat tuan Arzan yang sedang tersenyum melihat euforia putrinya merayakan kebahagiaan karena akan memiliki mommy.
"Huuhh" pada akhirnya Tiara hanya bisa membuang nafasnya kasar, dia menundukkan kepala. Bingung harus bersikap seperti apa. Bingung juga harus berkata apa.
"Pernikahan akan dilaksanakan dua minggu lagi, kalian tenang saja biar Mami yang atur semuanya. Arga tugas kamu adalah membantu mami menyiapkan segalanya" Nyonya Ratna berkata dengan santainya, dia begitu antusias ingin menyiapkan semua tentang persiapan pernikahan kedua putranya ini.
Hari yang ditunggu pun telah tiba, sesuai permintaan Arzan yang tidak ingin pernikahannya digelar dengan mewah. Cukup keluarga dan teman-teman dekat saja yang hadir dan mengetahui tentang statusnya kini yang akan segera berubah.
Pernikahan di gelar di halaman belakang kediaman El-Malik, walau hanya dihadiri keluarga dan teman dekat namun tidak mengurangi kemeriahan dari pesta itu sendiri. Halaman belakang sudah disulap menjadi tempat pesta nan megah.
Tiara tampak cantik dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih senada dengan hijabnya terlihat simple namun elegan ditambah riasan wajah dengan make up minimalis membuat kecantikan Tiara benar-benar tampak alami, aura pengantin begitu kentara di mata semua orang yang melihatnya termasuk Arzan yang sempat terpesona sampai tak mampu berkedip saat melihat kehadiran Tiara di tengah-tengah pesta selepas akad.
Kedua orang tua dan adik Tiara pun turut hadir, Arga sudah mengatur semuanya dengan baik atas perintah Mami Ratna sehingga ayah Tiara bisa datang dan langsung menjadi wali nikah putrinya sendiri. Kebahagiaan yang penuh haru terpancar dari mata keluarga Tiara, bagaimana tidak di tengah musibah yang menimpa keluarga mereka mereka harus dihadapkan pada pernikahan putri semata wayang mereka.
"Selamat ya, akhirnya aku terbebas dari perjodohan dengan sepupuku" seorang gadis berjilbab tampak cantik dan anggun melenggang sendiri ke atas pelaminan, dia mengulurkan tangannya pada Tiara untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Tiara menerima uluran tangan gadis berhijab itu, dia pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah ramah.
"Aku Hasna, aku anaknya Mami Ratih adiknya Mami Ratna. Jadi kami adalah saudara sepupu" Hasna memperkenalkan diri dengan baik pada Tiara, obrolan ringan pun terjalin di antara mereka. Walaupun obrolan lebih didominasi Hasna dan Arzan.
__ADS_1
Mereka berdua lebih banyak membicarakan tentang urusan bisnis dibanding urusan keluarga. Sebagai sama-sama anak tunggal mereka berdua memang sudah disetting untuk mewarisi kerajaan bisnis keluarga.
"Selamat ya, akhirnya kalian bersatu juga" Arga yang menemui Tiara di saat gadis itu sedang sendiri membuat Tiara sedikit kaget. Arga berbicara begitu dekat seolah tidak ingin ada yang mendengarnya selain Tiara. Arzan sedang berbicara dengan teman dan saudara jauhnya yang sengaja datang untuk menghadiri pernikahannya.
"Terima kasih, Pak Arga" hanya itu jawaban yang diberikan Tiara,
"Semoga kamu bahagia" lanjut Arga penuh makna, namun Tiara hanya menanggapinya sebagai ucapan seorang teman. Tiara sungguh tidak menyadari jika Arga memiliki perasaan lebih terhadapnya.
"Biarlah cintaku selamanya hanya aku dan Tuhan yang tahu, melihatmu bahagia adalah kebahagiaan untukku. Do'aku akan selalu menyertaimu" gumam Arga dalam hatinya.
Sementara Arzan yang sedang berkumpul dengan teman dan saudara jauhnya sesekali dia melirik ke arah Tiara yang sedang mengobrol dengan Arga dan Qiana, Arzan tahu jika selama ini asistennya itu memiliki perasaan lebih pada Tiara. Arzan mau tahu sejauh mana asistennya itu dapat menyimpan perasaannya.
"Gue kira lu bakalan bener-bener jadiin si Mitha cinta mati lu" Doni salah seorang teman yang mengetahui kisah cinta Arzan dan Mitha akhirnya buka suara, menyuarakan kepenasarannya saat mengetahui jika teman yang masih terhitung saudara jauh itu memutuskan untuk menikah kembali.
Semua orang tampak terdiam, diantara mereka berempat memang memiliki kepenasaran yang sama akan alasan Arzan yang akhirnya memutuskan untuk menikah kembali tapi hanya Doni yang berani mengungkapkan kepenasarannya itu.
Selama ini mereka berteman baik dan kisah cinta Arzan dan Mitha yang terjalin semenjak kuliah sudah bukan rahasia lagi. Hampir satu kampus mengetahui tentang kisah cinta mereka terutama tentang kebucinan Arzan terhadap Mitha.
"Sepertinya kali ini tuan muda juga tidak sembarang memilih, lihatlah gadis itu tampak sangat cantik dan masih begitu muda" Reno menyela obrolan diakhiri tawa yang diikuti teman-teman yang lainnya. Sementara Arzan masih anteng dengan diamnya menyimak obrolan teman-temannya tentang Tiara.
"Sampai kapanpun Mitha is everything. Tidak akan ada yang mampu menggantikannya dalam hati dan hidupku" Arzan kembali menegaskan posisi Mitha dalam hatinya, teman-temannya pun mengangguk kecuali Riki yang hanya menampilkan senyum miring mendengar penuturan Arzan.
Acara resepsi pun selesai, semua orang sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Keluarga Tiara pun sudah kembali ke Serang dengan diantar oleh supir yang disiapkan oleh Mami Ratna. Tiara pun saat ini sudah berada di kamar Arzan, sementara laki-laki itu entah dimana keberadaannya.
Setelah membersihkan make up dan berganti baju, Tiara bingung apa yang akan dilakukannya. Makan malam sudah dilalui bersama seluruh keluarga besar, tidak banyak yang Tiara lakukan selama makan malam selain mendengar obrolan keluarga yang terasa hangat dan akrab, tapi tidak bagi Tiara.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Qiana sudah tertidur dengan pulas. Tiara yang awalnya akan tidur di kamar Qiana dilarang oleh Mami Ratna dan segera diantar langsung oleh nyonya besar ke kamar sang putra.
Tiara bingung mau tidur dimana, dia pun memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu menunggu sang empunya kamar datang.
Ceklek.... suara pintu terbuka membuyarkan Tiara dari lamunannya. Dia pun buru-buru duduk tegak seolah menunggu perintah sang tuan muda.
"Kamu tinggal pilih, mau tidur di lantai atau di sofa. Tempat tidur ini adalah tempat tidur yang biasa aku dan Mitha gunakan untuk tidur dan bercinta. Dan aku tidak ingin jika ada perempuan lain yang menempati tempat ternyaman kami" Arzan berkata dengan tegas tanpa memedulikan perasaan Tiara, sejujurnya ada rasa sakit yang menyelusup ke dalam dada Tiara mendengarnya, tidak menyangka ternyata sesakit ini rasanya. Padahal dirinya sudah jauh-jauh hari menyiapkan diri dan mental tapi, hati tak pernah bisa dibohongi.
__ADS_1