
Sabtu sore semua mahasiswa sudah bersiap kembali ke Jakarta. Tiara sudah lebih dahulu pamit pada teman-temannya untuk pergi lebih dulu karena akan pulang ke rumah orang tuanya di Serang.
"Prof, saya pamit pulang duluan" Tiara yang berpapasan dengan Kemal di area parkir hotel mau tidak mau akhirnya berpamitan dengan dosennya itu.
"Lho...kamu mau kemana?" tanya Kemal heran,
"Saya mau pulang ke rumah orang tua saya, tidak jauh dari sini" jawab Tiara jujur,
"Oya? kalau begitu biar saya antar" Kemal yang tidak mengetahui rencana Tiara sebelumnya cukup kaget, dia pun akhirnya menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu,
"Terima kasih atas tawarannya Pak, tapi saya sudah dijemput" tolak Tiara dengan sopan.
"Sama siapa?" tanya Kemal lagi,
"Adik saya Pak" Tiara menunjuk dengan dagunya seseorang yang duduk di atas motor sudah sejak tadi menunggunya tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini,
"Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan" pungkas Kemal dengan tersenyum manis,
"Terima kasih Pak, ***...."
"Tiara, sebentar...." ucapan salam Tiara terjeda karena Kemal kembali menyelanya,
"Saya hanya mau memastikan, maaf sebelumnya jika ini mengganggu kamu" Kemal menghela nafasnya menjeda ucapannya, dia menelisik wajah mahasiswinya itu,
"Ada apa Pak?" Tiara yang penasaran akhirnya bertanya juga karena Kemal tak kunjung melanjutkan ucapannya,
"Nathan bilang kamu adalah pengasuh putrinya Arzan, benarkah itu?" tanya Kemal langsung pada intinya,
Tiara menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Kemal yang tak putus mengamati wajahnya. Tiara pun tak ada pilihan selain mengiyakan apa yang tanyakan oleh dosennya itu.
Dia pun tidak punya cukup alasan untuk mengatakan jika dirinya adalah istri dari Arzan, laki-laki itu masih belum mengakuinya. Tiara hanya menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan Kemal.
"Maaf Tiara, bukan maksud saya...." Kemal yang melihat respon Tiara seperti itu jadi merasa bersalah, dia tahu kehidupan Tiara saat ini tidak seperti dulu.
Kasus yang menjerat ayahnya berdampak sangat signifikan terhadap keadaan ekonomi keluarga Tiara, pantas jika dia kini harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya.
Untunglah Tiara gadis yang mandiri dan cerdas, keadaan tidak lantas membuat dirinya menyerah begitu saja. Dia dengan cepat beradaptasi dengan keadaan yang dialaminya, walaupun Kemal tahu itu sangatlah tidak mudah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pak, kalau begitu saya pamit. Assalamu'alaikum" Tiara memotong ucapan Kemal yang tahu arahnya kemana, dia pun menganggukan sedikit kepala dan berlalu meninggalkan Kemal yang masih berdiri mematung dengan rasa bersalahnya,
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Tiara" gumamnya pelan dan tak mungkin terdengar oleh gadis itu karen jaraknya yang sudah semakin menjauh.
☘️☘️☘️
Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk Tiara dan adiknya sampai di rumah keluarganya.Tiara yang sudah disuguhkan kejutan di awal pertemuannya bersama sang adik saat melihat motor yang digunakan adiknya terlihat baru menahan diri untuk tidak bertanya saat itu karena waktu magrib menjelang.
Kini keterkejutan Tiara semakin bertambah saat motor yang dikendarai sang adik yang digunakan untuk memboncengnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana namun tampak asri.
Rumah yang sama sekali baru Tiara kunjungi, terakhir dirinya mengunjungi ibu dan kedua adiknya saat memutuskan untuk menerima pinangan nyonya Ratna agar mau menikah dengan Arzan.
“Dek, ini….” Tiara turun dari atas motor dan membuka helmnya. Dia bertanya pada sang adik yang hanya tersenyum melihat keheranannya,
“Kakak, kita bicaranya di dalam. Ibu dan Raihan sudah menunggu di dalam” adik pertama Tiara yang bernama Farhan pun mengajak Tiara untuk segera memasuki rumah yang baru mereka tinggali beberapa minggu ini,
Pelukan hangat sang ibu disusul adik keduanya menyambut Tiara setelah mereka menjawab ucapan salam saat Tiara masuk ke dalam rumah itu.
Air mata haru mengisi pertemuan mereka, setelah cukup lama tidak bersua. Sejak menikah dengan Arzan Tiara belum pernah mengunjungi lagi Ibu dan kedua adiknya.
Walaupun mereka setiap hari berkomunikasi via telepon atau video call tetap saja pertemuan tatap muka selalu menjadi hal yang paling dirindukan.
“Ibu baik, bagaimana kabar Kakak?” Ibu mengurai pelukannya, dia menatap sang anak lekat, mengusap kepala sang anak yang berbalut hijab. Terlihat wajah Lelah karena sehabis kegiatan membuat Ibu kembali memeluk sang putri sulungnya.
“Aku baik bu, aku baru selesai lokakarya tahap pertama. Do’akan kegiatan magangku lancar dan selesai dengan nilai yang memuaskan ya Bu” Tiara mulai bercerita aktivitasnya saat ini,
Meskipun hampir setiap hari Tiara bercerita pada sang ibu perihal aktivitasnya sehari-hari via telepon tapi lagi-lagi tak lengkap rasanya jika saat bertemu tak bercerita Panjang lebar perihal hari-harinya.
“Syukurlah, do’a Ibu selalu menyertai anak-anak Ibu” ucap ibu penuh ketulusan. Sepanjang masa do’a seorang ibu adalah azimat bagi anak-anaknya, Ridho sang Illahi berada di bawah ridhonya,
“Kakak, kenapa ibu aja yang dipeluk? Enggak kangen gitu sama aku?” Raihan, adik bungsu Tiara yang sebentar lagi akan meninggalkan bangku sekolah menengah pertama itu pun merajuk, di antara kedua adiknya Raihan memang lebih dekat dengan Tiara, entah karena jarak usia mereka yang cukup jauh sehingga Raihan merasa Tiara adalah pengganti ibunya.
“Tentu Dek, kakak kangen banget sama adek” Tiara pun beralih memeluk adik bungsunya itu, dia mengusap kepala sang adik penuh sayang,
“Dek kamu enggak mau meluk kakak? Enggak kangen gitu?” Tiara beralih pada Farhan adik pertamanya yang sejak tadi hanya menyaksikan keharuan mereka bertiga,
“Kangen dong kak, aku kan penyabar ini lagi nunggu giliran.” Farhan pun mendekati ketiga orang yang sangat berharga dalam hidupnya, dia memeluk Tiara yang badannya lebih kecil darinya.
__ADS_1
“Kakak kayaknya kurusan deh” Farhan melepas pelukannya, merasakan jika badan sang kakak lebih kurus dari sebelumnya. Dia pun menangkup kedua pipi Tiara, mengukur tingkat ketirusan wajah sang kakak.
“Bukan kakak yang kurusan, kamu yang sekarang tambah tinggi dan gede gini” elak Tiara sambal melepaskan tangan sang adik dari pipinya,
“Enggak nyangka ih, adik Kakak sebentar lagi akan jadi mahasiswa” Tiara menepuk bahu sang adik yang masih menelisik wajahnya, seolah memastikan keadaan sang kakak.
Mereka semua tahu bahwa kasus yang menerpa sang ayah memberikan efek yang luar biasa bagi kehidupan keluarga mereka. Dan bukan hal yang mudah untuk mereka menghadapi semuanya, untunglah kebersamaan mereka menjadi penguat bagi setiap anggota Keluarga. Ibu berusaha kuat demi anak-anaknya dan anak-anaknya pun berusaha kuat untuk ibu mereka.
“Ibu, kenapa bisa pindah ke rumah ini? Ini rumah siapa? Dan kamu dek, pakai motor siapa saat tadi menjemput Kakak?” Saat sesi kangen-kangenan sudah selesai, Tiara mulai mengintrogasi satu persatu anggota keluarganya. Dia sangat penasaran dengan perubahan keadaan keluarganya saat ini.
Ibu dan kedua anak laki-lakinya pun saling menatap, mereka sudah mengira jika Tiara tidak mengetahui semua yang terjadi pada mereka akhir-akhir ini. Farhan sebagai anak laki-laki tertua di keluarga pun memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada sang ibu untuk menceritakan semuanya.
“Semua ini dari Nak Arzan, suamimu yang menyiapkan segalanya untuk kami” Ibu langsung pada intinya, membuat putri sulungnya membulatkan mata kaget dengan apa yang baru saja didengarnya,
“Kak Arzan juga yang membelikan aku motor kak. Dia mengirimnya langsung dari dealer dan bilang padaku untuk memakainya. Semua surat-surat kendaraan sudah atas namaku” Farhan adik pertama Tiara pun menambahkan penjelasan perihal perubahan keadaan mereka,
“Kak Arzan juga berjanji padaku kalau dia akan membelikan aku motor juga kalau aku sudah punya KTP dan bisa membuat SIM” Raihan, adik bungsu Tiara pun turut berbicara,
Beberapa hari setelah pernikahan dirinya dan Tiara, Arzan pergi mengunjungi keluarga sang istri untuk pertama kalinya. Dia melihat langsung keadaan Keluarga Tiara yang tinggal di rumah kontrakan kecil yang hanya ada satu kamar dan satu ruang lain yang digunakan kedua putranya untuk tidur. Sementara kamar diisi oleh sang ibu.
Kedatangan Arzan saat itu memang sengaja untuk melihat keadaan keluarga istri yang baru saja dinikahinya. Informasi yang diterima Arzan dari orang kepercayaannya yang diutus untuk mencari informasi tentang Tiara dan keluarganya membuat hatinya terketuk.
Tanpa sepengetahuan Tiara dan juga Mami Ratna, Arzan menyiapkan semuanya untuk Keluarga Tiara. Tidak hanya rumah dan motor, Arzan juga menyiapkan sebuah toko kue untuk dikelola ibu mertuanya.
Dia sengaja membeli rumah sederhana untuk ditempati oleh Keluarga istrinya, bukan tak ingin Arzan menyiapkan rumah besar dan mewah untuk mereka tinggali. Tapi Arzan yakin Keluarga Tiara akan menolak, untuk membujuk agar keluarga istrinya itu mau tinggal di rumah itu saja Arzan butuh waktu yang tidak sebentar, dia pun langsung turun tangan menemui Keluarga Tiara untuk meyakinkan agar mau menerima apa yang sudah disiapkannya.
Dia meyakinkan jika dirinya tulus membantu sebagai bakti seorang anak untuk orang tua dan keluarganya. Walau bagaimanapun Tiara sudah resmi menjadi istrinya, dia menikahi Tiara di hadapan saksi yang membenarkan pernikahannya sah di mata agama dan hukum.
Selain itu kehadiran Tiara dalam keluarganya sangat memberi pengaruh besar. Untuk pertama kalinya sang putri tercinta dapat menerima kehadiran wanita lain dalam hidupnya, bahkan meminta agar Tiara menjadi mommynya.
Tidak hanya ibu dan adik-adik Tiara yang Arzan berikan kehidupan yang layak sebagai bentuk tanggung jawabnya. Arzan juga mengunjungi ayah mertuanya yang berada di balik jeruji besi untuk mengetahui langsung tentang kasus yang menjeratnya.
Dari penuturan ayah mertuanya dia pun dapat mengambil kesimpulan jika ayah mertuanya hanyalah korban, dia yang tulus dalam membantu rekan-rekannya nyatanya malah dijadikan kambing hitam dalam kasus yang seharusnya menjerat mereka.
Arzan berjanji untuk membantu ayah mertuanya mengusut kasus ini sampai tuntas dan mencari keadilan untuk mertuanya itu.
Tiara menarik nafasnya dalam, mendengarkan penuturan sang ibu dan adik-adiknya membuat dia benar-benar terkejut. Tidak menyangka jika Arzan yang begitu dingin dan tampak tidak peduli nyatanya memiliki hati yang hangat dan kepedulian yang besar untuk keluarganya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, terima kasih Mas Arzan. Terlepas seperti apa dirimu menganggapku, aku tetap berhutang banyak budi padamu. Entah mampu atau tidak aku mengganti semua yang kau berikan padaku dan keluargaku saat ini, mungkin dengan mengabdikan seluruh hidupku padamu adalah balasan yang setimpal untuk setiap kebaikanmu walau pun hanya sebagai pengasuh Qiana” gumam Tiara dalam hatinya,