
Dering telepon terdengar memekik telinga. Tiara yang baru saja melaksanakan kewajiban dzuhurnya pun segera berdiri dari atas sajadah meraih ponsel yang sejak tadi berdering. Dia sengaja mengeraskan volumenya, agar tidak ketinggalan informasi jika ada yang menghubunginya perihal Qiana. Setelah mengantar Tiara kembali ke rumah, Arzan memutuskan untuk pergi ke kantor menunggu laporan anak buahnya. Urusan kantor sedikit terbengkalai karena Arga pun turut mencari keberadaan Qiana.
Nomor yang tidak dikenalnya menghiasi layar pipih Tiara, dia mengernyit mengingat-ingat nomor siapa yang sedang melakukan panggilan di ponselnya.
"Assalamu'alaikum" Tiara akhirnya menjawab panggilan itu dengan ragu, awalnya dia mengabaikan tapi karena berkali-kali panggilan itu masuk dia pun akhirnya memberanikan diri untuk menjawabnya,
"Wa'alaikumsalam, Tiara...akhirnya kamu mengangkat teleponku. Ini aku, Rianti. Kamu masih ingat aku kan?" seseorang berbicara cepat di seberang telepon, sejenak Tiara mengernyit meresapi setiap kata yang diucapkan seseorang dengan nomor baru di ponselnya.
"Rianti, ini kamu Rianti teman kerja aku di restoran?" Tiara menemukan serpihan ingatannya tentang gadis yang meneleponnya. Selama ini komunikasi mereka terputus. Pertemuan Tiara dan Rianti terakhir kali adalah ketika mereka masih sama-sama bekerja di restoran milik Arzan sebagai pekerja paruh waktu, tukang cuci piring.
"Iya, ini aku. Aku dapet nomor kamu dari Kak Nathan"
"Nathan?" kening Tiara kembali mengernyit mendengar nama yang tak asing di telinganya.
"Kata Kak Nathan dia adalah temannya tuan Arzan, dia juga pernah beberapa kali bertemu dengan kamu" jelas Rianti menjawab kepenasaran Tiara,
"Sorry aku ganggu, aku cuman mau ngabarin kalau kak Nathan sekarang sedang di rumah sakit tempat aku magang, dia datang mengantarkan temannya yang kecelakaan" Rianti mulai menjelaskan tujuannya menelepon.
Saat ini gadis itu pun sedang magang sebagai perawat di sebuah rumah sakit, ibu yang selama ini dirawatnya sudah meninggal. Tabungan biaya pengobatan ibunya yang didapat Rianti dari hasil bekerja siang malam akhirnya dia gunakan untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti karena cuti sesuai pesan terakhir sang ibu. Dulu, dia memilih merawat ibunya sambil bekerja dan mengambil cuti kuliah. Hal yang tidak diketahui Tiara jika sahabatnya juga adalah seorang mahasiswa keperawatan.
Awalnya Rianti tidak terlalu peduli saat mendapat informasi dari Nathan jika laki-laki itu membawa pasien kecelakaan ke rumah sakit tempatnya bekerja, tapi saat melihat gadis kecil berlumuran darah yang terakhir dibawa oleh para perawat dari dalam ambulans membuatnya penasaran merasa tidak asing dengan wajah mungil itu.
Benar saja, setelah dia mencari tahu ternyata gadis itu adalah putri sambung dari teman lamanya. Putri dari majikan tempatnya bekerja.
"Terus....?" Tiara penasaran, dia baru saja mengumpulkan ingatannya tentang Nathan, tapi bagaimana bisa Rianti mengenal Nathan menyisakan tanya di benak Tiara. Namun saat ini bukan itu point pentingnya, Tiara memilih menanyakan kabar lain yang akan disampaikan Rianti.
"Ternyata korban kecelakaannya ada dua, satu orang wanita dewasa dan anak kecil. Setelah aku lihat ternyata anak kecil itu Nona Qiana"
Duarrrr..........serasa ada batu besar yang menghantam, Tiara seketika membulatkan mata, dia limbung. Hampir saja pertahanannya runtuh seiring dengan jatuhnya ponsel dari genggaman tangannya.
"Hallo ....Tiara...Hallo...kamu masih di sana kan? Tiara!" Rianti terus berteriak, suasana kamar yang hening membuat suaranya dari speaker ponsel terdengar jelas.
__ADS_1
"Astaghfirullah" kesadaran Tiara dengan cepat kembali, dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas karpet,
"Iya hallo Rianti aku masih di sini, maaf. Itu anakku, Qiana dibawa pergi oleh Mikha, sodara jauh mommy nya, saat ini aku sedang menunggu kabar dari Mas Arzan tentang keberadaannya" Tiara menjelaskan perihal hilangnya Qiana dengan air mata yang tak tertahankan,
"Terima kasih kamu sudah mengabariku, sekarang tolong kirimkan alamat rumah sakit tempat putriku berada. Aku akan ke sana segera" Obrolan antara teman lama itu pun tuntas, Tiara segera bersiap untuk pergi sambil terus menghubungi Arzan. Sudah beberapa kali dia mencoba meneleponnya tapi Arzan tak kunjung menerima panggilannya. Tiara pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit setelah menerima alamat rumah sakit yang dikirim Rianti.
Kurang dari tiga puluh menit Tiara sampai di halaman rumah sakit besar itu, dia turun dari ojeg online yang dipesannya agar bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit.
"Terima kasih Pak"Tiara menyodorkan helm dan langsung berlari menuju Unit Gawat Darurat sesuai informasi yang didapatnya dari Rianti.
Setelah bertanya pada petugas di sana Tiara berjalan ke arah lorong yang ditunjukkan petugas tadi sebagai tempat penanganan korban kecelakaan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Dari kejauhan Tiara dapat melihat ternyata Arzan sudah ada di sana. Tidak hanya Arzan, beberapa laki-laki juga tengah berdiri dengan wajah cemas, dua di antaranya ada Arga dan Bayu yang Tiara kenali selain suaminya.
"Assalamu'alaikum, Mas" ucap Tiara pelan namun terdengar jelas di telinga orang-orang yang sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Wa'alaiakumsalam" serempak semua menjawab,
"Sayang, kamu datang? darimana kamu tahu aku di sini?" Arzan langsung berdiri dari duduknya dan menyongsong kedatangan Tiara.
"Semuanya masih ditangani dokter, kita belum tahu seperti apa keadaannya" jawab Arzan lesu, dia kembali terduduk. Perasaan bersalah menyergap hatinya, mendengar keadaan putrinya dari Nathan membuat Arzan sangat merasa bersalah. Sebagai ayah dia merasa tidak mampu menjaga putrinya, ingatannya pun melayang ke masa lalu bagaimana dia berjanji pada almarhumah istrinya untuk menjaga putri semata wayangnya.
"Kenapa bisa begini?" gumam Tiara dalam hatinya, dia ingin sekali mengetahui kronologis kecelakaan yang menimpa putrinya namun lidahnya mendadak kelu, dia pun merasa jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengetahui hal itu. Ada hal yang lebih penting yang harus diutamakan yaitu menenangkan sang suami yang terlihat sangat kacau saat ini.
"Tenanglah Mas lebih baik kita berdo'a semoga Qiana baik-baik saja" Tiara berusaha tegar, dia mengusap bahu Arzan yang menunduk dengan menjadikan kedua telapak tangan sebagai penutup wajahnya. Kedua sikutnya pun bertumpu pada lututnya, mereka saat ini tengah duduk di kursi tunggu di depan ruang tindakan.
Terlihat Nathan memperhatikan interaksi pasangan itu,
"Dari dulu kamu selalu beruntung Arzan, mendapatkan limpahan cinta yang begitu besar dari wanita-wanitamu" gumam Nathan dalam hati, dulu dia sangat tahu seberapa besar cinta Mitha untuk sahabatnya itu dan saat ini Tiara, wanita yang dulu sempat dikaguminya pun ternyata memiliki cinta yang luar biasa untuk Arzan.
Tidak lama kemudian pintu ruang tindakan terbuka memunculkan beberapa dokter dan diikuti para perawat. Hal itu sontak membuat perhatian semuanya.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" Arzan dengan sigap berdiri dan berjalan mendekati dokter, diikuti Tiara. Arga dan Nathan, sementara Bayu kembali ke tempatnya bertugas setelah membantu proses penanganan Mikha dan Qiana.
__ADS_1
"Wanita dewasa korban kecelakaan itu saat ini dinyatakan koma. Kami masih akan terus melakukan observasi dan akan dilakukan beberapa tindakan setelah tiga jam masa observasi. Sedangkan anak kecil..." penjelasan dokter terjeda,
"Bagaimana putri saya dokter?" Arzan nampak tidak sabar, dia penasaran dengan keadaan putrinya.
"Putri anda mengalami pendarahan di bagian kepalanya, harus segera dilakukan operasi. Jika anda mengizinkan, kami akan menyiapkannya sekarang juga. Tapi...."
"Lakukan dokter, lakukan apapun untuk menolong putri saya. Lakukan yang terbaik, saya ingin dia sembuh dan kembali seperti sedia kala"
"Tapi...kami membutuhkan donor darah untuk putri anda, kebetulan dia memiliki golongan darah yang cukup langka. Dan di bank persediaan darah di rumah sakit ini golongan darah tersebut sedang kosong" jelas dokter menyampaikan kendala yang saat ini mereka hadapi,
"Ambil darah saya dokter, saya ayahnya. Golongan darah kami pasti sama" jawab Arzan cepat, dia tidak mau lagi mengulur waktu. Saat ini keselamatan putrinya sedang dipertaruhkan dia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan sang putri yang sangat disayanginya.
"Baiklah, anda akan melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Silahkan ikuti perawat kami" ucap dokter, suasana di ruang tunggu semakin mencekam, Arzan terlihat sangat frustasi. Dia sangat takut jika harus kehilangan Qiana.
Kurang dari tiga puluh menit pemeriksaan yang dilakukan Arzan sudah selesai, hasilnya akan keluar secepatnya. Arzan diminta untuk kembali ke ruang tunggu.
"Mas baik-baik saja kan?" tanya Tiara yang khawatir melihat keadaan suaminya setelah menjalani pemeriksaan itu,
"Aku tidak baik-baik saja, bagaimana bisa kamu menanyakan aku baik-baik saja?" sentak Arzan tiba-tiba, dia mengabaikan niat baik Tiara yang mengkhawatirkan keadaannya.
"Maaf mas, maafkan aku, aku mengerti Mas pasti sangat khawatir" jawab Tiara kaget, hatinya merasa tercubit mendapat bentakan dari suaminya. Namun Tiara berusaha tenang dia memaklumi jika suaminya saat ini sedang kalut.
"Arzan, Tiara....bagaimana keadaan cucu mami?" Di saat keduanya terdiam, kedatangan mami Ratna yang mendapat kabar jika cucunya kecelakaan sedikit mengurai ketegangan di antara mereka. Mami Ratna datang setelah mendapat kabar dari Arga, dia yang sedang berada di luar kota segera kembali dan dijemput oleh Arga dari bandara.
Arzan pun sontak memeluk mami Ratna dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sang mami. Hati Tiara kembali merasa tercubit melihat Arzan yang begitu nyaman menumpahkan tangisnya di pelukan sang mami, dia pun kembali menyadari posisinya. Tiara merasa jika dirinya masih belum menempati hati suaminya.
"Sudahlah sayang, Qiana pasti akan baik-baik saja, dia anak yang kuat" mami Ratna yang sudah mengetahui kronologis kecelakaan cucunya itu dari Arga pun berusaha tenang. Dia tahu saat ini sang putra sedang sangat membutuhkannya.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Qiana Ma? Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya di hadapan Mitha, aku sudah berjanji untuk menjaga putri kami, tapi lihatlah, ayah macam apa aku yang tidak becus menjaga putrinya. Janjiku pada Mitha adalah bukti betapa aku sangat mencintainya dan akan selalu mencintainya, Qiana adalah cinta kami Ma, dia bukti hidup cinta kami yang abadi." Arzan semakin meracau, dia berbicara masih dengan isak tangis tertahan di pelukan mami Ratna.
Arzan tidak menyadari jika kini ada hati yang harus dia jaga namun sudah terlanjur terluka setelah mendengar curahan hatinya pada mami Ratna. Tiara memilih mundur perlahan, sepertinya keberadaannya saat ini tidak berarti bagi Arzan, dia lebih nyaman berkubang dalam ingatan masa lalunya bersama Almarhumah mantan istrinya. Ternyata itulah isi hati suaminya selama ini, simpul Tiara.
__ADS_1