Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 10 Orang Tua yang Luar Biasa


__ADS_3

Seketika Rafael melepaskan tangannya dari pinggang Ayana. Dia juga menjauhkan wajahnya dari tengkuk istrinya.


Ayana dan Rafael menoleh ke belakang, di mana kedua anak kembar mereka berdiri di belakang mereka.


Adelia menyipitkan matanya menatap kedua orang tuanya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sedangkan Adelio, dia tersenyum jahil pada papa dan mamanya seolah mengetahui apa yang sedang mereka lakukan ketika mereka berdua memergokinya.


Wajah Rafael dan Ayana terlihat tegang saat ini ketika mereka berdua ditatap oleh kedua anak kembar mereka.


"Come on Baby, kita tinggalkan kedua pasangan suami istri ini. Lebih baik kita menunggu di ruang makan saja," tutur Adelio sambil merangkul pundak Adelia dan menuntunnya menuju ruang makan.


Dengan segera Ayana dibantu oleh Rafael membawa makanan yang dibuat oleh Ayana ke ruang makan. Mereka berdua bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan kedua anak mereka.


"Ayo kita mulai sarapan," ujar Rafael sambil tersenyum pada kedua anaknya.


Ayana mengambilkan nasi untuk suaminya. Kemudian dia mengambilkan nasi untuk kedua anak mereka.


"Yakin kalian berdua gak bolos aja? Besok weekend, jadi kita bisa pergi ke vila sekarang, sekalian berlibur," tanya Ayana pada kedua anaknya sambil menatap Adelia dan Adelio secara bergantian.


"Pa, istri Papa aneh. Mana ada Mama yang malah menyuruh anaknya bolos kerja? Diajakin liburan lagi," ucap Adelia setelah menelan makanannya.


Rafael terkekeh mendengar pertanyaan dari putrinya. Dia menoleh ke arah istrinya yang juga terkekeh, sama sepertinya.


"Bersyukurlah punya Mama yang seperti itu. Mama dan Papa gak pernah menuntut kita untuk berprestasi atau ini dan itu. Semua diserahkan pada kita. Mama dan Papa hanya mengawasi dan memperingatkan kita agar tidak salah langkah. Dan yang terpenting, Mama dan Papa memberikan kita pelajaran yang sangat penting bagi kita, hingga kita menjadi seperti sekarang ini," tutur Adelio pada saudara kembarnya sambil menatapnya dengan serius.


Adelia meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian dia menatap serius pada Adelio seraya berkata,


"Aku juga tau itu, tanpa kamu beri tau. Bahkan aku bersyukur karena memiliki Papa dan Mama sebagai orang tuaku."


"Kamu gak bersyukur menjadi saudara kembarku?" tanya Adelio seolah memprotes perkataan Adelia.


Adelia tersenyum. Dia menatap lekat manik mata saudara kembarnya dan berkata,


"Tentu saja aku bersyukur menjadi saudara kembarmu. Terutama pada saat kamu selalu menjagaku, meskipun tak terlihat dan lebih mirip seperti seorang stalker."


Adelia terkekeh setelah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Adelio padanya. Sedangkan Adelio, dia tidak begitu saja membiarkan Adelia. Tangan Adelio mengacak-acak rambut Adelia sehingga membuat Adelia tidak terima dan membalasnya.


Ayana dan Rafael menikmati pemandangan di depan mereka. Kedua pasangan suami istri itu tahu jika kedua anaknya hanya bercanda dan tidak akan ada dendam satu sama lainnya. Perdebatan dan pertengkaran kedua anak kembarnya itu selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Ayana dan Rafael, karena mereka berdua tahu jika begitulah cara anak mereka memperlihatkan kasih sayang mereka berdua.

__ADS_1


Setelah acara sarapan selesai, Adelia dan Adelio berangkat bekerja. Mereka berpamitan pada kedua orang tuanya dan bersalaman dengan mencium punggung tangan papa dan mamanya.


"Kak, anterin aku ya...," pinta Adelia dengan memperlihatkan wajah memohonnya.


Adelio mengernyitkan dahinya sambil menatap saudara kembarnya itu dengan menyipitkan matanya dan berkata,


"Tumben? Ada apa?"


"Aku lagi malas aja. Boleh ya..," jawab Adelia sambil memperlihatkan puppy eyes nya.


Adelio terkekeh, dia mengacak-acak rambut adiknya itu dengan gemas. Kemudian membukakan pintu mobil untuk saudara kembarnya itu seraya berkata,


"Silahkan My Princess kesayangan."


Adelia yang tadinya kesal dan memajukan bibirnya karena ulah kakaknya yang membuat rambutnya berantakan, kini tersenyum senang melihat saudara kembarnya itu membukakan pintu mobil untuknya dan membungkuk ketika mempersilahkannya masuk ke dalam mobil tersebut.


Ayana dan Rafael terkekeh melihat tingkah laku anak kembarnya. Rasanya kebahagiaan mereka sudah sangat lengkap setelah teror dan ancaman dari Rubu berakhir. Mereka berharap agar keluarga mereka akan selalu bahagia tanpa adanya gangguan dari orang lain seperti Ruby.


Setelah anak-anaknya pergi, Ayana mengalihkan perhatiannya pada Rafael yang ada di sampingnya. Kemudian dia merapikan dasi suaminya itu dan berkata,


Rafael seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Tatapan matanya tertuju pada wajah cantik istrinya meskipun sudah berumur. Rafael mengakui dalam hatinya, memang benar adanya perkataan orang-orang yang mengatakan jika Ayana semakin berumur semakin cantik. Cintanya pada istrinya pun semakin hari semakin dalam.


Tatapan mata Rafael kini beralih pada bibir pink alami milik istrinya yang sangat menggodanya, seolah memanggilnya untuk segera mencicipinya, mereguk dan menyesap manisnya bibir tersebut.


Ayana menatap heran pada suaminya yang seolah mematung menatapnya. Dia menepuk lembut pundak suaminya seraya berkata,


"Pa! Papa! Kok bengong sih? Gak jadi berangkat kerja?"


Seketika Rafael tersadar dari lamunannya. Bibir Ayana benar-benar membuatnya terpesona seolah tidak bosan untuk melihatnya.


"Emmm... Apa? Kamu ngomong apa tadi Ay? Maaf, aku gak dengar," tanya Rafael sambil tersenyum malu pada istrinya.


"Ck! Papa nih, lagi mikirin apa sih? Mama tanya, Papa gak berangkat sekarang?" tanya Rafael sambil mencebik kesal.


Rafael terkekeh sambil mengusap lembut pipi istrinya. Kemudian dia berkata,


"Aku terpesona dengan kecantikanmu Ay."

__ADS_1


Seketika tersirat rona merah pada wajah Ayana. Dia selalu saja malu jika digoda dan dirayu oleh suaminya.


"Dan ini... Bibir ini terlihat sedang memanggilku untuk mencicipinya," ucap Rafael sambil meletakkan jari telunjuknya pada bibir istrinya yang sangat menggodanya.


Ayana melepaskan jari suaminya dari bibirnya. Dia terlihat malu-malu dan salah tingkah seraya berkata,


"Apaan sih, pagi-pagi sudah mulai menggombal saja?"


Rafael kembali terkekeh. Kemudian dia merangkul pundak istrinya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah seraya berkata,


"Ayo ikut aku ganti pakaian."


"Loh, Papa gak jadi kerja?" tanya Ayana sambil menatap suaminya.


Rafael tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Aku ingin di rumah saja berduaan dengan istriku yang cantik ini."


"Papa bolos kerja? Harusnya Papa memberikan contoh pada karyawan Papa agar rajin bekerja, bukannya malah bolos kerja," omel Ayana pada suaminya.


Rafael menghentikan langkahnya. Dia memegang kedua bahu istrinya dan menatapnya lekat. Kemudian dia berkata,


"Bukannya tadi Mama yang menyuruh untuk membolos kerja?"


"Ck! Itu kan anak-anak, sekalian kita liburan. Ternyata anak-anak kita gak mau bolos. Jadi... ngapain Papa yang bolos kerja?" omel Ayana kembali yang tidak mau disalahkan oleh suaminya.


Rafael terkekeh melihat istrinya sedang mengomel padanya. Tanpa disadari oleh Ayana, dengan gerakan cepatnya Rafael mengangkat tubuh istrinya untuk digendongnya.


"Loh Pa... kita mau ngapain?" tanya Ayana yang kaget tiba-tiba tubuhnya merasa melayang.


Rafael tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengedipkan matanya pada istrinya yang sedang digendongnya.


Di dalam mobil Adelio, Adelia sedang sibuk memeriksa laci mobil kakaknya. Bahkan dia menoleh dan melihat-lihat pada kursi bagian penumpang.


Adelio merasa heran pada adiknya. Dengan posisinya yang masih mengemudi dia bertanya,


"Sedang cari apa?"

__ADS_1


__ADS_2