
Adelio terkekeh dalam mobilnya tatkala mengingat jawaban dari Mia. Dia benar-benar tidak mengira jika gadis selucu Mia akan mengatakan hal seperti itu.
Karena kedua orang tuaku tidak suka jika ada yang menyaingi ketampanan papaku.
Tawa Adelio tidak henti-hentinya, hingga perut dan pipinya merasa kram. Apalagi ekspresi Mia saat mengatakan itu, terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi Adelio.
"Sepertinya hariku akan lebih menyenangkan dan lebih berwarna jika ada dia. Ternyata Tuhan begitu baik, ketika Lia sibuk dengan Kenzo, dia mengirimkan pengganti Adelia untuk aku jahili, agar hariku tidak datar dan biasa saja," ujar Adelio sambil tersenyum dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Selang beberapa saat kemudian, mobil Adelio sudah memasuki kawasan rumahnya. Di teras rumahnya, sudah berdiri Adelia yang sedang menunggunya.
"Selamat malam Princess kesayangan Kakak," sapa Adelio pada Adelia sambil mencium pipi kanan dan kirinya.
"Selamat malam Kakak kesayanganku. Bagaimana pendapat Kakak tentang Mia?" tanya Adelia dengan antusias.
"Mmmm ...," ucap Adelio sambil berakting sedang berpikir.
"Kenapa Kak? Apa ada masalah? Apa Mia gak termasuk kriteria pasangan idaman Kak Lio?" tanya Adelia dengan rasa ingin tahunya.
Tangan Adelio mengusap lembut kepala adiknya. Dia menatap saudara kembarnya itu dan tersenyum padanya, seraya berkata,
"Dia lucu, sama seperti kamu."
"Tuh kan, apa Lia bilang. Kakak pasti akan tertarik dengannya. Kalau mood Lia jelek, dia selalu bisa membuat mood Lia kembali baik. Jadi, Lia pikir Kak Lio pasti cocok dengannya," tukas Adelia dengan bangganya.
"Kamu yang lucu, kenapa kamu sangat ingin menjodohkan sahabatmu itu dengan Kakak?" tanya Adelio sambil terkekeh dan tangannya mengacak-acak rambut saudara kembarnya.
Adelia memajukan bibirnya. Dia memperlihatkan wajah kesalnya sambil melepaskan tangan Adelio dari kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Mia selalu nanyain Kakak. Dia selalu memuja-muja Kakak di depanku, meskipun dia mengira jika Kakak adalah pacarku."
"Nah, itulah bodohnya sahabatmu itu. Padahal kalian bersahabat, kenapa dia sampai gak tahu jika kamu memiliki saudara kembar? Lebih parahnya lagi, dia gak bisa mengenali wajah kita yang jelas-jelas kembar ini," ujar Adelio sambil terkekeh.
"Kakak lupa? Bukan hanya Mia saja yang mengira kita pacaran. Hampir semua orang yang gak kenal sama kita, pasti mereka mengira kita pacaran" tukas Adelia sambil tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Adelio tersenyum dan kedua tangannya memegang pipi saudara kembarnya, seraya berkata,
"Itu cara Kakak melindungi kamu dari para laki-laki playboy yang mengincar kamu."
Seketika Adelia memeluk erat kakaknya dan berkata,
__ADS_1
"Kak Lio memang kakak terhebat. Lia sangat bersyukur karena memiliki Kak Lio sebagai kakak Lia. Tentunya Lia sangat bahagia memiliki Kakak."
Adelio membalas pelukan adiknya. Dia memeluk erat tubuh Adelia dan berkata,
"Kakak juga sangat senang mempunyai adik cantik, pintar dan sangat baik seperti kamu. Saking baiknya, hingga gak bisa nolak perasaan laki-laki yang memaksanya menjadi pacar kamu."
Mendengar perkataan kakaknya, Adelia mengurai sedikit pelukannya dan memukul dada bidang saudara kembarnya, seraya berkata,
"Kenapa Kakak mengingatkan aku tentang hal itu?"
"Kakak hanya mengingatkan kamu bahwa sikap kamu yang gak tega pada orang lain itu bagus, tapi gak selamanya kamu harus bersikap seperti itu pada semua orang. Tentunya kamu harus mengetahui kondisinya terlebih dahulu," jawab Adelio sambil terkekeh.
"Lia kan masih berusaha, Kak," ucap Adelia sambil memajukan bibirnya.
Seketika tangan Adelio mencubit gemas bibir saudara kembarnya itu. Kemudian dia berkata,
"Kakak pasti akan kangen sama bibir manyun kamu ini, jika kamu sudah menikah nanti."
Adelia melepaskan tangan kakaknya dari bibirnya. Dia menatap intens manik mata kakaknya dan berkata,
"Lia juga pasti kangen banget sama kebersamaan kita, Kak. Lia yakin Kak Lio akan mendapatkan istri terbaik yang bisa membuat Kakak tampanku ini bahagia."
"Mia maksudmu?" tanya Adelio sambil terkekeh.
"Bagaimana Kak? Apa dia ok menurut Kakak?"
"Ok? Ok apanya?" tanya Adelio sambil mengernyitkan dahinya.
"Mia. Kak Lio akan jadikan Mia sebagai pasangan kan?" balas tanya Adelia sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.
Adelio menghela nafasnya. Dia tersenyum tipis dan berkata,
"Kenapa kamu sepertinya ingin sekali aku cepat menikah?"
"Bukan begitu, Kak. Lia hanya ingin Kak Lio mempunyai pacar atau pasangan. Syukur-syukur jika memang Kakak bisa cocok dengan Mia. Aku hanya ingin Kakak bahagia," tutur Adelia sambil menatap serius pada kakaknya.
"Kakak tau itu, Princess. Kakak hanya merasa belum siap saja untuk mempunyai komitmen dengan perempuan," ujar Adelio sambil mengusap lembut rambut adiknya dan tersenyum padanya.
"Lalu, kapan Kak Lio merasa siap untuk mempunyai suatu komitmen dalam hubungan dengan perempuan?" tanya Adelia dengan penasaran
__ADS_1
Adelio melepaskan tangannya dari kepala adiknya. Dia menatap wajah cantik saudara kembarnya itu dan tersenyum padanya, seraya berkata,
"Nanti."
"Nanti kapan, Kak?" tanya Adelia dengan tidak sabarnya.
Adelio kembali tersenyum. Dia mengacak-acak rambut Adelia dan berkata,
"Nanti, jika saatnya sudah tiba."
Setelah mengatakan itu, Adelio segera berjalan masuk ke dalam rumahnya. Melihat kakaknya masuk ke dalam rumah tanpa mengajaknya, Adelia segera berjalan cepat dan menaiki punggung kakaknya.
Adelio sedikit terkejut merasakan punggungnya yang terasa berat, tapi dia sudah tidak asing lagi dengan semua itu. Pemuda tampan yang merupakan kakak kembar Adelia itu, tersenyum dan mengarahkan tangannya ke belakang untuk menopang tubuh Adelia agar tidak terjatuh.
"Dasar kamu ya," ucap Adelio sambil terkekeh dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggendong Adelia di punggungnya.
Adelia tertawa mendengar perkataan kakaknya. Seperti biasanya, Adelio selalu menggendong Adelia kapan pun adiknya itu memintanya.
"Let's go My Boy!" seru Adelia menirukan panggilan kedua orang tuanya pada Adelio.
Adelio hanya terkekeh dan terus berjalan masuk tanpa menolak keinginan adiknya. Tawa mereka berdua menyita perhatian Ayana dan Rafael yang berada di ruang tengah. Suara tawa dan canda dari kedua anak kembarnya itu, membuat mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.
"Kalian baru pulang?" tanya Rafael pada kedua anak kembarnya.
"Iya Ma, Pa," jawab Rafael sambil berjalan ke arah mereka.
"Pasti kalian berdua sudah makan," ucap Ayana sambil memberikan tangannya pada Adelio untuk diciumnya.
"Mama gak lupa kan kalau Lia tadi sudah menghubungi Mama untuk memberi kabar bahwa Lia dan Kak Lio makan bersama di luar sebelum kami pulang?" timpal Adelia sambil bergerak turun dari punggung kakaknya.
Ayana tersenyum mendengar putrinya yang seolah sedang mengomel padanya. Kemudian dia berkata,
"Mana mungkin Mama lupa akan suara merdu Princess kesayangan Mama."
"Lia kira Mama lupa, makanya barusan bertanya," ucap Adelia sambil mencium tangan mamanya.
"Kalian makan malam bersama dengan Kenzo?" tanya Rafael sambil menatap Adelia dan Adelio secara bergantian.
Adelia menatap ke arah papanya dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
Rafael tersenyum lega melihat anggukan kepala dari Adelia. Kemudian dia menatap ke arah Adelio dan berkata,
"Baguslah. Kalau begitu, bagaimana jika My Boy berkenalan dengan anak dari teman Papa juga?"