Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 53 Keputusan


__ADS_3

Pertanyaan yang diajukan oleh Kenzo membuat Adelia tercengang. Bukannya dia tidak bisa menjawabnya, hanya saja ekspresi dari Kenzo saat ini menunjukkan kecurigaan pada dirinya.


"Bukan seperti itu Ken, hanya saja--"


"Kenapa? Apa kalian mempunyai hubungan spesial yang gak aku ketahui?" sahut Kenzo dengan tatapan menyelidik.


Adelia menghela nafasnya. Dia menatap Kenzo yang juga sedang menatapnya. Kemudian dia berkata,


"Ken, tolong dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Setelah itu, silahkan kamu memutuskannya."


"Memutuskan? Maksudnya?" tanya Kenzo sambil mengernyitkan dahinya.


Adelia berusaha tersenyum, meskipun terlihat sangat terpaksa. Kemudian dia berkata,


"Dengarkan dulu. Nanti pasti kamu akan tahu apa yang aku maksudkan."


"Baiklah, aku akan mendengarkannya terlebih dahulu," ucap Kenzo sambil menganggukkan kepalanya.


Adelia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah itu dia mulai menceritakan semuanya pada Kenzo, mulai dari awal Arion menginginkan hubungan pacaran dengannya dilandasi perjanjian mereka yang sepihak, hingga saat tadi Adelia berhasil mengutarakan keinginannya untuk mengakhiri perjanjian tersebut.


Kenzo menatap intens manik mata Adelia selama dia bercerita. Ada rasa iba dan kagum pada gadis cantik yang kini namanya sudah tertera dalam hatinya. Perlahan tangannya meraih tangan Adelia dan digenggamnya dengan erat, seraya berkata,


"Aku percaya sama kamu, Sayang. Aku hanya gak suka cara dia menatapmu. Aku tau dari tatapan matanya, jika dia memang menyukaimu. Kini aku tahu, jika penilaianku memang benar."


Ada rasa lega dan rasa haru yang dirasakan oleh Adelia saat ini. Dia benar-benar bersyukur telah mengikuti saran dari saudara kembarnya, dan tentunya dia bangga pada dirinya sendiri, karena berhasil mengatakan keinginannya pada Arion.


"Sepertinya kamu sangat kesusahan untuk menghadapi laki-laki gak tahu diri itu," ujar Kenzo seraya tangannya mengusap lembut kepala Adelia.


Ada rasa damai dalam hatinya, ketika menerima perlakuan manis dari Kenzo. Dia tersenyum malu dan berkata dalam hatinya,


Kenzo memperlakukan aku sama seperti Kak Lio memperlakukanku. Aku rasa gak ada alasan untuk menolak perjodohan ini.


"Ken, apa kamu marah setelah mengetahuinya?" tanya Adelia dengan sangat hati-hati.


"Marah? Aku memang marah, tapi bukan denganmu. Asal kamu tahu saja, aku gak bisa marah padamu. Aku marah dan kesal pada laki-laki pengecut itu," jawab Kenzo seraya tangannya mengusap lembut pipi Adelia.


"Lalu?" tanya Adelia dengan rasa ingin tahunya.


Kenzo tersenyum padanya. Dia menatap lekat mata Adelia dan berkata,

__ADS_1


"Kita harus percepat pertunangan kita, agar dia gak punya kesempatan untuk berharap lagi denganmu."


"Dipercepat?" tanya Adelia, seolah tidak yakin dengan pendengarannya.


Kenzo menganggukkan kepalanya, dia tersenyum dan berkata,


"Kalau bisa minggu ini. Aku akan meminta pada orang tuaku untuk mempersiapkannya."


"Minggu ini?" tanya Adelia kembali, sambil mengernyitkan dahinya.


Kenzo kembali menganggukkan kepalanya dan terkekeh melihat ekspresi Adelia saat ini. Kemudian dia berkata,


"Iya, benar, minggu ini. Kenapa? Apa terlalu lama? Apa tunangan kita dilakukan tiga hari lagi?"


"Hah?! Apa?! Tiga hari lagi?! Apa gak terlalu cepat?" tanya Adelia dengan memperlihatkan ekspresi kagetnya.


Kenzo terkekeh melihat ekspresi kaget Adelia. Di sela tawanya itu dia berkata,


"Jika ingin malam ini pun juga bisa. Sekarang juga, aku akan menghubungi toko perhiasan untuk mengirim cincin ke sini."


"Hah?! Apa?! Sekarang? Ken, jangan bercanda!" ujar Adelia dengan gugupnya.


Dari arah pintu, Adelio memperhatikan saudara kembarnya. Bibirnya melengkung ke atas melihat Adelia dan Kenzo mengobrol diselingi dengan tawa.


"Sepertinya sudah baik-baik saja. Aku yakin, Kenzo bisa menjaga Adelia. Aku bisa sedikit tenang apabila nantinya ada tugas yang mengharuskan aku tidak pulang dalam beberapa hari," ucap lirih Adelio sambil tersenyum tipis melihat ke arah mereka berdua.


Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundak Adelio. Dia menoleh ke arah belakang dan tersenyum, ketika mendapati papanya sedang berdiri di belakangnya.


"Bagaimana menurut pendapatmu, Boy?" tanya Rafael sambil tersenyum pada Adelio dan menggerakkan dagunya ke arah Adelia yang sedang tertawa bersama dengan Kenzo.


Adelio mengikuti arah pandang papanya. Dia tersenyum tipis dan berkata,


"Sepertinya kita sudah tidak perlu cemas lagi Pa. Jika kita sedang tidak bisa menjaga Princess kesayangan kita itu, sudah ada Kenzo yang menjaganya. Lio percaya sama dia Pa."


Rafael tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seraya berkata,


"Jadi, kita semua setuju jika Adelia menerima perjodohan dari keluarga Kenzo dan siap tunangan dengannya?"


"Lio rasa begitu, Pa," jawab Adelio sambil tersenyum, menyetujui pertanyaan papanya.

__ADS_1


"Ayo masuk! Kenapa semuanya ada di luar?!" seru Ayana sambil berjalan menghampiri suami dan putranya.


Sontak saja Adelio dan Rafael menoleh ke arah belakang. Mereka serentak berjalan menghampiri Ayana dan membawanya kembali ke dalam.


"Loh kenapa kalian membawaku kembali masuk ke dalam rumah? Adelia ke mana? Kenapa dia tidak bersamamu, Lio?" tanya Ayana sambil menatap bingung pada suami serta putranya secara bergantian.


Rafael merangkul erat pinggang istrinya dan berkata,


"Biarkan saja anak-anak kita mengurus diri mereka sendiri. Sekarang, lebih baik kita ke kamar saja."


"Tapi, kita belum makan malam, Pa," tukas Ayana sambil menghentikan langkah kakinya.


Seketika langkah kaki Rafael ikut berhenti dan berkata,


"Iya, Papa lupa. Bukannya kita sedang menunggu anak-anak untuk makan malam bersama?"


Adelio tersenyum geli melihat kebersamaan mama dan papanya, yang menurutnya menunjukkan keromantisan mereka. Dia berjalan di belakang mama dan papanya, layaknya menjadi pengiring pengantin saat ini.


Tiba-tiba langkah kaki Ayana terhenti dan dia menoleh ke arah belakang, seraya berkata,


"Boy, tolong panggil Princess untuk makan malam bersama. Jangan lama-lama, Papa sudah kelaparan dari tadi menunggu kalian berdua."


"Iya, Ma," ucap Adelio disertai helaan nafasnya.


Putra semata wayang dari mereka berdua itu, kini melangkahkan kakinya dengan malas keluar rumah untuk memanggil saudara kembarnya.


Selangkah demi selangkah dia mendekati pasangan yang sedang kasmaran itu. Ketika sudah berada tepat di belakang mereka, Adelio berkata,


"Princess, Mama sama Papa sudah menunggu untuk makan malam bersama. Lebih baik kalian cepat masuk."


Seketika mereka berdua menoleh ke arah belalang dan terkesiap melihat Adelio sudah berdiri di belakang mereka. Kemudian Adelia berdiri dan menarik tangan Kenzo, seraya berkata,


"Ayo Ken, kita masuk. Makan malam lah bersama dengan kami."


Kenzo tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seraya beranjak dari duduknya. Akan tetapi, tiba-tiba ada suara dering telepon dari ponsel Kenzo.


Tangan Kenzo mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Matanya seketika terbelalak ketika melihat layar ponselnya.


"Ada apa Ken? Apa terjadi sesuatu? Siapa yang menghubungimu?" tanya Adelia sambil menatap Kenzo penuh dengan tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2