
Adelio hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari saudara kembarnya. Dia mengacak-acak rambut Adelia seraya berkata,
"Sebaiknya kamu cepat temui dia."
Kali ini Adelia tidak marah dengan kebiasaan kakaknya yang suka sekali mengacak-acak rambutnya. Akan tetapi, dia tersenyum senang karena saudara kembarnya itu, benar-benar telah melindunginya.
"Jangan ceroboh dan harus selalu hati-hati," bisik Adelio di telinga Adelia.
Adelio meninggalkan saudara kembarnya setelah mendapatkan senyuman dan anggukan kepala darinya.
"Enggak diragukan lagi, kakakku memang the best," tukas Adelia sambil tersenyum melihat motor Adelio yang baru saja menghilang dari pandangannya.
"Adelia! Kenapa masih di situ? Apa kamu sengaja, agar aku menjemputmu di situ?" ujar Kenzo sambil terkekeh dan berjalan menghampiri Adelia.
Seketika Adelia menoleh ke arah sumber suara. Dia menyambut kedatangan Kenzo dengan senyuman manisnya. Kemudian dia berkata,
"Maaf, aku sedikit terlambat."
"Aku bersedia menunggu sampai kapan pun asal kamu tetap datang menemui ku," ucap Kenzo diiringi senyuman manisnya.
Adelia terkesima melihat senyuman Kenzo dan mendengarkan ucapannya, yang mampu membuat rona merah di wajahnya.
"Oh iya, bukannya kamu tadi bilang membawa mobil sendiri? Lalu, kenapa barusan Adelio yang mengantarmu?" tanya Kenzo dengan tatapan menyelidik.
Sontak saja Adelia teringat akan mobilnya. Dia benar-benar lupa jika pagi tadi berangkat sendiri dengan mobilnya, tanpa diantar oleh Adelio, saudara kembarnya.
"Emmm... Itu, tadi mobilnya masuk bengkel. Jadi... Kak Lio tadi--"
"Kenapa tidak menghubungiku saja? Bukankah kita nantinya juga akan bertemu? Jadi, lebih baik tadi sekalian saja aku jemput di kantor," sahut Kenzo sambil menatap intens wajah cantik gadis yang ada di hadapannya.
Adelia tersenyum lebar untuk menutupi kegugupannya. Dalam hatinya berkata,
Mana bisa aku menyuruh kamu untuk menjemput ku, bisa-bisa terjadi perang dunia di kantor nantinya. Maafkan aku Kenzo, aku akan segera mengatakannya pada Arion. Aku janji.
Kenzo meraih tangan Adelia. Dia menggandeng tangan gadis cantik itu dengan erat dan membawanya masuk ke dalam cafe tersebut.
__ADS_1
Adelia menahan senyumnya. Hatinya seperti sedang dipenuhi dengan bunga yang merekah, sehingga sangat menyenangkan baginya.
Kenzo sudah menyiapkan semuanya. Dia telah melakukan reservasi pada cafe yang sangat terkenal itu, sehingga rooftop yang sudah dipesannya itu, kini telah disulap dengan indahnya oleh si pemilik cafe tersebut.
Pemuda tampan itu mengajak Adelia menuju rooftop cafe tersebut. Tampak gadis cantik itu tersenyum senang, serta memperlihatkan tatapan kagumnya pada pemandangan yang ada di rooftop tersebut, seraya berkata,
"Wah... Sangat indah sekali pemandangannya...."
Kenzo bahagia melihat gadis cantik yang telah menarik perhatiannya itu, senang akan surprise yang telah diberikan olehnya.
Dia mengajak Adelia untuk melihat pemandangan malam dari rooftop tersebut. Mata gadis cantik itu berbinar. Dia kagum akan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Bahkan langit malam itu sangat indah, tanpa adanya hujan yang merusaknya.
Selang beberapa saat kemudian, ada dua orang waiter mengantarkan makanan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Kenzo.
Pemuda tampan yang sedang berusaha mengambil hati Adelia itu, kini mengajaknya menuju tempat jamuan mereka. Dia menarik kursi yang akan diduduki oleh Adelia dan mempersilahkannya. Setelah itu dia duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis cantik tersebut.
Malam itu benar-benar makan malam terindah bersama dengan laki-laki selain papa dan kakaknya. Bahkan Kenzo memperlakukannya layaknya seorang putri malam ini.
Tentu saja Adelia tidak pernah mendapatkan hal itu dari Arion. Kelas ekonomi antara Arion dan Kenzo berbeda, bahkan jauh berbeda. Akan tetapi bukan itu yang membuat Adelia tiba-tiba merasa tidak nyaman dengannya. Perubahan Arion yang sangat ambisius lah yang membuat Adelia menjadi tidak nyaman jika berada di sisinya.
Adelia merasa sangat nyaman dan sangat bahagia malam ini. Dia lupa akan sosok Arion dan lupa akan kejadian sore tadi, ketika Adelio menjemputnya.
Kenzo meletakkan sendok dan garpunya, setelah makanan yang ada di piringnya sudah habis dinikmatinya. Dia menatap kagum pada sosok.gadis cantik yang ada di hadapannya itu dan bertanya,
"Adelia, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
Adelia yang sedang menyeruput minumannya dengan menggunakan straw, kini menghentikannya. Dia menatap Kenzo dan berkata,
"Tanya apa?"
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Kenzo pada Adelia.
"Hah?! Keputusanku? Tentang apa?" tanya Adelia dengan memperlihatkan wajah bingungnya.
Kenzo tersenyum melihat ekspresi Adelia yang menurutnya terlihat lucu Saat ini. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin mengabulkan keinginan orang tua kita untuk bertunangan?"
Seketika wajah Adelia menegang. Dia gugup saat melihat tatapan mata dari Kenzo. Dalam hatinya berkata,
Mampus! Kenapa dia membahasnya sekarang? Bagaimana ini? Aku belum mengatakan yang sebenarnya pada Arion. Aku memang ingin menerima Kenzo, tapi aku tidak ingin menyakiti Arion.
"Adelia," panggil Kenzo dengan lembut, sambil menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Adelia, ke kiri dan ke kanan.
Adelia terkesiap. Dia sadar dari lamunannya. Dengan sedikit salah tingkah dia berkata,
"Emmm... Sebenarnya aku juga tidak mau membuat kecewa Mama dan Papa. Akan tetapi, aku juga tidak mau kecewa. Apa kita tidak bisa saling mengenal terlebih dahulu, sebelum kita menyetujui pertunangan itu?"
Kenzo tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi keinginan Adelia. Tangannya dengan lembut meraih tangan Adelia. Kemudian dia mencium tangan gadisnya itu dengan penuh perasaan.
Adelia merasakan semua itu. Dia tersenyum malu dan tersirat rona merah pada kedua pipinya. Hatinya kini bertambah yakin jika dia akan berterus terang pada Arion dan mengakhiri hubungan mereka, meskipun waktu yang menjadi kesepakatan mereka belum selesai.
Mereka berdua, menghabiskan dessert yang tersaji sambil membicarakan tentang diri mereka, keluarga mereka dan pekerjaan mereka. Keinginan Adelia untuk saling mengenal pun telah mereka lakukan saat ini. Dalam hati mereka berdua sangat yakin, jika hubungan mereka akan sangat lancar, tanpa ada halangan apa pun yang bisa membatalkan rencana pertunangan, bahkan pernikahan mereka.
"Sudah malam Ken, sebaiknya aku pulang sekarang," ucap Adelia sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Aku antar ya," tukas Kenzo menanggapi perkataan Adelia.
"Tapi Ken, aku bisa minta jemput Kak--"
"Aku tidak menerima penolakan, Adelia...," sahut Kenzo sambil beranjak dari duduknya.
Adelia pun menyetujuinya. Mereka turun dari rooftop tersebut dan keluar dari cafe itu setelah Kenzo membayar semuanya.
Obrolan mereka berlanjut di dalam mobil. Percakapan mereka semakin menarik, sehingga jarak menuju rumah Adelia pun tidak terasa. Kini, mobil yang dikendarai oleh Kenzo, telah melewati pagar rumah mewah tersebut.
Tanpa diketahui oleh Adelia, Arion sejak tadi berada di dekat rumah mewah itu, untuk menunggu gadis pujaan hatinya. Akan tetapi, saat itu juga hatinya sangat sakit, tatkala melihat Adelia berada di mobil seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Bahkan mobil tersebut bisa dengan mudahnya masuk ke dalam rumah mewah itu.
Arion ingin memastikan sesuatu. Dia memanjat pohon yang ada di dekatnya, untuk melihat orang yang berada di dalam mobil tersebut.
Tangannya mengepal, dadanya bergemuruh dan ekspresi wajahnya memperlihatkan kemarahannya, ketika melihat dengan jelas Adelia turun dari mobil tersebut bersama dengan seorang laki-laki yang berpenampilan rapi. Bahkan laki-laki tersebut menggandeng tangan Adelia dan berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Sialan! Siapa laki-laki itu? Beraninya dia menyentuh milikku!"