
Dering telepon yang berasal dari ponsel Arion, membuat Arion mematikan kembali mesin motornya. Dia segera mengambil ponselnya, berharap telepon tersebut dari orang yang berkali-kali dihubunginya.
Dia menghela nafasnya ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya ternyata bukan orang yang diharapkannya. Akan tetapi, dia tetap menerima telepon tersebut.
"Halo, ada apa?" tanya Arion dengan malasnya.
Aku ada berita untukmu. Kamu pasti sangat kaget. Sama seperti diriku yang kaget ketika mendengarnya, jawab seseorang dari seberang sana.
"Apa? Katakanlah, aku tidak punya banyak waktu," ucap Arion dengan sedikit kesal.
Ini tentang ibumu, tukas orang tersebut tanpa berbasa-basi.
"Ibuku? Ada apa dengan ibuku?" tanya Arion penasaran.
Aku tidak bisa mengatakannya di telepon. Sebaiknya kita bertemu saja sekarang. Aku tunggu kamu di tempat biasanya.
Setelah mengatakan hal itu, orang tersebut segera menutup teleponnya.
Arion menghela nafasnya, melihat layar ponselnya yang memperlihatkan bahwa panggilan tersebut telah berakhir. Kini, dia terpaksa harus datang ke tempat yang ditentukan untuk menemui temannya tersebut.
"Aku akan ke sana untuk menemuinya sebentar. Setelah itu, aku akan segera ke tempat itu untuk mencari Adelia," ucap Arion sembari menyalakan mesin motornya.
Motor itu benar-benar dilajukan oleh Arion dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sudah terarah pada Adelia dan temannya. Motor itu melaju dengan cepatnya menuju tempat yang ditentukan oleh temannya.
Hanya beberapa saat saja motor Arion sudah sampai di tempat itu. Sebuah cafe yang biasa menjadi tempat berkumpulnya Arion bersama pemuda lain di kampungnya.
"Arion!" sapa seorang pemuda yang sedang melambaikan tangan padanya.
Arion berlari kecil, tergesa-gesa menghampiri pemuda tersebut. Dahinya mengernyit ketika sudah duduk di depan pemuda itu, dan bertanya,
"Dimas, di mana yang lainnya?"
"Aku hanya sendiri. Bukankah kita akan membicarakan tentang ibumu? Jadi, sangat tidak mungkin jika aku mengajak yang lain untuk datang ke sini," jawab Dimas sambil tersenyum padanya.
Seketika Arion teringat akan tujuannya menemui Dimas saat ini. Dia memajukan badannya, lebih mendekat pada Dimas.
"Ada apa dengan Ibuku?" tanya Arion dengan penasaran.
Dimas menatap intens manik mata Arion, dan berkata,
"Aku mendengar dari para ibu-ibu yang sedang membicarakan ibumu. Mereka bilang jika ibumu--"
__ADS_1
"Kenapa? Pasti mereka bergosip lagi tentang ibuku. Bukankah itu sudah menjadi hal biasa, karena mereka iri pada ibuku?" sahut Arion sambil menghela nafasnya.
Dimas menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Arion. Kemudian dia berkata,
"Mereka bilang jika ibumu bukan ibu kandungmu."
Seketika Arion membelalakkan matanya mendengar berita yang tidak pernah diduga sama sekali olehnya.
"Apa? Bukan ibu kandungku?" tanya Arion seolah tidak percaya dengan pendengarannya.
"Iya. Kata mereka seperti itu," jawab Dimas sembari menganggukkan kepalanya.
Arion terkekeh mendengar jawaban Dimas. Kemudian dia berkata,
"Jika dia bukan ibuku, lalu di mana ibu kandungku?"
"Ibu kandungmu sudah meninggal. Mereka mengatakan jika kemungkinan kematian ibu kandungmu ada kaitannya dengan ibumu yang sekarang," jawab Dimas tanpa ragu.
Seketika tawa Arion berhenti. Dia menatap Dimas seolah mencari tahu akan kebohongan dari mata dan wajah temannya itu. Sayangnya dia hanya mendapatkan kebenaran saja, tidak ada kebohongan di sana.
"Maksud kamu apa?" tanya Arion dengan suara yang bergetar.
Arion terdiam sejenak. Terlihat jelas dia sedang berpikir saat ini. Setelah itu dia beranjak dari duduknya, dan berkata,
"Antarkan aku menemui mereka. Aku ingin mengetahui yang sebenarnya."
"Tunggu! Apa tidak lebih baik bertanya pada ayahmu saja?" tanya Dimas sambil berdiri dari duduknya.
"Kamu yakin jika ayahku mau bercerita dengan jujur? Kamu tahu sendiri kan, jika ayahku sangat patuh dan sangat mencintai ibuku," jawab Arion sambil menyeringai.
Seketika Dimas sadar jika apa yang dikatakan oleh Arion benar adanya. Dia menghela nafasnya, dan berkata,
"Benar katamu. Pasti ada sesuatu yang akan ditutup-tutupi oleh ayahmu."
"Ayo, berangkat," ujar Arion sambil berjalan keluar dari cafe tersebut.
Dimas pun mengikuti Arion berjalan keluar dari cafe tersebut. Mereka menaiki motor milik masing-masing. Kedua motor itu saling beriringan sepanjang jalan menuju rumah mereka yang berada satu kampung.
"Bu! Ibu! Ke sinilah sebentar!" teriak Dimas memanggil ibunya dari ruang tamu.
"Ada apa Dim?!" teriak Sarofah, ibu Dimas dari arah dapur.
__ADS_1
"Ke sini sebentar Bu! Ada yang mau bertemu dengan Ibu!" seru Dimas sambil berjalan menuju ke arah dapur.
Tiba-tiba Bu Sarofah terkejut, ketika tangannya yang sedang mencuci piring ditarik oleh seseorang. Dia pun berjalan dan berkata,
"Dimas! Apa-apaan sih kamu? Ibu masih mencuci piring, kamu main tarik aja."
"Nanti saja diteruskan cuci piringnya, Bu. Ada orang yang ingin bertemu dengan Ibu. Penting, tidak bisa ditunda," ujar Dimas sambil berjalan sembari menarik tangan ibunya menuju ruang tamu.
Seketika dahi Bu Sarofah mengernyit. Dia mencoba menerka-nerka, tapi tidak ada satu nama pun yang melintas di benaknya.
"Ingin bertemu dengan Ibu? Penting? Siapa?" tanya Bu Sarofah penasaran.
Dimas menghentikan langkahnya tepat di depan Arion yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Dia memegang kedua pundak ibunya, dan berkata,
"Ini orang yang ingin bertemu dengan Ibu."
"Arion?!" celetuk Bu Sarofah dengan memperlihatkan wajah bingungnya.
Arion berdiri dan mengulurkan tangannya pada Bu Sarofah, sambil tersenyum padanya, dan berkata,
"Iya, Bu. Saya Arion. Bagaimana kabar Ibu?"
"Baik. Ya seperti inilah, kamu bisa lihat sendiri," jawab Bu Sarofah dengan canggung dan tersenyum paksa.
Bu Sarofah benar-benar bingung saat ini. Pasalnya dia bertanya-tanya dalam hatinya, alasan apa yang membuat Arion ingin menemuinya dan berkata bahwa itu sangat penting.
"Duduk dulu, Bu," ucap Dimas sambil menuntun Ibunya untuk duduk di kursi yang ada di depan Arion.
Bu Sarofah pun menurut. Dia duduk di kursi tersebut dan memandang heran pada Arion yang menatapnya seolah ingin menanyakan banyak hal padanya.
"Ada apa, Arion? Biasanya kalau kamu main ke sini nyarinya Dimas. Tumben-tumbenan sekarang nyariin Ibu?" tanya Bu Sarofah penasaran.
"Kali ini saya sengaja datang ke sini karena ingin menanyakan sesuatu pada Ibu. Saya harap Bu Sarofah mau menjawabnya dengan jujur," jawab Arion dengan serius.
"Apa itu?" tanya Bu Sarofah kembali sambil mengernyitkan dahinya.
Arion menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, untuk menyiapkan hatinya mendengar jawaban dari Bu Sarofah. Jujur saja dalam hatinya dia menginginkan jawaban dari Bu Sarofah, bahwa ibunya yang sekarang bukan penyebab dari kematian ibu kandungnya.
Melihat Arion yang seperti itu, Dimas memahami betul perasaan temannya itu. Dia pun berinisiatif menanyakannya pada sang ibu.
"Bu, apakah Bu Intan bukan merupakan ibu kandung Arion?"
__ADS_1