Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 84 Teror


__ADS_3

Beberapa kali Adelio telah menguap. Dia benar-benar tidak bisa tidur semalam. Hanya sekitar dua jam saja dia akhirnya bisa tertidur, dan itu membuatnya sangat mengantuk saat ini.


Bayangan gadis cantik yang sedang tersenyum itu, masih saja tidak mau pergi dari penglihatannya. Hingga membuat Adelio membuka matanya untuk menghilangkan bayangan tersebut. Selama semalaman dia berjuang untuk mengenyahkan bayangan gadis tersebut, agar dia bisa mengistirahatkan badan dan pikirannya.


"Sepertinya semalam Kak Lio gak tidur ya?" tanya Adelia pada Adelio yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Kakak gak bisa tidur," jawab Adelio tanpa menoleh ke arah adiknya.


"Gak bisa tidur? Kok bisa? Kenapa? Apa Kak Lio takut tidur sendirian?" tanya Adelia sambil mengernyitkan dahinya.


Adelio terkekeh mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh adiknya. Kemudian dia berkata,


"Memangnya Kamu? Kakak bisa tidur di mana saja. Kamu lupa, siapa Kakak?"


"Ah, benar juga. Kakak selalu bisa tidur di mana pun Kakak berada," jawab Adelia sambil terkekeh.


Adelio hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya. Dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menyimpan kerisauannya dalam hatinya yang terdalam. Dia tidak ingin jika adik tersayangnya yang merupakan saudara kembarnya itu, merasakan kekhawatirannya.


Selang beberapa menit kemudian, mobil Adelio berhenti tepat di depan pintu masuk kantor Adelia. Seperti biasanya, dia keluar dari mobilnya untuk membukakan pintu mobil adik kesayangannya.


Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Adelia keluar dari mobilnya, dan adiknya itu menerima uluran tangannya, seraya berkata,


"Terima kasih Kakakku tersayang."


Adelio terkekeh mendengar ucapan terima kasih dari adiknya. Dia merapikan rambut Adelia dan berkata,


"Selamat bekerja Princess kesayangannya Kakak."


Adelia tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia meraih tangan kakaknya dan mencium punggung tangannya, seraya berkata,


"Lia berangkat kerja dulu ya, Kak. Terima kasih sudah mengantar Lia."

__ADS_1


Adelio tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seraya melambaikan tangannya untuk membalas lambaian tangan Adelia yang berjalan masuk ke dalam kantornya.


Ketika membalikkan badannya, mata Adelio menangkap sosok seorang pemuda sedang berdiri tidak jauh darinya, dan menatap Adelia dengan tatapan yang seolah menginginkannya.


Tangan Adelio mengepal dengan kuat, dan dia menatap tajam pada Arion, seolah ingin menghabisinya. Entah mengapa, Adelio merasa tidak suka ketika melihatnya saat ini.


Tanpa menyapa ataupun mengatakan sepatah kata pun, Adelio segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan cepat meninggalkan tempat itu.


"Sepertinya dia benar-benar belum menyerah. Adelia harus berhati-hati padanya. Aku juga harus menjaga Adelia agar tidak jatuh kembali padanya," ujar Adelio sambil mengendarai mobilnya.


Benar saja, Arion berusaha untuk mencari cara agar bisa berbicara pada Adelia. Berkali-kali dia menghubungi Adelia, tapi tetap saja Adelia tidak menjawab teleponnya. Hingga Adelia merasa sangat terganggu olehnya.


"Harus aku apakan dia? Apa aku harus memblokir nomornya?" gumam Adelia lirih diiringi helaan nafasnya, sambil memandangi layar ponselnya.


Tiba-tiba ponsel yang sedang dipegang oleh Adelia kembali berdering. Dia menghembuskan nafasnya dengan kesal, dan tanpa berpikir panjang lagi, dia mematikan ponselnya. Dipandanginya layar ponselnya yang sudah mati itu, seraya berkata,


"Bikin mood pagi aku berantakan saja. Jika seperti ini terus, pasti aku gak bisa tenang. Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Come on Lia, hentikan pikiran yang gak penting itu. Kerjaan kamu masih banyak. Ya, benar, aku harus berhenti memikirkan hal itu, atau aku akan rugi sendiri nantinya," ucap Adelia dengan sangat yakin.


Diletakkannya di atas mejanya, ponsel yang sedari tadi dipegangnya. Kemudian dia mengerjakan pekerjaannya. Selang beberapa menit berlalu, dia menghentikan apa yang sedang dikerjakannya, dan berkata,


"Tunggu. Jika aku mematikan HP ku hanya karena dia, itu juga merugikan diriku sendiri. Bagaimana jika ada telepon penting? Ah, bodohnya aku, harusnya aku blokir saja nomornya. Kenapa aku harus mematikan Hp ku?"


Tangannya menyambar ponsel yang ada di meja kerjanya. Dinyalakannya ponsel tersebut, berniat untuk memblokir nomor Arion. Sayangnya, beberapa sejumlah pesan yang dikirim oleh Arion ketika ponsel Adelia tidak aktif, kini semuanya telah terkirim, sehingga membuat Adelia terkejut ketika menerima banyaknya pesan tersebut.


"Astagaaaaa aku merasa seperti sedang diteror," ucap Adelia disertai helaan nafasnya.


Tanpa disangka Adelia, ternyata semua pesan tersebut memberi tanda pada Arion. Tanda bahwa semua pesan-pesannya telah diterima, membuat Arion kembali menghubungi Adelia.


Benar saja, ponsel yang berada di tangan Adelia, kembali berdering, sehingga membuat Adelia terkejut dan melepaskan ponselnya.

__ADS_1


"Untung saja jatuhnya di meja, bukan di lantai," ujar Adelia sambil menatap iba pada ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.


Merasa sangat terganggu dengan nama Arion yang terpampang dengan jelas pada layar ponselnya, saat ponsel itu berdering, Adelia segera mengambil ponsel itu dan jarinya bergerak dengan lincahnya untuk memblokir nomor Arion, seraya berkata,


"Aku harus memblokir nomornya sekarang."


Adelia menghela nafasnya dengan lega. Akan tetapi, dia tahu jika itu bukanlah akhir dari apa yang akan dilakukan oleh Arion padanya. Kedua tangannya menutupi wajahnya, dan dia berkata,


"Untuk saat ini, aku bisa bernafas dengan lega, tapi aku yakin, jika dia tidak akan berhenti di sini. Pasti dia akan melakukan hal lain untuk bisa berbicara denganku. Oh Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan?"


Dia merasa frustasi saat ini. Selama ini memang banyak laki-laki yang berusaha untuk mendekatinya, tapi di antara mereka semua tidak ada yang senekat Arion. Hanya Arion saja laki-laki yang membuat Adelia merasa terganggu, bahkan saat ini dia merasa seolah sedang diteror oleh Arion.


"Apa aku harus memberi tahu Kak Lio ya?" tanya Adelia sambil berpikir.


"Benar. Aku harus memberitahukan semuanya pada Kak Lio. Bukankah Kak Lio menyuruhku untuk memberitahukan padanya semua hal tentang apa yang dilakukan Arion padaku? Baiklah, aku akan memberitahu Kak Lio," sambung Adelia sambil mencari kontak Adelio.


Hanya dua kali berdering saja, telepon tersebut segera diangkat oleh Adelio. Hal itu membuat Adelia tersenyum lega.


"Halo, Kak Lio," sapa Adelia memulai percakapan mereka.


Ada apa, Sayang? Apa terjadi sesuatu? tanya Adelio dengan lembutnya.


"Kak, sepertinya Arion gak akan berhenti menggangguku," jawab Adelia disertai helaan nafasnya yang terdengar berat di telinga Adelio.


Arion? Apa yang dia lakukan padamu, Sayang? tanya Adelio yang terdengar cemas saat ini.


"Dia tadi--"


Apa dia mendekatimu? Apa dia mengancam kamu? Atau dia memaksamu? sahut Adelio seolah tidak sabar mendengar penjelasan Adelia.


"Dia meneror aku, Kak," jawab Adelia dengan lemah.

__ADS_1


Apa? Diteror? tanya Adelio dengan suara meninggi.


__ADS_2