Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 56 Merencanakan Kembali


__ADS_3

"Sial! Kenapa dia masih menghubungiku?!" seru Kenzo ketika melihat nama si penelepon pada layar ponselnya.


Merasa sangat kesal dan marah, Kenzo segera menekan tombol hijau dan menjawab panggilan telepon tersebut. Dia berbicara dengan tegas dan emosi pada si penelepon.


"Halo. Kenapa kamu masih saja menghubungiku? Bukankah aku sudah melarang kamu untuk menghubungiku lagi?"


Ken, tolong beri aku kesempatan lagi. Aku ingin--


"Stop! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Jangan menemui aku ataupun menghubungiku lagi! Camkan itu!" seru Kenzo dengan amarahnya yang menggebu-gebu.


Setelah mengatakan itu, dia segera mematikan telepon tersebut dan melempar ponsel itu ke kursi penumpang yang ada di sampingnya.


"Dia merusak hari baikku. Gak akan aku biarkan dia merusak kebahagiaanku. Lihat saja nanti!" ujar Kenzo dengan kemarahannya yang terlihat jelas di matanya.


Jalanan malam yang sepi itu, menjadi tempat pelampiasan kemarahan dari seorang Kenzo. Mobil tersebut dikendarai Kenzo dengan kecepatan tinggi, membelah kesunyian malam dengan rasa amarah yang sedang merajai hatinya.


Hanya beberapa saat saja, mobil Kenzo sudah masuk ke dalam halaman rumahnya. Setelah mesin dimatikan, dia mencoba mengendalikan kemarahannya.


Pemuda tampan itu menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah emosinya sedikit mereda, dia keluar dari mobilnya.


Ekspresi wajahnya pun ditata olehnya agar tidak terlihat sedang marah dan berkabut emosi. Dia mencoba tersenyum untuk menutupi kemarahannya. Setelah dirasa dia sudah siap masuk bertemu dengan kedua orang tuanya, kakinya melangkah masuk dengan ekspresi wajahnya yang sedang tersenyum bahagia.


"Malam Ma, Pa," sapa Kenzo sambil tersenyum berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


Sonya dan Danu tersenyum menyambut kedatangan putra semata wayang mereka. Kenzo mencium pipi kedua orang tuanya dan duduk di kursi yang berada di dekat mereka.


"Ma, Pa, Adelia sudah menjawabnya," ujar Kenzo dengan serius, sambil menatap mama dan papanya secara bergantian.


"Benarkah?" tanya Sonya, seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


Kenzo menganggukkan kepalanya, menanggapi pertanyaan dari mamanya. Dia tersenyum, untuk meyakinkan mamanya.


"Jadi, kapan kamu akan melamar Adelia?" tanya Danu dengan antusias pada putranya.


"Dari mana Papa tahu jika Adelia menerima perjodohan ini, Pa?" tanya Kenzo sambil mengernyitkan dahinya.


Danu terkekeh mendengar pertanyaan yang ditujukan oleh putranya. Dia pun menjawab,


"Dari wajah kamu saat ini, rasanya tidak mungkin jika kamu ditolak oleh Adelia."

__ADS_1


"Mama juga berpikiran seperti itu. Lalu, kapan kamu melamarnya?" tanya Sonya dengan sangat antusias.


Kenzo memajukan duduknya, seolah dia sangat antusias saat ini. Kemudian dia berkata,


"Secepatnya Ma, Pa. Kenzo mau secepatnya kita datang ke rumah keluarga Atmaja untuk melamar Adelia."


"Mama dan Papa sih setuju-setuju saja. Benar kan Ma?" tanya Danu pada istrinya, untuk mencari dukungan darinya.


"Bahkan sangat setuju. Apa kita percepat saja acaranya?" tanya Sonya dengan sangat antusias.


"Benar Ma?" tanya Kenzo dengan mata yang berbinar.


Danu terkekeh melihat betapa antusiasnya putranya saat ini. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar, Ken?"


Kenzo tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari papanya. Merasa saat ini merupakan kesempatan yang bagus untuknya, Kenzo pun mengangguk dengan sangat antusiasnya, berharap agar dikabulkan oleh mama dan papanya.


"Bagaimana kalau dua hari lagi? Bisa kan Mama mempersiapkan semuanya dalam waktu dua hari?" tanya Danu pada istrinya.


"Tentu saja bisa. Mama akan mempersiapkan semuanya dengan sangat spesial. Mama ingin momen ini menjadi sangat bermakna bagi kita semua," ujar Sonya dengan mata yang berbinar.


Kenzo menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Pasti. Semua hal yang ditangani oleh Mama pasti hasilnya sangat memuaskan."


"Sudah pasti. Jadi, semuanya kita serahkan saja pada Mama," tukas Danu sambil tersenyum bahagia.


"Ya sudah, kamu pasti sudah makan dengan Adelia. Lebih baik kamu sekarang bersih-bersih dan beristirahat," tutur Sonya pada putra kesayangannya.


Kenzo pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Akan tetapi, langkah kakinya terhenti ketika akan menaiki tangga. Kemudian dia berbalik dan bertanya,


"Mama kok bisa tahu, jika Ken makan malam bersama Adelia?"


Sonya terkekeh mendengar pertanyaan dari putranya. Di sela kekehannya itu, dia menjawab,


"Pertama, bagaimana kamu bisa tau jawaban Adelia jika tidak bertemu dengannya? Kedua, tidak mungkin kalian hanya bertemu saja, tanpa makan malam bersama. Benar bukan?"


Seketika Kenzo tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Mama memang paling perhatian. Ken ke kamar dulu ya Ma."


Sonya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan putranya. Sedangkan Danu, dia terkekeh sembari merangkul erat istrinya.


Di lain tempat, keluarga lainnya tidak sebahagia keluarga Atmaja dan keluarga Kenzo. Keluarga Arion merasa khawatir dengan keadaan Arion saat ini.


"Sudah, Bu, jangan terlalu dipikirkan. Arion sudah dewasa. Kita biarkan saja dia untuk menyelesaikan masalahnya sendiri," tutur Fabian sambil mengusap lembut pundak istrinya.


Intan hanya tersenyum tipis mendengar penuturan dari suaminya. Dalam hatinya dia berkata,


Aku tidak khawatir dengan Arion. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya membalas dendam pada keluarga Adelia, terutama pada Rafael dan Ayana. Aku memang sudah mempunyai rencana, tapi aku ingin lebih membuat mereka menderita selama hidup mereka.


"Ayo tidur Bu, sudah malam," ujar Fabian sambil merangkul tubuh Intan dan mengajaknya berjalan menuju tempat tidurnya.


Intan masih diam di tempatnya, sehingga Fabian tidak bisa melangkahkan kakinya. Tangan Fabian dilepaskan oleh Intan dari pundaknya, seraya berkata,


"Sebaiknya Mas tidur duluan. Aku mau ke kamar mandi dulu, perutku agak tidak enak."


"Apa kamu sedang sakit, Sayang?" tanya Fabian sambil mengernyitkan dahinya.


"Tidak, Mas. Tiba-tiba saja aku merasakan perutku mulas," jawab Intan sambil tersenyum kaku.


Fabian terkekeh mendengar jawaban suaminya. Kemudian dia berkata,


"Ya sudah, aku akan menunggumu di tempat tidur."


Tanpa menanggapi perkataan suaminya, Intan segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, dia menghubungi orang suruhannya untuk segera bertindak.


Melalui pesannya, Intan memberitahukan rencananya pada mereka. Rencananya kali ini sangat diyakini olehnya, bisa membuat keluarga Atmaja menderita sepanjang hidup mereka. Bahkan dia sudah memberikan perintah secara mendetail, agar orang-orang yang diperintahnya tidak lagi gagal seperti waktu itu, saat di mana Ayana sedang hamil anak kembarnya.


Balasan dari orang-orang tersebut membuat bibir Intan seketika melengkung ke atas. Dia terlihat sangat puas ketika membaca pesan tersebut. Kemudian dia menuliskan sesuatu dalam pesannya dan mengirimkan kembali pada orang-orang tersebut. Hanya beberapa detik saja, pesan balasan telah diterimanya.


"Kita lihat saja, siapa nanti yang akan tertawa bahagia dan siapa yang akan menangis sepanjang hidupnya," ucap Intan sambil menyeringai, melihat layar ponselnya.


"Sayang! Kamu baik-baik saja kan?" seru Fabian dari luar kamar mandi diiringi suara ketukan pintu yang berhasil mengagetkan Intan.


Pluk!


"OMG!!!"

__ADS_1


__ADS_2