Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 34 Mengintai


__ADS_3

Arion marah. Dia sangat marah sekarang. Gadis cantik pemilik hatinya itu, kini digandeng oleh laki-laki lain, yang masuk bersamanya ke dalam rumah mewah tersebut.


"Sial! Aku saja gak pernah masuk ke rumah itu jika mengantarkannya pulang. Berani sekali laki-laki itu menggantikan aku! Sebenarnya siapa dia?" gerutu Arion dengan kesalnya, sambil mengeratkan gigi-giginya.


Namun, pengintaian Arion hanya sampai di situ saja. Adelia dan Kenzo telah hilang dari pandangannya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah mewah itu.


Dengan berat hati Arion turun dari atas pohon, disertai hatinya yang bergemuruh saat ini. Rasa kesal dan cemburu yang ada dalam hatinya, membuat seorang Arion hilang kesabaran.


Sudah lama sekali dia menunggu kedatangan Adelia, sayangnya dia harus menelan kekecewaan karena kehadiran laki-laki lain yang mengantarkan kekasihnya itu.


"Aku akan menunggunya. Berapa lama lagi dia berada di dalam rumah itu," ucap Arion dengan tatapan yang dipenuhi amarah pada rumah tersebut.


Tentu saja semua itu tidak lepas dari pengamatan Adelio. Dia sengaja mengamati dari kejauhan untuk menjaga Adelia. Tanpa sepengetahuan Arion, Adelio terlebih dahulu tiba di rumahnya dan keluar kembali dengan menggunakan mobil, sehingga saat ini Arion tidak menyadari, jika ada Adelio di dalam mobil berkaca gelap yang terparkir tidak jauh darinya.


Kini Adelio semakin khawatir pada saudara kembarnya. Pasalnya dia takut jika Arion berlaku kasar atau bertindak buruk padanya. Yang lebih ditakutkannya lagi yaitu jika Arion membahayakan keselamatan Adelia karena kemarahannya.


"Lia... Lia... Kenapa kamu masih saja seceroboh ini?" gerutu Adelio sambil memandang Arion yang masih berdiri di tempatnya untuk menunggu Kenzo keluar dari rumah tersebut.


Setelah beberapa saat kemudian, Arion merasa jika Kenzo terlalu lama berada dalam rumah tersebut. Dia mengambil ponsel dalam sakunya dan menghubungi nomor Adelia.


Selama berkali-kali dia menghubungi Adelia. Hanya saja kekasihnya itu, sama sekali tidak menjawab panggilan teleponnya. Semua panggilan teleponnya itu berakhir sebagai panggilan tak terjawab.


Pemuda yang sedang dibakar oleh api cemburu itu, kini sedang panik karena tidak bisa menghubungi kekasihnya.


"Apa kamu sesibuk itu, sehingga gak bisa menjawab teleponku? Atau mungkin kamu sangat menikmati kebersamaan mu bersama dengan laki-laki itu?" gerutu Arion dengan kesalnya sambil melihat pada layar ponselnya.


Seperti biasanya, Arion mengirimkan beberapa pesan padanya. Dia menunggu balasan pesan dari kekasih cantiknya itu dengan hati yang gelisah.


"Sudah dua puluh menit aku mengirimkan banyak pesan padanya, tapi gak ada satu pun yang dibalasnya. Sebenarnya siapa laki-laki itu? Apa saja yang kalian lakukan di dalam sana?" Raymond kembali menggerutu sambil melihat layar ponselnya yang sama sekali tidak ada notifikasi pesan masuk.


Satu jam sudah Arion menunggu sejak Adelia masuk ke dalam rumahnya bersama dengan Kenzo. Bukan hanya satu jam saja, bahkan sebelum itu pun Arion sudah berada di sana untuk menunggu kedatangan Adelia.

__ADS_1


Namun, dia harus menelan kekecewaan setelah berjam-jam penantiannya untuk bisa bertemu dengan kekasih hatinya.


Tiba-tiba pintu pagar rumah mewah nan besar itu terbuka lebar. Terlihat dengan jelas mobil yang mengantar pulang Adelia tadi, keluar dari rumah itu. Arion bergerak untuk menaiki motornya. Dengan sigapnya dia mengikuti mobil tersebut yang melaju dengan kecepatan biasa.


"Kenapa dia mengikuti Kenzo? Apa dia mau berbuat sesuatu pada Kenzo? Gawat! Aku harus mengikutinya," ujar Adelio yang melihat motor Arion mengikuti mobil Kenzo.


Saat itu juga Adelio menyalakan mobilnya dan mengikuti Arion dari jarak yang aman. Adelio hanya tidak mau Adelia terseret dalam masalah, meskipun pada saat terjadi sesuatu tidak ada Adelia di sana.


Wajah Arion memperlihatkan kemarahannya saat ini, sehingga Adelio mengetahui segalanya dari wajahnya itu. Adelio pun bisa membaca kemungkinan apa saja yang akan dilakukan oleh Arion.


Beruntungnya jarak antara rumah Kenzo dengan rumah Adelia tidak begitu jauh, sehingga Arion tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menghadang mobilnya. Bahkan bisa dibilang jika dia tidak mempunyai kesempatan, karena jalanan menuju rumah Kenzo merupakan jalan utama dan wilayah rumah Kenzo merupakan perumahan elite yang dijaga ketat oleh tim keamanan di setiap pos jaga.


"Kamu masih beruntung Arion," ujar Adelio sambil menyeringai melihat Arion yang sedang marah saat ini.


Terlihat dengan jelas dari mobil Adelio, Arion sedang memukul stang motornya setelah melihat mobil Kenzo masuk ke dalam rumah yang tidak kalah mewah dengan rumah Adelia.


Setelah melampiaskan kekesalannya, Arion mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan tempat tersebut. Kemarahannya dilampiaskan pada jalanan malam yang udaranya terasa menusuk hingga ke dalam hatinya.


Intan dan Fabian yang berada di meja makan terkesiap mendengar suara pintu yang terbuka dengan kerasnya. Mereka berdua tergesa-gesa menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang membuka pintu tersebut.


"Arion?! Ada apa?" tanya Intan ketika melihat wajah Arion yang terlihat tidak seperti biasanya.


Arion hanya diam saja. Dia berjalan masuk melewati kedua orang tuanya tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya. Bahkan wajahnya saat ini tetap menyiratkan akan kemarahannya.


Intan menoleh ke arah suaminya yang berdiri tepat di sampingnya. Kemudian dia bertanya,


"Ada apa dengan Arion? Kenapa dia bersikap seperti itu?"


"Aku tidak tahu, Sayang. Biarkan saja dulu. Mungkin dia sedang ada masalah dengan Adelia. Nanti saja aku tanyakan padanya," jawab Fabian sambil merangkul pundak istrinya dan mengajaknya berjalan menuju meja makan.


"Adelia? Ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka putus?" tanya Intan bertubi-tubi dengan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


"Sudahlah, kita makan saja dulu. Nanti akan aku tanyakan pada Arion, setelah kita makan. Biarkan dia tenang dulu sekarang," tutur Fabian setelah duduk di kursi makannya.


Seolah tidak menghiraukan suaminya, Intan beranjak dari duduknya, seraya berkata,


"Aku panggil Arion dulu. Mungkin saja dia belum makan."


Fabian tersenyum, dia tidak melarang istrinya, karena merasa percuma saja, selama ini Intan yang dikenalnya adalah seorang yang keras kepala, tapi hatinya baik menurutnya. Bahkan dia bersyukur karena Intan bisa menyayangi Arion layaknya putranya sendiri.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Intan segera masuk ke dalam kamar Arion. Dia segera menutup pintu kamar tersebut dan berjalan masuk, menghampiri Arion yang sedang duduk lesu di atas tempat tidurnya.


"Arion, ada apa? Apakah ada masalah dengan Adelia?" tanya Intan yang terlihat sangat penasaran.


Arion menatap ibunya. Dia menganggukkan kepalanya dam berkata,


"Apa salah jika Arion tidak sekaya mereka Bu?"


"Apa maksudnya? Apa mereka menghinamu?" tanya Intan sambil mengernyitkan dahinya.


Arion tersenyum dan meletakkan kepalanya pada bantal yang ada di tempat tidurnya. Dia enggan bercerita dengan siapa saja tentang apa yang sedang dirasakannya saat ini.


Intan menghela nafasnya. Dia tahu betul kebiasaan Arion yang tidak pernah mengatakan apa pun jika ada masalah yang sedang di hadapinya.


"Oh iya Arion. Ibu ingin bertanya, apa hubungan Adelia dengan orang-orang yang ada di story nya kemarin malam?" tanya Intan dengan rasa ingin tahunya.


Arion kembali duduk. Dia menatap ibunya seraya berkata,


"Mereka keluarganya. mama, papa dan kakaknya."


Seketika mata Intan terbelalak dan tanpa sadar dia bertanya,


"Apa? Keluarganya?"

__ADS_1


__ADS_2