
Arion melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dalam benaknya saat ini, dia benar-benar sedang menyusun rencana agar apa yang dilakukannya bisa diterima oleh Adelia.
Hanya beberapa saat saja, motor Arion sudah memasuki kawasan kantor tempat dia dan Adelia bekerja. Rasa percaya diri Arion saat ini sangatlah besar. Dia memantapkan hatinya untuk bisa merebut kembali Adelia dari Kenzo.
Arion menunggu di atas motornya yang diparkir di sebelah gerbang kantor tersebut. Dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, lalu dia tersenyum dan berkata,
"Sudah waktunya pulang."
Perhatiannya kini mengarah pada pintu kantor tersebut. Bahkan matanya enggan berkedip saat menunggu Adelia keluar dari kantor itu.
Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat sosok gadis cantik yang sudah ditunggunya sejak tadi. Segeralah dinyalakan mesin motornya dan masuk ke dalam area kantor tersebut, untuk menghampiri kekasih hatinya.
"Hai Lia," sapa Arion ketika menghentikan motornya tepat di depan Adelia.
Gadis cantik yang baru saja keluar dari kantor tersebut, seketika terkesiap melihat Arion yang sedang tersenyum padanya. Tanpa sadar dia pun berkata,
"Arion?! Sedang apa kamu di sini?"
"Kalian kenal dekat?" tanya Mia yang baru saja datang menghampiri Adelia.
Adelia terlihat salah tingkah, layaknya orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu. Kemudian dia berkata,
"Tidak. Kami hanya sekedar kenal saja, gak begitu dekat kok."
Seketika raut wajah Arion berubah. Apa yang dikatakan oleh Adelia terasa menusuk sangat dalam menuju relung hatinya. Senyumnya pudar dan lidahnya terasa keluh, sehingga tidak bisa mengeluarkan kata apa pun saat ini.
Mia menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari sahabatnya. Dia menatap Arion dari atas hingga bawah. Dalam hatinya berkata,
Penampilannya oke juga sih, kalau gak pakai seragam security. Boleh juga buat gandengan, tapi sepertinya dia suka sama Lia deh. Apa Lia mengetahuinya?
Adelia memalingkan wajahnya. Dia lebih memilih melihat ke arah Mia dibandingkan melihat Arion yang berada tepat di hadapannya, sedang menatapnya dengan tatapan mengharap.
__ADS_1
"Mia, apa kamu sudah siap, untuk bertemu dengan--"
"Apa kita bisa berbicara berdua saja, Adelia?" sahut Arion tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok gadis yang ada di depannya.
Adelia dan Mia menoleh ke arah Arion. Mereka menatap pemuda itu dengan tatapan yang berbeda. Mia menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan Adelia menatapnya dengan tatapan terkejutnya.
"Lia, apa aku harus meninggalkan kalian berdua?" tanya Mia tanpa menoleh ke arah Adelia, dan tatapannya masih mengarah pada Arion.
"Tidak. Jangan. Kita sudah ada janji dengan--"
"Tapi Lia, aku harap kita bisa bicara berdua. Aku sudah menyempatkan waktuku untuk datang ke sini menemui kamu. Apa tidak bisa kita bicara sebentar saja?" sahut Arion dengan tatapan penuh harapnya pada Adelia.
Adelia menghela nafasnya dan menatap datar pada Arion. Jujur saja, pagi ini dia sudah merasa lega dengan tidak hadirnya Arion yang biasanya mengganggunya. Akan tetapi saat ini, pemuda itu tiba-tiba datang dan kembali mengganggunya untuk meminta berbicara hanya berdua saja dengannya.
"Maaf, aku--"
"Adelia! Sayang!"
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang membuat Adelia menghentikan ucapannya. Sontak saja dia, Mia dan Arion menoleh ke arah sumber suara. Bibir Adelia seketika melengkung ke atas melihat sosok pemuda yang sedang berdiri dan tersenyum padanya.
Pemuda tampan dengan pakaian dari brand ternama itu, sedang berjalan ke arah Adelia. Dia tersenyum manis pada Adelia dan dengan gaya sangat menawan menghampirinya.
"Ayo kita pulang, Sayang," ujar pemuda tersebut sambil mengulurkan tangannya pada Adelia.
Gadis cantik yang dipanggil dengan nama Adelia itu menggapai uluran tangan pemuda tampan tersebut dan tersenyum padanya. Kakinya melangkah untuk menghampiri pemuda tersebut dan berjalan bersamanya.
Namun, salah satu tangan Adelia ditarik oleh Arion, sehingga Adelia menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arahnya. Pemuda yang bergandengan tangan dengan Adelia pun melihat ke arah Arion dengan tatapan yang menghunus padanya, seraya berkata dengan tegas,
"Lepaskan tangannya!"
Beberapa orang yang ada di sekitar, seketika memperhatikan mereka. Pandangan mata semua orang tertuju pada Arion, Adelia dan pemuda yang menggandeng Adelia.
__ADS_1
Arion tidak menggubris perintah dari pemuda tersebut. Dia tidak mau melepaskan tangan Adelia dan tetap saja memegangnya dengan erat, tanpa mempedulikan Adelia yang sedang meringis kesakitan karenanya.
Tiba-tiba saja tangan Arion yang memegang tangan Adelia dipegang erat oleh pemuda tersebut, seraya berkata,
"Lepaskan!"
Arion menatap bengis pada pemuda tersebut dan semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Adelia, seolah sedang menantang pemuda tersebut.
"Lepaskan Adelia atau kamu akan berurusan denganku!"
Terdengar suara seorang laki-laki yang berseru dengan sangat tegas. Semua pasang mata beralih menatapnya.
"Kak Lio?!" celetuk Adelia diiringi senyumannya ketika melihat sosok pemuda yang sedang berseru memperingatkan Arion.
Arion enggan melepaskan tangannya. Akan tetapi, Adelio memperingatkannya dengan sangat tegas. Bahkan tatapan mata Adelio menghunus padanya. Tangan Arion dihempaskan dengan paksa oleh Adelio, sehingga dia tidak bisa menggapai tangan Adelia seperti sebelumnya.
"Kenzo, bawa Adelia pergi dari sini," tutur Adelio sambil menatap tajam pada Arion.
Tanpa menunggu lama, Kenzo melingkarkan tangannya pada pinggang Adelia dan mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.
Arion hendak mengikutinya, tapi Adelio berhasil menghentikannya. Tangan Adelio berada di bagian dada Arion dan menahannya agar tidak beranjak dari tempat tersebut. Arion tidak menyerah begitu saja. Dia mencoba bergerak dari tempatnya saat ini, sayangnya Adelio benar-benar tidak mengijinkannya.
Kini tubuh Adelio berada tepat di hadapan Arion. Dia menghadangnya dan menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan peringatan padanya.
Arion masih saja tidak menyerah. Dia mencoba menyingkirkan Adelio dari hadapannya. Sayangnya, apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan keinginannya. Adelio tetap tidak melepaskannya.
Mia, sahabat Adelia melongo melihat apa yang terjadi. Semua yang dilihatnya membuatnya terpanah. Dia tidak mengira jika bisa melihat semua yang terjadi saat ini. Tanpa sadar dia berkata lirih,
"Wah, aku gak nyangka bisa melihat drama secara live. Mereka benar-benar aktor dan aktris yang hebat. Mana ganteng-ganteng lagi. Adelia memang sangat beruntung. Dia bisa dikelilingi oleh laki-laki tampan yang berusaha mendapatkannya. Lalu, apa ada laki-laki tampan yang tersisa untukku?"
Mia masih saja melihat ke arah mereka, seolah tidak mau melewatkan adegan apa pun saat ini. Matanya fokus memperhatikan mereka. Tidak hanya itu saja, indera pendengarannya pun dipasang dengan sangat baik untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Namun, matanya seolah terpanah pada satu sosok yang membuatnya sangat tertarik padanya. Dia menghela nafasnya dan berkata lirih,
"Apa aku bisa mendapatkannya? Seharusnya dia melirikku saja, jangan melirik Adelia. Seandainya dia melirikku, pasti dia gak akan merasakan sakit hati seperti saat ini.