
Ucapan Intan membuat Fabian berpikir mengenai keluarga Adelia. Tadinya dia tidak memikirkan apa pun tentang keluarga Adelia, tapi kini dia mengkhawatirkannya. Dalam hatinya berkata,
Apa benar seperti yang dikhawatirkan Intan? Tapi keluarganya memang sangat kaya raya, jadi tidak heran jika nantinya Arion mengalami penolakan dari keluarganya.
"Ada apa Yah?" tanya Arion ketika melihat Fabian sedang duduk melamun di teras rumahnya.
Fabian terkesiap, dia menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum kaku pada Arion, yang sedang mengeluarkan motornya, ketika akan berangkat bekerja.
"Tidak ada apa-apa. Ayah hanya sedang berpikir," jawab Fabian sedikit gugup, layaknya orang yang baru saja ketahuan sedang melakukan sesuatu.
Arion menatap mata ayahnya. Dia menangkap suatu kekhawatiran pada mata tersebut. Diletakkannya motor miliknya, tidak jauh dari tempatnya berada. Kemudian dia duduk di dekat ayahnya dan berkata,
"Ayah pasti sedang memikirkan sesuatu. Arion tahu itu, Yah."
Fabian menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Kemudian dia tersenyum tipis pada putranya dan berkata,
"Ayah hanya mengkhawatirkan kamu."
"Mengkhawatirkan aku? Memangnya ada apa dengan Arion, Yah?" tanya Arion dengan dahinya yang mengernyit.
"Ayah hanya khawatir jika hubungan kamu dengan Adelia tidak disetujui oleh keluarganya, karena kita--"
"Jangan khawatir, Yah. Keluarga Adelia sangat baik. Arion sudah pernah bertemu dengan mereka. Kami berbincang-bincang. Obrolan kami juga mengalir begitu saja. Sama seperti dengan Adelia, ketika dia berada di rumah ini, Ayah dan Ibu bisa membuatnya nyaman di sini. Jadi, Ayah jangan mengkhawatirkan apa pun saat ini," tutur Arion sambil memegang tangan ayahnya, mencoba untuk menenangkannya.
Fabian tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seraya berkata,
"Syukurlah. Jika hubungan kalian memang baik-baik saja. Ayah harap kalian berjodoh dan akan selamanya bersama."
"Terima kasih Ayah. Doa Ayah dan Ibu sangat berarti buat Arion, ujar Arion sambil tersenyum pada Fabian.
Fabian pun menganggukkan kepalanya. Dia menepuk lirih pundak putranya dan berkata,
"Berangkatlah bekerja. Salam untuk Adelia. Kapan-kapan ajaklah dia kemari."
__ADS_1
Arion menganggukkan kepalanya dan tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. Dia berangkat bekerja dengan hati yang gundah. Tidak dipungkiri jika semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan hubungannya dengan Adelia.
Helaan nafasnya terasa sangat berat. Jujur saja dia tidak bisa memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi pada hubungan mereka. Hanya saja dia yakin jika bisa mengusahakan agar Adelia tidak bisa lepas darinya.
Bibirnya melengkung ke atas melihat sosok gadis yang dicintainya. Adelia terlihat sangat cantik pagi itu. Bahkan senyumannya itu terasa menembus jantungnya.
"Adelia, kamu sangat cantik," ujar Arion sambil menatap Adelia yang baru saja keluar dari dalam mobil Adelio.
Kedua saudara kembar itu sangat membuat iri orang lain, terutama Arion. Pasalnya dia yang merupakan pacar dari Adelia saja, tidak pernah seperti mereka berdua.
Iri? Tentu saja Arion iri dengan hubungan antara Adelio dan Adelia. Akan tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Dia hanya bisa mempertahankan hubungannya dengan Adelia, agar Adelia tidak lepas darinya.
Ingin sekali dia menyapanya, tapi tidak dapat dilakukannya. Dia tidak mau jika nantinya kekasih hatinya itu marah padanya.
"Aku tidak mau jika harus terus-terusan seperti ini. Aku mau kita berdua seperti pasangan lainnya. Aku tidak mau kita kucing-kucingan seperti ini," ucap lirih Arion sambil menggerakkan jari tangannya pada layar ponselnya.
Arion mengirimkan pesan pada Adelia, persis dengan apa yang dikatakannya. Kini dia berusaha keras untuk mempertahankan gadis yang diidamkan oleh banyak laki-laki di luaran sana.
Arion hanya menatap getir pada punggung kekasihnya itu. Dia pun hanya bisa menunggu balasan pesan dari gadis cantik tersebut.
Di dalam ruangan kantornya, Adelia bersenandung ria. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan kunci mobilnya dari tasnya, seraya berkata,
"Ingat Lia, mobilmu masih ada di sini, jadi kamu harus ingat. Jangan sampai lupa."
Gadis cantik itu mengingatkan pada dirinya sendiri tentang mobil yang kemarin ditinggalkannya di kantor. Karena itulah dia diantarkan oleh Adelio pagi ini.
Dahinya mengernyit ketika melihat pesan pada ponselnya. Terlebih lagi nama Arion tertera di sana. Dia segera membaca pesan tersebut.
Kini, rasa bersalah menyelimuti hati gadis cantik itu. Dia merasa sudah mengecewakan dan melukai hati laki-laki yang sudah sangat berharap padanya.
"Sebaiknya aku tidak menundanya lagi. Aku harus segera mengatakan padanya bagaimana perasaanku yang sebenarnya," ujar Adelia dengan sangat yakin.
Segera jari lentiknya itu bergerak lincah untuk membalas pesan dari Arion, laki-laki yang telah menjadi pacar sementaranya, karena perjanjian yang ada di antara mereka.
__ADS_1
Bibirnya melengkung ke atas ketika pesan darinya itu segera dibalas oleh Arion. Hanya dengan membayangkan saja, dia bisa bernafas lega.
"Semoga nanti seperti yang aku harapkan. Aku yakin jika Arion akan menerimanya. Tidak mungkin dia melupakan tentang perjanjian satu bulan itu," ucap Adelia sambil membuka map yang ada di atas meja kerjanya.
Hari ini Adelia dan Arion sama-sama tidak sabar untuk menanti waktu bertemu mereka. Sang gadis tidak sabar untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi sang laki-laki tidak sabar untuk bertemu dan melepaskan kerinduannya pada kekasihnya itu.
Waktu pun berlalu begitu saja. Lagi-lagi Adelia tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk membeli makan siang di luar. Dia meminta pada Mia agar membelikannya pada saat sahabatnya itu membeli makan siang di luar.
Tentu saja dia kembali menolak tawaran Arion ketika hendak membelikannya makan siang. Dia tidak mau mempunyai hutang budi pada laki-laki yang akan diputuskannya nanti.
Kini tiba saatnya Adelia pulang dari kerjanya. Dirapikannya semua barang-barang yang ada di atas mejanya.
"Semuanya sudah beres. Sekarang waktunya kita pulang," ujar Adelia diiringi senyumnya yang terlihat sangat bahagia.
Diambilnya tas miliknya, serta ponsel dan kunci mobil yang tergeletak di atas mejanya. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah itu dia berkata,
"Ayo Adelia, kamu bisa. Kamu harus segera memutuskan semuanya, agar tidak ada yang tersakiti."
Setelah memastikan bahwa dirinya sudah siap, Adelia segera keluar dari ruangannya. Dia berjalan dengan sangat yakin untuk menemui Arion.
Arion yang sudah menunggu kedatangan kekasih hatinya itu, kini senyumannya terukir indah di bibirnya. Dengan segera dia mengendarai motornya untuk mengikuti mobil Adelia, yang terlebih dulu keluar dari parkiran tersebut.
Adelia melajukan mobilnya dengan santai. Dia tidak mengkhawatirkan apa pun saat ini. Bahkan untuk pertemuannya dengan Arion saja tidak ada kekhawatiran dalam hatinya. Dia yakin sepenuhnya jika Arion mau menerima keputusannya.
Mobil mewah milik Adelia memasuki parkiran cafe yang pertama kali didatanginya bersama dengan Arion. Motor sport milik Arion pun diparkir di sebelah kanan mobil Adelia. Dia menunggu gadis pujaan hatinya itu, keluar dari mobilnya.
Arion menggandeng tangan Adelia untuk diajaknya masuk ke dalam cafe tersebut. Adelia menatap tangan Arion yang sedang menggandeng tangannya. Ada rasa tidak nyaman dan ingin melepaskannya.
Namun, dia tidak tega melakukan hal itu. Dia melihat wajah Arion yang terlihat sangat bahagia saat ini.
Tahan Adelia, nanti saja kita lakukan itu. Biarkan dia makan dan lakukan apa yang ingin dilakukannya. Setelah itu, giliran kamu yang melakukan keinginanmu, Adelia berkata dalam hatinya.
"Arion, aku ingin bicara," ucap Adelia sambil menatap serius pada laki-laki yang ada di hadapannya.
__ADS_1