Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 87 Ketidakpercayaan Arion


__ADS_3

Mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Arion segera kembali duduk di kursinya. Dia memakan kembali makanan yang ada di piringnya, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Sudah habis makanannya?" tanya Intan ketika sudah berada di dekat Arion.


Arion menggelengkan kepalanya, karena memang benar, makanan yang ada di piringnya masih separuh dari porsi awalnya.


"Kamu ini. Jangan seperti bocah kecil yang makannya memilih-milih dan tidak lahap. Habiskan semuanya, seperti Arion yang biasanya," tutur Intan sambil menepuk pundak Arion.


Arion hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perintah ibunya. Dia meneruskan makannya, sambil memperhatikan ibunya yang sedang duduk tidak jauh darinya, dan sibuk dengan ponselnya.


Wajah Intan terlihat sangat bahagia, ketika membaca pesan yang tadi sudah dibaca oleh Arion secara sekilas.


Bu, sebenarnya apa yang Ibu lakukan? Apa benar Ibu melakukan semua itu? Kenapa Ibu melakukan itu, Bu? Arion berkata dalam hatinya, sambil menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.


Namun, kesedihan hati karena rasa tidak percayanya itu, Arion merasa ingin mencari tahu tentang kebenarannya. Dia memperhatikan Intan, seolah tidak ingin tertinggal satu pun apa yang dilakukannya.


Setelah membalas pesan-pesan tersebut, Intan menoleh ke arah Arion yang melihatnya, sambil masih memakan makanannya sedikit demi sedikit.


"Belum selesai juga, Arion?" tanya Intan dengan wajah sumringahnya, seolah sedang memenangkan door prize.


Arion hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan ibunya dengan kata-kata. Hal itu membuat Intan menjadi geram. Dia beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekati Arion.


"Apa perlu Ibu suapi agar kamu mau menghabiskan semua makanan ini?" tanya Intan, seolah sedang bertanya pada anaknya yang masih bocah.


"Tidak, Bu. Aku akan menghabiskannya sendiri. Lakukan saja pekerjaan Ibu seperti biasanya, tidak usah menunggu Arion di sini," jawab Arion di sela kunyahannya.


Intan pun menyetujui perkataan Arion. Dia mengambil beberapa piring kotor dan menumpuknya beserta gelas dan alat makan lainnya.


"Bu, lebih baik HP Ibu ditaruh sini saja. HP Ibu kan baru, sayang jika jatuh atau terkena air," ujar Arion yang berusaha untuk membujuk ibunya.


Intan menghentikan gerakannya yang akan mengangkat piring-piring tersebut, dengan membawa serta ponselnya di tangannya. Terlihat dia sedang berpikir sejenak, kemudian dia berkata,


"Benar juga kamu Arion. Lebih baik Ibu letakkan di sini saja dulu, daripada nantinya HP ini rusak."

__ADS_1


Setelah meletakkan ponselnya di atas meja makan tersebut, Intan membawa tumpukan piring kotor beserta gelas dan alat makan lainnya ke belakang. Terdengar suara gemericik air di sana, dan suara Intan yang sedang mendendangkan sebuah lagu, seolah memberitahukan isi hatinya saat ini.


Mendengar itu, Arion dengan cepatnya mengambil ponsel Intan. Dia segera membuka pesan tersebut dan membacanya. Bahkan dia menuliskan pesan untuk orang tersebut dari nomor Intan, yang mengatakan bahwa Arion akan datang ke tempat itu.


Hanya beberapa detik saja, balasan dari pesannya pun telah diterimanya. Pesan itu memberikan alamat tempat yang dibutuhkan oleh Arion. Setelah mengirimkan alamat itu padanya, Arion segera menghapus pesan tersebut, agar Intan tidak mengetahuinya.


Merasa sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, Arion segera mengembalikan ponsel tersebut kembali ke tempatnya semula. Setelah itu, dia kembali memakan makanannya dengan lahapnya.


Terdengar suara langkah kaki dari arah dapur. Arion mencoba bersikap seperti semula, agar Intan tidak mencurigainya.


"Sudah selesai makannya?" tanya Intan ketika sudah berada di dekat Arion.


"Tinggal sedikit, Bu," jawab Arion setelah menelan makanannya.


"Letakkan saja di belakang. Nanti akan Ibu cuci," tutur Intan sambil melihat ponselnya.


Arion beranjak dari duduknya. Dia memperhatikan Ibunya dengan seksama. Seketika dia menghela nafasnya lega, ketika melihat Intan kembali tersenyum memainkan ponselnya.


Untung saja Ibu tidak tahu jika aku memakai HP nya, Arion berkata dalam hatinya.


Aku harus segera pergi ke sana, Arion kembali berkata dalam hatinya.


Dia bergerak cepat masuk ke dalam kamarnya, dan berganti pakaian. Setelah itu dia keluar kamarnya dengan tergesa-gesa.


"Arion! Kamu mau pergi ke mana?" tanya Intan dengan suara meninggi, ketika Arion melewatinya tanpa berpamitan padanya.


"Arion pergi dulu, Bu," jawab Arion dengan cepat, sambil memakai helmnya.


Intan beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Arion, seraya berkata,


"Mau pergi ke mana?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya, Arion segera menyalakan motornya dan meninggalkan ibunya yang sedang berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


"Arion!"


"Mau ke mana dia? Kenapa sepertinya terburu-buru seperti itu? Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan Adelia?"


Intan hanya bisa menduga-duga tanpa tahu jawabannya. Dia mengomel sambil berjalan menuju ruang tengah, di mana sedari tadi dia sedang menonton TV.


Namun, beberapa saat kemudian dia teringat sesuatu. Segeralah dia mengambil ponselnya dari atas meja yang ada di depannya, dan mengirim pesan pada seseorang.


Hanya kurang lebih dari satu menit, pesan balasan pun diterima olehnya. Bibirnya melengkung ke atas membaca pesan balasan tersebut.


"Bagus. Pasti semuanya akan berjalan dengan lancar," ucap Intan sambil tersenyum bahagia.


"Lalu, Arion tadi pergi ke mana? Tidak mungkin jika dia pergi menemui Adelia. Lalu, ke mana dia?" tanya Intan sambil mengernyitkan dahinya.


"Ah, mungkin saja dia pergi menemui teman-temannya," ujar Intan sambil tersenyum.


Arion, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia berharap jika apa yang dilihatnya tidaklah benar. Dalam hatinya berdoa jika pesan yang dibaca pada ponsel ibunya, hanyalah bualan semata.


Selang beberapa saat kemudian, motornya berhenti tepat di depan tempat kerjanya. Dia menatap sekelilingnya, mencari sosok orang yang sedang dicarinya.


"Mungkin dia masih belum pulang," ucapnya sambil menatap ke arah pintu kantor.


Setelah lebih dari tiga puluh menit dia menunggu, tidak ada sosok yang ditunggunya keluar dari pintu kantor tersebut.


"Oh Tuhan, semoga yang tadi tidak benar," ujar Arion sembari mengambil ponsel dari kantong celananya.


Segera dia mencari kontak telepon Adelia, tapi gerakannya berhenti ketika dia akan menekan tombol telepon untuk menghubunginya.


"Masa bodoh dia mau marah atau tidak. Ini darurat, dan aku harus memastikannya," ujar Arion sembari menekan tombol telepon pada layar ponselnya.


Berkali-kali telepon itu berdering, dan seperti biasanya, panggilan telepon itu hanya berakhir sebagai panggilan tak terjawab.


"Sial! Di mana sebenarnya dia berada sekarang?!" umpat Arion dengan emosinya.

__ADS_1


Dicobanya kembali menghubungi nomor telepon tersebut, tapi hasilnya sama saja. Tidak putus asa, dia mencoba kembali, hingga sepuluh kali dia menghubungi nomor tersebut , dan berakhir dengan hasil yang sama.


"Sepertinya aku harus ke sana," gumam Arion sambil memakai helmnya.


__ADS_2