Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 101 Ketakutan Adelia


__ADS_3

Bagai tersambar petir di siang hari. Itulah yang kini menggambarkan keadaan Fabian saat ini. Seketika dia merasa hancur berkeping-keping setelah mendapatkan fakta masa lalu istrinya. Pikirannya menerawang jauh. Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, dan menatap langit-langit kamarnya, seraya berkata,


"Ruby, Intan. Sama-sama nama yang indah. Wajahmu cantik, tapi kenapa hatimu harus sejahat itu, Sayang?"


Selain istrinya, dia sangat merasa bersalah pada Arion, anak semata wayangnya dari almarhumah istrinya. Hingga tadi, saat dia akan pulang meninggalkan kantor polisi tersebut, dia memohon pada Aksa agar bisa sekali saja menemui putranya.


Namun, ketika Aksa sudah mengijinkannya, Arion lah yang membuatnya sedih. Putranya itu tidak mau berbicara dengannya. Hingga dia mengatakan sesuatu yang membuatnya teringat saat ini.


Ceritakan kebenaran tentang Bunda. Setelah itu aku akan memutuskan, bagaimana aku akan bersikap pada kalian berdua, dan apakah aku akan memaafkan kalian berdua.


Mengingat ucapan Arion, membuatnya sangat merasa bersalah. Dia memejamkan matanya dan dalam hatinya mengucapkan permintaan maaf pada mendiang istrinya. Tanpa sadar, dia pun terlelap dalam tidurnya.


...****************...


Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Atmaja, Ayana dan Rafael menatap iba pada putri mereka. Hati mereka teriris, melihat putri mereka yang duduk ketakutan, sambil memegang erat lengan kakaknya.


"Sayang, anak kita-" ucap lirih Ayana dengan matanya yang sedari tadi berkaca-kaca, kini meneteskan air mata di pipinya, sehingga dia tidak bisa meneruskan ucapannya.


Rafael membawa tubuh istrinya dalam pelukannya. Dia mendekap erat tubuh istrinya, berusaha menenangkannya, seraya mengusap lembut lengannya, dan berkata,


"Sabar, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan berusaha agar semuanya bisa kembali normal. Adelia, princess kesayangan kita pasti akan ceria seperti dulu lagi."


Namun, perkataan dari Rafael, tidak bisa membuat istrinya kembali tenang. Dia masih saja meneteskan air matanya, dan terisak karena tidak kuat melihat keadaan putri kesayangannya saat ini.


"Sayang, tenangkan dirimu. Jangan sampai Adelia melihat kita sedih atau menangis. Sekarang kita harus memberinya pelukan, perhatian dan membuatnya kembali ceria, agar ingatan kaan kejadian itu bisa terhapus dari ingatannya," tutur Rafael dengan lembut pada istrinya.


Ayana menganggukkan kepalanya. Dia menghapus semua air mata yang masih saja mengalir di pipinya. Dia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah dirasa sudah cukup tenang dan tidak lagi mengeluarkan air mata, Ayana memaksakan senyumnya agar tidak terlihat kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu menghampiri kedua anak kembar mereka sambil tersenyum, meskipun hanya kepura-puraan semata. Dalam hati mereka berdua, menjerit dan menangis melihat penderitaan putrinya saat ini.


"Sayang, Lia, putri cantik kesayangan Mama," ucap Ayana sambil perlahan memeluk dengan lembut dan penuh kasih sayang pada Adelia.


Perlahan tangan Adelia mengendur, dan terlepas dari lengan Adelio. Dia membalas pelukan mamanya dan menangis tergugu di dalam pelukannya.


"Ma, Lia takut. Mereka semua jahat. Dia akan menyakitiku, Ma. Dia gak mau lepasin Lia. Tolong Lia, Ma," ujar Adelia di sela isakan tangisnya.


Hati Ayana teriris mendengar tangisan pilu putrinya. Apalagi dia merasakan begitu sakit dan sedihnya Adelia saat ini. Dia merasakan bahu Adelia yang bergetar karena tangisnya. Bahkan air mata putri cantiknya itu, membasahi bajunya, sehingga dia pun bisa merasakannya.


Bukan hanya Ayana saja yang menangis dan merasa sesak dalam dadanya, bahkan Rafael dan Adelio pun merasakannya. Mereka semua merasakan sakit dan menderita atas kejadian tersebut.


Adelio begitu marah. Dia merasakan dendam pada Arion dan ibunya. Dia berjanji dalam hatinya untuk menghukum mereka berdua.


...****************...


"Kita percayakan semuanya pada hukum," tutur Aksa sambil menepuk pundak Adelio.


Adelio tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatnya. Dia memang berharap banyak pada hukum, tapi dia juga berharap banyak pada karma yang akan diterima oleh Arion dan Intan. Terlebih lagi setelah dia mengetahui kejahatan masa lalu Intan yang masih menjadi Ruby, pada kedua orang tuanya.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Adelio. Segeralah dia menjawab panggilan telepon tersebut, setelah melihat nama mamanya tertera pada layar ponselnya.


"Halo, Ma ada a-"


Lio, cepatlah pulang. Adelia menangis dan berteriak histeris. Dia ketakutan. Sepertinya dia kembali teringat akan kejadian waktu itu.


Setelah Ayana mengatakan itu dengan kepanikan, tanpa mengatakan apa pun, Adelio segera mematikan panggilan telepon tersebut, dan beranjak dari duduknya. Dia berlari keluar dari tempat tersebut, tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Aksa.

__ADS_1


"Lio! Tunggu! Ada apa?!" seru Aksa sambil berlari mengejar Adelio.


"Aku harus pulang. Adelio menangis dan berteriak histeris. Dia ketakutan. Sepertinya dia kembali teringat kejadian itu," jawab Adelio sambil membuka pintu mobilnya.


"Aku ikut denganmu," sahut Aksa dengan cepatnya, sambil menekan kunci mobilnya.


Mobil Aksa berada di belakang Adelio. Dia berusaha mengejar kecepatan adelio yang layaknya pembalap di arena balap mobil.


Di dalam pikiran Adelio saat ini hanya mengkhawatirkan saudara kembarnya. Bahkan setelah kejadian yang menimpa Adelia, dia enggan membalas pesan atau pun mengangkat telepon dari Rania. Beruntungnya Rafael tidak marah padanya, karena laporan dari Rania pada orang tuanya dan berakhir menuai protes pada Rafael.


Semua itu karena Adelia. Rafael tahu betul jika Adelio sangat mengutamakan saudara kembarnya, sehingga dia mengacuhkan Rania. Alasan tersebut tidak bisa membuat keluarga Rania menyalahkan Adelio, sehingga mereka hanya bisa menunggu Adelia kembali bersikap normal.


Adelio berlari menghampiri adiknya, dan segera memeluknya, seraya berkata,


"Tenang, Sayang. Tenanglah, ada Kakak di sini."


Seketika Adelia memeluk erat kakaknya. Dia kenal betul suara, dan bau parfum kakaknya, sehingga dalam kondisi seperti ini, dia bisa segera sadar.


"Tolong Lia, Kak. Lia takut. Dia jahat. Dia menyakiti Lia. Dia sudah menyentuhku, Kak. Lia kotor. Lia malu. Lia gak mau hidup lagi," ucap Adelia diselingi isakan tangisnya dalam pelukan Adelio.


"Tidak. Kamu harus tetap hidup, Lia. Kamu tidak kotor. Kamu masih suci. Kamu masih tetap Adelia yang cantik dan pintar, karena kamu adik yang sangat dibanggakan oleh Adelio."


Adelia merenggangkan sedikit pelukannya. Dia melihat ke arah sumber suara yang terdengar familiar di telinganya. Seketika dia melepaskan pelukan Adelio dan segera memeluk Aksa, laki-laki yang tiba-tiba berada di sebelah Adelio.


"Tolong aku. Jauhkan aku dari mereka. Tolong lindungi aku seperti waktu itu," ucap Adelia dengan suara yang bergetar, karena ketakutannya.


Aksa membalas pelukan gadis cantik yang sedang memeluknya. Dengan perasaan tulusnya, dia mengusap lembut punggung gadis itu, seraya berkata,

__ADS_1


"Tenanglah. Aku akan melindungi mu. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Buktikan pada mereka jika Adelia yang dulu telah kembali. Berilah mereka hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka."


__ADS_2