Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 63 Salah Sangka


__ADS_3

Seketika Mia membelalakkan matanya. Dia salah tingkah dan menghadap ke lain arah, seolah-olah dia sedang menikmati pemandangan yang ada di luar, dari kaca jendela mobilnya.


Adelio sedikit meliriknya. Dia terkekeh melihat Mia yang salah tingkah dan tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian dia bertanya,


"Kenapa gak jawab? Apa memang benar, jika kamu menyukai aku?"


"Kata siapa? Anda terlalu percaya diri, Tuan," jawab Mia gugup, tanpa menoleh ke arah Adelio.


"Benarkah? Lalu, kenapa kamu melihat ke arah jendela? Mengapa gak melihat ke arahku, ketika bicara denganku?" tanya Adelio sambil mengemudikan mobilnya.


Merasa tertantang, Mia pun menghadap ke arah Adelio. Dia menatap kesal pada pemuda tampan tersebut dan berkata,


"Aku sedang menikmati pemandangan sekitar."


"Bukankah lebih baik menikmati ketampananku?" tanya Adelio sambil terkekeh.


"Tampan? Tampan dari mananya? Percaya diri sekali sih," jawab Mia dengan sewotnya.


"Harus percaya diri. Karena aku sedang bersama dengan gadis manis yang sangat lucu saat ini," ujar Adelio sambil terkekeh.


Seketika tersirat rona merah pada wajah Mia. Perkataan dari Adelio mampu membuat Mia merona karena malu bertatapan mata dengan Adelio, ketika pemuda tampan itu berbicara padanya.


"Bukankah aku memang tampan?" tanya Adelio sambil terkekeh kembali.


Sial! Aku harus jawab apa? Memang benar sih, dia tampan. Sangat tampan malahan. Tapi, gengsi dong jika aku harus mengatakan itu padanya, Mia berkata dalam hatinya.


"Kenapa diam? Pasti kamu terpesona padaku," tanya Adelio kembali.


"Cih! Terlalu percaya diri. Siapa yang terpesona? Sudah aku bilang dari tadi, jika mataku juling. Jadi, jangan pernah mengira jika aku melihatmu, apalagi terpesona padamu," jawab Mia sambil memalingkan wajahnya, dia kembali menatap ke arah luar kaca jendelanya.


Adelio kembali terkekeh mendengar perkataan dari Mia. Dia benar-benar merasa terhibur dengan apa yang dikatakan oleh Mia. Dalam hatinya berkata,


Sepertinya hariku akan lebih berwarna jika menjahilinya.


"Beneran juling? Meskipun juling, terlihat tetao cantik kok," ujar Adelio sambil menahan senyumnya.


Sontak saja wajah Mia bersemu merah. Dia kembali merasa malu mendengar perkataan Adelio yang memujinya. Seketika dia salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia bersandar pada punggung kursi dan memejamkan matanya dengan sangat erat, untuk berpura-pura tidur.


Tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Adelio berhenti. Mia pun membuka matanya dan bertanya pada Adelio,


"Apa sudah sampai?"

__ADS_1


"Sudah sampai di restoran," jawab Adelio sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Mia menoleh ke arah Adelio dan mengernyitkan dahinya, seraya berkata,


"Restoran? Kenapa kita berhenti di restoran?"


"Ya untuk makan lah," jawab Adelio dengan entengnya.


"Makan? Bukannya katamu tadi akan mengantarkan aku pulang?" tanya Mia sambil menatap Adelio dengan tatapan penuh tanda tanya.


Adelio menoleh ke arah Mia. Dia tersenyum manis dan berkata,


"Memangnya aku bisa tahu alamat kamu dari mana? Kamu saja belum memberikan alamat rumahmu padaku."


"Oh iya, ya. Aku lupa," tukas Mia sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.


"Turun yuk, kita makan dulu," ucap Adelio sambil membuka pintu mobilnya.


Melihat Adelio yang sudah keluar dari dalam mobil tersebut, Mia pun dengan segera keluar dari dalam mobil tersebut. Dia berjalan cepat, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Adelio, seraya berkata,


"Eh tapi, kenapa harus makan dulu? Kamu bisa langsung mengantarkan aku pulang, sekarang."


Adelio hanya menyeringai, tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mia padanya. Dia hanya terus berjalan masuk ke dalam restoran. Mia pun terpaksa mengikutinya masuk ke dalam restoran tersebut.


"Adelia?!"


Adelia pun menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh suara yang familiar di indera pendengarannya.


"Hai Mia!" seru Adelia sambil melambaikan tangannya dan tersenyum pada sahabatnya itu.


Mia yang berdiri tidak jauh dari tempat Adelia, masih saja mematung dan tatapan matanya mengarah pada Adelia. Sedangkan Adelia yang melihat sahabatnya berdiri mematung, segeralah dia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampirinya.


"Mia, ayo kita duduk di tempatku," ucap Adelia sambil menarik tangan Mia.


Mia pun menurut. Dia mengikuti Adelia untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya. Adelio pun duduk di kursi dekat Kenzo. Kini posisi mereka bak pasangan kekasih yang sedang melakukan kencan bersama. Adelia duduk berhadapan dengan Kenzo, sedangkan Adelio duduk berhadapan dengan Mia.


Mia memandang heran pada Adelio, Adelia dan Kenzo. Menurutnya mereka bertiga sedang melakukan hal yang tidak masuk diakal. Dia menatap mereka bertiga secara bergantian dan berkata dalam hatinya,


Mereka bertiga gila. Kenapa mereka bertiga bisa sesantai ini berkumpul bersama? Apa gak ada rasa cemburu di antara mereka? Adelia juga, kenapa dia malah terlihat bahagia? Apa dia malah bangga dengan situasi ini? Atau mungkin dia gak tahu?


"Mia, aku sudah memesankan makanan untukmu. Dijamin kamu pasti akan suka," ucap Adelia sambil tersenyum manis pada Mia.

__ADS_1


Mia tersenyum paksa sambil menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perkataan Adelia. Dalam hatinya pun berkata,


Kenapa kamu sejahat itu, Lia? Senyuman kamu itu, bisa membuat orang lain terluka, Lia.


Mia menghela nafasnya menatap Adelia yang terlihat sangat bahagia saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka jika dia berada di tengah-tengah cinta segitiga antara mereka bertiga.


Mia menatap Adelio yang duduk di depannya. Dia kembali menghela nafasnya dan menatap iba padanya. Dalam hatinya berkata,


Dasar bebal. Sudah diberi tahu, masih saja gak percaya. Sekarang, rasakan sendiri akibatnya. Kamu pasti merasakan sakit hati yang paling dalam, berada di antar mereka pada saat makan bersama.


Adelio menatap Mia dengan menahan tawanya. Bahkan dia tidak tersenyum sedikit pun menatap Mia yang sedang menatap iba padanya.


Semua itu tidak luput dari pandangan Adelia. Dia tersenyum melihat saudara kembarnya dan Mia yang merupakan sahabatnya, telah berinteraksi sebelum dikenalkan olehnya.


"Mia, apa kamu sudah berkenalan dengan--"


"Kami sudah banyak berbicara tadi di dalam mobil," sahut Adelio sambil menatap Mia.


"Benarkah?" tanya Adelia sambil menatap Adelio dan Mia secara bergantian.


Adelio menganggukkan kepalanya, tanpa menatap ke arah saudara kembarnya. Dia tetap menatap Mia yang masih beradu tatapan mata dengannya.


Adelia tersenyum melihat mereka berdua saling menatap. Dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum pada Adelio ketika saudara kembarnya itu melihat ke arahnya.


Kenzo pun ikut tersenyum melihat Mia yang seolah terjebak dalam permainan duo kembar tersebut. Dia hanya memperhatikan tanpa berkomentar apa pun.


"Mia, perkenalkan. Ini Kenzo, dialah yang dijodohkan denganku," ujar Adelia sambil menunjuk ke arah Kenzo.


Kenzo mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya. Begitu pula dengan Mia, dia menyebutkan namanya ketika bersalaman dengan Kenzo.


"Sedangkan laki-laki tampan yang ada di depan kamu ini, dia adalah kakakku," ucap Adelia sambil tersenyum dan menunjuk ke arah Adelio.


"Kakak?" celetuk Mia sambil menatap bingung pada Adelia dan Adelio.


Adelia menahan tawanya melihat ekspresi Mia saat ini. Dia menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu.


Jadi dia menganggapnya sebagai kakaknya. Kasihan dia, Mia berkata dalam hatinya, sambil menatap Adelio.


"Adelio," tutur Adelio sambil mengulurkan tangannya di hadapan Mia.


Sontak saja mata Mia terbelalak mendengar nama yang keluar dari mulut pemuda tampan tersebut. Dia menunjuk Adelio dan Adelia secara bergantian, seraya berkata,

__ADS_1


"Apa? Adelio? Adelia?"


__ADS_2