
Seruan Arion tidak membuat hati Adelia menjadi tergerak. Adelia masih saja berjalan cepat meninggalkan tempat itu, tanpa mendengarkan perintah Arion yang menyuruhnya untuk berhenti dan menunggunya.
Dengan langkah kaki lebarnya, Arion berhasil menyusul Adelia. Dia menarik tangan gadis cantik itu dan berkata,
"Lia, aku mohon, beri kesempatan aku untuk yang kedua kalinya. Aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi."
Adelia berusaha menghempaskan tangan Arion yang memegang tangannya. Dia berusaha keras untuk tidak membiarkan Arion memegangnya. Digerak-gerakkannya tangannya dengan sekencang-kencangnya, seraya berkata,
"Kita sudah tidak ada urusan lagi. Jadi jangan lakukan hal seperti ini lagi. Mengerti?"
Namun, Arion masih saja mempertahankan tangannya. Bahkan dia memperkuat pegangan tangannya, agar Adelia tidak bisa melepaskannya. Semakin Adelia memberontak, maka semakin kuat tangan Arion memegangnya. Dalam usahanya menjaga tangannya agar tetap memegang tangan Adelia, dia pun berkata,
"Adelia! Kenapa kamu sejahat ini padaku?!"
Seketika gerakan memberontak Adelia berhenti. Dia menatap tajam pada Arion dan menyeringai padanya. Kemudian dia berkata,
"Bahkan aku bisa lebih jahat dari ini, jika kamu masih saja tetap menggangguku!"
Mendengar perkataan Adelia membuat Arion terkesiap, dan sangat kecewa padanya. Bahkan tatapannya pada gadis cantik itu berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan. Dia tidak pernah mengira jika kalimat itu bisa keluar dari mulut gadis cantik seorang Adelia.
"Kenapa? Kamu kaget aku bisa ngomong seperti ini? Aku juga bisa lebih jahat lagi jika kamu tidak berhenti menggangguku! Aku memang jahat, tidak seperti yang kamu kira. Jadi, berhentilah mengganggu hidupku!" seru Adelia dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
Arion semakin tidak percaya dengan pendengarannya. Dia hanya bisa diam dan menatap Adelia seolah sedang menunggunya untuk mengatakan hal lain setelah ini.
Adelia menghempaskan tangan Arion dengan sangat kasar. Kemudian dia segeran berjalan cepat meninggalkan Arion yang masih saja terpaku di tempatnya.
Adelio segera berjalan masuk ke dalam mobilnya, ketika melihat Adelia berjalan menuju mobil tersebut.
"Good job My Princess," ujar Adelio sambil mengusap lembut rambut Adelia, setelah dia duduk di kursi penumpang.
Adelia duduk dengan tegang, kemudian dia menoleh ke arah kakaknya dan berkata,
"Kak, apa Lia tadi gak keterlaluan, berbicara seperti itu padanya?"
"Enggak. Dia memang harus dibegitukan. Harusnya sejak dulu kamu begitu sama dia," jawab Adelio sambil tersenyum pada saudara kembarnya.
"Ih Kak Lio, tadi saja rasanya Lia gak bisa nafas. Tegang banget tadi," ucap Adelia diiringi helaan nafasnya.
__ADS_1
Adelio terkekeh mendengar perkataan dari adiknya. Jujur saja, baru kali ini dia melihat seorang Adelia bisa berkata tegas dan terkesan jutek pada orang lain.
"Kamu hebat, Sayang. Lihat saja ekspresinya. Dia sangat kaget mendapatkan perlakuan darimu seperti itu. Lain kali kamu harus melakukan seperti itu, jika orang yang kamu hadapi memang layak untuk dijuteki," tutur Adelio sambil mengacak-acak rambut Adelia.
Adelia kembali menghela nafasnya, seolah dia telah menyesali perbuatannya. Bahkan dari helaan nafasnya itu, terdengar sangat menyesal.
"Sudahlah, gak usah dipikirkan lagi. Dia pasti sudah gak mau mengganggu kamu lagi. Kamu bisa tenang sekarang," ujar Adelio sambil mengusap lembut pipi adiknya.
"Kak Lio yakin?" tanya Adelia seolah tidak yakin dengan ucapan kakaknya.
"Amat sangat yakin sekali," jawab Adelio sambil tersenyum pada adiknya.
Namun, dalam hati Adelio tidak yakin jika nantinya seorang Arion akan diam saja. Dalam hatinya berkata,
Aku harus melindungi Adelia, setiap saat dan kapan pun itu. Arion bukan tipe laki-laki yang menyerah begitu saja. Aku sangat yakin jika dia gak rela melepaskan Adelia.
"Kok Lia gak yakin ya, Kak?" tanya Adelia dengan wajah cemasnya.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kakak pasti akan melindungi mu," jawab Adelio, mencoba untuk menenangkan hati adiknya.
"Adelia! Keluarlah sebentar! Ayo kita bicara!"
"Lia! Aku mohon, keluarlah! Adelia!"
Suara dari laki-laki yang sangat familiar di indera pendengaran mereka dan diiringi suara ketukan itu, membuat duo kembar yang ada di dalam mobil, semakin tegang.
"Sial! Kenapa dia bisa mengikuti sampai kemari?" tanya Adelio dengan kesalnya.
"Kak, bagaimana?" tanya Adelia dengan cemasnya.
"Kenapa dia sampai senekat ini?" tanya Adelio kembali dengan tatapan kesal pada Arion yang sedang mengetuk jendela kaca pada bagian sisi tempat Adelia berada.
"Apa kita selesaikan dulu saja, Kak?" tanya Adelia yang terlihat sangat cemas saat ini.
"Enggak! Kamu gak usah bertemu dengan dia lagi, apalagi sendirian, bahaya. Ingat itu," tutur Adelio sambil menyalakan mobilnya.
Setelah itu, Adelio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
"Lia! Adelia!" seru Arion sambil berlari mengejar mobil tersebut.
Namun, mobil yang dikendarai oleh Adelio tersebut tidak dapat diraih oleh Arion. Arion pun berhenti mengejarnya dan menatap nanar pada mobil tersebut, seraya berkata,
"Lia, kenapa kamu setega ini padaku? Apa salahku padamu?"
Di dalam mobilnya, Adelio terkekeh melihat Arion dari kaca spion mobilnya. Dia merasa puas melihat Arion yang sedang melampiaskan kemarahannya pada bebatuan di sekitarnya.
"Lihatlah dia. Kasihan batu-batu itu menjadi pelampiasan kemarahannya. Batu-batuan yang malang. Mereka harus ditendang untuk melampiaskan kemarahannya," tukas Adelio sambil terkekeh.
Adelia memandang Arion dari kaca spion mobilnya. Dia menghela nafasnya, kemudian berkata,
"Sepertinya dia gak akan membiarkan aku sendiri, Kak."
Tentu saja apa yang dirasakan oleh Adelia sama dengan Adelio. Dia merasakan itu, hanya saja dia tidak mau membuat resah saudara kembarnya. Kakak laki-laki Adelia ini, tersenyum tipis dan berkata,
"Biarkan saja dia melakukan apa pun yang diinginkannya. Kamu gak boleh lengah dan gak boleh luluh karenanya. Kamu harus tetap waspada dan kuat dengan pendirianmu untuk lepas darinya. Kamu pasti tahu jika kakak kamu ini gak akan membiarkan hal buruk apa pun terjadi padamu, bukan?"
"Iya, Lia tahu dan Lia sangat yakin jika Kak Lio akan melindungi Lia kapan pun dan di mana pun," jawab Adelia sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Adelio kembali terkekeh mendengar perkataan adiknya. Di sela kekehannya, dia berkata,
"Kakak memang bukan super hero, tapi Kakak akan berusaha selalu ada untukmu."
"Hati dedek meleleh, Bang," ujar Adelia dengan tatapan kagumnya pada saudara kembarnya.
Tawa Adelio pun pecah mendengar candaan dari adiknya. Kemudian dia berkata,
"Inilah kenapa Kakak selalu kangen padamu. Sepertinya memang kita gak bisa dipisahkan."
Adelia duduk menyerong, menghadap ke arah kakaknya dan lebih mendekat padanya. Kemudian dia berkata,
"Kakak harusnya mengatakan semua itu pada perempuan yang Kakak cintai. Lia jamin, dia pasti akan klepek-klepek sama Kakak."
"Benarkah?" tanya Adelio sambil menatap lurus, fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.
"Tentu saja benar. Jadi, Kakak pilih yang mana? Mia atau putri dari teman bisnis Papa?" tanya Adelia menyelidik.
__ADS_1