
Setelah makan malam mereka selesai, Adelia mengajak Raymond berbicara serius. Dia berdiri di samping mobilnya, berhadapan dengan Raymond yang juga berdiri di samping motornya.
"Ray, aku mau bicara," ucap Adelia sambil menatap serius pada Arion.
"Mau bicara apa?" tanya Arion sambil tersenyum manis pada kekasih hatinya.
Adelia menatap lekat manik mata Arion, seraya berkata dengan tegas,
"Arion, sepertinya kita cukup--"
.
"Kemarin aku menunggumu di depan rumahmu," sahut Arion untuk menghentikan ucapan Adelia, agar kekasihnya itu tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Seketika gadis cantik tersebut membelalakkan matanya. Dia mengingat-ingat orang yang ada di sekitar rumahnya. Dalam hati dia berkata,
Perasaan semalam tidak ada siapa-siapa di luar rumah. Jangan-jangan dia bohong.
"Kamu... Jam berapa kamu ke rumahku?" tanya Adelia gugup.
"Setelah pulang kerja. Aku kira kamu langsung pulang ke rumah, jadi aku ingin mengobrol denganmu di rumahmu. Sayangnya kamu belum pulang ke rumah. Jadi, aku menunggumu di luar rumahmu. Ternyata kamu pulang dengan laki-laki lain. Siapa dia? Apa dia saudaramu? Karena aku lihat kemarin, dia bukan kakakmu," jawab Arion memperjelas kehadirannya pada saat itu di rumah Adelia.
Gadis cantik di hadapan Arion itu, kini terkesiap. Dia tidak mengira jika Arion akan mengetahuinya. Akan tetapi, beberapa detik kemudian dia berkata dalam hatinya,
Tidak apa Lia. Ini saatnya kamu memutuskan keinginanmu. Katakan padanya apa yang akan kamu katakan.
"Arion, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Untuk hubungan kita, sebaiknya kita--"
"Masih ada waktu untuk akhir bulan, Sayang. Lagi pula kita juga belum melakukan semua yang dilakukan pasangan pada umumnya," sahut Arion dengan tatapan mengiba dan penuh harap pada Adelia.
Gadis cantik itu menggigit bibir bawahnya. Dia merasa kasihan pada wajah Arion yang mengiba padanya. Dia pun menghela nafasnya, mengingat tentang keinginannya untuk memutuskan hubungan mereka saat ini.
"Arion, kamu tahu bukan jika cinta tidak bisa dipaksa?" tanya Adelia sambil menatap intens manik mata Arion.
__ADS_1
Pemuda yang ada di hadapan Adelia pun menghela nafasnya. Dia menangkap arah pembicaraan kekasih hatinya itu. Akan tetapi, dalam hatinya dia berjanji akan mempertahankan Adelia untuk menjadi pacarnya. Jika perlu, dia akan melakukan apa pun untuk tetap memilikinya.
Arion memegang kedua tangan Adelia, dan menatapnya dengan penuh harap, seraya berkata,
"Adelia, Sayang, aku mohon, beri aku kesempatan untuk membuatmu percaya akan cintaku. Percaya akan ketulusan hatiku padamu."
Adelia hendak melepaskan kedua tangannya, tapi tatapan mata Arion membuatnya luluh. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari dalam mulutnya. Lidahnya terasa keluh dan tidak bisa digerakkan.
"Arion, sebenarnya aku ada dijodoh--"
"Kamu sudah berjanji waktu itu. Kamu berjanji untuk mencoba berpacaran denganku selama satu bulan. Kamu tidak lupa itu, bukan?" tanya Arion dengan memperlihatkan wajah mengibanya.
Gawat. Ternyata aku memang bodoh sekali. Sekarang aku terjebak dengan kebodohanku sendiri. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Adelia berkata dalam hatinya.
"Sekarang lebih baik kamu pulang. Beristirahatlah. Aku harap besok kita bisa jalan-jalan kembali. Aku ingin memperlakukan kamu seperti perempuan lain ketika berpacaran," tukas Arion sambil tersenyum padanya.
Arion memegang kedua pundak Adelia, kemudian dia membantu gadis pujaannya itu masuk ke dalam mobilnya dan berkata,
"Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu. Aku juga ingin hubungan pacaran kita ini berakhir di pelaminan, dan berganti menjadi hubungan suami istri."
Baiklah Lia, sepertinya malam ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya. Lebih baik tunggu saja saat itu tiba. Begitu saat itu datang, langsung saja katakan semuanya, Adelia berkata dalam hatinya.
Arion menatap kecewa pada mobil gadis pujaan hatinya, yang telah meninggalkannya terlebih dahulu. Dia sangat kecewa pada Adelia yang hendak memutuskan hubungan mereka.
"Aku harus membuntutinya. Paling tidak, aku menjaganya dari jauh, meskipun dia tidak mengetahuinya," ucap Arion sambil memakai helm nya.
Dengan segera Arion melajukan motor sport nya untuk mengejar mobil Adelia. Selain ingin memastikan kekasih hatinya itu pulang ke rumah dengan selamat, dia juga ingin mengetahui ke mana Adelia akan pergi.
Jujur saja dia tidak rela jika gadis pujaan hatinya itu menemui laki-laki lain saat ini. Bahkan dia tidak mau jika Adelia berpegangan tangan dengan laki-laki tersebut.
"Padahal aku ingin mengatakan padanya jika aku sudah dijodohkan. Kami akan menikah secepatnya. Jadi, aku harap kamu bisa menerima keputusanku untuk menyudahi hubungan yang berdasarkan dengan perjanjian kita," ucap Adelia sambil mengemudikan mobilnya.
"Padahal mudah sekali mengatakannya. Kenapa tadi sangat susah mengeluarkan semua kalimat ini?" tanya Adelia disertai helaan nafasnya.
__ADS_1
Pupus sudah harapan Adelia untuk tidak memiliki hubungan lagi dengan Arion. Rasa ibanya pada orang lain membuatnya selalu menyusahkannya. Banyak dari mereka yang memanfaatkan rasa iba Adelia, untuk mendapatkan keuntungan tersendiri bagi mereka.
Setelah melihat mobil Adelia masuk ke dalam rumahnya, Arion segera memutar balik motornya, agar kekasihnya itu tidak melihatnya.
Memang benar Adelia yang lugu itu tidak mengetahuinya. Akan tetapi, Adelio yang selalu mengusahakan semuanya untuk melindungi saudara kembarnya itu telah mengetahui kehadiran Arion yang telah mengikuti mobil Adelia, hingga sampai di rumah.
"Princess kesayangan Kakak, bagaimana kabarnya? Apa sudah bisa mengatakan keinginanmu pada pacar kamu itu?" tanya Adelio sambil berjalan masuk ke dalam kamar Adelia.
"Ck! Belum bisa Kak. Tadi dia--"
"Sudah Kakak duga. Kamu pasti kasian lagi sama dia. Jika kamu terus-terusan seperti itu, kapan kamu bisa memikirkan keinginanmu sendiri?" sahut Adelio disertai helaan nafasnya, melihat Adelia yang sedang berwajah sedih saat ini.
Adelio duduk di samping Adelia. Dia memegang tangannya dan berkata,
"Yakinlah dengan perasaanmu. Ikuti kata hatimu. Jangan utamakan perasaan orang lain. Utamakan dulu perasaanmu, agar kamu bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupmu."
Kata-kata Adelio sangat menyentuh hati Adelia. Saudara kembarnya itu selalu mengerti apa yang sedang dirasakannya.
Gadis cantik itu menghela nafasnya yang terdengar sangat berat di indera pendengaran Arion. Bahkan wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia berkata,
"Kak, apa aku jahat jika memutuskan hubunganku dengan Arion? Tadinya aku rasa hanya hubungan ringan saja, karena dia hanya mengatakan untuk mencoba meluluhkan hatiku dalam waktu satu bulan. Akan tetapi, semakin ke sini, aku merasa Arion semakin berusaha keras untuk mendapatkan hatiku. Entah mengapa aku merasa terbebani dan terganggu. Apa aku benar-benar gadis yang jahat, Kak?"
Adelio tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan saudara kembarnya itu padanya. Dia mengusap lembut rambut Adelia dan berkata,
"Jika kamu memang tidak nyaman, berarti memang dia bukan pilihan hatimu."
Tiba-tiba ada suara notifikasi pesan yang terdengar dari ponsel Adelia. Dia segera mengambil ponselnya yang ada di sebelahnya dan membacanya. Matanya terbelalak ketika melihat layar ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Adelio curiga ketika melihat ekspresi kaget dari saudara kembarnya itu.
Adelia menghela nafasnya. Dia menatap Adelio dan berkata,
"Dari ibunya Arion."
__ADS_1
Seketika Adelio teringat akan perkataan para tetangga Arion tentang ibunya. Kemudian dia berkata,
"Ibunya Arion? Kenapa dia mengirim pesan padamu?"