
Pertanyaan yang diajukan oleh Mia padanya, membuat Adelia terkesiap. Dia sedikit gugup. Entah mengapa, dari awal dia tidak ingin jika hubungannya dengan Arion diketahui rekan-rekan kerjanya. Ada rasa tidak nyaman jika mereka tahu tentang hubungannya itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Adelia segera pergi meninggalkan Mia yang masih berdiri di tempatnya berada. Dengan langkah cepatnya itu, Adelia berjalan menuju ruangannya.
Mia hanya bisa menghela nafasnya melihat punggung Adelia yang tidak memberikan jawaban apa pun padanya. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, seraya berkata,
"Pasti ada sesuatu di antara mereka. Aku yakin dengan feeling ku."
Di dalam ruangannya, Adelia bernafas lega setelah menutup pintu ruangannya.
"Untung saja Mia tidak tahu yang sebenarnya. Aku akui, matanya memang tajam, jika menilai sesuatu. Aku harap dia tidak akan tahu kebenarannya meskipun dia sudah curiga sejak waktu itu," ucap Adelia yang baru saja duduk di kursi kebesarannya, sambil menata meja kerjanya.
Tiba-tiba saja gerakannya berhenti, ketika dia mendengar suara getaran ponselnya yang diletakkan di atas meja kerjanya.
Dahinya mengernyit ketika melihat nama si pengirim pesan pada layar ponselnya, seraya berkata,
"Kenzo? Ada apa ya?"
Bibirnya melengkung ke atas, ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Kenzo. Bahkan dia merasa malu ketika membacanya. Kedua tangannya menutup wajahnya, setelah ponselnya diletakkan di atas mejanya.
Ada rasa senang yang sangat membuncah dalam dada Adelia. Tanpa disadarinya, kini dia telah bermain api dengan Arion dan Kenzo.
...----------------...
Di sisi lain, Arion sedang galau akan hubungannya dengan Adelia. Gadis cantik yang menjadi idola kaum adam di kantor tersebut, sudah menjadi pacarnya selama beberapa hari. Dia bimbang akan langkah selanjutnya yang harus diperbuat olehnya.
"Kenapa dia berubah? Aku yakin saat itu dia mempunyai rasa yang sama denganku, tapi kenapa sekarang setelah kami berpacaran, dia lebih banyak menghindar? Apa dia sudah tidak menyukaiku? Atau mungkin dia hanya malu pada orang-orang di kantor ini, jika mengetahui hubungan kami?"
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa ditanyakan olehnya tanpa diketahui jawabannya.
Seketika wajah lesu Arion berubah menjadi tegas, ketika dia melihat sosok Dion sedang berjalan dari parkiran mobilnya menuju kantornya.
"Ya, benar. Aku gak akan melepaskan Adelia. Susah payah aku bisa mendapatkannya. Aku gak mau Adelia berpacaran dengannya," ucap Arion yang pandangan matanya mengikuti Dion sedang berjalan masuk ke dalam kantor.
Kegalauan Arion kini menjadi semangat baginya. Tekadnya untuk mempertahankan Adelia sebagai pacarnya, membuatnya semakin sadar jika dia harus bersabar menghadapi sikap Adelia.
__ADS_1
...----------------...
Sedangkan di tempat lain, Kenzo mengawali paginya dengan sangat semangat. Seperti pagi ini. Tiba-tiba saja Kenzo tersenyum, ketika sedang mengerjakan pekerjaannya. Dia menghentikan jari-jarinya yang sedang bergerak lincah di atas keyboard, serta tersenyum mengingat wajah cantik Adelia yang dihiasi senyuman manisnya.
"Dia perempuan yang sangat menarik. Sepertinya aku benar-benar tertarik padanya," ucap Kenzo diiringi senyumannya, mengingat senyuman Adelia padanya.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia meletakkan tangannya di bawah dagunya dan berkata,
"Bukankah dia sudah mengatakan setuju, ketika aku bertanya tentang perjodohan itu? Jadi tidak ada salahnya aku mulai mendekatinya."
Kenzo tersenyum bahagia. Dia semakin yakin akan perasaannya. Di samping itu dia juga bisa membahagiakan kedua orang tuanya dengan menyetujui perjodohannya bersama Adelia, putri dari Rafael, rekan kerja Papanya.
Kali ini Kenzo mengikuti kata hatinya, dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Adelia. Hanya beberapa detik saja ponsel yang diletakkannya di atas meja, bergetar. Bibirnya melengkung ke atas melihat nama Adelia terlihat dengan jelas pada layar ponselnya.
Setelah membaca pesan dari Adelia, dia meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya, seraya berkata,
"Baiklah Kenzo, ayo selesaikan pekerjaannya sekarang, setelah itu kamu bisa menemui gadis yang sudah mencuri hatimu itu."
Tanpa disadarinya, kini Kenzo mendapatkan semangat dari hadirnya Adelia dalam hatinya. Gadis cantik yang akan dijodohkan dengannya itu membuat harinya berubah, tidak membosankan seperti biasanya.
...----------------...
"Lia! Makan siang yuk...!"
Tiba-tiba Mia yang sudah berada di dalam ruangan Adelia, mengagetkan si pemilik ruangan yang sedang fokus pada pekerjaannya.
Adelia menoleh ke arah pintu, kemudian dia berkata,
"Kamu itu kebiasaan Mia, masuk gak ketuk pintu atau permisi dulu. Untung jantung aku sehat. Coba kalau aku jantungan, bagaimana?"
Mia, gadis yang telah menjadi sahabatnya sejak kuliah itu, hanya nyengir saja mendengar omelan dari Adelia. Dia berdiri di depan meja kerja Adelia dan berkata,
"Kalau kamu jantungan, aku bakal hubungi pacar kamu yang ganteng itu. Lumayan kan, aku jadi bisa bertemu dengan laki-laki yang gantengnya tiada tara."
Dengan refleknya tangan Adelia menoyor kepala Mia yang tepat berada di depannya, seraya berkata,
__ADS_1
"Otak isinya laki-laki mulu."
"Ck! Maklumin aja kali Lia. Sahabat cantikmu ini kan belum laku, belum punya pacar. Tapi... bolehlah kamu bantu carikan laki-laki yang gantengnya sama kayak pacar kamu itu," ujar Mia sambil tersenyum lebar dan menaik turunkan kedua alisnya.
"Dasar! Sudahlah. Ada perlu apa kamu tiba-tiba datang ke sini?" tanya Adelia dengan sewotnya.
Mia mengulurkan tangannya tepat di hadapan Adelia. Dia menunjuk jam yang melingkar di tangannya, seraya berkata,
"Lihatlah, sudah waktunya kita makan siang."
Adelia menghela nafasnya setelah melihat jam milik Mia. Kemudian dia melihat tumpukan map yang ada di atas mejanya. Dia kembali menghela nafasnya dan berkata,
"Sepertinya aku gak bisa keluar untuk makan siang deh Mia. Lihat saja pekerjaanku masih banyak banget. Aku nitip makanan saja ya."
Sesuai dengan instruksi Adelia, Mia melihat tumpukan map yang ada di meja tersebut. Kemudian dia berkata,
"Kenapa gak diselesaikan nanti apa besik saja sih Lia? Kesehatan itu nomor satu. Jadi, kita harus makan teratur, gak boleh telat."
Adelia terkekeh mendengar perkataan sahabatnya yang jauh dari biasanya. Dia pun berkata,
"Tumben banget omongan kamu bener, Mia? Kamu udah kayak dokter aja."
"Ck, baru tahu dia. Ya sudah yuk, kita pergi makan siang sekarang," ujar Mia sambil menarik tangan Adelia, agar beranjak dari duduknya.
"Gak bisa, Mia. Aku nitip kamu makanan saja ya?" tukas Adelia yang masih duduk di kursinya.
Merasa lelah membujuk sahabatnya itu, Mia akhirnya menyerah. Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Ya sudah, nanti aku belikan. Kamu cepetan ngerjainnya, biar berkurang tuh mapnya."
Adelia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata,
"Iya. Terima kasih ya sahabatku... Nanti akan aku kenalkan dengan laki-laki yang sangat tampan."
"Beneran Lia?" tanya Mia dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Iya, tapi ada syaratnya," jawab Adelia sambil tersenyum lebar.
"Apa syaratnya?" tanya Mia penasaran.