Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 80 Firasat


__ADS_3

"Lia! Adelia! Sayang, bangun!" seru Adelio sambil mengusap lembut pipi Adelia.


Sayangnya Adelia masih tetap mengigau, sehingga membuat Adelio kembali berseru dan berusaha membangunkannya.


"Princess! Bangun!"


Seruan Adelio kali ini berhasil membuat Adelia tersadar. Matanya seketika terbuka lebar mendengar suara Adelio yang memanggilnya.


"Kak Lio," ucap Adelia sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, sehingga bulu mata lentiknya bergerak naik turun.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adelio sambil merapikan anak rambut Adelia yang berantakan menutupi wajahnya.


"Lia, sepertinya Lia mimpi buruk, Kak," jawab Adelia lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


Sontak saja Adelio meraih tubuh adiknya dan membawanya dalam pelukannya. Diusapnya perlahan punggung Adelia, seraya berkata,


"Tenang, Sayang. Kakak ada di sini bersamamu."


Adelia membalas pelukan Adelio. Tangannya memeluk erat tubuh kakaknya, seolah tidak mau ditinggalkannya.


"Lia takut, Kak. Lia sangat takut. Tadi Lia--"


Adelia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Isakan tangisnya membuat kata-kata yang akan diucapkannya, seketika tidak bisa keluar.


"Tenang, Sayang. Kak Lio akan selalu menjagamu. Kamu gak perlu khawatir," tutur Adelio sambil mengusap lembut air mata di pipi Adelia.


Adelia menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan kakaknya. Akan tetapi, tangannya masih saja memeluk tubuh kakaknya. Bahkan kini, dia semakin erat memeluknya.


"Sayang, sudah malam. Kamu tidur ya," tutur Adelio sambil menatap mata Adelia.


Adelia menggelengkan kepalanya, dan dia semakin erat memeluk tubuh kakaknya.


Adelio mengurai sedikit pelukannya. Dia menatap intens manik mara adiknya, seraya berkata,


"Takut kenapa? Ada kakak di sini."


"Kak Lio gak boleh pergi. Kakak di sini saja menemani Lia," ucap Adelia sambil memeluk dengan erat tubuh kakaknya.


"Kakak tidak akan pergi. Kakak akan menemanimu di sini, tapi kamu harus tidur," tutur Adelio sambil merebahkan tubuhnya dan adiknya bersamaan di tempat tidur tersebut.


Adelia memeluk erat tubuh kakaknya. Begitu pula dengan Adelio. Dia pun memeluk erat tubuh adiknya, seolah tidak mau kalah dengannya, sehingga Adelia tidur dalam dekapannya.

__ADS_1


Mereka saling menenangkan ketika satu sama lainnya sedang gelisah ataupun sedang dalam masalah. Hubungan kakak beradik yang sangat indah itu, tidak lepas dari didikan Ayana dan Rafael sebagai orang tua mereka.


Adelio menatap wajah damai adiknya ketika sedang tertidur. Bibirnya melengkung ke atas dan berkata,


"Aku akan melindungi mu."


Setelah itu, mata Adelio terpejam, dan tanpa sadar, dia sudah larut dalam tidurnya. Kini, mereka berdua tidur saling berpelukan dengan erat, seolah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.


Tepat di pertengahan malam, Adelio terbangun dari tidurnya. Dia mencoba melepaskan tangan Adelia dengan sangat pelan dan hati-hati. Dia meninggalkan kamar tersebut setelah memastikan Adelia sudah tertidur dengan nyenyak.


Di dalam kamarnya, Adelio menyusun rencana untuk menjaga Adelia dari Arion. Dia memikirkan beberapa alternatif untuk melindunginya.


"Aku harus meminta bantuan Kevin untuk menggantikan aku menjaga Adelia, saat aku tidak bisa menjaganya," ucap Adelio sambil berbaring di tempat tidurnya.


Dia pun memejamkan matanya dan larut dalam keheningan malam, berharap esok akan baik-baik saja.


Beberapa hari sudah berlalu, sejak malam itu. Arion mencoba untuk menuruti kemauan Adelia. Dia hanya melihatnya saja, tanpa mendekatinya seperti biasanya. Ketika mereka berpapasan, Arion menyapanya dan Adelia membalasnya dengan senyum getirnya.


Arion menahan benar-benar emosinya. Jujur saja, saat itu juga dia ingin membawa Adelia dalam pelukannya. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukannya. Dia masih mengingat betul nasihat dari ayahnya, ketika hanya mereka berbicara berdua saja, tanpa kehadiran Intan di antara mereka.


Aku gak boleh emosi. Aku harus bisa menahannya. Semoga saja kesabaranku ini tidak akan sia-sia. Aku harus bisa tunjukkan padanya, jika aku bisa seperti yang diinginkannya, Arion berkata dalam hatinya, sambil menatap Adelia yang berjalan ke arahnya.


Tumben dia bersikap seperti itu? Apa dia sudah sadar? Tapi, aku melihat sesuatu dalam matanya. Aku yakin jika dia masih menginginkanku. Sepertinya aku harus waspada, seperti yang diperintahkan oleh Kak Lio, Adelia berkata dalam hatinya, sambil berlalu dari pandangan Arion.


Adelia tidak menjawab pertanyaan Mia. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil berlalu, untuk menanggapinya.


"Sebenarnya apa sih hubungan kalian? Kenapa malam itu dia bisa begitu? Apa dia selama ini berusaha mengejar mu dengan berusaha mengganggumu?" tanya Mia dengan rasa ingin tahunya.


Adelia menghentikan langkahnya. Seketika Mia pun ikut menghentikan langkahnya. Adelia menghadap ke arah Mia dan berkata,


"Lebih baik kamu menyimpan rasa ingin tahumu itu sekarang. Nanti pada waktunya, kamu pasti tahu yang sebenarnya."


Setelah mengatakan hal itu, Adelia berlalu pergi meninggalkan Mia yang masih berdiri di tempatnya. Gadis yang merupakan sahabat Adelia itu berdiri terpaku mendengar jawaban dari Adelia.


"Lia, pada saatnya itu kapan?" tanya Mia sambil berlari kecil mengejar Adelia.


"Nanti, jika sudah waktunya," jawab Adelia sambil berjalan menuju ruangannya.


"Isss percuma saja aku bertanya padamu. Selalu saja ujung-ujungnya tetap dirahasiakan. Dasar Adelia sok misterius," omel Mia dengan suara yang sengaja di besarkan, agar Adelia mendengarnya.


Adelia tersenyum mendengar omelan Mia yang ditujukan padanya. Tanpa menoleh ke belakang, Adelia pun berkata,

__ADS_1


"Dasar Mia si tukang kepo."


Mia melongo mendengar perkataan Adelia yang ditujukan padanya, karena Adelia tidak pernah melakukan hal seperti itu padanya.


"Hah?! Apa dia berbicara padaku?"


Adelia masih mendengar perkataan Mia yang suaranya bisa dengan jelas masuk di indera pendengarnya. Dia hanya terkekeh dan berkata lirih,


"Sabar Mia, nanti jika kamu benar-benar menjadi kakak iparku, pasti aku akan memberitahumu."


Akhirnya Mia kembali ke meja kerjanya, tanpa tahu hubungan apa yang sebenarnya terjadi antara Arion dan Adelia. Dia mencoba menerka-nerka, tapi tetap saja dia tidak bisa membiarkan pikirannya mempercayai hal itu.


Sedangkan di dalam ruangannya, Adelia tersenyum manis ketika mendapatkan pesan dari calon tunangannya. Kenzo mengatakan, jika dia akan menggantikan Adelio untuk menjemputnya.


Hanya dengan membaca pesan dari Kenzo saja membuat hati Adelia terasa berbunga-bunga. Bahkan dia merasa sangat bersemangat sekali untuk mengerjakan pekerjaannya. Berkali-kali dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, berharap waktu akan cepat berlalu, sehingga dia bisa cepat bertemu dengan calon tunangannya, Kenzo.


Dia pun bersenandung sambil mengerjakan pekerjaannya, seolah sedang memberitahukan isi hatinya, bahwa betapa bahagianya dia saat ini.


Tepat pada jam pulang, Adelia segera merapikan mejanya dan memasukkan semua barang miliknya ke dalam tasnya. Setelah itu, dengan semangatnya dia berjalan keluar dari ruangannya untuk segera menemui Kenzo yang kemungkinan sudah menunggunya.


Adelia mencari keberadaan Kenzo di sekitar parkiran yang ada di depan kantornya. Matanya berkeliling mencari mobil dan sosok calon tunangannya.


"Sepertinya dia belum datang. Aku tunggu saja dia di sini," gumam Adelia sambil berdiri di depan kantornya.


"Gak bawa mobil?" tanya seorang perempuan yang baru saja berdiri di sebelah Adelia.


Adelia menoleh ke arah sampingnya, dan berkata,


"Aku tadi diantar oleh Kak Lio."


Seketika bibir Mia melengkung ke atas. Bahkan ada semburat merah yang kini menghiasi wajahnya. Dalam hatinya berkata,


Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi.


Tiba-tiba ada suara deru mobil yang berhenti tepat di hadapan mereka. Keluarlah seorang pemuda tampan dengan memakai setelan jas yang sangat pas di badannya.


"Sayang, maaf sudah menunggu lama," ucap pemuda tampan tersebut sambil mengulurkan tangannya pada Adelia.


Adelia menerima uluran tangan tersebut dan berjalan menuju mobil bersamanya. Kenzo, calon tunangannya itu membukakan pintu untuknya, seraya berkata,


"Silahkan masuk, Sayang."

__ADS_1


Di sisi lain, ada sepasang mata yang menatap marah pada mereka, seraya berkata,


"Sialan! Sepertinya aku harus mengubah rencanaku!"


__ADS_2