
Di sinilah sekarang mereka berdua berada. Di sebuah coffee shop yang tidak jauh dari kantor Adelia berada. Tempat itu masih sepi, hanya ada mereka saja berdua yang duduk di dalam coffee shop tersebut.
Kenzo menatap Adelio dengan tatapan penuh tanda tanya padanya, ketika saudara kembar Adelia itu sedang menikmati kopinya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa kamu mengajakku ke sini? Ada apa sebenarnya?"
Adelio masih menikmati kopinya. Dia menatap ke arah Kenzo yang duduk di depannya dan tersenyum padanya.
"Ck! Harusnya kamu tahu jika kamu membuat cowok sialan itu bisa leluasa mendekati Adelia," ucap Kenzo dengan kesalnya.
Adelio meletakkan cangkir kopinya. Dia terkekeh mendengar perkataan Kenzo yang menyalahkan dirinya. Kemudian dia berkata,
"Sabarlah Ken. Justru aku memberi waktu untuk cowok tadi menjauh dari Adelia."
"Menjauh? Apa maksudmu, Lio?" tanya Kenzo dengan mengernyitkan dahinya.
Adelio menghela nafasnya. Sebenarnya dia merasa enggan mengatakan hal itu pada Kenzo. Akan tetapi, situasi saat ini tidak bisa dibiarkan olehnya. Dia menatap dengan sungguh-sungguh pada Kenzo, dan berkata,
"Aku akan menceritakan satu hal padamu. Aku harap kamu tidak akan menyela ucapanku, sebelum aku menyelesaikannya."
Kenzo semakin bingung. Dia merasa aneh dengan situasi saat ini. Kemudian dia berkata,
"Jangan membuatku penasaran. Cepat kamu ceritakan."
Adelio pun mulai menceritakan semuanya. Dari awal Adelia mempunyai janji untuk menjadi pacar Arion selama satu bulan, hingga pada saat dia akan memutuskan hubungan tersebut, tapi selalu gagal.
Tentu saja dengan sangat hati-hati sekali dia mengatakannya. Dia tidak ingin jika Kenzo salah paham pada Adelia.
Tampak sekali wajah tegang yang diliputi amarah dari Kenzo saat ini. Kedua tangannya mengepal, menahan amarahnya.
"Apa sekarang Adelia bisa membuatnya sadar jika dia tidak menginginkannya?" tanya Kenzo menyelidik.
Adelio mengangkat kedua bahunya, menanggapi pertanyaan dari Kenzo. Kemudian dia berkata,
"Semoga saja Lia bisa mengatakannya. Semalam dia sudah aku beritahu cara agar dia tidak terjebak dalam rasa kasihan ketika laki-laki itu tidak mau melepaskannya."
"Aku ingin kita kembali ke sana. Sepertinya aku gak yakin jika Adelia bisa mengatakan itu padanya," ujar Kenzo disertai helaan nafasnya.
Adelio beranjak dari duduknya. Dia mengusap pundak Kenzo, seraya tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Percayalah Ken. Adelia pasti akan berusaha untuk memutuskan perjanjian mereka. Kita hanya bisa menunggunya saja. Lebih baik kita beri kesempatan agar Adelia bisa menyelesaikan kesalahannya sendiri."
Kenzo menghela nafasnya yang terasa menyesakkan dadanya. Jujur saja jika dia tidak ingin melihat Adelia bersama dengan laki-laki lain, meskipun alasannya sudah sangat jelas sekali.
Namun, tetap saja jika Kenzo tidak bisa tenang. Dia masih saja kepikiran tentang calon tunangannya itu. Bagaimana tidak, laki-laki mana yang bisa membiarkan kekasih hatinya bersama dengan laki-laki lain. Itulah yang dirasakan oleh Kenzo saat ini. Sayangnya dia harus mempercayai Adelia, seperti yang dikatakan oleh Adelio padanya.
"Tenang saja. Pasti nanti ada berita baik. Aku berangkat kerja dulu," ujar Adelio sebelum meninggalkan Kenzo yang masih duduk di kursinya.
Kenzo masih terdiam di sana. Dia mencoba tenang dan menata hatinya. Pemuda yang bergaya trendi dengan setelan jas dari brand ternama itu, beranjak dari duduknya diiringi dengan helaan nafasnya.
Langkah kakinya terasa sangat berat saat ini. Bahkan dari coffee shop menuju parkiran mobilnya pun, seolah sangat jauh baginya. Ketika akan membuka pintu mobilnya, gerakannya pun berhenti, seraya berkata lirih,
"Apa aku harus ke sana? Tapi mustahil jika mereka masih berbicara, sebentar lagi jam masuk kantor, gak mungkin mereka masih berada di sana. Lebih baik aku hubungi saja dia."
Setelah duduk di dalam mobilnya, Kenzo segera mengambil ponselnya. Dia menghubungi Adelia, untuk menanyakan semuanya.
Sialnya, pada saat Kenzo menghubunginya, Adelia tidak menjawab panggilan telepon tersebut. Bahkan berulang kali panggilan teleponnya itu, hanya berakhir sebagai panggilan tak terjawab.
Ternyata Adelia sedang melakukan general briefing saat ini, sehingga ponselnya tidak dibawanya. Ponsel itu diletakkannya di dalam tas yang tersimpan di meja ruangannya.
Setelah beberapa saat, briefing pun selesai. Adelia kembali ke dalam ruangannya. Ketika dia duduk di kursinya, ponsel yang ada dalam tasnya pun terdengar bergetar.
Seketika matanya terbelalak ketika melihat nama Kenzo pada layar ponselnya. Tangannya segera menekan tombol hijau, seolah tidak sabar untuk mendengar suara dari si penelepon.
"Halo, Ken," sapa Adelia setelah menjawab panggilan telepon tersebut.
Adelia, Sayang. Apa kamu baik-baik saja? tanya Kenzo dari seberang.
"Aku baik-baik saja Ken. Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Adelia sambil mengerutkan dahinya.
Terdengar hembusan nafas dari Kenzo saat ini, yang terlihat seperti sedang mempunyai beban pikiran. Kemudian dia berkata,
Laki-laki itu... Bukankah laki-laki itu yang kemarin malam berbicara denganmu?
Deg!
Jantung Adelia serasa berhenti. Lidahnya terasa kelu, tidak bisa mengatakan apa pun saat ini.
Adelia... Sayang... Apa kamu masih mendengarkan aku? tanya Kenzo kembali.
__ADS_1
"Eh... Iya. Aku mendengar kamu, Ken," jawab Adelia dengan sedikit gugup.
Benarkah laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan kemarin malam? tanya Kenzo kembali dengan penasarannya.
"Iya. Dia orang yang sama," jawab lirih Adelia yang terdengar tidak bersemangat.
Kenzo kembali menghela nafasnya. Bahkan kini dia memejamkan matanya, mendengar kenyataan yang didengarnya. Kemudian dia berkata,
Apa bisa kamu menceritakannya padaku, apa yang kalian bicarakan?
"Apa kamu harus mengetahuinya Ken?" tanya balik Adelia tanpa menjawab pertanyaan darinya.
Apa aku gak berhak mendengarnya darimu? tanya Kenzo yang mulai sedikit kesal.
Adelia menghela nafasnya. Rasanya dia sangat enggan sekali mengatakan hubungannya dengan Arion. Hanya saja dia tidak bisa menyembunyikan fakta tersebut dari Kenzo selamanya.
"Aku akan menceritakannya nanti Ken," jawab Adelia disertai helaan nafasnya.
Apa gak bisa sekarang? tanya Kenzo, seolah tidak sabar mendengarnya.
"Nanti saja Ken. Bukankah kamu akan menjemput pada saat aku pulang kerja nanti?" tanya Adelia dengan sedikit gugup.
Baiklah, Sayang. Aku tunggu penjelasanmu nanti. Rasanya aku gak bisa tenang bekerja jika belum mendengarkan penjelasan darimu, tutur Kenzo disertai helaan nafasnya yang terasa berat dalam dadanya.
"Maaf. Maafkan aku Ken. Aku janji akan memberitahukan padamu nanti," ujar Adelia yang berusaha meyakinkan Kenzo.
Apa nanti kamu juga akan menjawab pertanyaan kedua orang tuaku tentang rencana perjodohan kita? tanya Kenzo kembali.
"Aku--"
"Maaf Bu, rapat akan segera dimulai. Ibu diharapkan untuk segera datang."
Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu ruangan tersebut. Terlihat seorang laki-laki berpakaian OB sedang berdiri di pintu ruangan tersebut yang dibukanya.
"Baik Pak, saya akan segera ke sana," jawab Adelia pada OB tersebut.
"Maaf Ken, sepertinya aku harus berangkat sekarang," ucap Adelia terburu-buru.
Lia, tunggu!
__ADS_1