Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 45 Kejutan


__ADS_3

Adelio menoleh ke arah Adelia yang ada di sebelahnya. Begitu pula dengan Ayana. Sang mama dan kakak kembarnya itu menatap penuh tanda tanya pada gadis kesayangan mereka.


"Bagaimana? Apa kamu menerimanya, Sayang?" tanya kembali Ayana pada Adelia, yang terlihat sedang berpikir.


Adelia menoleh ke arah kakaknya, seolah sedang meminta bantuan padanya. Akan tetapi, kakaknya hanya tersenyum dan berkata,


"Ini masalah hatimu. Kakak gak bisa ikut campur. Katakan pada Mama apa yang hatimu rasakan."


Adelia menghela nafasnya. Jujur saja jika dia ragu untuk mengatakan isi hatinya. Saat ini dia belum menuntaskan semuanya, sehingga dia tidak berani untuk mengatakannya.


"Apa boleh Lia tidak menjawabnya sekarang?" balas tanya Lia pada mamanya.


"Kenapa?" tanya Ayana sambil mengernyitkan dahinya.


Adelia kembali menghela nafasnya. Dia benar-benar dilema saat ini, karena belum menuntaskan rencananya.


"Lia masih harus menyelesaikan sesuatu Ma. Jadi Lia merasa harus menuntaskan semuanya terlebih dahulu, baru nanti Lia bisa menjawabnya," jawab Adelia dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


Ayana menoleh ke arah Adelio, setelah mendengar jawaban dari Adelia. Dia bertanya pada putranya melalui tatapan matanya.


Namun, Adelio tidak bergeming. Kesolidan antara dua saudara kembar itu tidak bisa diragukan lagi. Bahkan Adelio tidak mau mengatakan pada mamanya, meskipun mamanya bertanya padanya.


Ayana menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya, seraya berkata,


"Percuma saja Mama bertanya pada kalian berdua. Pasti jawaban kalian selalu sama."


Kini tatapan mata Ayana beralih kembali pada Adelia. Sang mama menatap intens manik mata putrinya, berharap agar dia mau jujur padanya.


"Iya... Iya... Lia cerita sama Mama, tapi nanti aja di dalam," ucap Adelia sambil memegang tangan mamanya.


Adelio bergerak selangkah untuk berada di antara mamanya dan saudara kembarnya. Kemudian dia merangkul pundak Ayana dan Adelia, seraya berkata,


"Yuk masuk, dua bidadari keluarga Atmaja."


Sang Mama dan Adelia pun mengikuti Adelio, berjalan masuk ke dalam rumahnya. Di sana mereka bertiga di sambut oleh sang papa yang duduk di ruang tengah.

__ADS_1


"Kalian lama sekali di luar. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Rafael menyambut kedatangan anak dan istrinya.


"Tidak ada yang terjadi, Pa. Mama hanya menyampaikan pada Adelia, pertanyaan dari kedua orang tua Kenzo," jawab Ayana sambil berjalan menghampiri suaminya.


"Lalu, bagaimana?" tanya Rafael penasaran.


Ayana menatap ke arah Adelia yang berdiri di samping Adelio. Rafael pun mengikuti arah pandang istrinya. Dia menatap kedua anak kembarnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Adelio menuntun adiknya untuk duduk di sofa, berhadapan dengan kedua orang tua mereka. Tangannya memegang erat tangan Adelia, berharap adiknya itu bisa merasa aman dan nyaman saat ini.


Adelia menatap kakaknya, seolah meminta ijin darinya. Adelio pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu Adelia menghirup dalam-dalam nafasnya, dan membuangnya secara perlahan.


Saudara kembar dari Adelio pun mulai bercerita pada kedua orang tuanya. Tidak ada hal yang ditutup-tutupinya. Bahkan Adelio pun membenarkannya.


Ayana menatap Rafael dengan tatapan penuh kekhawatiran. Rafael mengerti akan yang dikawatirkan oleh istrinya. Terlebih lagi dia pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Adelia. Tangannya memegang erat tangan istrinya, dan berkata,


"Papa harap masalah ini bisa cepat diselesaikan. Jika Lia butuh bantuan dari Papa, katakan saja. Papa tidak mau masalah ini berlarut-larut. Terlebih lagi perasaan kamu tidak untuk dia. Jadi, jangan sampai orang yang ada dalam hatimu meninggalkanmu karena laki-laki itu."


"Tenang saja Pa, Lio akan selalu mengawasi dan menjaga Lia. Papa tidak perlu khawatirkan hal lain. Papa hanya perlu mengkhawatirkan Mama saja. Jangan khawatirkan orang lain," tutur Adelio sambil terkekeh.


Ayana tersenyum senang mendengar perkataan putranya. Rafael pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh istrinya.


"Bintang-bintang itu sangat indah. Aku ingin memiliki satu dari keindahan itu," ucap Adelio sambil terkekeh melihat langit malam yang dihiasi banyak bintang.


"Bukankah Kak Lio sudah mendapatkannya?" tanya Adelia yang masih betah melihat bintang-bintang berkelip di langit.


Sontak saja Adelio mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang tersebut, pada Adelia yang ada di sampingnya. Kemudian dia bertanya,


"Maksud kamu apa, Sayang?"


"Adelia. Bintang terindah yang dimiliki oleh Adelio," jawab Adelia sambil memperlihatkan gaya centilnya pada Adelio.


Pemuda tampan kembaran Adelia itu terkekeh mendengar jawaban tersebut. Dia mencubit gemas hidung Adelia dan berkata,


"Kamu memang bintang kami yang sangat bersinar. Akan tetapi, Kakak juga menginginkan bintang untuk menemani hidup Kakak, selepas kamu menikah dengan pasanganmu."

__ADS_1


Seketika wajah Adelia berubah menjadi sedih. Kemudian dia berkata,


"Hanya mendengarnya saja, aku jadi sedih. Bagaimana jika hal itu terjadi?"


Adelio meraih tubuh saudara kembarnya. Dia memeluk erat tubuh Adelia seraya berkata,


"Bagaimanapun itu pasti akan terjadi. Entah kapan itu akan terjadi, Kakak juga tidak tahu. Tapi yang bisa Kakak pastikan, kita tidak akan terpisah meskipun tidak pada tempat yang sama. Percayalah akan kekuatan saudara kembar yang disebut duo luar biasa oleh orang-orang yang mengenal kita."


Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kakaknya, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh saudara kembarnya.


Tiba-tiba Adelio teringat sesuatu. Dia mengurai sedikit pelukannya, menatap intens manik mata Adelia, seraya berkata,


"Apa rencanamu untuk memutuskan hubunganmu dengan Arion?"


Adelia melepaskan pelukannya. Dia kembali menatap langit malam, dan menghela nafasnya yang terasa berat memenuhi dadanya. Kemudian dia berkata,


"Lia gak tahu, Kak. Apa mungkin Lia bisa mengucapkan kata putus di hadapan Arion?"


"Kamu bisa, Sayang. Kamu pasti bisa. Fokuskan pada keinginanmu untuk berpisah padanya. Bayangkan hal yang bisa membuatmu memutuskan Arion, misalnya pertunanganmu dengan Kenzo," jawab Adelio sambil mengusap lembut rambut adik kembarnya.


"Kapan Lia akan mengatakannya, Kak? Apa sepulang kita kerja? Atau di saat kita bekerja? Atau mungkin Lia mengatakannya melalui pesan saja, agar Lia gak perlu berhadapan dan merasa kasihan padanya?" tanya Adelia dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


Adelio tersenyum melihat ekspresi wajah adiknya. Kedua tangannya berada pada pipi Adelia dan berkata,


"Lakukan saja besok. Temui dia dan katakan terus terang padanya. Jika kamu gak bisa menatapnya, pejamkan saja matamu, atau kamu hanya tinggal melihat saja ke arah bawah, agar kamu gak bisa terpengaruh dengan wajahnya dan matanya."


Adelia menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada kakaknya. Dia kembali memeluk tubuh sang kakak dan berkata,


"Lia sangat senang memiliki Kakak seperti Kak Lio. Lia sangat menyayangi dan mencintai Kakak. Lia juga sangat bahagia, karena yang menjadi kembaran Lia adalah Kak Lio."


Setelah mengatakan hal itu, Adelia melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Adelio hanya terkekeh melihat tingkah adik kembarnya yang selalu menyenangkan hatinya.


Malam itu pun berlalu dengan sangat cepat. Pagi ini dua saudara kembar itu berniat untuk berangkat bersama. Mereka bersamaan menyelesaikan sarapannya untuk segera bergegas berangkat bekerja.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tua mereka, Adelio merangkul pundak Adelia, berjalan menuju parkiran mobilnya.

__ADS_1


Mereka terkesiap ketika mendapati seorang pemuda tampan, yang menggunakan pakaian rapi, berdiri dan tersenyum pada mereka. Dia pun berkata,


"Pagi Adelia... Kita berangkat sekarang yuk!"


__ADS_2