
Braaak!
Pintu kamar Arion ditutup dengan kasarnya setelah dia masuk ke dalam kamarnya. Dia melempar tasnya ke arah ranjangnya. Terlihat sekali kemarahan pada wajah Arion saat ini.
Kedua tangannya mengepal kuat dan diayunkan tepat pada lemari pakaiannya. Sayangnya, ketika kepalan tangannya akan mengenai lemari tersebut, seketika gerakan tangannya terhenti. Dia sadar jika saat ini berada di rumah, sehingga dia mengurungkan niatnya.
Segera dia masuk ke dalam kamar mandi, untuk menuntaskan kemarahannya. Di dalam kamar mandi, dengan sekuat tenaganya dia mengguyur kepalanya terus-menerus, tanpa berjeda, untuk melampiaskan rasa kesal dan amarah yang membuat dadanya terasa sesak.
Dalam guyuran air itu dia berteriak sekencang-kencangnya, menyuarakan kekesalan hatinya. Setelah puas berteriak dan lelah mengguyur kepalanya, Arion mulai membersihkan badannya.
Selang beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap, sambil mengusap rambutnya menggunakan handuk besar berwarna putih.
Duduklah dia di tempat tidurnya dan mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Hatinya terasa sangat perih melihat foto Adelia yang terpampang pada layar ponselnya, terlihat sangat cantik menjadi wallpaper nya.
"Adelia, kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?" ucap Arion, sambil menatap gambar Adelia yang tersenyum sangat manis di layar ponselnya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan Adelia yang berbicara padanya tadi pagi, membuatnya kembali sedih dan berakhir marah.
Sebaiknya hubungan kita sampai di sini saja. Kita batalkan perjanjian waktu itu. Jangan buang-buang waktumu untuk hal yang sia-sia. Maafkan aku Arion. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku harap kamu bisa mengerti.
Seketika dia teringat akan tujuannya untuk mendapatkan kembali hati Adelia, setelah mengingat keinginan Adelia untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Aku harus memikirkan cara, bagaimana Adelia bisa tetap menjadi milikku," ujar Arion dengan sangat yakin.
"Arion! Cepat keluar! Kita makan malam bersama!" seru Intan dari luar pintu kamar Arion, sambil mengetuk pintu tersebut.
Arion menoleh ke arah pintu. Dia enggan membukanya. Kakinya terasa berat, malas untuk beranjak ke mana-mana.
"Arion! Keluarlah! Kita makan malam bersama! Ayahmu sudah menunggumu dari tadi!" seru kembali Intan dari balik pintu kamar tersebut.
Arion masih saja enggan beranjak dari tempatnya. Kini dia berbaring di tempat tidurnya, dengan bantal yang menutupi telinganya.
Merasa tidak direspon oleh Arion, Intan kembali mengetuk pintu tersebut, seraya berseru,
__ADS_1
"Arion! Buka pintunya! Apa ada masalah yang Ibu tidak ketahui?"
Arion semakin mengeratkan bantalnya untuk menutupi telinganya. Dia benar-benar enggan menemui siapa pun dan enggan bercerita pada siapa pun saat ini.
"Arion! Buka pintunya! Ceritakan pada Ibu semuanya!" seru Intan disertai ketukan pintu yang sangat keras.
Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundak Intan dan orang tersebut pun berkata,
"Bu, sudahlah. Biarkan saja Arion menyendiri. Mungkin dia sedang ingin menenangkan dirinya. Kita biarkan saja dia sendiri dulu. Nanti pasti dia akan keluar dan bercerita dengan kita."
"Iya kalau dia mau keluar, kalau tidak, bagaimana? Lagi pula dia belum makan Mas," ucap Intan dengan sedikit kesal.
"Ya sudah, biarkan saja. Dia sudah dewasa, pasti dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri," tutur Fabian sambil tersenyum, berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Mas Fabian tidak khawatir sama Arion? Dia putra Mas satu-satunya loh," tanya Intan dengan kesalnya.
Fabian menghela nafasnya. Dia memegang kedua bahu istrinya dan menatapnya dengan intens. Kemudian berkata,
Intan melihat ke arah pintu kamar Arion, seraya berkata dalam hatinya,
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan Adelia? Apa keluarga mereka tidak setuju dengan Arion? Lihat saja, aku akan balas mereka lebih kejam lagi. Aku juga tidak akan gagal seperti dulu lagi.
"Ayo, Sayang. Kita makan sekarang. Perutku sudah sangat lapar," ucap Fabian seraya merangkul pundak istrinya dan membawanya berjalan menuju ruang makan.
Langkah kaki Intan meninggalkan tempat tersebut dengan terpaksa. Kakinya terasa berat, enggan beranjak dari tempat itu. Hati Intan pun terasa berat. Dia ingin sekali bertanya dan mengulik semua informasi dari Arion tentang keluarga Adelia. Sayangnya dia tidak bisa melakukannya saat ini.
Di meja makan itu terasa sepi. Arion tidak ada bersama dengan mereka. Sepasang suami istri itu hanya berdua menikmati hidangan makan malam ala kadarnya yang telah disiapkan oleh Intan.
Suasana di meja makan itu begitu hening. Hanya dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar di sana. Pikiran Intan tidak tenang saat ini. Bahkan dia merencanakan pembalasannya pada Ayana dan Rafael untuk menuntaskan dendamnya yang belum selesai saat itu.
Setelah makanan Intan habis, dia segera membawa piring kotornya ke dapur untuk dibersihkan. Lagi-lagi dia teringat akan kebenciannya pada Ayana, dan teringat akan dendamnya pada sepasang suami istri tersebut.
Dilemparkannya lap ke arah meja yang ada di dapur, seraya berkata lirih,
__ADS_1
"Aku harus segera membalas dendamku yang waktu itu gagal. Kita lihat saja nanti. Akan aku pastikan jika kalian menderita semuanya. Sekarang aku tidak akan main-main lagi. Aku akan lebih kejam lagi dibandingkan tahun-tahun lalu."
"Sayang, ini piring kotornya," ucap Fabian ketika berjalan masuk ke dalam dapur dengan membawa piring serta gelas bekas makannya.
Sontak saja Intan menoleh ke arahnya. Dia terkejut dan khawatir jika suaminya mendengar ucapannya.
Fabian mengernyitkan dahinya melihat reaksi istrinya. Dia berjalan menghampirinya dan berkata,
"Ada apa, Sayang? Apa ada yang mengganggumu?"
"Tidak. Aku hanya sedang mengkhawatirkan Arion. Pasti sekarang dia sangat lapar," jawab Intan dengan sedikit gugup.
"Kamu memang Ibu yang baik. Beruntungnya Arion mempunyai ibu pengganti seperti kamu," tukas Fabian sambil tersenyum menyentuh pipi istrinya.
Intan tersenyum tipis mendengar pujian suaminya yang tidak sepenuhnya benar. Diakuinya jika dia memang sayang pada Arion, sebagai pengganti bayinya yang keguguran saat itu, akan tetapi untuk hal lainnya, sebenarnya dialah yang memanfaatkan Fabian untuk hidupnya saat ini.
Fabian meletakkan piring dan gelas yang dibawanya pada tempat cucian piring. Kemudian dia mencucinya dan berkata,
"Lebih baik kamu antarkan makanan untuk Arion. Biar aku saja yang membersihkan semuanya."
Intan tersenyum senang. Dia menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias dan berkata,
"Baiklah, aku akan segera mengantarkan makanan untuknya."
Setelah itu dengan segera dia menuju meja makan dan mengambilkan makanan untuk Arion. Dalam benaknya dia menyusun banyak pertanyaan yang akan ditanyakan pada Arion.
"Arion! Buka pintunya! Ibu membawakan kamu makanan!" seru Intan sambil mengetuk pintu kamar Arion.
"Arion! Cepat buka pintunya! Kamu harus makan!" seru Intan lebih keras lagi diiringi ketukan pintu yang semakin keras.
Merasa tidak ada respon dari Arion yang berada dalam kar tersebut, Intan segera mengambil kunci cadangan kamar tersebut di kamarnya. Setelah itu dia bergegas membuka kamar tersebut.
"Arion!" seru Intan dengan mata yang terbelalak, ketika masuk ke dalam kamar dan melihat Arion.
__ADS_1