Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 40 Kekhawatiran Arion


__ADS_3

"Bu, jangan seperti ini. Arion dan Adelia tidak putus. Kami baik-baik saja. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," ucap Arion sambil mengeratkan pegangan tangannya pada ibunya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Ibu tidak terima jika keluarga Adelia meremehkan keluarga kita," ujar Intan menggebu-gebu.


Arion tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Dia menatap mata ibunya dan mengeratkan pegangan tangannya, seraya berkata,


"Tidak akan Bu. Arion janji, mereka tidak akan bisa meremehkan keluarga kita. Arion juga tidak membiarkan itu terjadi. Ibu tenang saja ya... Arion akan menyelesaikan semuanya dengan baik, tanpa harus mengakhiri hubungan Arion dengan Adelia."


Intan beranjak dari duduknya. Dia menarik tangan Arion dan berkata,


"Ayo kita sarapan dulu. Dari tadi ayahmu sudah menunggu."


Arion pun beranjak dari tempatnya. Dia segera mengikuti ibunya, berjalan di belakangnya menuju ruang makan. Terlihat di sana sudah ada Fabian yang sedang menikmati secangkir kopi buatan Intan.


"Kok belum dimakan?" tanya Intan pada Fabian, ketika duduk di kursinya.


Fabian menoleh ke arah istrinya dan tersenyum manis padanya. Kemudian dia berkata,


"Sejak kapan aku bisa makan di rumah tanpa ditemani oleh istriku."


Rion tersenyum mendengar perkataan Fabian yang ditujukan untuk Intan. Dalam hatinya berkata,


Aku ingin sekali seperti itu dengan Adelia. Aku ingin menjadikan dia istriku dan aku akan melimpahkannya dengan seluruh rasa cinta yang aku punya.


Sedangkan Intan, dia hanya tersenyum malu-malu. Dia sudah terbiasa selama bertahun-tahun menerima ucapan kekaguman Fabian padanya. Dia merasa sangat beruntung dengan cinta dan kasih sayang yang diberikan Fabian padanya. Akan tetapi dia masih saja merasa rugi menjadi istri Fabian, karena ekonominya tidak sesuai dengan kriteria laki-laki yang berhak menikahinya.


Sayangnya Intan terlalu percaya diri. Dia lupa jika selama menjadi istrinya, Fabian tidak pernah menuntut apa pun darinya. Terutama tentang kegadisannya. Beruntungnya saat itu Fabian sedang dalam keadaan mabuk, sehingga di malam pertama mereka, Fabian tidak bisa membedakan gadis atau tidaknya seorang Intan.


Hanya Intan saja yang merasa jika Fabian sangat beruntung mendapatkannya sebagai seorang istri. Dia selalu menggerutu, jika bukan karena terpaksa bersembunyi dari polisi, dia tidak akan mau menjadi istri Fabian dan menetap di kampung tersebut.

__ADS_1


Namun, gerutuan dia tidak pernah sampai di telinga Fabian ataupun Arion. Dia hanya menggerutu seorang diri, seolah sedang merutuki nasibnya yang dianggap buruk baginya.


"Ini, makanlah Arion. Kamu perlu banyak tenaga untuk memghadapi semuanya. Tunjukkan pada mereka jika kamu sangat layak dan sangat berharga daripada laki-laki itu," tutur Intan sambil memberikan piring yang berisi nasi putih dan lauknya pada Arion.


Sontak saja Fabian menoleh ke arah Arion. Dia menatap putranya seolah bertanya melalui matanya. Hanya saja dia tidak mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya. Dia ingin putranya memberitahunya, tanpa dia harus bertanya padanya.


Arion mengerti akan arti tatapan mata dari ayahnya. Dia menghela nafasnya, kemudian dia berkata,


"Tidak ada yang terjadi, Ayah. Hanya masalah biasa saja antara pasangan kekasih. Ini pertama kalinya bagi Arion, jadi wajar saja jika Arion merasa frustasi, meskipun hanya masalah kecil yang sedang kami hadapi."


"Arion, ini merupakan masa penjajakan untuk kalian. Seharusnya kalian bisa secepatnya membereskannya, afar nantinya tidak berlarut-larut. Begitu pula ketika kalian sudah menikah. Semua masalah harus kalian selesaikan secepatnya. Jangan menunda-nunda untuk menyelesaikannya, karena nantinya akan lebih parah lagi, bahkan bisa berakhir menjadi perpisahan," tutur Fabian dengan sangat bijaknya pada putranya.


"Iya, Ayah. Arion tahu. Kemarin malam sudah terselesaikan. Sekarang ini kita sedang mencoba untuk kembali seperti hubungan kami sebelumnya," tukas Arion menjelaskan pada ayahnya.


"Bagus Arion. Ayah bangga padamu. Kamu memang anak kebanggan Ayah. Kami tidak pernah meragukan semua keputusanmu. Kami juga akan selalu mendukungmu. Ingat itu," ujar Fabian sambil tersenyum dan menepuk lirih bahu putranya.


Arion tersenyum bahagia. Dia merasa bangga berada di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayanginya dan selalu mendukungnya.


Tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan pada ponsel Arion. Segeralah dia mengambil ponsel dari dalam saku celananya, dan membaca pesan tersebut. Seketika dia menghela nafasnya, setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh atasannya.


"Kenapa Arion? Ada masalah?" tanya Intan menyelidik.


"Tidak Bu. Hanya pergantian jam kerja saja," jawab Arion tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.


"Pergantian jam kerja? Memangnya kenapa?" tanya Intan kembali dengan rasa penasarannya.


"Arion diminta masuk nanti Bu. Arion tidak jadi jaga pagi sekarang. Arion jaga malam hari ini," jawab Arion sambil membalas pesan tersebut.


Intan dan Fabian terkekeh mendengar penjelasan dari putra mereka. Terlihat jelas raut kelegaan dari mereka berdua, karena mereka tidak ingin putra mereka dalam masalah.

__ADS_1


"Hanya itu saja, kenapa kamu terlihat kecewa seperti itu Arion?" tanya Intan sambil terkekeh.


"Tidak Bu. Arion tidak kecewa. Hanya saja Arion sudah siap, dan hanya tinggal berangkat saja sekarang. Kenapa pemberitahuannya mendadak sekali?" ucap Arion disertai helaan nafasnya.


"Namanya juga bekerja. Kita sebagai pekerja tidak boleh mengeluh. Kita hanya bisa menuruti perintah atasan kita. Kamu pasti mengerti itu kan Arion?" tutur Fabian dengan bijaknya.


Arion tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya berkata,


Bukan itu yang membuat Arion kecewa dan khawatir. Ayah dan Ibu tidak perlu tahu jika Arion sedang kecewa dan mengkhawatirkan Adelia. Padahal rencananya, pulang kerja nanti Arion akan mengajak Adelia jalan, seperti kemarin malam. Tapi... jika seperti ini, semua rencana Arion gagal.


Rasa kecewa dan khawatirnya itu, membuat Arion tidak bersemangat. Dia beranjak dari duduknya, setelah menghabiskan makanannya. Terlihat jelas dia tidak bersemangat saat ini. Dari cara berjalannya menuju kamarnya, Fabian dan Intan saling bertanya akan apa yang terjadi dengan putra mereka saat ini.


"Sudahlah, Sayang. Tidak usah terlalu dikhawatirkan. Arion sudah dewasa, dan dia sudah mengetahui mana yang terbaik untuknya," tutur Fabian sambil tersenyum pada istrinya.


Intan pun tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, menyetujui penuturan suaminya.


"Aku berangkat kerja dulu. Kamu hati-hati di rumah. Jika ingin membeli apa pun, suruh saja putra kesayangan kita itu. Jangan sungkan-sungkan. Mengerti?" ujar Fabian sambil terkekeh.


Intan mengantarkan suaminya hingga ke teras rumahnya. Seperti biasa, para tetangga mereka selalu memperhatikan mereka. Fabian mencium kening istrinya, tanpa malu ataupun sungkan pada para tetangga yang selalu memperhatikan mereka. Bahkan Intan pun selalu berbuat sesuatu yang selalu membuat panas tetangganya itu.


Intan melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Kemudian dia mencium bibir suaminya, tanpa merasa risih diperhatikan oleh tetangga mereka. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyumnya, merasa senang telah membuat iri para tetangganya.


"Dasar perempuan tidak tahu diri. Sudah tua masih saja bertindak seperti itu."


"Mungkin karena itu Pak Fabian menyukainya."


"Iya, benar. Bunda Arion tidak pernah berbuat memalukan seperti itu."


"Jelas, kalah sudah Bunda Arion melawan wanita yang tidak tahu diri seperti itu."

__ADS_1


Fabian tersenyum ketika bibir Intan lepas dari bibirnya. Dia berangkat bekerja dengan perasaan bahagianya. Sedangkan Intan, dia menatap para tetangganya yang sedang menatapnya. Dia menyeringai dan berkata tanpa mengeluarkan suara,


"Mau apa kalian?"


__ADS_2