
Adelia sedikit melirik ke arah sampingnya, di mana Mia sedang duduk sambil terlihat sedang berpikir. Dia menahan senyumnya melihat Mia, sahabatnya itu sedang larut dalam pikirannya.
Pasti dia masih memikirkan yang tadi, Adelia berkata dalam hatinya sambil fokus mengemudi.
Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai oleh Adelia telah sampai di parkiran depan kantor mereka. Adelia menoleh ke arah Mia dan tersenyum padanya.
"Mia, kamu gak turun?" tanya Adelia sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Hah?!" celetuk Mia yang baru saja tersadar dari pikirannya.
Adelia terkekeh dan menggelengkan kepalanya, kemudian dia membuka pintu mobilnya seraya berkata,
"Aku turun. Kalau kamu masih mau berada di sini, silahkan saja, aku gak melarang kok."
Sontak saja Mia dengan cepatnya melepaskan sabuk pengamannya. Dia tergesa-gesa membuka pintu mobilnya seraya berkata,
"Tunggu aku Lia!"
Mia segera turun dari mobil tersebut dan berlari kecil mengejar Adelia yang lebih dahulu berjalan di depannya.
"Lia, pacar kamu tadi ganteng banget sih? Apa kalian tinggal bersama?" tanya Mia tanpa bisa mengerem suara cemprengnya.
Sontak saja Arion menoleh ke arah sumber suara. Adelia yang sedang tersenyum mendengar pertanyaan Mia, seketika menghentikan langkahnya dan senyumnya pudar saat matanya beradu pandang dengan mata Arion yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Adelia tersenyum pada Arion dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia menarik tangan Mia untuk segera berjalan masuk bersamanya.
"Aduh... Lia... Kenapa buru-buru sekali sih? Sakit tau gak ditarik-tarik begini. Ada apaan sih? Eh by the way, kamu kenal sama security tadi? Kol dia selalu liatin kamu gitu sih? Pakai senyum-senyum juga sama kamu. Jangan-jangan dia naksir kamu Lia," cerocos Mia tanpa henti sambil berjalan masuk ke dalam kantor.
Adelia menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada di dalam ruangan Adelia. Dia menatap tajam pada Mia sambil menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu gak capek ngomong banyak gitu kayak orang lagi ngerap?"
Mia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Kemudian dia berkata,
"Kan aku pengen tau, Lia. Kamu gak pernah cerita tentang pacar kamu. Tiba-tiba aku ketemu kalian dan dengar kalian sepertinya tinggal bersama. Apa aku gak kaget?"
__ADS_1
Adelia kembali menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang sikapnya tidak berubah sejak dulu.
"Sudahlah, balik ke ruangan kamu. Aku mau meneruskan pekerjaanku sekarang," ujar Adelia yang seolah mengusir Mia dari ruangannya.
Mia mengerucutkan bibirnya, mencoba untuk memperlihatkan kekesalannya. Sayangnya Adelia masih tetap pada pendiriannya. Dia mengacuhkan Mia seolah sedang fokus pada pekerjaannya, sehingga Mia dengan terpaksa keluar dari ruangan Adelia tanpa mendapatkan jawaban darinya.
Adelia tersenyum melihat Mia keluar dari ruangannya sambil menutup sedikit keras pintu ruangan tersebut untuk memperlihatkan kekesalannya pada Adelia.
Tiba-tiba Adelia teringat akan tatapan mata Arion yang sangat mengganggunya. Tatapan mata tersebut seolah sedang bertanya dan diselimuti oleh kesedihan.
"Apa dia mendengarnya? Ck! Ini semua gara-gara Mia si suara cempreng itu. Apa karena hal itu dia menatapku seperti itu?" tanya Adelia di sertai helaan nafasnya.
Adelia mengambil ponselnya dan membuka chat nya bersama dengan Arion. Dia menghela nafasnya kembali dan berkata,
"Kenapa dia gak mengirim pesan lagi? Apa dia benar-benar mendengarnya? Apa aku yang harus menanyakan padanya?"
Tanpa sadar jari lentik Adelia mengetik sesuatu dan dikirimkan pada Arion. Sedetik kemudian dia baru tersadar jika apa yang dilakukannya membuat dirinya terlihat seolah perempuan yang mengejar laki-laki.
"Oh My God... Apa yang aku lakukan? Bodoh kamu Lia... Bodoh... Bodoh... Bodoh...," seru Adelia lirih sambil memukul-mukul kepalanya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara notifikasi pesan yang membuat Adelia berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"God... Kenapa aku jadi seperti ini? Ah... Mungkin karena kita baru saja kenal, jadi aku merasa gugup, takut salah bicara dan bersikap. What? Tapi sejak kapan itu terjadi? Aku seorang Adelia yang selalu percaya diri dan tidak pernah merasa seperti ini meskipun berkenalan dengan orang baru," ujar Adelia sambil menatap layar ponselnya sebelum membuka pesan tersebut.
Adelia menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya perlahan, setelah itu dia membuka pesan yang dikirimkan Arion padanya.
Perlahan bibirnya melengkung ke atas membaca balasan pesan dari Adelia. Kemudian dia meletakkan ponsel tersebut di atas mejanya seraya berkata,
"Bagaimana jika dia mengira aku mengejar-ngejar dia karena menanyakan tentang makan malam nanti? Lebih baik aku jelaskan sekarang bahwa aku hanya mengingatkannya saja, jika tidak jadi aku akan pulang bersama dengan Mia. Ya, benar, aku harus menjelaskan begitu padanya."
Jemari lentik Adelia kembali menuliskan pesan pada Arion seperti yang direncanakannya. Setelah itu dia segera mengirim pesan tersebut dengan harapan Arion tidak menilainya sebagai perempuan pengejar laki-laki.
Beberapa detik kemudian Arion kembali membalasnya. Dia mengajak Adelia bertemu di tempat makan yang mereka janjikan agar menghindari omongan dari orang lain.
Ini semua dilakukan oleh Arion agar tidak ada pembicaraan tentang mereka berdua dari orang-orang yang mengenal mereka, terutama orang kantor.
__ADS_1
"Kenapa kita harus berangkat sendiri-sendiri? Kenapa gak barengan aja dengan kendaraan masing-masing?" tanya Adelia sambil melihat layar ponselnya yang masih memperlihatkan pesan dari Arion.
"Ah sudahlah. Yang penting setelah ini aku sudah gak punya hutang lagi sama dia. Hutang budi sudah lunas nanti malam. Dan aku gak perlu memikirkan itu lagi. Ah senangnya...," ujar Adelia sambil tersenyum.
Namun, hati dan bibirnya berbeda. Bibirnya mengatakan senang dan lega setelah membayar hutang budi pada Arion, akan tetapi hatinya merasakan kesedihan karena tidak bisa bertemu atau berbicara dekat dengannya.
Adelia segera menghempaskan pikiran anehnya itu. Dia berusaha fokus pada pekerjaannya agar tidak terpikirkan apa pun saat ini.
Di sisi lain, Arion tersenyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Adelia padanya. Sayangnya ada rasa sedih dalam hatinya ketika mengingat apa yang diucapkan oleh Mia, sahabat Adelia saat akan masuk ke dalam kanto setelah jam makan siang mereka berakhir.
Waktu pun bergulir dengan cepatnya. Kini, jam pulang pun tiba. Adelia dengan senangnya mengakhiri pekerjaannya. Dia segera merapikan pekerjaannya dan meninggalkan ruangan tersebut sambil membawa tas yang dijinjingnya.
Begitu pula dengan Arion, dia merasa sangat bersemangat ketika berganti pakaian setelah jam kerjanya berakhir. Dia segera mengendarai motornya setelah melihat mobil milik Adelia keluar dari tempat parkir.
Dengan menjaga jarak, Arion mengikuti mobil Adelia yang melaju dengan santai. Dalam hatinya berkata,
Sepertinya dia gak tau jik aku sedang mengikutinya.
Setelah beberapa saat, mobil Adelia berbelok ke arah resto yang biasanya dikunjunginya bersama dengan keluarganya.
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan Adelia ketika dia turun dari mobilnya.
"Apa kita akan makan di tempat ini?"
"Arion? Kamu...--"
"Maaf Mbak, saya tadi kebetulan ada di belakang mobil Mbak Adelia," sahut Arion menjelaskan pada Adelia.
"Oh jadi gitu...," ucap Adelia sambil tersenyum pada Arion.
Tiba-tiba Adelia kembali dikagetkan oleh sesuatu. Kini matanya ditutup oleh kedua tangan seseorang yang ada di belakangnya. Dari jari tangannya, Adelia mengetahui jika dia seorang laki-laki. Dan dari bau parfumnya, dia mengetahui siapa laki-laki yang sedang menutup matanya saat ini.
Adelia hanya tersenyum dan berusaha melepaskan tangan laki-laki tersebut dari matanya. Sayangnya laki-laki tersebut enggan melepaskannya. Dam dia pun berkata,
"Sepertinya kita memang berjodoh. Bukan begitu My Princess kesayanganku?"
__ADS_1
Mata Arion terbelalak melihat interaksi Adelia dengan laki-laki tersebut. Dia begitu terkejut mendengar panggilan dari laki-laki tersebut pada Adelia. Dalam hatinya berkata,
Apa dia yang dimaksud oleh temannya Adelia tadi? Apa dia benar-benar pacar Adelia?