
"Siapa yang mencari ku?" tanya Arion yang merasa heran.
"Cepatlah keluar!" seru seorang polisi dari arah pintu.
Arion beranjak dari duduknya. Dengan malasnya dia berjalan keluar ruangan tersebut bersama dengan polisi yang memanggilnya.
"Duduklah!" ujar polisi tersebut sambil menunjuk kursi yang sudah disediakan untuknya.
Arion mencebik kesal melihat orang yang sekarang sedang duduk menunggu kedatangannya. Seorang pria paruh baya, sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Arion," ucap lirih pria paruh baya tersebut.
"Mau apa Ayah ke sini?" tanya Arion dengan sewotnya, sambil berjalan menghampirinya.
Sang anak duduk di kursi yang ada di hadapan ayahnya. Sang ayah menatapnya lekat dengan matanya yang berkaca-kaca, seolah memberitahukan betapa sedih hatinya saat ini.
"Arion, ada apa sebenarnya, Nak? Ayah tadi menerima telepon dari polisi, dan mereka mengatakan bahwa kamu berada di sini. Jadi, Ayah bergegas datang ke sini tanpa Ibu, karena Ibu sedang--"
"Dia bukan ibuku!" sahut Arion dengan tegas, dan menatap tajam pada ayahnya.
"Arion! Apa maksudmu?" seru Fabian, seolah tidak terima dengan perkataan putranya.
Arion menyeringai. Dia menatap ayahnya bak seorang musuh yang sedang diremehkannya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa Ayah tidak pernah menceritakan apa pun tentang ibu kandungku? Kenapa tidak ada satu pun foto ibu kandungku yang tersisa di rumah? Apa Ayah dan istri Ayah yang sekarang membuang semua foto ibuku?"
Seketika mata Fabian terbelalak mendengar semua pertanyaan yang diajukan Arion padanya. Putranya itu, saat ini sedang mempertanyakan tentang ibu kandungnya. Tidak hanya itu saja, bahkan putra kandungnya itu, menuduhnya telah menyimpan semua kenangan ibu kandungnya darinya.
"Arion, Ayah minta maaf karena tidak pernah menceritakan semua ini padamu. Ayah dan ibumu tidak pernah membuang foto bundamu. Kami hanya--"
"Bunda?! Jadi panggilan untuk ibu kandungku adalah bunda," sahut Arion sambil terkekeh.
__ADS_1
"Iya, benar. Bunda meninggal ketika usia kamu masih sangat kecil. Saat itu kamu masih bayi, sehingga kamu memerlukan--"
"Ibu pengganti? Aku rasa itu hanya akal-akalan kalian saja. Jika memang benar adanya, kenapa Ibu bisa ada di rumah tepat pada saat Bunda meninggal? Bukankah itu suatu kebetulan yang sangat tepat?" sahut Arion seraya menyeringai, seolah sedang mengolok ayahnya.
Fabian menghela nafasnya. Dia menatap dalam mata putranya, seolah mencari tahu apa yang ada dalam pikiran anaknya itu. Kemudian dia berkata,
"Kamu tahu dari mana? Bukan itu yang terjadi, Nak. Kamu salah paham. Jika kamu tahu semuanya dari orang lain, pasti mereka hanya memberimu cerita yang salah, sehingga kamu membenci ibumu, bahkan ayahmu juga."
"Salah? Lalu, apa kebenarannya?" tanya Arion dengan seringainya.
Fabian menghela nafasnya. Dia menatap Arion dan meraih kedua tangan putranya. Sayangnya, Arion dengan cepatnya bisa melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan ayahnya. Dia menatap Fabian dengan tatapan yang beda seperti biasanya. Kini tatapannya pada ayahnya adalah tatapan kebencian.
"Arion, dengarkan Ayah. Seharusnya kamu tidak menelan mentah-mentah informasi yang kamu dapatkan dari orang lain. Kamu harus bertanya pada Ayah dan Ibu untuk memastikannya, agar tidak seperti sekarang ini, kamu salah paham pada kami," tutur Fabian dengan bijaknya.
"Bukankah aku sudah bertanya pada Ayah di telepon tadi? Ayah pikir aku sebodoh itu? Aku juga tidak percaya begitu saja pada apa yang mereka beritahukan padaku," ujar Arion dengan kesalnya.
"Lalu, kenapa sikap kamu seperti ini? Sepertinya kamu membenci Ayah dan Ibu," tanya Fabian dengan rasa ingin tahunya.
"Itu karena istri baru Ayah berkelit. Dia tidak mengakuinya. Bahkan dia menolak untuk menceritakan kebenarannya padaku."
"Benarkah?" tanya Fabian yang terlihat tidak percaya dengan perkataan putranya.
Arion terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut ayahnya. Dia menatap ayahnya, sambil menyeringai dan berkata,
"Pasti Ayah lebih percaya dia dibandingkan dengan anak kandungmu ini."
"Arion! Jaga perkataanmu! Ayah sama sekali tidak pernah curiga atau tidak percaya pada kalian berdua. Ayah hanya ingin keluarga kita bahagia. Itu saja," ujar Fabian dengan tegasnya.
Arion menatap ayahnya dengan sungguh-sungguh dan berkata dengan tegas,
"Asalkan Ayah tahu. Arion bisa berada di sini karena perbuatan istri baru Ayah. Dia mengutus penjahat untuk menculik dan merampas kehormatan Adelia. Itukah istri yang Ayah banggakan?"
__ADS_1
"Apa? Tidak, tidak mungkin itu. Ayah kenal betul siapa ibumu. Dia tidak mungkin mempunyai pikiran seperti itu. Lagi pula, dia tidak pernah ke mana-mana. Ibumu itu hanya ibu rumah tangga yang setiap hari berada di rumah. Jadi, tidak mungkin jika dia--"
"Namanya Ruby. Dia kenal dengan para penjahat itu sejak dulu. Dendamnya pada kedua orang tua Adelia, membuatnya mengulang kembali kegagalan rencana mereka waktu dulu," sahut Arion dengan cepatnya.
Seketika Fabian lemas. Fakta yang dituturkan oleh putranya merupakan hal baru yang tidak pernah diketahuinya. Bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Apa yang kamu katakan, Nak? Bagaimana mungkin ibumu--"
"Sadarlah, Yah. Sudah waktunya Ayah tahu semua tentang istri baru Ayah. Tanyakan padanya semua kebenaran tentang masa lalunya, tapi Arion rasa dia tidak akan mau mengakuinya. Dia wanita licik yang tidak pernah memperlihatkan kelicikannya pada kita," sahut kembali Arion dengan kesalnya.
Fabian menghela nafasnya sambil memandang iba pada putranya. Kemudian dia berkata,
"Lebih baik kita bicarakan bertiga nanti setelah kamu keluar dari sini."
"Ayah yakin, aku bisa keluar dari tempat ini?" tanya Arion sambil menyeringai.
"Kenapa tidak? Ayah akan berusaha membebaskan kamu dari tempat ini. Apa pun yang terjadi," jawab Fabian dengan sangat yakin.
"Jika seandainya mereka akan melepaskan Arion apabila dalang dari semua ini menyerahkan diri, apa Ayah akan menyerahkan istri baru Ayah untuk menggantikan aku?" tanya Arion dengan tatapan menyelidik.
Pertanyaan Arion membuat Fabian terhenyak. Benar, dia tidak bisa menjawabnya. Dua orang tersebut adalah hidupnya, dan dia tidak bisa memilih salah satu di antara mereka.
"Kenapa, Yah? Ayah tidak bisa melakukannya, bukan? Sudahlah, Yah. Sebaiknya Ayah pilang saja ke rumah, dan peluklah istri kesayangan Ayah itu. Bilang sama dia, rencananya telah berhasil, dan ajaklah dia untuk merayakannya," ujar Arion dengan sewotnya.
"Arion! Kamu sudah keterlaluan! Ayah tidak akan pernah melakukan itu. Ayah akan mencari tahu yang sebenarnya, dan jika benar ibumu bersalah, makan Ayah sendiri yang akan mengantarkannya ke kantor polisi," tutur Fabian dengan tegas.
Arion terkekeh mendengar penuturan ayahnya. Dia berdiri dari duduknya, dan berkata,
"Arion tunggu, Yah. Buktikan pada Arion jika Ayah tidak menyingkirkan Bunda hanya karena tergila-gila pada wanita licik itu, sehingga kalian berdua bisa menikah tanpa dihalangi oleh Bunda."
"Arion!"
__ADS_1