
Intan menolak untuk memiliki anak. Dia tidak ingin jika anaknya kelak hidup tumbuh dalam keluarga Fabian dan hidup susah nantinya.
Jika aku gak terpaksa, aku gak mungkin berada di tempat ini hingga sekarang. Aku hanya ingin hidup bebas dan gak lagi hidup di dalam jeruji besi. Aku gak akan menyiksa diriku dengan melahirkan anak untukmu. Lagi pula kasihan anakku jika harus tumbuh dan besar di sini. Harusnya aku dan anakku tinggal di rumah yang mewah dan gak akan kekurangan apa pun, Intan berkata dalam hatinya.
"Sayang, kenapa?" tanya Fabian sambil mengusap lembut pipi istrinya.
Intan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Fabian dan mulai merayunya. Seketika Fabian kembali melakukan aksinya. Dia meneruskan apa yang dilakukannya tadi, sebelum mereka membicarakan tentang anak.
Di lain ruangan, Arion tersenyum-senyum sendiri mengingat obrolannya bersama dengan Adelia. Rasa kagumnya pada Adelia semakin bertambah setelah obrolan mereka ketika makan bersama tadi.
"Adelia... kamu bukan hanya cantik, tapi kamu juga sangat baik, tidak sombong dan tidak merendahkan orang lain. Sepertinya aku benar-benar menyukaimu," ujar Arion sambil tersenyum menatap langit-langit kamarnya ketika berbaring di tempat tidurnya.
Hari ini sangat berarti bagi Arion. Perempuan yang selama ini dikaguminya, menyambut baik uluran tangannya. Hanya saja dia masih sadar diri jika ada perbedaan yang sangat jauh di antara mereka.
"Sudahlah Arion, jangan bermimpi. Jalani saja hidupmu, jika memang benar dia jodohmu, pasti kalian akan bersatu," ucap Arion bermonolog seolah sedang memperingatkan dirinya sendiri.
Dia menghela nafasnya yang terasa berat dalam dadanya. Perlahan dia memejamkan matanya, berharap agar esok pagi menjadi awal yang lebih baik dalam kehidupannya.
...----------------...
Di lain tempat, Adelia sedang menatap indahnya langit malam yang dihiasi oleh gemerlapnya bintang. Dia berdiri di balkon kamarnya menikmati kesunyian malam dengan ditemani oleh keindahan panorama malam yang selalu menjadi penenang baginya.
Tiba-tiba Adelia dikagetkan dengan Adelio yang meloncat pagar pembatas balkon kamar mereka. Kamar mereka memang bersebelahan sehingga mereka tahu kebiasaan saudara kembarnya.
Adelio mengacak-acak rambut Adelia dengan gemas dan berkata,
"Cieee... yang lagi pacaran."
"Siapa yang pacaran? Aku cuma mentraktir dia karena balas budi," tukas Adelia dengan sewotnya.
Adelio menengadahkan wajahnya pada wajah Adelia dan berkata,
"Beneran? Tadi aku lihat kalian sangat dekat sekali ngobrolnya?"
Adelia meletakkan kedua tangannya pada kedua pipi saudara kembarnya itu seraya berkata,
__ADS_1
"Aku tau kalau kamu pasti mengintai ku. Makanya aku selalu tenang pergi bersama siapa pun."
Adelio pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Adelia. Dia meletakkan kedua tangannya pada pipi saudara kembarnya seraya berkata,
"Itu hanya kebetulan saja. Jangan pernah lengah, belum tentu aku bisa selalu menemukanmu, karena kita gak selalu berada dalam satu tempat bersama. Mengerti My Princess kesayanganku?"
"Ck! Harusnya kamu selalu menjadi super hero ku. Aku lebih tenang jika ada pengintai yang ganteng kayak kamu," ujar Adelia sambil terkekeh di akhir perkataannya.
Adelio mencubit gemas hidung saudara kembarnya itu seraya berkata,
"Memangnya aku gak punya kesibukan lain selain jadi stalker kamu?"
Adelia terkekeh mendengar pertanyaan saudara kembarnya itu. Dia memeluk tubuh kakaknya itu dan berkata,
"Gak tau kenapa, aku tuh merasa sangat tenang dan nyaman kalau ada kakakku yang ganteng ini."
Adelio membalas pelukan adiknya. Saudara kembarnya itu memang sangat manja padanya. Sehingga orang-orang yang tidak mengetahui hubungan mereka selalu mengira jika mereka berdua adalah pasangan kekasih.
Terlebih lagi mereka berdua mempunyai wajah yang rupawan. Kecantikan dan ketampanan mereka mampu membuat kagum orang yang melihatnya, sehingga mereka yang mengira bahwa mereka adalah pasangan kekasih merasa iri pada mereka berdua.
Tangan Adelia yang berada di pinggang Adelio menggelitik pinggang kakaknya, sehingga Adelio meringis kegelian. Setelah itu Adelia berlari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon kamarnya. Dia membuka tirai jendela kaca balkonnya dan menjulurkan lidahnya ketika Adelio menoleh ke arahnya.
Adelio tertawa melihat sikap saudara kembarnya itu. Adiknya itu selalu menjadi prioritasnya utamanya selain mamanya.
Dia meloncat pembatas balkon kamar mereka untuk kembali masuk ke kamarnya. Matanya begitu saja terpejam setelah dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Gemericik air hujan yang menyelimuti pagi ini membuat Adelia masih betah bergelung dengan selimutnya. Adelio pun masih betah merajut mimpi di bawah selimutnya yang menghalangi dinginnya udara pagi ini.
Tok... Tok... Tok...
"Adelia...! Adelio...! Bangun...!" teriak Ayana di antara kama kedua anak kembarnya itu dengan mengetuk pintu kamar mereka secara bergantian.
Teriakan dan ketukan pintu Ayana itu tidak juga membangunkan kedua anak kembarnya. Hingga ketukan pintu dan teriakan yang ketiga kalinya, Adelia dan Adelio bersamaan membuka pintu kamar mereka.
Krieeet...
__ADS_1
Pintu kamar keduanya terbuka. Keluarlah Adelia dan Adelio yang masih berpenampilan acak-acakan khas orang bangun tidur sambil menguap dan mengusap-usap mata mereka.
"Ada apa sih Ma? Ini masih belum waktunya bangun," ucap Adelia lirih sambil mengusap-usap matanya yang masih terpejam.
"Masih belum pagi Ma. Kenapa teriak-teriak?" tanya Adelio dengan suara seraknya layaknya suara khas orang bangun tidur.
Ayana melipat kedua tangannya di depan dadanya, kemudian dia melihat kedua anaknya bergantian seraya berkata,
"Kalian berdua memang benar-benar saudara kembar. Malasnya aja barengan. Ini sudah pagi. Di luar sedang hujan gerimis, jadi langitnya mendung. Kalau kalian gak bangun sekarang, Mama jamin kalian berdua akan telat berangkat bekerja."
"Apa?! Sudah pagi?!" seru Adelia dan Adelio secara bersamaan.
"Sudah jam enam. Apa kalian mau bolos saja hari ini. Kita pergi saja berlibur ke villa, kan besok week end. Bagaimana?" tanya Ayana dengan riangnya.
Adelia dan Adelio saling menatap, kemudian mereka berdua bersamaan masuk ke dalam kamar mereka tanpa menjawab pertanyaan mamanya dan tanpa menutup pintu kamar mereka.
Ayana terkekeh melihat sikap kedua anak kembarnya. Dia menutup kedua pintu kamar anaknya itu seraya berkata,
"Pasti mereka marah nanti ketika tau jam berapa sekarang."
Ayana meninggalkan kamar kedua anaknya sambil terkekeh berjalan menuruni tangga. Tingkah kedua anak kembarnya itu selalu menjadi hiburan tersendiri baginya semenjak kecil hingga saat ini mereka sudah menjelang dewasa.
Seperti biasanya, dia selalu menyiapkan makanan untuk keluarganya. Tiba-tiba Ayana dikagetkan oleh kedua tangan yang melingkar pada pinggangnya. Dia mencium aroma parfum maskulin yang sangat familiar bagi indera penciumannya.
Ayana tersenyum, dia meyakini bahwa suaminya lah yang sedang merangkulnya dari belakang. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu menginginkan sesuatu, suamiku?"
"Udara pagi begitu dingin. Bahkan langit yang mendung dan gerimis saat ini membuatku tidak ingin meninggalkan istriku yang cantik ini sendirian di rumah. Suasana yang seperti ini membuatku menginginkanmu Ay," jawab Rafael sambil mencium tengkuk istrinya yang sedang dipeluknya erat dari belakang.
Adelia dan Adelio melongo melihat papa dan mama mereka bermesraan di dapur. Kemudian mereka berdua bergantian menyapa kedua orang tua mereka.
"Mama Papa lagi ngapain?"
"Kenapa pagi-pagi begini kalian membuat mata kami ternoda?"
__ADS_1