Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 22 Berkunjung ke rumah


__ADS_3

Adelia tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Intan. Ingin dia mengatakan jika Ayana, mamanya sangat pintar sekali memasak. Tentu saja Adelia pun menuruni bakat memasak dari mamanya. Dia selalu membantu mamanya memasak jika sedang berada di rumah.


"Sudah Ibu duga, kamu pasti tidak bisa memasak. Tidak apa, kamu bisa belajar sama Ibu," ujar Intan sambil tersenyum menyombongkan dirinya.


Adelia hanya tersenyum menanggapi perkataan Intan. Entah mengapa dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Intan padanya. Lidahnya terasa keluh dan tidak bisa mengeluarkan suara. Dia hanya bisa tersenyum untuk menanggapinya.


Mungkin lebih baik aku bersikap seperti ini saja. Aku takut jika ibunya Arion akan merasa tidak enak hati jika tahu aku bisa memasak lebih dari yang dia kira, Adelia berkata dalam hatinya.


Adelia membantu mengupas bumbu dan sayuran, serta memotongnya. Intan melirik apa yang sedang dilakukan oleh Adelia. Dia merasa heran dengan tangan Adelia yang cekatan mengupas dan memotong bumbu serta sayuran.


Dari cara memegang pisau, sepertinya dia bisa masak, tapi kenapa dia tidak bisa memasak? Mungkin dia hanya pandai memotong saja. Atau mungkin hanya kebetulan saja, Intan berkata dalam hatinya.


Bibir Arion melengkung ke atas melihat keakraban antara ibunya dengan Adelia. Kekhawatiran akan tidak cocoknya mereka berdua, kini terhapus sudah. Bahkan Adelia terlihat tidak grogi masak berdua saja bersama dengan Intan di dapur.


"Sepertinya kamu sangat menyukai perempuan itu," bisik Fabian yang berdiri di samping Arion sambil melihat ke arah Intan dan Adelia berada.


Arion terkesiap mendapati Fabian berdiri di sampingnya. Dia kembali menatap ke arah Adelia yang masih sibuk memasak seraya tersenyum dan berkata lirih,


"Arion bukan hanya menyukainya, Yah. Arion sangat mencintainya. Memiliki Adelia membuat Arion merasa sangat beruntung."


Fabian tersenyum mendengar perkataan dari putranya. Dia menepuk lirih bahu putranya dan berkata,


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sebaiknya kita tunggu mereka di ruang makan."


Arion pun mengikuti ayahnya untuk pergi ke ruang makan bersamanya, menunggu kedua perempuan yang mereka cintai menyuapkan makan siang mereka.


Setelah beberapa saat, Adelia membawa dua buah piring saji untuk dibawa ke meja makan. Dia meletakkan kedua piring tersebut di atas meja makan dan tersenyum ketika Arion tersenyum padanya.


"Aku bantu," ucap Arion sambil beranjak dari duduknya.


"Gak perlu Arion. Cuma tinggal beberapa saja kok," ujar Adelia menghentikan niatan Arion untuk membantunya.


Arion merangkul pundak Adelia dan membawanya berjalan menuju dapur seraya berkata,


"Aku gak bisa melihat kamu kecapekan. Ayo kita lakukan berdua agar cepat selesai."


Adelia terkekeh mendengar perkataan Arion yang menurutnya sangat berlebihan. Tapi entah mengapa dia menyukai kata-kata itu. Dia merasa jika dirinya sangat dihargai dan disayangi oleh Arion.

__ADS_1


Intan melihat kecocokan dan kedekatan antara Arion dengan Adelia. Dalam hatinya berkata,


Aku harus membantu Arion untuk mendapatkannya. Derajatku akan kembali naik jika mempunyai menantu yang kaya.


Siang itu mereka berempat makan bersama layaknya keluarga yang bahagia. Adelia hanya menjawab pertanyaan jika Fabian dan Intan bertanya padanya. Selain itu dia hanya diam, sembari memakan makanan yang ada di piringnya.


Setelah acara makan siang mereka usai, Arion melarang Adelia untuk membersihkan meja makan ataupun mencuci peralatan bekas makan mereka. Adelia pun menurutinya, karena Arion marah ketika dia mencoba membantunya mencuci piring kotor yang ada di dapur.


"Sudah Adelia, kamu menurut saja apa yang diperintahkan Arion. Hitung-hitung kamu belajar untuk menuruti perintah suami," tutur Intan sambil memegang pundak Adelia.


Adelia tersenyum paksa mendengar penuturan Intan. Dalam hatinya berkata,


Suami? Bahkan kata itu saja gak pernah terlintas di benakku saat ini. Apa Arion benar-benar bisa menjadi suamiku?


Intan menarik tangan Adelia untuk berjalan menuju ruang tamu. Di sana mereka duduk sambil menonton tayangan televisi bersama dengan Fabian, yang terlebih dahulu duduk di sofa tersebut.


Untuk mengurangi rasa canggungnya, Adelia mengeluarkan ponselnya dan melihat-lihat media sosialnya.


"Kamu pasti aktif di media sosial ya?" tanya Intan yang sedang duduk di sebelah Adelia sambil mencuri pandang pada layar ponsel Adelia.


"Iya Bu. Saya suka berfoto."


"Ya sudah, ayo kita berfoto bersama. Biar ada kenang-kenangan untuk hari ini," tukas Intan dengan mata yang berbinar.


Dengan sedikit canggung, Adelia mengarahkan kamera ponselnya pada mereka berdua yang duduk berdampingan sambil tersenyum pada kamera ponsel tersebut.


Beberapa foto diambil dari berbagai gaya yang mereka lakukan. Fabian tersenyum melihat istrinya dan Adelia yang sudah diakuinya sebagai calon menantunya.


"Sini biar Ayah yang mengambil gambarnya. Kalian bergaya saja berdua," ujar Fabian sambil menadahkan tangannya untuk meminta ponsel Adelia.


Adelia pun memberikan ponselnya. Dia duduk dengan canggung di samping Intan dan memaksakan senyumnya. Tangan Intan merangkul pundak Adelia dan menempelkan pipinya pada pipi Adelia sambil tersenyum bahagia.


Beberapa foto pun telah diambil Fabian. Dia tersenyum puas melihat gambar yang diambilnya pada layar ponsel tersebut.


"Bagaimana, Yah? Bagus tidak hasilnya?" tanya Intan sambil mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel tersebut dari Fabian.


"Bagus dong Bu. Dua-duanya cantik," jawab Fabian sambil memberikan ponsel tersebut pada istrinya.

__ADS_1


Intan menerima ponsel tersebut dan melihat foto-foto yang diambil suaminya. Matanya berbinar melihat semua foto tersebut. Dia memberikan ponsel tersebut pada Adelia seraya berkata,


"Lihatlah Adelia, bagus bukan foto-fotonya?"


Adelia menerima ponselnya dan melihat semua foto tersebut. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya Bu, bagus."


"Tolong kamu kirim semua fotonya ke Ibu ya," pinta Intan sambil memegang ponselnya.


"Mmm... Saya kirim ke mana Bu?" tanya Adelia ragu-ragu.


"Oiya, kamu belum punya nomor Ibu ya? Ini nomor Ibu. Simpanlah dan kirimkan gambar-gambar itu ke nomor ini," jawab Intan sambil memperlihatkan layar ponselnya yang terdapat nomor ponselnya.


Adelia segera memasukkan nomor ponsel tersebut dan mengirimkan semua foto pada Intan. Kemudian dia berkata,


"Sudah semua Bu. Coba Ibu lihat, barangkali ada yang belum terkirim."


Intan pun segera membuka pesan yang dikirimkan oleh Adelia. Dia mencermati setiap foto tersebut. Bibirnya melengkung ke atas dan matanya berbinar melihat semua gambar dirinya seraya berkata dalam hatinya,


Ternyata aku masih sangat cantik, tidak kalah dengan Adelia.


"Oiya, kamu upload saja semua foto itu di media sosial, nanti tag ke media sosial Ibu ya. Ini nama akun media sosial Ibu," ucap Intan sambil memperlihatkan akun media sosialnya pada layar ponselnya.


Adelia segera membuka media sosialnya dan mengikuti akun media sosial Intan. Kemudian dia berkata,


"Saya upload nanti saja ya Bu, setelah saya sampai di rumah."


Intan mengangguk setuju. Kemudian Arion bergabung bersama dengan mereka dan berbincang bersama diselingi dengan candaan di antara mereka.


Di lain tempat, tidak jauh dari rumah Arion, Adelio duduk di sebuah warung sambil memesan makanan. Dia berusaha mencari informasi dari orang sekitar rumah Arion.


"Ini Mas makanannya," ucap ibu pemilik warung tersebut sambil memberikan sepiring nasi yang berisi nasi dan lauk pauknya.


Adelio menerima piring tersebut sambil tersenyum dan berkata,


"Terima kasih Bu. Oiya Bu, apa di sini ada yang bernama Arion?"

__ADS_1


__ADS_2