
"Kamu makan di sini juga?" tanya Adelia sambil membuka tangan laki-laki yang menutupi kedua matanya.
Laki-laki tersebut mengalihkan tangannya pada pundak Adelia. Laki-laki itu tersenyum padanya seraya berkata,
"Iya, aku baru saja selesai makan. Kamu mau makan di sini juga?"
Adelia menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Iya, aku baru saja datang. Jika dipikir-pikir, seharian ini kita selalu bertemu di tempat makan ya?"
"Dari orok juga kita selalu bersama. Bukankah itu yang dinamakan jodoh?" tanya laki-laki tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya.
Hati Arion merasa dicubit melihat Adelia dan laki-laki yang ada di hadapannya itu begitu dekat dan akrab layaknya pasangan pada umumnya. Apa lagi perbincangan mereka membuat Arion semakin yakin jika laki-laki tersebut merupakan pacar dari Adelia.
Adelia terkekeh melihat tingkah laki-laki tersebut yang membuatnya sangat geli. Kemudian dia berkata,
"Kenapa gak makan di rumah? Mama sama Papa pasti menunggu."
"Aku kelaparan setelah bertugas tadi. Nanti di rumah pasti aku akan makan lagi. Tapi, kenapa kamu juga malah makan di sini? Kenapa gak makan di rumah saja? Pasti Mama sama Papa lagi nungguin," tanya laki-laki tersebut sambil mencubit gemas hidung Adelia.
Arion merasa tidak nyaman melihat interaksi antara Adelia dan laki-laki tersebut. Ingin sekali dia pergi dari hadapan mereka, akan tetapi dia merasa sungkan pada Adelia yang mempunyai janji dengannya.
Adelia menarik tangan laki-laki tersebut dan membawanya tepat di hadapan Arion. Kemudian dia berkata,
"Oh iya, kenalkan, ini Arion, dia yang menolongku tadi pagi ketika hujan deras. Aku sengaja mentraktirnya untuk membalas kebaikannya."
"Oh jadi dia yang membantu Princess kesayangan aku ini terhindar dari air hujan?" tanya laki-laki tersebut sambil tersenyum dan menatap Adelia seolah sedang menyindirnya.
Adelia menatap dengan kesal pada laki-laki tersebut dan berkata,
"Ck! Kamu pasti tau kalau aku gak bawa payung."
"Bukannya itu sudah menjadi kebiasaan kamu?" tanya balik laki-laki tersebut sambil terkekeh.
"Enggak. Kamu salah. Biasanya juga payungnya ada di dalam mobil. Kemarin aku lupa saja mengembalikan payung ke dalam mobil setelah mengeluarkannya," jawab Adelia dengan sewotnya.
"Aku sudah tau. Pagi tadi aku melihat payung itu tergeletak di teras. Aku membawanya bersamaku dan mengantarkannya ke kantormu, sayangnya pada saat aku akan menghubungimu, aku melihatmu berpayungan dengan seorang laki-laki, jadi aku mengurungkan niatku untuk memberikan payung kesayanganmu itu padamu," ujar laki-laki tersebut sambil tersenyum getir seolah perasaannya sedang terluka.
Seketika Arion terkesiap, dia merasa bersalah karena membuat laki-laki di hadapannya itu menjadi sedih dan salah paham padanya.
__ADS_1
"Maaf Mas, saya hanya seorang security di bank tempat Mbak Adelia bekerja. Sudah menjadi tugas saya untuk membantu pekerja di sana, seperti Mbak Adelia ketika sedang membutuhkan payung tadi pagi. Jadi... saya harap Mas tidak salah paham pada saya," tutur Arion dengan sungkan pada laki-laki tersebut.
Adelia dan laki-laki tersebut saling menatap, seketika mereka menahan tawanya mendengar perkataan dari Arion.
Laki-laki tersebut mengulurkan tangannya pada Arion seraya berkata,
"Perkenalkan, saya Adelio, kakak dari Adelia, saudara kembarnya."
Sontak saja Arion terperangah mendengar perkataan dari Adelio. Dia tidak mengira jika laki-laki yang ada di hadapannya kini adalah saudara kembar dari Adelia.
Adelio dan Adelia tertawa melihat reaksi Arion ketika mendengar perkataan Adelio. Mereka selalu puas melihat orang lain salah paham tentang hubungan mereka.
Adelio merangkul erat pundak Adelia. Dia menatap Arion dan berkata,
"Titip My Princess kesayanganku ya. Awas aja kalau sampai ada apa-apa, kamu akan berhadapan denganku."
Arion merasa takut ditatap tajam oleh Adelio. Sungguh dia tidak menyangka jika seorang Adelio yang tampan dan keren bisa segarang itu. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya
"Kakak pulang dulu ya Sayang. Sampai jumpa di rumah," ucap Adelio sambil mencium pipi kanan dan kiri Adelia.
"Langsung pulang ke rumah Kak, jangan belok ke lain tempat," tutur Adelia sambil terkekeh.
"Kamu juga langsung pulang. Jangan lama-lama. Apa lagi bersama dengan laki-laki yang baru kenal."
"Ok My Boy," tukas Adelia sambil terkekeh dan melambaikan tangannya mengiringi kepergian Adelio.
Panggilan yang mereka berikan satu sama lain meniru dari orang tua mereka. Dan mereka tidak keberatan karena itu merupakan panggilan sayang mereka berdua dari keluarga mereka.
Adelia mengernyitkan dahinya melihat Arion yang mematung melihat kepergian Adelio. Dia mendekati Arion dan menggerak-gerakkan telapak tangannya tepat di depan wajahnya seraya berkata,
"Arion, ayo masuk, aku sudah sangat lapar."
Arion pun terkesiap, dia tersadar dari lamunannya. Dia gugup dan salah tingkah ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Adelia.
"Ayo masuk! Biar gak terlalu malam kita pulangnya," ucap Adelia sambil berjalan menuju resto yang ada di hadapan mereka.
Arion tersenyum sambil berjalan mengikuti Adelia. Hatinya lega mendapati kebenaran tentang hubungan Adelia dan Adelio yang ternyata adalah saudara kembar.
Arion mempercepat langkahnya agar bisa berjalan sejajar dengan Adelia. Mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam resto tersebut.
__ADS_1
"Duduk di sana aja, dekat jendela," ucap Adelia sambil menunjuk meja yang ada di pojok, tepat di dekat jendela.
Arion pun berjalan mengikuti Adelia duduk di dekat jendela. Mereka duduk berhadapan sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Mereka berdua membicarakan tentang pekerjaan mereka, hingga akhirnya mereka saling bertanya tentang pribadi mereka. Kini mereka sudah merasa lebih akrab. Obrolan mereka berdua mengalir begitu saja, hingga tak terasa makanan mereka sedari tadi sudah habis.
Waktu bergulir dengan cepatnya. Adelia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Kemudian dia berkata,
"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku akan bayar dulu makanannya."
Adelia beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju kasir. Sedangkan Arion, dia tersenyum melihat Adelia seraya berkata dalam hatinya,
Kamu gak hanya cantik, kamu juga sangat baik. Belum tentu karyawan yang ada di dalam kantor mau berteman atau bahkan makan dengan security seperti ku.
Setelah membayar di kasir, Adelia menoleh ke arah Arion yang masih duduk di tempatnya sambil memandang ke arahnya. Adelia melambaikan tangannya untuk mengajak Arion keluar dari tempat itu.
Arion terhenyak dari lamunannya. Sesegera mungkin dia beranjak dari duduknya dan berjalan cepat keluar, berusaha mengejar Adelia yang sudah terlebih dulu keluar dari tempat itu.
"Adelia, rumah kamu di mana?" tanya Arion yang berjalan di belakang Adelia, berusaha untuk menghentikan langkah Adelia dengan pertanyaannya.
Tepat seperti dugaan Arion, Adelia menghentikan langkahnya. Kemudian dia membalikkan badannya dan berkata,
"Dekat dari sini kok. Kenapa?"
"Cuma ingin mengantar saja. Aku ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan aman," jawab Arion sambil tersenyum malu.
Tanpa diketahui oleh Adelia dan Arion, ternyata Adelio masih berada di sana sedari tadi. Dia tidak akan melepaskan saudara kembarnya begitu saja.
Dia sudah menduga jika Adelia akan duduk di dekat jendela, seperti kebiasaan mereka jika makan bersama di tempat itu. Adelio menunggu dan memperhatikan Adelio bersama dengan Arion dari dalam mobilnya.
Beep... Beep...
Suara klakson mobil mengangetkan Adelia dan Arion yang sedang berbicara. Mereka menoleh ke arah suara klakson tersebut.
"Sayang, ayo pulang! Sudah malam. Aku akan berada di belakangmu," seru Adelio dari dalam mobilnya yang kini berada di dekat Adelia dan Arion berdiri.
Seketika mata Arion terbelalak. Dia sedikit menciut melihat tatapan tajam Adelio padanya. Dalam hatinya berkata,
Kenapa dia masih ada di sini? Dan kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia gak suka sama aku? Sepertinya aku harus membuatnya terkesan padaku.
__ADS_1