
Seketika Intan membelalakkan matanya mendengar pertanyaan dari Arion. Dengan gugup, dia pun berkata,
"Kenapa kamu menanyakan itu, Arion? Tentu saja Ibu--"
"Karena aku ingin tahu yang sebenarnya," sahut Arion dengan tegas, dan menatap Intan seolah mengintimidasinya.
Ingin tahu? Kenapa tiba-tiba sekali? Apa jangan-jangan ada yang memberi tahu dia tentang masalah ini. Kalau memang benar, kurang ajar sekali mereka, Intan berkata dalam hatinya.
"Bu! Jawab!" seru Arion dengan tidak sabarnya.
Sontak saja Intan terkesiap mendengar seruan dari Arion, yang membuatnya sadar dari lamunannya. Dia memandang putranya itu, dan bertanya dengan lantangnya,
"Siapa? Siapa yang memberitahukan berita bohong ini padamu?!"
Arion menyeringai, dia melihat ada guratan ketakutan dari dalam mata Intan. Ditatapnya lekat-lekat mata ibunya, untuk mencari tahu kebenarannya.
"Kenapa Bu? Kenapa Ibu sepertinya gugup begitu?" tanya Arion dengan tatapan menyelidik padanya.
"Gugup? Siapa yang gugup? Ibu tidak gugup. Ibu hanya kaget mendengar fitnah keji dari orang lain untuk membuatmu membenci Ibu," jawab Intan dengan emosi.
"Fitnah?" tanya Arion sambil menyeringai.
Intan menganggukkan kepalanya dengan antusias. Dia ingin menunjukkan bahwa perkataannya lah yang benar, dan apa yang diberitahukan orang pada Arion tidak ubahnya hanya fitnah belaka.
"Jika itu memang sebuah fitnah, maka tunjukkan padaku kebenarannya, Bu," ujar Arion dengan tatapan tegas pada ibunya.
"Kebenaran apalagi yang harus Ibu katakan padamu, Arion? Ibu adalah Ibumu. Sampai kapan pun Ibu akan tetap menjadi Ibumu!" tutur Intan dengan tegas, seolah tidak ingin dibantah.
Arion menghela nafasnya. Dia mencoba untuk membuka mulutnya, menceritakan apa yang didengarnya tentang ibunya. Sayangnya tidak ada kata-kata yang bisa diucapkannya. Dia menghirup udara dalam-dalam, dan mengeluarkannya perlahan selama beberapa kali. Setelah itu dia memantapkan hatinya untuk mengatakan pada Intan, apa saja yang ingin ditanyakan olehnya.
"Siapa ibu kandungku yang sebenarnya?" tanya Arion dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
Intan memegang kedua lengan Arion, dan menatap mata Arion dengan intens. Kemudian dengan tegasnya dia berkata,
"Aku. Akulah ibu kandungmu Arion. Kenapa kamu tidak percaya pada Ibu?"
"Lalu, mengapa semua orang mengatakan jika Ibu baru menetap di rumah ini pada saat hari kematian ibu kandung Arion?" tanya Arion dengan suara lemah, dan mata yang berkaca-kaca.
Sontak saja Intan membelalakkan matanya. Dia tidak mengira jika Arion menerima berita hingga sedetail itu. Akan tetapi, bukan Intan namanya jika dia tidak bisa berdalih dari apa pun yang tidak menguntungkannya. Dia meraih kedua tangan Arion, dan menatapnya dengan matanya yang berkaca-kaca, seraya berkata,
"Siapa yang mengatakan itu padamu? Jelas sekali niat mereka ingin membuat kamu membenci Ibu. Kenapa kamu bisa termakan hasutan mereka, Arion? Ini Ibu, Ibu yang selalu menyayangimu, merawat mu dan mengasihi mu. Kamu sangat tahu jika mereka semua selalu ingin mempermalukan Ibu. Mereka semua iri pada Ibu. Kenapa kamu bisa percaya dengan mudahnya pada hasutan mereka?"
"Ibu, aku hanya ingin tahu kebenarannya. Tolong katakan yang sebenarnya, bukan pembelaan diri Ibu yang aku inginkan saat ini," ujar Arion dengan tatapan memohon pada Intan.
"Kebenaran apa? Semua yang Ibu katakan benar! Jika kamu tidak percaya, silahkan tanya pada ayahmu!" seru Intan dengan kesalnya.
"Baik. Arion akan bertanya pada Ayah," tukas Arion dengan tegas.
Merasa tertantang oleh perkataan Intan, Arion segera mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Dengan cepatnya dia mencari nomor ayahnya dan melakukan panggilan telepon padanya.
"Halo, Ayah. Arion ingin bertanya sesuatu pada Ayah. Tolong jawab yang sebenarnya," ucap Arion ketika panggilan teleponnya diangkat oleh Fabian.
"Arion ingin bertanya tentang--"
"Pulanglah sekarang, Mas!" seru Intan menyahuti ucapan Arion, sehingga tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
Seketika Arion menoleh ke arah Intan yang menurutnya hanya memperlambatnya untuk mengetahui kebenaran dari ayahnya.
Ada apa sebenarnya? Apa ini sangat penting, sehingga Ayah harus pulang? tanya Fabian terdengar cemas di telepon.
"Cepatlah pulang, Mas. Arion ingin bertanya hal penting padamu. Dia tidak percaya dengan semua yang aku katakan. Dia tidak percaya pada ibunya!" seru Intan dengan emosi, dan dia terisak di akhir ucapannya, sehingga membuat Arion merasa bersalah padanya.
Arion, ada apa? Kenapa ibumu menangis? tanya Fabian dengan cemasnya.
__ADS_1
Arion menatap Intan, dan dia menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari ayahnya, yang seolah menuduhnya sebagai penyebab ibunya menangis saat ini.
Arion! Kenapa kamu diam saja?! seru Fabian dari seberang sana dengan cemasnya.
Arion tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa diam, karena bingung akan keadaan saat ini. Bukan hanya itu saja, dia bingung mencari kebenaran dari berita yang didapatnya.
Dia sadar jika Intan merupakan seorang ibu yang tidak seperti seorang ibu tiri baginya, sehingga dia tidak bisa menerima jika penyebab kematian ibu kandungnya adalah wanita yang selama ini telah dipanggilnya dengan sebutan ibu.
Baiklah, Ayah akan pulang sekarang juga, ujar Fabian dari seberang.
Kemudian, panggilan telepon itu pun berakhir. Intan dan Arion saling menatap. Arion berusaha mencari tahu kebenaran dari wajah dan mata Intan.
Tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi dari ponsel Intan, sehingga membuat mereka berdua terkesiap. Dengan cepatnya Intan melihat ponsel yang ada di tangannya. Seketika bibirnya melengkung ke atas, ketika melihat pesan yang baru saja diterimanya.
Arion menatap curiga pada Intan. Dahinya mengernyit melihat ekspresi wajah ibunya saat ini. Saat itu juga dia teringat akan pesan di ponsel Intan yang tadi pagi sempat dibacanya. Dia memperhatikan Intan dengan sangat jeli, dan berkata dalam hatinya,
Adelia. Apa pesan itu ada hubungannya dengan pesan pagi tadi yang membahas tentang Adelia? Oh Tuhan, kenapa aku dengan mudahnya bisa lupa? Aku akan ke sana sekarang.
"Bagus," gumam Intan sambil tersenyum sumringah.
Ada apa lagi? Apa ada yang tidak aku ketahui? Aku harus mencari tahu terlebih dahulu, sebelum aku pergi ke sana untuk mencarinya, Arion berkata dalam hatinya.
Intan sangat sibuk membalas pesan tersebut. Bahkan dia tidak mengetahui ketika Arion berjalan mendekatinya.
Secepat kilat ponsel yang sedang dipegang oleh Intan, berpindah tangan pada Arion. Tentu saja Intan sangat terkejut, hingga dia diam dalam beberapa detik. Setelah iy dia tersadar dan menatap marah pada Arion, seraya berkata,
"Arion! Apa-apaan ini?! Cepat kembalikan HP Ibu!"
Arion tidak mendengarkan seruan Intan yang sangat kesal padanya. Dia membaca pesan-pesan tersebut satu-persatu dengan sangat teliti. Ekspresi wajah Arion mengatakan segalanya ketika membaca pesan-pesan tersebut.
"Aku tidak menyangka Ibu bisa melakukan semua ini. Ibu sangat jahat! Ibu licik! Arion tidak menyukainya!" seru Arion tepat di depan wajah Intan.
__ADS_1
Kemarahan Intan audah di ubun-ubun, seolah darahnya kini sudah mendidih. Dengan kesalnya dia memelototkan matanya, dan berkata,
"Arion! Lancang kamu! Asal kamu tahu, ini semua Ibu lakukan demi kamu! Jadi, jika kamu menyalahkan Ibu, salahkan juga dirimu sendiri!"