
Adelia hanya tersenyum menanggapi pesan dari kakaknya. Dia tidak benar-benar serius dengan pesan yang dikirimnya, tapi sepertinya Adelio menanggapinya dengan serius, karena Adelio begitu mengkhawatirkan adiknya.
Setelah mereka semua selesai makan, Danu meminta ijin pada Rafael untuk memberi kesempatan Adelia dan Kenzo mengobrol bersama, agar mereka bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lainnya.
Rafael pun mengijinkannya. Adelia beranjak dari duduknya setelah Kenzo mengajaknya untuk pergi bersamanya. Sedangkan Adelio, seperti biasanya, dia hanya bisa mengawasi saudara kembarnya itu dari jarak yang aman.
Kini Kenzo dan Adelia sudah berada di taman samping restoran tersebut. Mereka duduk di sebuah kursi taman dengan disinari lampu taman yang redup, serta cahaya bulan yang menambah indahnya suasana malam.
Langit malam pun sangat indah malam ini. Gemerlap bintang bersinar dengan sangat cantiknya, seolah mendukung perkenalan antara keduanya.
Kenzo menatap Adelia yang sedang duduk di sampingnya. Dia tersenyum manis melihat wajah cantik Adelia yang terpantul sinar rembulan malam, sehingga terlihat semakin cantik.
"Adelia. Nama yang sangat indah. Apa aku bisa memanggilmu dengan nama Adel?" tanya Kenzo sambil tersenyum manis.
Adelia menatap ke arah Kenzo. Dia terpana melihat senyum Kenzo yang menarik perhatiannya.
"Adel, kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Kenzo kembali pada Adelia yang tiba-tiba terdiam ketika menatapnya.
Seketika Adelia terkesiap, dia sadar dari lamunannya. Kemudian dia berkata,
"Mmm... Itu... Apa... Mmm...."
Kenzo tersenyum mendapati Adelia yang salah tingkah karenanya. Kemudian dia berkata,
"Kamu cantik. Apa kita bisa lebih dekat untuk saling mengenal? Jika memang kita cocok, sebaiknya kita kabulkan keinginan orang tua kita untuk bersatu."
Lagi-lagi Adelia terkesiap. Dia tidak menyangka jika Kenzo berani mengatakan hal itu padanya. Dia hanya membisu, tanpa berkata sepatah kata pun.
"Kamu mau kan, Adel?" tanya Kenzo kembali
sambil tersenyum dan menengadahkan wajahnya tepat di depan wajah Adelia.
Sontak saja Adelia menganggukkan kepalanya, tanpa menyadari apa yang sedang dilakukannya. Kenzo pun kembali tersenyum setelah mendapatkan jawaban dari Adelia.
Dia memandang ke langit, untuk menyamarkan rasa malu karena terlalu bahagia.
"Adel, lihatlah. Bukankah bintang itu sangat indah?" tanya Kenzo sambil menunjuk salah satu bintang di langit.
Bintang tersebut merupakan bintang yang bersinar paling terang, di hamparan langit yang terbentang luas, dengan kanvas berwarna gelap, sehingga cahaya semua bintang sangat indah gemerlapan di sana.
__ADS_1
Adelia mengikuti arah pandang Kenzo dan jari telunjuknya. Bibirnya melengkung ke atas melihat gemerlapan sinar bintang yang sangat indah.
"Sangat cantik bukan?" tanya Kenzo sambil tersenyum memandang wajah cantik Adelia.
Senyuman Adelia semakin lebar. Dia juga menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh Kenzo padanya.
"Cantik. Sangat cantik malah," ucap Kenzo sambil menatap Adelia tanpa berkedip.
Adelia merasa Kenzo sedang melihatnya. Dia menoleh ke arahnya, seketika dahinya mengernyit mendapati Kenzo yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
Kenzo terpesona pada Adelia. Sayangnya Adelia selalu saja tidak tahu arti tatapan seseorang padanya. Gadis cantik itu memang sangat pintar dalam hal pendidikan dan memiliki banyak bakat, akan tetapi dia tidak pandai menilai seseorang. Berbeda dengan Adelio yang sangat peka pada sekitarnya.
Kenapa Kenzo menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku? Atau aku salah berbicara? Adelia bertanya-tanya dalam hatinya.
Tatapan mata mereka beradu. Bahkan mereka saling menatap tanpa berkedip, seolah tatapan mata mereka saling terkunci.
Dari tempat yang tidak jauh dengan mereka, Adelio mengawasi saudara kembarnya itu. Dia harus mengetahui semua yang berkaitan dengan adik kembarnya.
Dia tersenyum mendengar percakapan dua sejoli tersebut. Tanpa sadar dia berkata lirih,
"Sepertinya akan semakin menarik. Aku yakin Kenzo tidak akan menyerah begitu saja dengan perjodohan ini. Lagi pula dia sepertinya sangat menyukai Adelia."
Mata dan telinga Adelio tidak lepas dari kedua insan tersebut. Dia tersenyum melihat tingkah kedua sejoli tersebut yang malu-malu dan salah tingkah.
Namun, ketika dia melihat Kenzo, dia tidak memiliki kecemasan yang dirasakannya pada Arion. Berbekal kepekaannya dalam menilai seseorang, Adelio tetap waspada padanya.
Adelia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Kedua tangan tersebut mengusap-usap kedua lengannya untuk menghangatkan tubuhnya yang terkena dinginnya angin malam.
Kenzo melepas jasnya dan memakaikannya pada Adelia, seraya berkata,
"Pakailah, agar tidak kedinginan."
Adelia terkesiap ketika merasakan ada sesuatu yang menutupi daerah punggung dan bahunya. Gadis cantik itu menoleh ke arah samping, di mana Kenzo berada. Dia membalas senyuman pemuda tampan tersebut dan berkata,
"Terima kasih."
Senyuman Kenzo membuat Adelia betah memandangnya. Bahkan dia tidak memalingkan pandangannya sedetik pun.
"Kita masuk saja yuk. Udaranya dingin, pasti kamu kedinginan," tutur Kenzo sambil meraih pundak Adelia dan mengajaknya berjalan untuk masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian, Adelio keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan masuk ke dalam restoran, setelah melihat Adelia dan Kenzo masuk ke dalam ruangan mereka.
Bincang-bincang antar keluarga itu berjalan dengan sangat santai. Obrolan ringan serta candaan dari kedua belah pihak keluarga mengarah pada hubungan Adelia dan Kenzo.
Adelio menghela nafasnya, ketika melihat saudara kembarnya hanya tersenyum, seolah pasrah dengan perjodohan itu.
Setelah acara makan malam itu berakhir, kedua keluarga itu keluar dari ruangan tersebut secara bersamaan. Danu berjalan bersama dengan Rafael, sedangkan Ayana berjalan bersama dengan Sonya. Di belakang mereka, Adelia berjalan bersama dengan Kenzo. Sedangkan Adelio, dia berjalan tepat di samping saudara kembarnya, mencoba mencuri dengar percakapan Kenzo dan adiknya itu.
Mereka berpencar ketika sampai di parkiran. Keluarga Danu masuk terlebih dahulu ke dalam mobilnya. Setelah mobil tersebut bergerak meninggalkan area parkiran, keluarga Rafael berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tangan Adelio merangkul pundak Adelia dam berbisik di telinganya,
"Bukannya kamu sedang cari mati, saudara kembarku yang cantik jelita?"
Seketika Adelia menoleh ke arah kakaknya, seraya berkata,
"Cari mati? Kok bisa? Ogah ah, kenapa cari mati? Lia masih ingin hidup."
"Lalu, kenapa kamu menyetujui perjodohan ini?" tanya lirih Adelio sambil menoyor kepala adiknya.
"Apa salahnya? Mereka keluarga baik-baik dan kenal sama keluarga kita. Lagi pula Kenzo juga tidak ada cacatnya. Dia perfect!" ujar Adelia sambil menekankan akhir perkataannya.
"Perfect... Perfect... Lalu Arion bagaimana?" tanya Adelio dengan kesal.
"Kan kami masih--"
"Trial?!" sahut Adelio dengan cepatnya.
Adelia tersenyum lebar menampakkan deretan giginya, seraya berkata,
"Kayaknya kita memang saudara kembar deh Kak. Kak Lio selalu tau tentang Lia. Bahkan apa yang akan Lia katakan saja, Kak Lio pasti tahu."
Adelio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari saudara kembarnya. Tangannya semakin erat merangkul bahu Adelia yang berusaha masuk ke dalam jas kakaknya, karena udara dingin yang semakin menerpa kulitnya, setelah dia mengembalikan jas Kenzo pada saat akan menaiki mobilnya.
"Makanya jangan pakai baju setengah jadi!" ujar Adelio sambil membawa adiknya ke dalam pelukannya.
"Ck! Ini pilihan Mama!" seru Adelia sambil melingkarkan tangannya pada pinggang kakaknya.
Ayana dan Rafael yang baru saja sampai di dekat mobil mereka, kini menoleh ke belakang, ketika mendengar seruan Adelia. Mereka berdua bersama-sama bertanya pada kedua anak kembar mereka.
__ADS_1
"Kenapa manggil-manggil Mama?"
"Ada apa dengan Mama?"