Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 57 Demi Mencapai Tujuan


__ADS_3

Suara ketukan pintu kamar mandi yang disertai suara seruan dari Fabian, membuat Intan terkejut.


Pluk!


"OMG!!!" seru Intan dengan sangat kerasnya, ketika ponselnya jatuh ke dalam bak kamar mandi, karena terkejut mendengar suara suaminya.


"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?" seru Fabian dari luar kamar mandi, sambil mengetuk pintu tersebut.


Intan mengacuhkan ketukan pintu dan seruan dari suaminya yang semakin keras, sehingga terdengar sangat cemas padanya. intan tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia sibuk meraih ponselnya dari dalam bak kamar mandi yang sangat besar dan dalam.


"Sial! Ini bak mandi, kenapa besar sekali sih? Mau dihabisin airnya juga butuh waktu satu jam. Ck! Kamar mandi kuno ya seperti ini. Merepotkan!" omel Intan sambil berusaha mengambil ponselnya.


"Sayang! Intan! Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?!" seru kembali Fabian sambil menggedor pintu kamar mandi tersebut.


Fabian masih saja menggedor pintu kamar mandi tersebut sambil berseru memanggil istrinya dari balik pintu kamar mandi tersebut. Akan tetapi Intan masih saja sibuk dengan apa yang dilakukannya.


"Sayang!" seru kembali Fabian sambil mengetuk pintu kamar mandi tersebut secara terus menerus, seolah tidak ada capeknya.


"Stop! Berhentilah Mas! Aku baik-baik saja!" seru Intan dengan kesalnya dari dalam kamar mandi.


Seketika gerakan tangan Fabian terhenti. Dia tidak lagi menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut. Akan tetapi, kecemasannya masih saja tertuju pada istrinya.


"Sayang, kamu benar baik-baik saja kan? Apa yang terjadi di dalam?" tanya Fabian yang terdengar sangat cemas pada istrinya.


Intan menghela nafasnya dan menatap kesal ke arah pintu kamar mandi tersebut. Kemudian dia berkata,


"Masa bodoh deh, basah terkena air bersih gak masalah. Yang terpenting HP ku kembali."


Intan masuk ke dalam bak mandi tersebut dan berjongkok untuk mengambil ponselnya, hingga baju yang dikenakannya basah karena berendam di dalam bak mandi tersebut.


"Yesss!" seru Intan dengan senangnya, ketika mendapatkan kembali ponselnya yang berada di lantai dalam bak mandi.


"Sayang! Cepat buka pintunya! Keluarlah! Apa perlu aku bantu dobrak pintunya?" tanya Fabian dengan suara meninggi.


Krieeeettt!


Pintu kamar mandi tersebut terbuka. Keluarlah Intan dari dalam kamar mandi dengan pakaiannya yang basah kuyup.

__ADS_1


"Sayang?! Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa pakaianmu basah kuyup begini?" tanya Fabian sambil memegang kedua pundak istrinya.


"Tidak ada apa-apa. Aku mau ganti pakaian dulu," jawab Intan sambil menyingkirkan kedua tangan suaminya.


Fabian berjalan mengekor di belakang istrinya. Dia ingin bertanya banyak padanya, tapi diurungkannya, karena takut jika istrinya akan marah padanya.


"Sayang, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu bisa seperti ini? Kenapa kamu bisa basah kuyup begini?" tanya Fabian kembali, ketika sudah berada di dalam kamarnya.


Intan masih saja dengan kegiatannya, mengambil pakaian dalam lemarinya. Kemudian dia meletakkan ponselnya yang masih dalam keadaan basah di atas mejanya.


"HP ku masuk ke dalam bak kamar mandi. Aku mengambilnya hingga basah kuyup seperti ini," jawab Intan sambil mengganti pakaiannya di depan suaminya.


Mata Fabian tertuju pada tubuh istrinya, yang kini tanpa sehelai benang pun menutupinya. Dia beranjak dari tempatnya, berjalan menghampirinya. Tangannya memeluk erat tubuh istrinya dari belakang dan menciumi tengkuk, serta pipi istrinya.


"Sayang, kamu membangkitkan kerinduanku pada tubuhmu ini," bisik Fabian tepat di telinga istrinya.


Intan tersenyum mendengar perkataan suaminya. Dia selalu bangga pada dirinya ketika suaminya selalu menginginkannya, seolah tidak bisa lepas darinya. Sang istri membalikkan badannya dan melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Kemudian dia berkata,


"Sayang, apa aku bisa meminta sesuatu?"


Intan tersenyum sambil mengerlingkan matanya dengan genit dan berkata,


"Iya. Apa boleh?"


"Tentu saja, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan, aku pasti akan berusaha untuk mengabulkannya," jawab Fabian tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya.


Intan kembali tersenyum mendengar perkataan suaminya. Tangannya menggambar pola abstrak pada dada bidang suaminya, seraya berkata,


"Belikan aku HP baru, yang lebih canggih juga."


"Memangnya HP kamu kenapa, Sayang?" tanya Fabian sambil mengernyitkan dahinya.


"Kan barusan nyemplung ke kamar mandi. Entah itu HP masih bisa nyala apa tidak. Lagi pula HP nya kan udah jadul. Mungkin sudah waktunya ganti," jawab Intan sambil berjinjit, sehingga menyamai tinggi badan suaminya.


Hembusan nafas mereka berdua saling beradu, menerpa kulit wajah mereka. Layaknya orang yang sedang terhipnotis, tanpa sadar Fabian menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan istrinya untuk membelikannya ponsel baru dengan fitur yang lebih canggih.


Melihat anggukan kepala dari suaminya, Intan tersenyum bahagia dan bibirnya meraup bibir suaminya. Serangan dari Intan tidak disia-siakan oleh Fabian. Dia membalas ciuman istrinya sambil menjelajah tubuh istrinya yang sudah dalam keadaan tidak memakai sehelai benang pun.

__ADS_1


Malam itu, demi dibelikan ponsel baru, Intan membuat suaminya merasakan kesenangan yang sangat membuatnya terbuai, sehingga suaminya menyetujui permintaannya.


Kekesalan Intan pada Ayana dan Rafael, hilang saat ini. Dia menggantinya sejenak dengan kesenangan bersama suaminya.


Sedangkan di kamar lainnya, Arion masih saja mencari cara yang tepat untuk bisa membuat Adelia tetap berada di sisinya. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya masih dipenuhi dengan wajah Adelia dan suara gadis cantik itu terngiang-ngiang di telinganya.


Arion memaksakan matanya untuk terpejam, tapi dia masih belum tidur. Otaknya masih memikirkan cara untuk mendapatkan hati Adelia, agar bisa kembali padanya, hingga tanpa sadar dia terlelap dalam keheningan malam.


...----------------...


Keesokan harinya, Arion terbangun karena serpihan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Perlahan dia mengerjapkan matanya, dan menghalau sinar tersebut dengan menggunakan telapak tangannya.


"Euummm," gumam Arion, ketika membuka matanya, menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


"Sudah pagi. Aku malas sekali," ucap Arion seraya memejamkan kembali matanya dan memeluk gulingnya.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu kamarnya, diiringi dengan suara seorang wanita yang memanggil namanya.


"Arion! Bangun! Sudah siang! Apa kamu tidak berangkat bekerja?!"


"Arion libur, Bu!" seru Arion sambil menutup telinganya dengan menggunakan bantal.


"Libur?! Tumben kamu libur hari ini?!" tanya Intan, berseru di depan pintu kamar tersebut.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. Intan semakin gencar untuk membangunkan putra sambungnya. Dia semakin kencang mengetuk pintu kamar tersebut, hingga terkesan sedang menggedornya.


"Arion! Bangunlah! Kita sarapan bersama!" seru kembali Intan di depan pintu kamar tersebut.


Merasa sangat terganggu dengan ulah ibu sambungnya, Arion membuka matanya dan mengenyahkan bantal yang menutupi telinganya. Setelah itu dia beranjak dari tidurnya dan berjalan menghampiri pintu kamarnya.


"Arion masih mengantuk, Bu," ujar Arion ketika membuka pintunya.


Intan menarik tangan Arion dan membawanya keluar dari kamarnya, seraya berkata,


"Kamu harus tetap hidup dan membalas sakit hatimu pada mereka. Jadilah kuat dan membalas dendam lah pada mereka."


"Balas dendam?"

__ADS_1


__ADS_2