Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 73 Kecewa


__ADS_3

"Adelia akan tetap berangkat bersamaku. Kami akan mengikuti di belakangmu. Tidak usah khawatir, karena kami pasti akan sampai di tempat itu bersamaan denganmu," ujar Adelio dengan tegas, seolah tidak bisa dibantah.


"Tadi janjinya tidak begitu. Adelia ikut bersamaku untuk makan malam bersama dengan temanku dan pacarnya, setelah aku mengatakan janjiku sesuai dengan keinginan Adelia," tukas Arion yang merasa keberatan jika Adelia pergi dengan Adelio.


Adelio menyeringai. Dia menatap Arion dengan tatapan yang seolah menertawakannya, dan dia berkata,


"Tidak ada kata-kata jika Adelia harus ikut berkendara bersamamu. Adelia hanya berjanji untuk mau menerima ajakanmu makan malam bersama dengan temanmu dan pacarnya. Bukannya seperti itu janji kalian tadi?"


Adelia tersenyum mendengar perkataan kakaknya. Dia merasa sangat tenang dengan adanya Adelio di sisinya. Kakak yang selalu bisa membuatnya aman dan tenang.


"Ternyata kalian sangat licik. Seharusnya aku tidak membuat janji Itu jika akhirnya harus kalian kecewakan seperti ini," ujar Arion dengan sewotnya, bahkan kekesalannya terlihat jelas di matanya.


Perkataan Arion itu mampu membuat Adelio semakin tertawa. Dia memeluk pundak Adelia dan berkata dengan percaya dirinya,


"Kami tidak licik. Kami hanya cerdik. Kami tidak mau jika kebaikan hati kami dimanfaatkan oleh orang lain, terlebih lagi orang-orang licik seperti kalian."


Mendengar perkataan Adelio, membuat Arion sangat marah. Dia melangkah maju hendak meraih tangan Adelia, sayangnya gerakannya itu dapat dibaca dengan baik oleh Adelio, sehingga dengan cepatnya Adelio bergerak menutupi Adelia.


"Bukankah kamu seorang laki-laki?! Harusnya kamu bisa menjaga janjimu untuk tidak mengganggu Adelia lagi! Baru saja kamu mengikrarkan janjimu itu, tapi hanya dalam selang waktu belasan menit, kamu sudah mengingkarinya," ujar Adelio sambil menyeringai, seolah mengejek Arion.


Arion menatap tajam pada Adelio. Bahkan kedua tangannya berada di pinggangnya, seolah sedang menantang Adelio.


"Sudahlah. Aku tidak mau lagi berdebat denganmu. Temanku sudah lama menunggu," tukas Arion pada Adelio, dengan tangannya yang masih berada di pinggangnya.


Setelah itu, Arion mengalihkan perhatiannya pada sosok gadis cantik yang bersembunyi di belakang Adelio. Dia berusaha agar bisa melihat gadis tersebut . Kemudian dia berkata,


"Sebaiknya kita segera berangkat, Adelia."


Adelia melihat ke arahnya. Dia menggelengkan kepalanya, seraya berkata,


"Aku akan berangkat, tapi bersama Kak Lio."

__ADS_1


Jawaban dari Adelia, membuat Arion semakin kesal. Dia menutup matanya dan menghela nafasnya, berusaha tenang agar bisa membujuk gadis yang ingin dimilikinya.


"Ayolah Adelia, kita berangkat sekarang. Kasihan temanku dan pacarnya. Dia sudah menunggu lama di sana. Kita berangkat bersama ya. Kamu sudah berjanji tadi. Aku mohon," pinta Arion dengan tatapan mengiba padanya.


"Kamu jangan memaksaku. Aku gak mau berkendara denganmu. Aku akan berangkat bersama dengan Kak Lio," ujar Adelia ketus dan menatap Arion dengan tatapan tidak suka.


Melihat reaksi adiknya, Adelio segera menyingkirkan Arion dari hadapannya. Dan dia berkata,


"Cukup! Jangan sampai kamu membuat Adelia semakin takut padamu, dan membencimu. Turuti saja apa yang diinginkannya, daripada dia membencimu."


Arion menatap Adelia yang masih berada di belakang saudara kembarnya. Gadis cantik itu sedang menatap tajam padanya. Kini dia hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Adelia.


"Baiklah, kita berangkat sendiri-sendiri. Aku harap kalian tidak akan terlambat sampai di sana," tutur Arion yang terdengar pasrah dengan keadaan.


Adelio menyeringai mendengar penuturan Arion. Seperti dugaannya, bahwa pemuda itu tidak akan menang melawannya.


"Ayo, Kak," ucap Adelia sambil menarik tangan Adelio, bermaksud untuk mengajaknya berangkat saat itu juga.


Adelio melepaskan tangannya dari tangan Adelia. Tangannya berpindah posisi, berada di pundak adiknya, dan merangkul pundak dengan erat. Dia tersenyum padanya, seraya berkata,


Mereka berdua masuk kembali ke dalam mobilnya, dan memakai sabuk pengamannya.


"Bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Ayana dengan cemas, pada kedua anak kembarnya.


Adelio menoleh ke belakang, di mana Ayana dan Rafael duduk di kursi penumpang. Kemudian dia berkata,


"Mama sama Papa di rumah saja, ya. Biar Lio saja yang mengantar dan menjaga Lia."


"Tidak. Mama tidak mau. Mama khawatir pada kalian," tukas Ayana yang terlihat sangat cemas saat ini.


"Ma, Lia akan baik-baik saja, karena Kak Lio tidak akan membiarkan Lia sendiri. Pasti Kak Lio akan selalu melindungi Lia. Lebih baik Mama dan Papa beristirahat saja di rumah. Kami tahu jika Mama dan Papa lelah saat ini. Jadi, Mama dan Papa tidak usah mengkhawatirkan Lia. Khawatirkan kesehatan Mama dan Papa saja, karena kita berdua tidak ingin Mama dan Papa sakit," tutur Adelia sambil memegang tangan mamanya dan tersenyum padanya.

__ADS_1


Rafael tersenyum mendengar penuturan putrinya. Dia menganggukkan kepalanya pada istrinya, seraya berkata,


"Benar kata mereka. Lebih baik kita jaga kesehatan baik-baik, agar kita bisa lebih lama hidup bersama dengan mereka."


"Lio akan antar Mama dan Papa sampai depan rumah," ujar Adelio dengan tegas, seolah tidak ingin dibantah.


Ayana menganggukkan kepalanya pada suaminya, meskipun dengan berat hati dia melakukannya.


"Baiklah, antarkan kami, Boy," ucap Rafael untuk memerintahkan pada putranya.


Mobil itu pun segera melaju, masuk ke dalam bangunan rumah mewah tersebut. Arion membelalakkan matanya melihat mobil tersebut bergerak masuk ke dalam rumah itu, tanpa mengatakan apa pun padanya.


"Sial! Mereka semua membodohi ku!" seru Arion dengan kemarahannya yang meluap.


Dia menatap mobil tersebut dengan penuh kemarahan. Segera dinaikinya motor miliknya dan menyalakannya. Dia mengegas motor tersebut dengan amarah yang menggebu-gebu, sehingga orang lain bisa mengetahui akan kemarahannya saat ini.


Tiba-tiba suara klakson mengagetkannya. Deru mobil itu pun semakin mendekatinya. Arion menoleh ke arah mobil tersebut, dan melihat Adelio yang membuka kaca jendela mobilnya, seraya berkata,


"Kami bukan pengecut. Jadi, kamu tidak perlu marah seperti itu. Berangkatlah terlebih dahulu, kami akan mengikuti di belakangmu."


Tentu saja Arion masih tetap ada. Bahkan tatapannya penuh dengan kebencian pada Adelio. Sayangnya, Adelio hanya menyeringai, menanggapi tatapan kebencian Arion padanya.


Mobil Adelio segera melaju dengan pelannya, menunggu motor Arion yang akan memandu di depan mobil mereka.


"Lihatlah dia. Bahkan dari cara dia berkendara saja, Kakak tahu jika dia sedang marah," tukas Adelio sambil terkekeh, mengendarai mobilnya.


Adelia tersenyum getir melihat laki-laki yang pernah ada dalam hari-harinya. Jujur saja dia tidak membenci laki-laki itu. Dia hanya kecewa dengan perubahan sikapnya, yang semakin hari membuatnya semakin tidak suka padanya.


"Lia heran, Kak. Kenapa sikap Arion bisa berubah seperti itu?" tanya Adelia disertai helaan nafasnya, melihat punggung Arion yang berkendara di depannya.


"Lebih baik kamu mengetahuinya saat ini, daripada kamu terlambat dan akhirnya kecewa," jawab Adelio sambil mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, motor Arion berbelok ke sebuah taman. Mobil Adelio pun mengikutinya.


"Kak, apa Lia akan sendiri ke sana tanpa Kakak?"


__ADS_2