
Selain Arion yang sangat marah pada Adelia dan Kenzo, Mia pun ikut kesal pada sahabatnya itu. Pasalnya, kini dia ditinggalkan olehnya seorang diri di sana.
"Katanya tadi kakaknya yang nganter, kok malah cowoknya yang jemput? Jadi gagal kan mau ketemuan sama dia. Apa jangan-jangan dia gak mau ketemu sama aku ya?" tanya Mia lirih disertai helaan nafasnya, melihat mobil yang dinaiki oleh Adelia dan Kenzo semakin jauh darinya.
Dengan langkah beratnya, Mia berjalan menuju parkiran. Semangatnya yang tiba-tiba hadir karena mendengar Adelio akan menjemput saudara kembarnya, seketika musnah ketika Kenzo datang menjemput Adelia.
Tiba-tiba mata Mia terbelalak, mendapati Arion yang berdiri di sekitar motornya. Pemuda berseragam security itu, sedang berdiri dan terlihat marah, menatap ke suatu arah. Mia mengikuti arah pandang Arion, dan dalam hatinya berkata,
Sepertinya dia marah melihat Adelia bersama dengan Kenzo.
Merasa suasana hati Arion tidak bagus, Mia bergegas mengendarai motornya. Dia tergesa-gesa menyalakan mesin motornya untuk menghindari Arion.
Namun, ketika dia akan melajukan motornya, Arion sudah ada di dekatnya. Dia menatap Mia seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Apa? Ada apa?" tanya Mia dengan sedikit gugup.
"Apa Adelia--"
"Aku tidak tahu. Lebih baik kamu tanyakan saja padanya," sahut Mia dengan ketus, setelah itu dia melajukan motornya dengan cepatnya, menghindari Arion yang belum selesai bertanya padanya.
Arion hanya berdiri mematung, melihat kepergian Mia yang sangat cepat dari hadapannya. Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan, melihat gadis yang sangat diinginkannya pergi dengan laki-laki lain. Bukan hanya itu saja, niatannya untuk mencari tahu tentang hubungan Adelia dan Kenzo pada Mia, tidak mendapatkan hasil apa pun.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus meneruskan rencanaku dengan bersikap seperti ini? Sampai kapan? Apa Adelia akan mengubah keputusannya dan kembali lagi padaku?" gumam Arion dengan tatapan matanya yang masih memandang kepergian Mia.
Dia berjalan dengan lemas, kembali ke pos penjagaannya disertai helaan nafasnya yang memperlihatkan kekecewaannya.
Supri, rekan kerjanya saat ini, menatap iba pada Arion. Dia memang belum menanyakan kembali pada Arion setelah kejadian di taman malam itu. Ingin sekali dia menanyakannya, tapi dia mengurungkan niatnya itu. Saat ini Arion tidak baik-baik saja. Terlihat jelas di wajahnya yang bercampur antara kesal dan marah saat ini.
Supri menghampiri Arion yang sedang duduk melamun saat ini. Dia menepuk pelan pundak temannya itu, dan berkata,
__ADS_1
"Sedang memikirkan apa?"
Arion menoleh ke arahnya. Dia mencoba tersenyum, dan hanya senyum getir yang bisa diperlihatkannya. Kemudian dia berkata,
"Tidak ada. Aku hanya sedang melamun saja."
Supri duduk di kursi yang terletak di dekat Arion. Dia tersenyum tipis padanya dan berkata,
"Jika kamu butuh tempat untuk bercerita, jangan ragu, ada aku di sini yang siap mendengarkan ceritamu, dan jika kamu ingin meminta pendapatku, aku pun siap memberikannya. Juga bantuan apa pun jika kamu membutuhkannya, aku siap membantu, dengan catatan aku bisa membantumu."
Supri terkekeh di akhir kalimatnya. Sedangkan Arion hanya tersenyum tipis mendengarkannya.
"Benar kamu tidak ada masalah? Wajahmu ini mengatakan segalanya, Bro," ujar Supri sambil terkekeh.
"Tanpa aku katakan pun, pasti kamu sudah tahu. Ini hanya masalah hati, dan sekarang aku sedang mencoba menyelesaikannya," jawab Arion diiringi dengan helaan nafasnya, yang terasa berat dalam dadanya.
Arion hanya tersenyum kaku menanggapi perkataan dari temannya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar pos penjagaan. Tidak jauh dari pos tersebut, dia berdiri dan sibuk dengan ponselnya.
"Apa aku hubungi saja dia sekarang? Atau sebaiknya jangan? Kenapa aku jadi bingung begini? Lebih baik aku mengirimnya pesan saja, akan aku katakan semua yang ingin aku katakan padanya sejak kemarin," ucap lirih Arion sambil menatap foto profil Adelia pada aplikasi chat yang mereka gunakan.
Jari tangan Arion bergerak lincah menuliskan pesan untuk Adelia, gadis yang mencuri hati dan perhatiannya sejak pertama kali melihatnya. Rasa ingin memilikinya itu semakin menggebu, sehingga dia berusaha keras untuk mendapatkan hati dan perhatian Adelia. Setelah dia mendapatkannya, dia tidak ingin melepasnya, apalagi kehilangannya.
Kini, dia berharap-harap cemas setelah mengirimkan pesan tersebut. Matanya masih saja menatap layar ponselnya, berharap agar mendapat balasan dari Adelia.
Namun, balasan pesan itu tidak kunjung datang. Bahkan pesannya tidak dibaca olehnya. Arion mendengus kesal memandangi layar ponselnya, seraya berkata,
"Sudah sepuluh menit, tapi kamu gak juga membacanya, Adelia. Kenapa kamu seperti ini padaku? Apalagi yang harus aku lakukan agar kamu bisa seperti dulu lagi?"
Gundah dan resah dirasakannya saat ini. Bahkan dia masih saja mencari tahu tentang keberadaan Adelia melalui media sosialnya. Sayangnya tidak ada hal apa pun yang menyatakan tentang keberadaan Adelia saat ini.
__ADS_1
Kesal dan marah. Ingin sekali dia mendatangi Adelia yang diyakininya sedang bersama dengan Kenzo saat ini. Sayangnya dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kini, dia hanya bisa menahan keinginannya, dan berpikir kembali tentang rencananya untuk mendapatkan Adelia menjadi kekasihnya.
Di tempat lain, Adelia dan Kenzo sedang berada di sebuah butik, mereka mengambil pesanan baju untuk acara pertunangan mereka. Selain itu, mereka juga membeli baju untuk digunakan acara makan malam sekarang.
Mata Kenzo tidak bisa lepas dari Adelia saat ini. Gadis yang berdiri di hadapannya itu, terlihat begitu anggun dan sangat cantik mempesona. Tidak bisa diragukan lagi, dia terpesona dan terpanah oleh penampilan Adelia saat ini. Gaun sebatas lutut tanpa lengan yang dipakainya saat ini, terlihat pas di badannya. Dan warna hitam pada gaun tersebut sangat kontras dengan warna kulit Adelia yang putih bersih.
"Bagaimana, Ken?" tanya Adelia sambil tersenyum manis pada Kenzo.
"Kamu sangat cantik, Sayang," jawab Kenzo sambil berjalan menghampirinya.
Semburat merah terhias pada wajah Adelia. Dia tersipu malu mendengar pujian dari Kenzo.
Namun, dia pun mengangumi penampilan Kenzo saat ini. Balutan setelan jas berwarna senada dengan gaun yang dipakai oleh Adelia, terlihat sangat pas untuk Kenzo. Mereka saling tersenyum, mengagumi satu sama lainnya.
Setelah MUA yang ada di butik tersebut selesai merias wajah cantik Adelia, mereka berdua meninggalkan butik tersebut.
"Apa kita akan telat sampai sana, Ken?" tanya Adelia pada Kenzo yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Aku rasa tidak. Apa semua keluargamu sudah berangkat? Atau mungkin sudah berada di sana?" tanya Kenzo tanpa menoleh ke arah Adelia.
"Aku rasa mereka sudah berada di sana," jawab Adelia dengan entengnya.
Kenzo tersenyum mendengar jawaban dari calon tunangannya. Dia mengerti jika Adelia tidak mengetahui posisi keluarganya saat ini. Kenzo pun segera melajukan mobilnya, agar segera sampai di tempat yang sudah ditentukan.
Hanya beberapa menit saja, mobil Kenzo sudah berada di parkiran suatu restoran mewah, yang digunakan keluarga mereka berdua, bertemu untuk makan malam saat itu.
Masuk ke dalam restoran tersebut, Adelia dan Kenzo merasa aneh dengan suasana di sana.
"Ken, ada apa ini?" tanya Adelia sambil memegang erat lengan Kenzo.
__ADS_1