Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 29 Lupa


__ADS_3

Wajah Intan seketika menjadi tegang, tatkala melihat beberapa wajah yang sangat familiar, ada dalam foto tersebut, bersama dengan Adelia.


"Apa sebenarnya hubungan mereka?" gerutu Intan dengan rasa ingin tahunya.


"Sepertinya aku harus bertanya pada Arion," sambung kembali Intan.


Dia beranjak untuk turun dari tempat tidurnya. Sayangnya, gerakannya itu membuat Fabian mengetahuinya. Suaminya itu menggapai tangannya, seraya berkata,


"Mau ke mana Sayang?"


Mata Fabian mengerjap, mencoba membuka lebar-lebar matanya, untuk melihat istrinya.


"Emmm... Kok bangun sih Mas?" tanya Intan sedikit gugup.


"Kamu mau ke mana hmmm...?" tanya balik Fabian sambil menarik tangan istrinya, sehingga badan istrinya jatuh ke dalam pelukannya.


Intan mencoba lepas dari pelukan Fabian, seraya berkata,


"Sebentar Mas, aku mau ke kamar mandi dulu."


Fabian mengendurkan pelukannya. Dia melepaskan tubuh istrinya yang dengan cepatnya keluar dari pelukannya. Kemudian dia berkata,


"Jangan lama-lama ya Sayang. Aku tidak bisa tidur, jika tidak ada kamu di sisiku."


Intan tersenyum malu-malu. Dia sangat menyukai perlakuan Fabian yang terlalu mencintainya. Hanya saja, ekonominya tidak sepadan dengan keinginan Intan. Dulu, ketika dia masih menjadi Ruby, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan dan cinta setulus Fabian, dari semua laki-laki yang bersamanya. Mereka hanya menginginkan berhubungan badan saja dengan Ruby, dan tentu saja Ruby menginginkan uang mereka. Suatu imbal balik yang saling menguntungkan bagi mereka.


Sekarang dia telah memiliki pria yang tulus mencintainya, setelah dia menjadi Intan. Akan tetapi kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupannya ketika menjadi Ruby.


Setelah Intan keluar dari kamarnya, dia mencoba mencari Arion di ruang tengah. Sayangnya ruangan itu sunyi senyap. Matanya masih mencari-cari keberadaan Arion, putra Fabian yang sejak kecil diasuh olehnya, seraya berkata,


"Ke mana sih Arion? Biasanya jam segini kan dia masih menonton televisi di sini. Apa dia sudah tidur ya?"


Dia menghela nafasnya, karena sosok Arion tidak ditemukannya. Dia berjalan menuju kamar Arion. Diletakkannya telinga kanannya pada daun pintu kamar Arion, dia berusaha mendengarkan apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Intan kembali menghela nafasnya, dan menjauhkan telinganya dari daun pintu tersebut, ketika telinganya menangkap suara dengkuran dari dalam kamar tersebut.


"Sepertinya aku harus menanyakannya besok pagi saja. Lagian, kenapa Arion jam segini sudah tidur sih? Tidak biasanya," gerutu Intan diiringi helaan nafasnya, sambil berjalan menuju kamarnya.


Tanpa diketahui oleh Intan, pasalnya Arion bukan sengaja tidur, lebih tepatnya dia ketiduran. Semua pesan yang dikirimnya untuk Adelia, diacuhkan. Dia tidak mendapatkan balasan apa pun dari gadis cantik itu. Bahkan penggilan teleponnya yang berkali-kali pun hanya menjadi panggilan tak terjawab, sehingga dia sangat kesal pada Adelia dan berakhir ketiduran, tanpa mendapatkan balasan, ataupun panggilan telepon dari gadis yang dicintainya.


Fabian tersenyum manis menyambut istrinya yang baru memasuki kamar mereka. Tangannya segera meraih tubuh istrinya, untuk dibawanya ke dalam pelukannya


Mata Intan pun akhirnya terpejam. Dia merasa percuma sejak tadi menunggu hal yang tidak pasti dari Adelia. Bukan itu saja, dia juga merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan jawaban atas keingintahuannya, akan siapa saja orang yang berfoto bersama dengan Adelia.


...----------------...


Keesokan harinya, tepatnya di meja makan, Adelia membelalakkan matanya, ketika melihat ponselnya yang mendapatkan banyaknya panggilan telepon dan pesan dari Arion.


Adelio melihat ekspresi kaget saudara kembarnya, yang sedang melihat layar ponselnya.Dia mendekatkan badannya dan mencuri lihat layar ponsel adiknya.


"Kenapa? Dia marah sama kamu?" tanya Adelio lirih di dekat telinga Adelia.


Adelia tersenyum lebar pada kakaknya, dan berkata lirih,


Adelio terkekeh mendengar penjelasan saudara kembarnya. Dia mencubit gemas pipi adiknya itu seraya berkata,


"Kamu benar-benar luar biasa saudaraku. Bahkan laki-laki yang berstatus pacarmu saja, bisa dengan gampangnya kamu acuhkan. Telpon dan pesannya pun seolah tidak terlihat di matamu. Hebat sekali kamu adikku."


Ayana dan Rafael yang mendengar percakapan kedua anak kembar mereka, seketika menghentikan makannya. Mereka berdua meletakkan sendok dan garpunya, untuk memperhatikan lebih kedua anaknya itu, yang duduk di hadapan mereka.


"Ada apa, Sayang? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ayana sambil menatap khawatir pada putri kesayangannya.


Adelia menoleh ke arah mamanya. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya, serta menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Ayana padanya.


"Mau main rahasia-rahasiaan ya, sama Mama dan Papa?" tanya Rafael dengan tatapan tegasnya pada Adelia.


"Princess kesayangan Mama dan Papa ini, bisa dengan mudahnya melupakan pacarnya sejak acara makan malam kemarin. Hebat kan Ma, Pa? Bahkan banyak sekali telepon dan pesan yang dikirimnya, tapi si putri cantik ini, tidak mengetahuinya, padahal semalaman ponselnya itu tidak lepas dari tangannya," jawab Adelio, menanggapi pertanyaan papanya yang diberikan pada Adelia.

__ADS_1


Tatapan mata Ayana dan Rafael seolah memaksa Adelia untuk menjelaskannya, sehingga gadis cantik itu menghela nafasnya dan berkata,


"Adelia tidak sengaja Ma, Pa. Mungkin mata Lia sudah lelah, jadi tidak melihat pesan dan panggilannya yang sudah berkali-kali itu."


Adelio tertawa mendengar jawaban penyangkalan dari saudara kembarnya. Tawanya semakin keras, ketika mendapatkan tatapan tajam dan menghunus dari Adelia.


"Sebenarnya apa yang kamu rasakan itu, hanya kamu yang tahu, Sayang. Jadi jangan biarkan perasaan semu itu berlarut-larut membayangi kamu," tutur Rafael dengan bijak pada putrinya.


"Ehemmm... Sepertinya ada yang pernah merasakan itu," sindir Ayana sambil terkekeh, melihat ke arah suaminya.


Sontak saja Adelia dan Adelio majukan badannya, mendekati kedua orang tuanya yang duduk di hadapannya.


"Apa Papa pernah merasakan itu Ma?" tanya Adelio dengan rasa ingin tahunya.


"Sudah, jangan bahas masalah itu. Papa sudah tidak mengingatnya. Sepertinya tidak ada dalam memory Papa," jawab Rafael dengan sedikit salah tingkah.


Ayana tertawa melihat tingkah lucu suaminya yang layaknya sedang tertangkap basah melakukan sesuatu.


Tiba-tiba saja getaran ponsel Adelia yang tergeletak di atas meja, mengagetkan semua orang yang ada di meja tersebut.


Adelia segera meraih ponselnya, dan membuka pesan yang baru saja diterimanya.


"Siapa?" tanya Adelio menyelidik.


"Kenzo. Dia bilang, nanti mau jemput di tempat kerjaku," jawab Adelia sambil membalas pesan tersebut.


"Apa kamu menyetujuinya?" tanya Adelio dengan tidak sabarnya.


Adelia menganggukkan kepalanya, sambil menggerakkan jemari lentiknya untuk membalas pesan tersebut, dan dia pun berkata,


"Tentu saja. Kenapa tidak?"


Sontak saja tangan Adelio dengan refleknya menutup wajah Adelia, seraya berkata,

__ADS_1


"Kamu mau cari mati? Di sana ada Arion, kamu lupa?"


__ADS_2