Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 92 Fakta


__ADS_3

Semakin Adelia berusaha untuk mengingat, maka semakin sakit yang dirasakan oleh kepalanya. Rupanya pengaruh dari obat bius yang diberikan oleh pria tua tadi masih bekerja. Kepala Adelia masih terasa sangat berat, meskipun dia berusaha keras untuk melawan rasa itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" gumam Adelia sambil memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali tentang kejadian sebelum dia berada di tempat ini.


"Ternyata kamu sudah bangun, Sayang. Bersiap-siaplah untuk bermain dengan kami!"


Terdengar suara seorang pria yang membuat Adelia membuka kembali matanya. Dia memicingkan matanya, menatap pria tersebut yang berjalan semakin dekat ke arahnya.


"Anda, bukannya anda si Kakek yang menanyakan alamat pada saya?" tanya Adelia sambil memegang kepalanya yang masih terasa berat.


Sang pria tua yang dipanggil kakek oleh Adelia pun terkekeh mendengar pertanyaan dari gadis cantik tersebut. Dia berjongkok di hadapan Adelia yang masih duduk bersimpuh di lantai kotor tersebut.


Pria tua tersebut memegang dagu Adelia dan mendongakkannya, agar gadis itu menatapnya. Kemudian dia bertanya padanya,


"Bagaimana, Cantik? Apa kamu sudah siap?"


"Apa maksud anda?" tanya Adelia sambil menatap tajam padanya.


Pria tua itu tertawa mendengar pertanyaan dari gadis cantik yang ada di hadapannya. Dia menatap mata Adelia, dan berkata,


"Kami akan mengajakmu bermain. Jadi, bersiaplah. Kami akan memberikanmu kepuasan yang tidak akan pernah kamu lupakan."


Seketika Adelia mengerti akan arah pembicaraan pria tua itu. Tanpa berpikir panjang, dia meludah tepat pada wajah pria tua tersebut.


"Sialan! Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku, meskipun hanya sedikit saja. Aku tidak akan rela kulitku tersentuh olehmu! Dasar tua bangka!" seru Adelia dengan sekuat tenaga dan tatapan matanya yang penuh amarah pada pria tua tersebut.


Seketika tawa pria tersebut musnah, ketika ludah Adelia mendarat dengan indahnya pada wajahnya. Dia menatap marah pada Adelia, dan berkata tegas,


"Kalian, berjagalah di luar! Aku akan bermain terlebih dahulu dengannya!"


"Siap, Bos!" seru mereka semua bersamaan.

__ADS_1


Sesuai dengan perintah pria tua tersebut, semua anak buahnya keluar dari gudang itu. Mereka berjaga di depan, dan bersiap melakukan transaksi dengan pembeli baru yang sedari tadi ditunggunya.


Dagu Adelia dipegang erat oleh pria tersebut, sehingga Adelia tidak bisa bergerak. Terlebih lagi kepalanya masih sedikit berat, dan tubuhnya masih lemas, sehingga tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini.


Dia kembali meludah, dan ludah itu pun mendarat di tempat yang sama pada wajah pria tua tersebut. Adelia menyeringai, merasa puas akan perlawanannya, meskipun hanya sebatas itu saja.


"Dasar perempuan tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu melawanku!" seru pria tua tersebut sambil menarik rambut belakang Adelia, sehingga kepala Adelia mendongak.


Adelia menatap tajam seolah mengibarkan bendera perang padanya. Sedangkan pria tersebut, dia tertawa keras melihat Adelia tidak berdaya di tangannya.


Leher jenjang Adelia terlihat sangat indah dan menggiurkan baginya. Tangannya memegang erat kedua pundak gadis cantik itu, dan dengan kasarnya pria tua itu mengarahkan kepalanya pada leher Adelia.


Sekuat tenaga Adelia berusaha melepas dan menjauhkan kepala pria tua itu dari lehernya. Akan tetapi, tenaga pria tua itu masih lebih kuat darinya, sehingga bibir pria tua itu mendarat di leher Adelia.


"Hentikan! Tolong hentikan!" teriak Adelia sekuat tenaga disertai isakan tangisnya.


Namun, pria tua itu semakin merasa bersemangat. Dia berusaha menikmati leher jenjang Adelia dengan rakusnya.


"Kurang ajar! Jangan sentuh milikku, sialan!" teriak seorang laki-laki dengan emosinya.


Dia memukul wajah pria tua tersebut dengan brutalnya, seolah tidak ada kata ampun baginya.


"Stop!"


Teriak salah satu dari anak buah pria tua itu, yang berlari masuk ke dalam gudang tersebut.


"Hentikan! Dia bos kami! Dia yang menjalankan perintah dari ibumu!" seru pria itu, sambil menghentikan tangan Arion yang bersiap menghantam wajah pria tua tersebut.


"Ibu?" gumam Adelia dengan suara yang bergetar.


Arion berhasil dipisahkan dari pria tua itu, oleh dua orang pria berbadan kekar yang menjadi anak buah pria tua tersebut.

__ADS_1


"Sialan! Siapa dia? Berani-beraninya dia memukulku!" seru pria tua itu dengan amarahnya yang menggebu-gebu.


"Dia Arion, anak Ruby, wanita yang membayar kita untuk melakukan semua ini," jawab salah satu dari mereka.


Pria tua tadi menyeringai. Dia meludah, seolah mengeluarkan darah yang ada di dalam mulutnya, karena pukulan yang diberikan Arion padanya.


"Apa kamu ingin mencicipinya terlebih dahulu? Sebenarnya sesuai peraturan, harusnya aku dulu yang mencicipinya, tapi karena Ruby adalah klien kita dari jaman dahulu, hingga sekarang dia berganti nama menjadi Intan, aku akan mengalah padamu. Kebetulan sekali, karena perempuan ini adalah anak dari Rafael dan Ayana yang gagal kami bunuh waktu itu. Waktu itu Ruby sangat marah pada kami, dan sekarang kami akan memberikan fasilitas utama ini untukmu, anak dari Ruby atau Intan, yaitu ibumu," tutur pria tua itu sambil menyeringai.


Sontak saja Adelia menatap tajam pada Arion. Dia geram melihat Arion saat ini. Bahkan kedua tangannya yang sedang menyilang di dadanya, mencengkeram erat tubuhnya sendiri, dan air matanya menetes dengan sendirinya. Kenyataan yang didengarnya sungguh pahit dan membuatnya benci pada Arion, serta keluarganya. Terlebih lagi pada ibu Arion, yang dikenalnya bernama Intan.


Perkataan pria tua itu pun mampu membuat Arion merasa syok saat ini. Bukan hanya tentang ibu kandung dan kematiannya saja yang membuatnya mempertanyakan kebaikan Intan, dan sekarang dia mendengar berita baru tentang kejahatan Intan, ibu sambungnya.


"Aku benci kamu, Arion," ucap Adelia dengan penuh penekanan, seolah mempertegas kebenciannya pada laki-laki yang pernah dekat dengannya.


Seketika Arion menoleh ke arah Adelia berada. Dia berjalan mendekatinya, dan menatapnya dengan tatapan memohon padanya.


"Adelia, Sayang, aku--"


Tangan Arion yang akan memegang Adelia, dengan cepatnya ditangkis olehnya. Dia menatap jijik pada laki-laki yang berusaha memohon ampunannya.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi kenal denganmu, apalagi kamu sentuh!" seru Adelia dengan amarahnya yang terlihat jelas pada wajahnya.


"Bodoh! Perempuan seperti itu tidak bisa dimiliki jika kamu menggunakan cara halus. Kamu harus menggunakan cara kasar untuk mendapatkannya. Paksa dia! Nikmati tubuhnya dan miliki dia sepenuhnya!" ujar pria tua tersebut, sambil tertawa di akhir ucapannya.


Kalimat 'miliki dia sepenuhnya', membuat hati Arion bergejolak. Keinginannya untuk memiliki Adelia seutuhnya akan menjadi kenyataan, seperti yang dikatakan oleh pria tua tersebut jika Arion bisa memiliki tubuh Adelia.


Hati Arion memberontak. Dia menatap Adelia yang sedang menatapnya dengan tatapan kebencian. Saat itulah Arion membenarkan perkataan pria tua tersebut, jika dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan Adelia tanpa adanya paksaan.


Hati dan pikiran Arion berkecamuk. Dia menatap Adelia dengan tatapan menginginkannya. Tangannya bergerak menahan kedua tangan gadis cantik itu.


"Lepaskan! Dasar berengseeeeeeeeek!!!"

__ADS_1


__ADS_2