
Sejenak mereka berdua hanyut dalam keheningan malam. Adelio dan Rania, dua insan itu sedang mencari cara dan bahan obrolan untuk mereka perbincangkan, agar mereka bisa lebih dekat lagi.
Kenapa diam-diaman seperti ini? Jika begini terus, kapan kita akan berbicara? Baiklah, lebih baik aku saja yang mengawalinya, Adelio berkata dalam hatinya.
Adelio menoleh ke arah samping, di mana Rania sedang duduk di sampingnya. Kemudian dia bertanya,
"Apa kamu sudah memiliki pacar?"
Seketika Rania tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah Adelio dan balas bertanya,
"Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah memiliki pacar?"
Adelio terkekeh mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Rania padanya. Dia menatap intens mata gadis cantik tersebut dan berkata,
"Bukankah aku yang lebih dulu bertanya padamu? Kenapa kamu balik bertanya padaku?"
"Aku gak mau kalau berkenalan dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan, baik itu pacar ataupun istri," jawab Rania dengan tegas, sambil menatap Adelio yang sedang menatapnya.
Seketika Adelio tersenyum manis mendengar jawaban dari Rania. Kemudian dia berkata,
"Sama. Aku pun juga demikian. Rasanya percuma saja berusaha kenal dekat dengan seseorang yang sudah menambatkan hatinya pada orang lain. Benar gak?"
"Iya, benar sekali. Rasanya percuma dan buang-buang waktu saja," ucap Rania sambil terkekeh.
Awal obrolan mereka, kini sudah mulai diiringi dengan tawa. Mereka berdua membicarakan banyak hal, tentang mereka masing-masing. Adelio dan Rania sama-sama tidak ingin mengecewakan kedua orang tua mereka, sehingga mereka berusaha untuk saling terbuka dan mengenal satu sama lain.
Namun, mereka berdua sama-sama tidak ingin membohongi hatinya, sehingga mereka bersepakat untuk saling mengenal lebih lanjut, sebelum mereka memutuskan untuk menyetujui perjodohan tersebut.
Setelah hampir satu jam mereka berbicara, Adelio mengajak Rania untuk masuk ke dalam restoran, bergabung kembali bersama dengan keluarga mereka.
"Bagaimana? Apa kalian sudah memutuskan?" tanya Aryo pada Adelio dan Rania ketika sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
__ADS_1
Rania dan Adelio saling menatap, seolah mereka saling menyuruh untuk menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya Adelio pun mengalah, dia menghela nafasnya, setelah itu dia menjawab pertanyaan tersebut.
"Kami bersepakat untuk saling mengenal lebih dahulu."
"Oh bagus itu. Mungkin saja nantinya cinta akan tumbuh di antara kalian setelah kalian berdua mengenal lebih dekat lagi," tutur Rafael sambil tersenyum bahagia.
"Benar juga. Ya sudah, kalau begitu kalian harus lebih banyak bertemu, agar kalian bisa lebih dekat lagi," ujar Aryo menanggapi penuturan Rafael.
Senyum dari kedua orang tua mereka pun menghiasi suasana di meja tersebut. Dua keluarga itu saling bertanya dan diiringi dengan tawa canda mereka semua.
Hari pun semakin larut. Waktu mereka terasa sangat singkat dan menyenangkan bagi kedua keluarga tersebut. Akan tetapi dalam hati Adelio masih merasakan kebimbangan. Dia merasa harus sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya.
Seperti biasanya, duo kembar Adelia dan Adelio, sedang menikmati indahnya malam di balkon kamar mereka masing-masing. Adelia menatap kakaknya yang sedang termenung mengamati indahnya langit malam.
"Kak, apa Kak Lio merasa senang berkenalan dan dekat dengan Rania?" tanya Adelia dari balkon kamarnya.
"Untuk saat ini, Kakak hanya bisa katakan jika kakak dan dia bisa nyambung ketika berbicara. Dan untuk yang lainnya, sepertinya kami berdua masih memerlukan banyak waktu," jawab Adelio sambil tersenyum tipis, tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.
Adelia tersenyum pada kakaknya yang tidak menghadap ke arahnya. Dia teringat akan dirinya sendiri yang pada saat itu sedang bimbang mengambil keputusan tentang perjodohan antara dia dengan Kenzo.
Adelio menoleh ke arah Adelia. Dia tersenyum mendengar penuturan dari saudara kembarnya. Pasalnya penuturannya itu merupakan nasehat darinya untuk Adelia. Dia melompat pagar pembatas balkon kamar mereka, dan berdiri tepat di hadapan adiknya.
"Kamu pintar sekali memberi nasehat, Princess," ucap Adelio sambil tersenyum dan mencubit gemas hidung Adelia.
Adelia tersenyum lebar dan berusaha melepaskan tangan kakaknya dari hidungnya. Kemudian dia berkata,
"Itu semua berkat Kakak."
"Apa itu berhasil?" tanya Adelio dengan dahinya yang mengernyit.
"Iya. Sangat berhasil," jawab Adelia dengan bangganya.
__ADS_1
Adelio tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menatap penuh kasih pada saudara kembarnya, seraya berkata dalam hatinya,
Kamu gak tau jika aku sangat mengkhawatirkan kamu, Lia. Jika aku harus sering bertemu dengan Rania, bagaimana dengan kamu? Siapa yang bisa menjagamu? Aku harap kita gak salah pilih dengan menjadikan Kenzo sebagai pelindungmu. Semoga saja dia bisa menggantikan aku, ketika aku gak bisa menjagamu.
"Kakak kenapa? Kak Lio masih ragu ya?" tanya Adelia dengan tatapan curiga pada kakaknya.
Adelio menggelengkan kepalanya, dan tersenyum pada adiknya, agar Adelia tidak khawatir padanya.
"Kamu tenang saja, Kakak akan baik-baik saja. Kakak akan mengurusnya sendiri, dan memberitahu keputusan Kakak nanti padamu, jika Kakak sudah memutuskannya," jawab Adelio sambil mengusap lembut rambut adiknya.
"Kakak yakin gak butuh bantuan Lia?" tanya Adelia, seolah tidak percaya dengan kakaknya.
"Iya. Kakak sangat yakin," jawab Adelio dengan penuh keyakinan.
"Baiklah. Lia akan sangat menantikan waktu itu tiba. Lia harap keputusan Kak Lio sangat tepat untuk kebahagiaan hidup Kakak. Ingat Kak, untuk kebahagiaan hidup Kakak, bukan kebahagiaan orang lain, meskipun itu Lia, Mama ataupun Papa," ujar Adelia dengan penuh penekanan.
Adelio merangkul pundak saudara kembarnya, dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam kamar Adelia, seraya berkata,
"Sekarang kamu harus tidur. Istirahatkan badan dan pikiranmu. Jangan pikirkan hal-hal yang gak berguna."
Setelah Adelio merebahkan tubuh Adelia dan menyelimutinya, dia mengecup dahi adik cantiknya itu, dan berkata,
"Selamat malam, Kesayangan Kakak. Selamat mimpi indah."
Melihat mata adiknya sudah terpejam, Adelio keluar dari kamar Adelia dengan sangat pelan dan hati-hati. Dia kembali ke dalam kamarnya, membawa serta pikiran akan kekhawatirannya pada keselamatan adiknya.
Dia mencoba memejamkan matanya, tapi ada bayangan wajah seseorang yang terlihat jelas olehnya. Seorang gadis sedang tersenyum manis padanya.
Seketika mata Adelio terbuka dan beranjak duduk dari tidurnya. Dia mencoba menenangkan dirinya dan mengosongkan pikirannya. Setelah beberapa saat kemudian, dia berhasil mengelabuhi pikirannya dengan memikirkan tentang keselamatan Adelia.
Dia merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidurnya, dan kembali memejamkan matanya, dengan harapan bisa tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Namun, bayangan akan sosok gadis cantik yang sedang tersenyum itu, hadir kembali di matanya, hingga terasa sangat nyata. Sontak saja mata Adelio terbuka, dan berkata,
"Apa artinya ini?"