
Adelia berjalan menghampiri Arion yang sudah berdiri menunggunya di sebelah motornya. Dia berjalan tanpa ekspresi dan memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Arion.
"Ayo kita ke dalam. Mereka sudah menunggu lama," tukas Arion sambil menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Adelia.
Namun, Adelia bergerak cepat. Dia menghindari tangan Arion, sehingga tangan pemuda tersebut tidak bisa menggapai tangannya.
Senyuman di wajah Arion seketika pudar. Wajahnya memperlihatkan kekecewaan.
"Aku mohon, kamu harus berakting sebagai kekasihku, agar dia percaya," ucap Arion dengan tatapan memohonnya.
Adelia pun menatap padanya dengan wajah datar tanpa ekspresinya, dan berkata,
"Berakting bukan berarti harus bergandengan tangan, bukan?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Adelia, membuat Arion kembali tercengang. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Bukankah orang berpacaran biasanya bergandengan tangan? Apa salah aku jika menggandeng perempuan yang menjadi pacarku?"
Ah, sial! Dia berhasil mengalahkan aku! Apa yang harus aku lakukan? Kak Lio pasti tidak bisa ke sini menolongku sekarang. Kak Lio, aku membutuhkanmu. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Kak? Adelia berkata dalam hatinya.
Dalam hatinya, Adelio mendengar rintihan adiknya. Akan tetapi, dia tidak bisa ke sana untuk menolongnya. Dia harus menjaga komitmen, sesuai dengan yang direncanakannya.
"Maafkan Kakak, Sayang. Kakak tidak bisa menolong mu sekarang, karena kamu masih tergolong kategori aman saat ini. Tapi jangan khawatir, Kakak akan selalu menjagamu dari jauh. Kakak gak akan tinggal diam jika dia menyakitimu atau memaksamu untuk melakukan sesuatu," ujar Adelio lirih, sambil melihat saudara kembarnya dari jarak yang aman.
"Benar bukan?" tanya Arion pada Adelia.
Adelia menghela nafasnya. Dia menatap kesal pada Arion dan berkata,
"Aku saja yang menggandeng kamu, tapi tidak sekarang, nanti ketika sudah berada di sana."
"Kenapa?" tanya Arion sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu tidak usah banyak tanya, daripada aku balik dan tidak jadi bertemu dengan temanmu," tutur Adelio dengan tegas padanya.
Terpaksa Arion mengikuti keinginan Adelia. Dia berjalan cepat, berusaha bisa berjalan di dekat Adelia. Setelah berjalan di sebelah gadis cantik itu, pandangan mata Arion tertuju pada tangan gadis tersebut, seraya berkata dalam hatinya,
Andai aku bisa memegang tangan itu kembali, pasti gak akan pernah aku lepaskan. Kenapa dia tiba-tiba berupa sangat jutek begini padaku? Pasti ini semua karena laki-laki itu. Aku gak terima. Akan aku cari tahu semuanya.
Adelia merasakan pandangan Arion yang tertuju pada tangannya. Kemudian dia berkata dengan tegas,
"Lihat jalanan. Jangan lihat tanganku."
Sontak saja Arion tersentak kaget mendengar perkataan Adelia. Tanpa sadar, dia pun berkata,
"Kenapa kamu jadi jutek padaku? Sebenarnya apa salahku, sehingga kamu bersikap seperti ini padaku? Bahkan aku tidak pernah tahu apa kesalahanku, dan kamu dengan tiba-tiba seenaknya menyudahi hubungan kita."
Seketika Adelia menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Arion dan menatap tajam padanya, seraya berkata,
"Yang tiba-tiba berubah itu kamu. Semakin hari kamu berubah menjadi orang yang tidak aku kenal. Jujur saja, aku tidak menyukai perubahanmu itu. Aku juga tidak nyaman denganmu yang seperti itu. Jadi, salahkah aku jika membatalkan perjanjian kita? Ingat, hubungan kita hanya sebatas perjanjian, bukan seperti yang kamu harapkan."
"Kamu tidak sadar jika berubah lebih menyebalkan dan tidak menjadi dirimu sendiri? Aku tidak suka, dan tidak salah bukan, jika aku menginginkan perjanjian percobaan pacaran yang kamu inginkan ini batal?" tanya Adelia diiringi seringainya.
Arion menghela nafasnya mendengar perkataan Adelia. Dia menunduk dan memejamkan matanya sekilas, mencoba mengingat apa saja perubahan pada dirinya yang membuat Adelia tidak menyukainya.
"Aku melakukan itu semua hanya untuk dirimu. Aku ingin kamu tidak malu jika ada di sampingku. Aku berusaha keras untuk--"
"Stop! Jadi kamu pikir selama ini aku malu denganmu? Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Adelia dengan tatapan emosi pada pemuda yang ada di hadapannya.
"Jika kamu tidak malu denganku, lalu kenapa kamu tidak mau orang lain tahu tentang hubungan kita? Kamu melarang aku untuk memberitahukan semua orang tentang hubungan kita. Kamu juga melarang aku dekat denganmu ketika ada di lingkungan kantor. Apa itu namanya tidak malu jika dekat denganku?" tanya Arion bertubi-tubi dengan kesalnya pada Adelia.
Adelia menyeringai mendengar perkataan dari Arion. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya, seraya berkata,
"Bukankah sudah sering kali aku katakan, jika aku tidak suka jika di tempat kerja ada yang mengetahui tentang hubungan kita, karena aku tidak suka ada gosip tentang aku di tempat kerja. Lagi pula kamu sudah menyetujuinya. Bukankah lebih baik kita bersikap profesional ketika berada di tempat kerja?"
__ADS_1
"Tapi--"
"Apa susahnya? Lagi pula selama ini aku selalu menuruti kemauanmu yang sangat membuatku tidak nyaman. Lalu, apa aku harus selamanya merasakan itu? Dan sekarang aku memilih tidak. Karena memang sejak awal kita tidak jadian karena suka atau cinta. Kamu yang memaksaku untuk menerima perasaanmu dengan embel-embel perjanjian hanya satu bulan. Apa kamu pernah menanyakan padaku tentang jawabanku? Tidak pernah! Kamu menganggap aku mau melakukannya!" sahut Adelia menggebu-gebu.
Seketika mulut Arion yang tadinya terbuka, kini menutup rapat, setelah mendengar perkataan Adelia. Dia merasa apa yang dikatakan oleh Adelia memang benar adanya. Kini dia merasa jika telah salah mengambil keputusan. Niat hati, dia ingin membuat Adelia bangga pada dirinya yang berubah lebih dari sebelumnya, tapi Adelia tidak menyukainya.
"Maaf. Maafkan aku jika--"
Adelia segera memalingkan wajahnya, dan bergerak hendak meninggalkan tempat tersebut. Akan tetapi dia terkejut dengan adanya dua orang yang ada di dekat mereka. Saat itu juga, Adelia menghentikan langkahnya.
Arion mengikuti gerakan Adelia. Dia terkejut ketika melihat dua orang yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, dan menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.
"Kalian?! Sejak kapan kalian ada di sana?" tanya Arion dengan gugupnya pada Supri dan pacarnya.
"Mbak Adelia, Arion, kalian--"
"Tidak! Kalian salah paham," sahut Adelia dengan tegasnya.
"Kami memang mempunyai hubungan sebagai--"
"Sesama pekerja kantor. Sama seperti kamu. Kita semua kenal, bukan?" tanya Adelia sambil tersenyum, mencoba menghilangkan kegugupannya dan kecanggungan di antara mereka.
"Tapi tadi kami dengar kalau kalian ada hubungan dan ada perjanjian satu bulang untuk menjadi--"
Seketika mulut perempuan yang merupakan kekasih Supri itu, dibekap mulutnya oleh Supri menggunakan tangannya, sehingga perkataannya tidak bisa diteruskan olehnya.
Adelia menghela nafasnya mendengar perkataan perempuan yang berdiri di samping Supri. Kemudian dia menoleh ke arah Arion dan menatap tajam kepadanya dan berkata,
"Aku rasa sudah tidak dibutuhkan lagi di sini. Selamat malam."
"Lia! Tunggu!"
__ADS_1