Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 44 Lagi dan Lagi


__ADS_3

Duo kembar itu menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Adelia. Mereka berdua terkesiap melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di atas motornya, sedang menatap ke arah mereka.


"Arion?!" celetuk Adelia dengan memperlihatkan ekspresi kagetnya.


Adelio mengernyitkan dahinya melihat Arion yang kini sudah berada di depan mereka. Dalam hatinya berkata,


Nekat sekali dia. Bukannya dia sedang bekerja? Kenapa dia ada di sini?


"Adelia, bisa kita bicara berdua?" tanya Arion kembali sambil tersenyum manis padanya.


Adelia menoleh ke arah kakaknya, berharap mendapatkan jawaban darinya. Dia tidak bisa memutuskannya sendiri, karena takut kembali salah melangkah.


Adelio menganggukkan kepalanya, memberikan jawaban atas kebimbangan hati saudara kembarnya. Kemudian dia berkata,


"Kalian bicaralah di sini. Aku akan masuk ke dalam."


Setelah mengatakan itu, Adelio berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Adelia bersama Arion di teras rumah mereka.


Arion turun dari motornya, menghampiri Adelia yang sudah duduk di kursi teras tersebut. Tiba-tiba ponsel Adelia bergetar. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat nama si penelepon yang tertera di layar ponselnya.


"Siapa, Sayang?" tanya Arion menyelidik.


Adelia menekan tombol hijau pada layar ponselnya. Kemudian dia menggenggam ponsel tersebut, dan menghadap Arion yang sudah duduk di sebelahnya, berbatasan dengan meja.


"Bukannya kamu sedang bekerja? Apa gak masalah kamu berada di sini?" tanya Adelia mengalihkan pertanyaan Arion padanya.


"Siapa tadi yang telepon?" tanya Arion kembali, seolah ingin sekali mengetahui orang yang sedang menghubungi kekasihnya.


"Mia yang telepon," jawab Adelia diiringi helaan nafasnya.


Kenapa aku berbohong? Dia punya hak apa untuk marah jika aku mengatakan yang sebenarnya? Bodoh kamu Lia, seharusnya saat inilah yang tepat untuk memutuskan hubungan kalian, Adelia berkata dalam hatinya.


"Benar? Apa kamu gak bohong?" tanya Arion kembali untuk memastikannya.


Adelia menghela nafasnya. Dia merasa jengah dengan sikap Arion yang menurutnya selalu memaksakan kehendaknya untuk harus diturutinya.

__ADS_1


"Aku heran, kenapa kamu selalu curiga seperti itu? Lagi pula, kenapa jika memang aku berbohong padamu?" tanya Adelia yang terlihat sedikit kesal padanya.


Tangan Arion segera meraih tangan Adelia. Dia menatap kekasih hatinya itu dengan tatapan mengiba, dan berkata,


"Maafkan aku Sayang, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu. Aku cemburu jika kamu bersama dengan laki-laki lain, ataupun berkomunikasi dengan laki-laki lain."


Adelia menghempaskan tangan Arion dan menatapnya dengan kesal, seraya berkata,


"Aku gak bisa diperlakukan seperti ini. Aku merasa seperti seorang tahanan saat ini. Lebih baik kita--"


"Maafkan aku. Janji, aku gak akan seperti itu lagi. Aku hanya ingin tahu siapa saja teman akrab kamu, dan siapa saja yang--"


"Itu sama saja membatasi ruang gerakku! Aku gak suka itu. Lebih baik kita--"


"Sudah waktunya aku kembali ke kantor. Aku balik dulu sekarang. Kamu cepatlah beristirahat. Jangan sampai tidur terlalu malam," sahut Arion sambil beranjak berdiri dari duduknya.


Adelia pun ikut beranjak dari duduknya. Dia merasa jika Arion saat ini menghindari keputusan Adelia, yang ingin mengakhiri perjanjian hubungan mereka.


"Arion, aku mohon. Kita selesaikan dulu pembicaraan kita, setelah itu kamu bisa kembali bekerja," ujar Adelia menghalangi kepergian Arion dengan menghadapnya, berdiri tepat di hadapannya.


Arion menghela nafasnya. Dia menatap kekasihnya itu dengan tatapan penuh kesedihan. Kemudian dia berkata,


Adelia menangkap kesedihan dari mara Arion. Lagi dan lagi, Adelia merasa iba padanya. Dia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Arion pergi, kembali ke kantor saat itu juga. Dia sadar, bahkan sangat sadar jika dirinya telah kembali gagal mengutarakan keinginannya. Dalam hatinya memberontak, menyalahkan dirinya sendiri yang selalu lemah dan merasa iba pada orang lain.


Arion meraih tangan Adelia dan menciumnya, hingga membuat Adelia terkejut mendapat perlakuan itu darinya. Sayangnya Adelia tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arion, sehingga dia hanya bisa membiarkan Arion mencium tangannya.


Setelah melepaskan tangan Adelia, Arion segera menaiki motornya dan melajukan motor tersebut keluar dari halaman rumah yang sangat luas itu.


Adelia menghela nafasnya yang terasa sangat berat di dalam dadanya. Bahkan terlihat sekali dari wajahnya jika dia sangat menyesali keputusannya.


"Bodoh... Bodoh... Bodoh...!!! Harusnya aku langsung saja bicara," rengek Adelia sambil kedua tangannya mengacak-acak rambutnya.


Tiba-tiba terdengar tawa dari suara yang sangat dikenalnya. Adelia menghentikan apa yang sedang dilakukannya, dan menoleh ke arah sumber suara. Dia menatap tajam pada sosok laki-laki yang sedang menertawakannya hingga terpingkal-pingkal.


Adelia berjalan menghampirinya, dan menginjak dengan keras salah satu kaki laki-laki tersebut, sehingga dia berhenti tertawa dan meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aduh... Lia, kamu...," ucap laki-laki tersebut, sambil memegang kaki yang diinjak oleh Adelia.


"Makanya Kak Lio jangan menertawakan Lia. Harusnya Kakak datang menolongku seperti biasanya," ujar Adelia dengan tenangnya.


Adelio melepaskan pegangannya pada kaki gang diinjak dengan sangat keras oleh saudara kembarnya. Dia meraih kedua pundak adiknya itu, dan berkata,


"Kak Lio sudah mendengar semuanya. Lain kali lakukan hal yang sama, agar Kakak tahu apa yang sedang kalian bicarakan."


"Lia kalah lagi Kak. Lia gak berhasil mengutarakan apa yang ingin aku katakan," ucap Adelia dengan memperlihatkan wajah sedihnya, dan disertai helaan nafasnya.


Adelio tersenyum tipis dan meraih tubuh saudara kembarnya itu dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut rambut adiknya, dan berkata,


"Mungkin belum saatnya. Nanti pasti ada waktu yang tepat untuk mengatakannya. Kamu gak perlu khawatirkan itu."


Adelia membalas pelukan kakaknya. Dia lebih mengeratkan pelukannya ketika mendengar semua perkataan kakaknya. Dalam hatinya sangat bersyukur, mempunyai saudara kembar yang sangat menyayanginya dan selalu melindunginya.


Perlahan Adelio sedikit mengurai pelukannya. Dia menatap intens manik mata saudara kembarnya itu, dan berkata,


"Oh iya, kamu juga harus tetap waspada dengan Arion dan keluarganya."


"Arion dan keluarganya? Memangnya ada apa dengan mereka, Kak?" tanya Adelia sambil mengernyitkan dahinya.


Adelio menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Adelia, seraya berkata,


" Kakak juga belum tahu sekarang. Hanya saja Kakak gak bisa tenang jika kamu sedang bersama dengan mereka."


"Kenapa begitu?" tanya Adelia kembali, sambil memperlihatkan wajah bingungnya.


"Sudahlah, jangan memikirkan hal itu. Tugas kamu hanya untuk waspada dan berhati-hati saja dengannya. Mengerti Princess kesayangannya Kakak?" tanya Adelio sambil mencubit gemas hidung Adelia, serta memainkannya ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa kalian masih berada di sini? Apa kalian sudah bosan di dalam rumah?"


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang terdengar dari arah pintu rumah mereka. Sontak saja mereka berdua menoleh ke arah tersebut. Bibir kedua saudara kembar itu melengkung ke atas, ketika melihat sosok pahlawan kehidupan mereka, sedang berdiri di depan pintu, seolah sedang menyambut kedatangan mereka.


"Mama...!" seru kedua saudara kembar itu, seraya berlari ke arah tersebut dan memeluk sosok pahlawan dalam kehidupan mereka.

__ADS_1


Ayana tersenyum senang mendapatkan pelukan dari kedua anaknya. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu. Kemudian dia menatap wajah putrinya dan berkata,


"Lia, baru saja kedua orang tua Kenzo menghubungi Papa dan Mama. Mereka menanyakan tentang hubungan Princess kesayangan kita ini dengan anak mereka. Bagiamana, Sayang? Apa kamu menerima perjodohan ini? Apa kamu mau bertunangan dengan Kenzo?"


__ADS_2