Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 16 Traktiran Balasan


__ADS_3

Adelia merasa sedikit bingung dengan sikap Arion saat ini. Dia merasa jika karena dirinya Arion berubah saat ini. Tetapi dia tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.


Dalam ruangan kerjanya, tiba-tiba Adelia menghentikan kegiatannya ketika jari-jarinya sedang bergerak lincah di atas keyboard. Dia teringat sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia pun berkata lirih,


"Jika benar karena aku, apa yang membuatnya begitu? Apa dia tidak suka dengan Kak Lio? Atau jangan-jangan dia iri dengannya."


Adelia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk mengenyahkan pikirannya itu. Sayangnya beberapa detik kemudian di berkata,


"Tapi... kenapa dia bisa iri pada Kak Lio? Mereka juga baru saja bertemu malam itu."


"Kenapa aku jadi memikirkan dia? Isss... Aku harus fokus pada pekerjaanku," sambung Adelia kembali sambil menepuk-nepuk wajahnya agar dia tersadar kembali dan tidak memikirkan tentang perubahan sikap Arion.


Adelia pun kembali mengerjakan pekerjaannya. Dia menguatkan niatnya untuk fokus pada pekerjaannya dan melupakan pikirannya tentang Arion saat ini.


Niat kuat Adelia berhasil. Dia mampu mengusir Arion dari pikirannya. Seperti biasanya, fokus Adelia mengalahkan segalanya. Sehingga dia hanya bisa fokus pada satu hal saja dan melupakan lainnya.


Adelia mengangkat kedua tangannya ke atas dan meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri.


"Akhirnya... selesai sudah pekerjaanku hari ini," ujar Adelia sambil tersenyum lebar melihat tumpukan beberapa map yang sudah selesai dikerjakan olehnya.


Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan dari ponselnya. Adelia terbelalak ketika melihat nama si pengirim pesan yang tertera pada layar ponselnya.


"Arion?" celetuk Adelia yang heran melihat nama Arion ada pada layar ponselnya.


Hati Adelia mengatakan tidak untuk membuka pesan dari Arion tersebut. Akan tetapi tangan Adelia tidak menuruti kata hatinya. Tangan tersebut menuruti kata hati Adelia. Tangannya bergerak meraih ponsel Adelia yang ada di meja dan membuka pesan tersebut.


Adelia, aku ingin membalas traktiran kamu malam itu. Aku ingin mentraktir kamu malam ini. Apa kamu bersedia makan bersama dengan seorang security seperti aku?


Adelia menghela nafasnya. Dia sangat tidak suka dengan kata-kata Arion yang merendahkan dirinya seolah Adelia mempermasalahkan hal itu. Dia kesal. Dia benar-benar kesal dengan dengan pesan tersebut.


Namun, di sisi lain dia ingin membuktikan pada Arion jika dirinya tidak seperti yang dikatakannya dalam pesannya. Dia kembali meraih ponselnya yang baru saja diletakkannya kembali di atas meja dan dibalasnya pesan tersebut.


Adelia menyetujui ajakan makan malam dari Arion malam ini. Dia kembali menatap pesan yang dikirimkannya pada Arion sebagai balasan pesan yang dikirimkan olehnya.


"Tidak. Sekarang Kak Lio pasti menjemput ku. Sebaiknya aku batalkan saja dan menggantinya besok," ujar Adelia sambil meraih ponselnya dan jarinya bergerak untuk menekan tanda hapus pada pesan tersebut.


Terlambat. Gerakan Adelia kalah cepat dengan datangnya pesan balasan dari Arion. Adelia menghela nafasnya dan membentur-benturkan lirih kepalanya pada meja kerjanya seraya berkata,


"Bodoh... Bodoh kamu Lia... Bagaimana ini?"


Seketika dia menegakkan badannya dan dengan cepatnya meraih ponselnya. Kemudian dia berkata,


"Gawat! Kak Lio!"

__ADS_1


Adelia segera mengubungi Adelio dan mengatakan padanya agar tidak menjemputnya. Beruntungnya saat ini Adelio masih berada di kantornya. Dia berencana berangkat untuk menjemput Adelia setelah saudara kembarnya itu menghubunginya.


"Untung saja," ucap Adelia sambil mengusap dadanya diiringi dengan helaan nafasnya yang terasa lega.


Dia segera mengganti seragam roknya dengan celana yang digunakannya tadi ketika dibonceng oleh Adelio. Setelah itu dia menyambar tasnya yang berada di atas meja dan berjalan keluar dari ruangannya.


Terlihat di depan pintu bank tersebut, seorang laki-laki duduk di atas motor sport nya dan tersenyum padanya. Adelia berjalan mendekatinya dan berkata,


"Mau makan di mana kita?"


Arion memberikan helm pada Adelia. Helm tersebut terlihat masih sangat baru. Adelia menerimanya dan memakainya.


Memang benar helm yang diberikan pada Adelia masih sangat baru. Arion baru saja membelinya khusus untuk Adelia seorang.


"Ehmmm... Apa helm ini baru?" tanya Adelia memastikannya.


"Iya, benar. Aku sengaja membelinya khusus hanya untukmu. Jika orang lain meminjamnya, tidak akan aku berikan," jawab Arion sambil terkekeh.


Adelia mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari Arion. Dia merasakan sesuatu dari jawaban tersebut.


"Maksudnya?" tanya Adelia menyelidik.


"Lupakan saja. Ayo kita berangkat," jawab Arion sambil menyalakan mesin motornya.


Adelia pun naik pada boncengan motor tersebut. Dia menjaga jarak kira-kira satu telapak tangannya.


Adelia berpegangan, akan tetapi dia berpegangan pada baju Arion. Dia mencengkram kuat sisi kanan dan kiri baju Arion untuk berpegangan.


Dalam situasi bagaimana pun Adelia memegang janjinya pada Adelio. Kakak kembarnya itu selalu memperingatkannya agar tidak sembarangan berpegangan pada pinggang seorang laki-laki jika dibonceng menggunakan motor. Kecuali jika bersama Adelio atau pasangan Adelia kelak jika sudah memilikinya.


Arion tersenyum getir melihat Adelia tidak melingkarkan tangannya pada pinggangnya, seperti ketika dibonceng oleh Adelio.


Kenapa Adelia masih seperti menjaga jarak denganku? Apa aku memang tidak layak untuknya? Arion berkata dalam hatinya sambil mengendarai motornya.


Tanpa diketahui oleh mereka berdua, ada seseorang yang berkendara membuntutinya. Orang tersebut pandai mengatur jarak, sehingga Arion tidak curiga padanya.


Tidak sengaja Arion mendadak mengerem motornya, sehingga badan Adelia bergerak maju dan menempel pada punggung Arion, ketika berada di depan cafe yang biasanya didatangi oleh Arion dan teman-temannya.


Adelia sedikit salah tingkah saat mundurkan badannya agar kembali berjarak dengan punggung Arion ketika akan turun dari boncengan motor tersebut. Sedangkan Arion, dia tersenyum tipis penuh kemenangan dalam hatinya.


Di cafe tersebut menyuguhkan penampilan life sebuah band yang menemani pengunjung menikmati makanan dan minuman mereka.


"Adelia, ayo masuk," ajak Arion sambil menarik tangan kanan Adelia dan tersenyum manis padanya.

__ADS_1


Adelia berjalan, akan tetapi pandangan matanya melihat ke arah tangannya yang digandeng oleh Arion. Senyum Arion mengembang memperlihatkan kebahagiaannya saat ini.


Namun, seketika senyum itu hilang tatkala dia mengikuti arah pandang Adelia. Seketika dia melepaskan tangan Adelia seraya berkata,


"Maaf. Maafkan aku Adelia."


Adelia merasa bersalah melihat Arion yang terlihat menyesal dan bersalah padanya karena memegang tangannya. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa Arion. Ayo kita masuk."


Adelia mempercepat langkahnya seolah dia sangat bersemangat masuk ke dalam cafe tersebut. Arion tersenyum dan menyusul Adelia dengan langkah lebarnya.


Mereka berdua menikmati makan malam dengan diiringi lantunan musik dari penampilan band yang ada di cafe tersebut.


Adelia melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya. Kemudian dia berkata,


"Sudah malam. Sepertinya aku harus pulang sekarang."


"Biar aku antar," sahut Arion dengan cepatnya, memperlihatkan betapa antusiasnya dia saat ini.


Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan Arion untuk mengantarkannya pulang.


Di parkiran cafe tersebut, Arion memberikan helm yang dipakai oleh Adelia. Tangannya bergerak seolah ingin memakaikannya di kepala Adelia.


Namun, Adelia secara reflek menggerakkan kepalanya, sehingga terlihat jelas jika dia menolaknya.


"Aku bisa sendiri, Arion," ujar Adelia sambil memakai helmnya.


"Mmm... Apa ini motor milikmu?" tanya Adelia ragu sambil melihat motor yang dinaiki oleh Arion, ketika dia selesai menggunakan helmnya.


"Iya, benar. Ini motorku. Kenapa Adelia? Ada yang salah?" tanya Arion sambil menatap Adelia.


"Tidak. Hanya saja bukannya siang tadi kamu masih memakai motor kamu yang biasanya itu. Tiba-tiba sekarang kamu memakai motor ini. Aku hanya ingin tahu saja, tidak lebih," jawab Adelia berhati-hati, agar Arion tidak sakit hati dengan ucapannya.


Arion tersenyum dan mengusap-usap motornya seraya berkata,


"Aku sengaja menggantinya tadi, karena kamu menyukai motor seperti ini, bukan?"


"Hah?! Karena aku?! Tapi kenapa?" tanya Adelia yang terlihat bingung saat ini.


Arion tersenyum manis padanya seraya berkata,


"Karena aku menyukaimu Adelia. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Seketika mata Adelia terbelalak mendengar jawaban dari Arion, sehingga membuatnya gugup dan berkata,


"A-apa?!"


__ADS_2