Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 69 Kedatangan Arion


__ADS_3

Arion masih saja menatap kantor bank tersebut seolah-olah sedang menunggu seseorang. Dia tahu jika hari itu bank sedang libur, tapi dia berharap jika bisa bertemu dengan Adelia. Hal yang sangat tidak mungkin sebenarnya. Akan tetapi dia benar-benar mengharapkan hal itu.


Pikirannya tertuju pada cerita Supri, yang baru saja menceritakan pengalamannya bermalam di luar kota bersama dengan pacarnya. Hatinya tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan temannya itu.


"Seandainya saja aku melakukan hal itu bersama dengan Adelia. Pasti saat ini aku akan bersama dengan dia, tanpa merasakan kesedihan seperti saat ini," ucap lirih Arion disertai helaan nafasnya.


Banyak sekali yang dipikirkan oleh Arion saat ini. Dia memikirkan Adelia, perempuan yang sejak dulu dikaguminya dan selalu ingin dimilikinya. Dia juga mempertimbangkan banyak hal saat ini, tentang bagaimana caranya dia bisa kembali mendapatkan Adelia. Berbagai macam cara telah dipikirkannya matang-matang, hingga dia memantapkan hatinya untuk memilih satu rencana yang diyakininya.


"Sepertinya hanya dengan cara itu aku bisa mendapatkannya kembali. Aku rasa gak ada cara lain lagi saat ini. Aku harus melakukan itu agar Adelia bisa menjadi milikku lagi, dan tentunya untuk selamanya," ucap kembali Arion dengan sangat yakin.


"Arion, sudah waktunya kita pulang. Ayo kita temui pacar kita. Mumpung masih jam segini," ucap Supri seraya mengambil jaketnya dari loker miliknya dan memakainya.


Arion pun beranjak dari duduknya. Dia memakai jaketnya dan keluar dari pos keamanan bersama dengan Supri.


"Apa kamu akan langsung pulang ke rumah?" tanya Supri pada Arion, sambil memakai helmnya.


Arion menganggukkan kepalanya, setelah memakai helmnya. Dia membenarkan perkataan dari Supri, teman yang berjaga dengannya.


Supri menghadap ke arah Arion dan tersenyum padanya, seraya berkata,


"Bro, masih jam segini, kenapa harus pulang? Lebih baik kamu datang ke rumah pacar kamu dan ajak dia jalan, makan malam di luar. Aku juga akan melakukan itu. Apa kamu ingin kita janjian bersama di suatu tempat?"


Arion tersenyum getir mendengar perkataan dari temannya. Dalam hati dia berkata,


Seandainya aku bisa mengajaknya, pasti akan aku jemput dia sekarang.


"Bro, bagaimana? Apa kamu mau kita kencan bersama untuk makan malam?" tanya Supri sambil menepuk pundak Arion.


Arion terkesiap dan tanpa sadar dia menganggukkan kepalanya, menyetujui ide dari temannya.


"Bagus. Bagaimana jika kita bertemu di taman?" tanya Supri dengan antusias.


"Hah?!" celetuk Arion kaget, seolah dia baru menyadari sesuatu.


"Kenapa? Apa kamu tidak setuju? Kalau begitu, bagaimana jika langsung bertemu di tempat makannya saja?" tanya Supri kembali.

__ADS_1


Gawat! Aku harus bagaimana? Kenapa tadi aku harus menyetujui ide gila ini? Arion menggerutu dalam hatinya.


"Bagaimana, Bro? Kita bertemu di taman atau di tempat makan?" tanya Supri sambil menepuk kembali pundak Arion.


"Mmmm sebenarnya aku--"


"Ya sudah, aku tunggu saja di taman. Nanti kita tentukan bersama di mana kita akan makan. Aku berangkat terlebih dahulu. Jangan lupa hubungi aku, jika kamu sudah sampai di taman," sahut Supri sambil menaiki motornya.


Setelah mengatakan hal itu, Supri segera menyalakan motornya dan bersiap untuk melajukannya. Akan tetapi sebelum dia menyalakan motor tersebut, dia menoleh kembali ke arah Arion.


"Jangan lama-lama. Aku sudah sangat lapar. Jangan membuatku terlalu lama menahan lapar," ucap Supri sambil terkekeh.


Motor Supri pun segera melaju meninggalkan tempat tersebut yang masih ada Arion berdiri di samping motornya.


Arion menghela nafasnya melihat motor Supri telah jauh bergerak meninggalkannya. Kemudian dia berkata,


"Apa aku harus menjemput Adelia dan mengajaknya ke taman seperti rencana Supri?"


Sejenak Arion memikirkannya, hingga beberapa saat kemudian dia menemukan solusinya.


"Aku akan menjemputnya sekarang."


Sungguh kenangan yang sangat indah menurut Arion. Berkendara bersama dengan Adelia. Moment yang sangat berharga menurutnya. Bahkan dia ingin sekali untuk mengulanginya lagi, tak peduli berapa kali mereka akan mengulangi moment tersebut. Dia yakin, jika tidak akan pernah bosan melakukannya.


Motor Arion berhenti di depan bangunan mewah dan sangat megah. Dia hanya bisa memandang rumah keluarga Atmaja itu dengan keraguan, seraya berkata,


"Apa aku harus masuk ke dalam rumah itu?"


Seperti biasanya, rumah tersebut dijaga oleh dua orang keamanan yang berjaga di dalam pos keamanan dan satu orang sedang berkeliling sekitar rumah itu.


"Lebih baik aku hubungi Adelia terlebih dahulu," ucap Arion seraya mengambil ponselnya dari dalam saku jaketnya.


Dua kali sudah Arion menghubungi Adelia, tapi tidak ada jawaban darinya, sehingga panggilan telepon tersebut hanya menjadi panggilan tak terjawab saja. Selain itu dia telah mengirimkan beberapa pesan pada Adelia.


Namun, tidak ada pesan balasan apa pun darinya. Bahkan pesan tersebut tidak dibaca oleh Adelia.

__ADS_1


Sedih dan gelisah menunggu pesan balasan dari gadis yang sangat ingin ditemuinya. Hingga beberapa puluh menit berlalu, pesan itu pun masih belum dibalasnya.


Arion menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya aku harus masuk ke rumah itu, untuk menemuinya secara langsung."


Merasa yakin akan keputusannya, Arion melangkahkan kakinya menghampiri pos penjaga keamanan, yang terletak di sebelah pintu pagar rumah tersebut.


"Selamat--"


Perkataan Arion tidak bisa dilanjutkannya, karena suara klakson mobil yang ada di belakangnya, mengharuskan petugas keamanan tersebut meninggalkannya untuk membukakan pintu pagar yang tinggi dan kokoh itu.


Arion melihat mobil mewah yang merupakan mobil keluarga Atmaja. Bahkan dia melihat sosok Adelia yang duduk di kursi penumpang bagian depan.


"Ck! Dia lagi. Mau apa dia ke sini?" ujar Adelio sambil menjalankan mobilnya, ketika pintu pagar sudah dibuka.


"Siapa?" tanya Rafael yang duduk di bangku penumpang dengan Ayana.


"Laki-laki yang tergila-gila dengan Princess kesayangan kita," jawab Adelio dengan entengnya.


Ayana berusaha melihat ke arah depan mereka. Kemudian dia berkata,


"Iya, benar. Dia Arion. Mau apa dia datang ke sini? Apa ada keperluan dengan Adelia?"


"Tidak ada, Ma. Semuanya sudah selesai waktu itu. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," jawab Adelia disertai helaan nafasnya.


"Lalu, kenapa dia datang ke sini?" tanya Ayana dengan rasa ingin tahunya.


"Lia! Adelia! Aku ingin bicara sebentar!" seru Arion sambil mengetuk jendela kaca mobil Adelia.


"Aku akan turun sebentar," ujar Adelia dengan sedikit kesal.


"Sayang, lebih baik biarkan saja dia. Biar Papa yang menghadapinya," tutur Rafael yang bersiap akan membuka pintu mobilnya.


Namun, gerakan Rafael berhasil dihentikan oleh Adelio yang berkata,

__ADS_1


"Lebih baik Lio saja yang turun menemui dia. Sepertinya Lio harus berbicara padanya untuk memberi peringatan padanya."


"Tunggu!"


__ADS_2