Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 68 Masalah Hati


__ADS_3

Rintikan hujan gerimis yang menyelimuti pagi ini, membuat duo kembar Adelio dan Adelia bermalas-malasan. Mereka berdua lebih memilih menikmati secangkir teh di gazebo taman bersama dengan kedua orang tua mereka.


Semalam Adelia belum bisa menjawab pertanyaan kakaknya, ketika ditanya tentang perasaannya pada Kenzo. Dia masih belum bisa memastikan seratus persen hatinya. Dia hanya merasakan nyaman dan senang ketika bersama dengan Kenzo.


Kini, dia menghadapi kembali pertanyaan yang sama. Ayana dan Rafael menanyakan perasaan putri kesayangan mereka pada Kenzo, lelaki yang dijodohkan oleh mereka dan akan segera melamar putri mereka.


"Lia, apa kamu sudah yakin, Sayang?" tanya Ayana pada Adelia.


Adelia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, mencoba mencari tahu tentang hatinya, tentang pemilik hati yang sebenarnya.


"Sayang, kenapa diam? Apa sebenarnya kamu tidak menyukai Kenzo?" tanya Rafael dengan sangat lembut pada putrinya.


Jujur saja jika Rafael dan Ayana tidak ada keinginan sama sekali untuk menjodohkan putra putri mereka dengan orang yang mereka kehendaki. Hanya saja Mereka selalu mendapatkan tawaran dari teman bisnisnya. Mereka berdua tidak berani menolaknya, tapi mereka juga tidak berani untuk menyetujuinya. Mereka berdua hanya menyerahkan semua keputusan itu pada kedua anak mereka.


Adelia membuka kedua matanya. Dia melihat ke arah mama dan papanya yang duduk tepat di depannya. Kemudian dia berkata,


"Sebenarnya Lia masih mencari tahu perasaan Lia yang sebenarnya, Ma, Pa."


Seketika dahi Ayana dan Rafael mengernyit. Mereka saling menatap, seolah saling bertanya melalui tatapan mata mereka.


"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, Sayang? Kenapa kamu menyetujui lamaran dari Kenzo?" tanya Rafael dengan tatapan menyelidik.


"Lia, Sayang, Mama dan Papa tidak ingin jika anak-anak kami menikah hanya karena terpaksa. Kami ingin kalian berdua bahagia, bukan menjalani kehidupan rumah tangga kalian dengan ketidakbahagiaan dan keterpaksaan," sambung Ayana dengan sangat bijak.


Adelia tersenyum dan menatap mama serta papanya secara bergantian. Kemudian dia berkata,


"Lia tidak terpaksa Ma, Pa. Lia hanya ingin memastikannya saja, karena selama ini Lia nyaman ketika bersama dengan Kenzo. Akan tetapi, Lia belum bisa meyakinkan hati ini seratus persen untuknya."


Ayana dan Rafael kembali saling menatap. Bahkan mereka pun bersamaan menghela nafasnya. Terlihat jelas rasa bersalah dari mata mereka berdua. Ketakutan mereka selama ini benar. Mereka takut jika putri kesayangan mereka, mau menerima perjodohan tersebut hanya karena tidak bisa menolaknya.


"Tidak bisa. Lebih baik kita batalkan saja Pa," tukas Ayana yang terlihat kecewa.

__ADS_1


"Ma! Bukan begitu maksud Lia," sahut Adelia dengan memperlihatkan wajah cemasnya.


"Papa tahu jika Mama kamu hanya tidak ingin batin kamu tersiksa nantinya, Sayang. Jika memang baiknya begitu, Papa akan bicarakan baik-baik dengan keluarga Kenzo," tukas Rafael disertai helaan nafasnya yang mengisyaratkan kekecewaannya.


Rafael tahu benar jika keterpaksaan dalam pernikahan tidaklah baik. Tentu saja sangat membebani dan membuatnya tersiksa. Akan tetapi, dari keterpaksaan itu, Rafael menemukan cintanya. Cinta Rafael untuk Ayana mulai tumbuh dan bersemi dengan indahnya. Bahkan Rafael sangat bersyukur telah dipersatukan dengan Ayana, meskipun tanpa ada rasa cinta sebelumnya.


Namun, dia sadar jika rasa cintanya pada Ayana semakin dalam ketika mereka saling berdekatan. Bahkan usaha mama Rafael untuk mendekatkan putranya dengan Ayana, sangat cepat membuahkan hasil. Rafael dengan sendirinya merasa sangat membutuhkan Ayana. Bahkan setelah itu, dia sangat bergantung padanya.


"Pa, Ma, Lia tidak terpaksa. Lia memang benar-benar mau menerima Kenzo sebagai calon suami Lia. Hanya saja Lia ingin benar-benar membuktikan pada hati Lia, jika Kenzo adalah pemilik hati Lia yang sebenarnya. Apa Lia salah, Ma, Pa?" tanya Adelia sambil menatap secara bergantian pada mama dan papanya.


Ayana menggelengkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan dari Adelia, bersamaan dengan Rafael yang menjawab pertanyaan tersebut.


"Kamu tidak salah, Sayang. Kamu hanya ingin memantapkan pilihan kamu, pilihan hatimu. Jadi, Papa dan Mama harap kamu tidak akan terbebani dengan perjodohan ini. Jika memang kamu tidak memilihnya, lepaskan saja, tidak usah mempedulikan kami, karena yang terpenting adalah hatimu."


Adelio memegang tangan Adelia. Dia tersenyum padanya dan berkata,


"Tenang, Sayang. Jalani saja harimu bersama dengan Kenzo, tapi jangan tentukan dulu tanggal pernikahan kalian. Saat itulah kamu akan bisa mengetahui semuanya, perasaanmu padanya dan siapa nantinya pilihan hatimu yang sebenarnya."


"Lia akan lakukan itu, Kak."


Ayana dan Rafael tersenyum lega. Rasa bersalah mereka karena perjodohan antara Adelia dan Kenzo pun telah pudar. Kini mereka hanya berharap akan kebahagiaan putri kesayangan mereka dengan siapa pun dia menikah.


"Lalu, apa lamaran ini tetap akan kamu terima, Sayang?" tanya Rafael dengan rasa ingin tahunya.


"Iya, Pa. Lia akan tetap menerimanya. Hanya saja untuk tanggal pernikahannya, Lia masih belum bisa memastikannya, karena Lia ingin yakin seratus persen akan hati Lia," jawab Adelia dengan tegas disertai senyuman manisnya.


"Baiklah. Kita bicarakan tentang itu nanti, ketika keluarga Kenzo datang dan berkumpul membicarakan masalah itu dengan kita," tutur Rafael sambil menganggukkan kepalanya.


Di sisi lain, seorang pemuda tampan sedang merenung. Dia menatap ke satu arah seolah mengharapkan kedatangan seseorang.


"Arion, bagaimana hari liburmu? Apakah mengesankan seperti hari liburmu sebelumnya?" tanya seorang laki-laki yang ber name tag Supri pada seragamnya.

__ADS_1


Arion tersenyum getir. Dia masih saja menatap arah itu dan menjawab pertanyaan temannya, tanpa menoleh padanya.


"Apakah kamu melihatnya seperti itu?"


Supri mengernyitkan dahinya. Dia menatap Arion dengan sejuta tanda tanya. Kemudian dia kembali bertanya,


"Sepertinya tidak baik, tapi bisa saja saat ini mood kamu hancur sejak pagi, dan tidak ada hubungannya dengan liburanmu kemarin."


Arion menoleh ke arah temannya dan menyeringai. Dia pun berkata,


"Bagaimana denganmu? Apa liburanmu menyenangkan? Apa mood pagimu sangat baik?"


"Tentu saja. Kemarin aku liburan bersama dengan pacarku. Kami ke pantai dan bermalam di sana. Pagi-pagi sekali, kami pulang. Rasanya lelah, tapi sangat menyenangkan," tutur Supri dengan tawa senangnya.


Arion kembali tersenyum getir mendengar penuturan temannya. Dalam hatinya berkata,


Seandainya aku dan Adelia bisa seperti itu, aku pasti akan sangat senang sekali. Apalagi jika hubungan kita menuju pada pernikahan, pasti aku gak akan lagi menundanya.


Namun, kenyataannya berbeda. Adelia justru meminta pada Arion untuk membatalkan perjanjian hubungan percobaan pacaran mereka. Semua itu dikarenakan adanya laki-laki yang paling dibenci oleh Arion. Kenzo, laki-laki kaya yang dijodohkan dengan Adelia.


"Pantas saja jika kamu terlihat sangat senang," ujar Arion sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, agar Supri tidak mengetahui kekecewaannya.


"Tentu saja, Bro. Dia memberikan mahkotanya untukku kemarin malam. Laki-laki bodoh yang tidak menyukai hal seperti itu," tukas Supri dengan bangganya.


"Mahkotanya? Jadi kamu--"


"Benar. Kami melakukannya. Aku sangat mencintainya. Jadi, aku tidak mau kehilangannya. Setelah aku rayu semalaman, akhirnya dia mau memberikannya dengan suka rela. Akhirnya, dia seutuhnya menjadi milikku, sehingga aku yakin jika dia tidak akan meninggalkanku," sahut Supri dengan bangganya.


Arion mendengarkan dengan seksama perkataan temannya. Dalam hatinya berkata,


Apa aku harus melakukannya pada Adelia, agar dia tidak meninggalkanku?

__ADS_1


__ADS_2