
Intan merasa terjebak saat ini. Dia mencari cara agar suaminya tidak menanyakan tentang masa lalunya. Sebisa mungkin dia mengelak untuk menceritakan masa lalunya.
"Aku tidak ingat, Mas. Bukankah Mas Fabian sudah tahu semuanya sebelum kita menikah?"
Fabian terdiam sejenak. Dia memikirkan cara agar Intan tidak bisa lagi mengelaknya, dan mau menceritakan semuanya dengan jujur.
"Tolong buatkan aku minuman hangat," ucap Fabian sambil menundukkan kepalanya.
Intan enggan beranjak dari duduknya, sehingga Fabian menoleh ke arahnya dan kembali menyuruhnya.
"Sayang, aku lelah. Aku hanya ingin minuman hangat. Tolong buatkan untukku."
Intan mendengus kesal mendengar permintaan dari suaminya, tapi dia kasihan dengan wajah lelah suaminya saat ini. Berdirilah Intan dari duduknya, dia berjalan dengan malas menuju dapur.
Selama Intan berada di dapur, Fabian mencoba untuk mencari tahu pada petugas polisi yang bertemu dengannya. Dia mengirimkan pesan untuk menanyakan alamat keluarga Adelia padanya.
Tentu saja polisi tersebut tidak serta merta memberikan secara langsung alamat kediaman keluarga Atmaja. Dia menanyakan alasan Fabian yang ingin menemui mereka. Ayah dari Arion itu, mengatakan jika dia ingin mencari tahu kebenaran dari kesimpang siuran berita yang diterimanya.
Selang beberapa saat kemudian, polisi tersebut mengatakan jika dia bisa menemui kedua orang tua Adelia di kantor polisi, sehingga Fabian tidak mempunyai alasan lagi untuk memaksa mereka memberikan alamat keluarga Atmaja.
"Mungkin inilah saatnya aku harus mempertemukan mereka, agar aku bisa tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara mereka di masa lalu," gumam Fabian sambil melihat layar ponselnya.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Segeralah Fabian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, setelah sempat membalas pesan dari polisi tersebut.
"Ini Mas, cepat di minum tehnya, sebelum dingin," tutur Intan sambil meletakkan segelas teh hangat di meja yang ada di depan Fabian.
Fabian segera mengambil gelas tersebut, dan meminumnya perlahan. Dia meminumnya seteguk demi seteguk. Setelah merasa cukup, Fabian meletakkan kembali gelas tersebut.
Kemudian dia beranjak dari duduknya, dan menarik tangan istrinya, seraya berkata,
__ADS_1
"Ikutlah denganku. Kita akan pergi ke suatu tempat."
"Mau ke mana, Mas? Setidaknya biarkan aku ganti baju dulu, dan beri tahu aku ke mana kita akan pergi, agar aku bisa menentukan pakaian apa yang akan aku pakai," ujar Intan sambil berjalan, dengan tangannya yang ditarik oleh suaminya.
Seketika langkah kaki Fabian berhenti. Dia menoleh ke belakang, melihat penampilan istrinya. Kemudian dia berkata,
"Pakailah pakaian yang pantas, dan jangan terlalu berlebihan. Kamu sudah cantik, jadi tidak perlu memakai pakaian yang berlebihan."
"Tumben sekali Mas Fabian ngomong begitu. Memangnya kita mau ke mana sih, Mas?" tanya Intan mencari tahu.
"Nanti juga kamu pasti tahu, Sayang. Sekarang gantilah pakaianmu dengan pakaian yang rapi tapi tidak berlebihan," tutur Fabian sambil melepaskan gandengan tangannya dari tangan istrinya
Intan pun berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa jika suaminya akan mengajaknya ke tempat sepesial, karena telah membuatnya kesal tadi pada saat membicarakan masa lalunya.
"Ayo Mas, kita berangkat," ujar Intan sambil menggandeng lengan suaminya yang sedang bersandar pada pintu.
Intan membelalakkan matanya melihat mereka sudah berada di depan kantor polisi. Seketika dia merasa ketakutan dan mencengkeram erat jaket suaminya, seraya berkata,
"Mas, kenapa kita ke sini? Katanya Mas Fabian akan mengajakku ke tempat yang sepesial?"
"Kita akan menemui Arion sebentar. Tunjukkan padanya bahwa kamu memang ibunya yang sangat menyayanginya," jawab Fabian sambil memegang tangan istrinya dengan erat.
Intan mengerti apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya, dan berkata dengan tegas,
"Lepaskan aku, Mas. Aku tidak akan pernah mau masuk ke dalam kantor polisi. Sampai kapan pun aku akan menolaknya."
"Kenapa kamu seperti ini, Sayang? Ada apa denganmu? Kita ke sini karena akan menemui Arion, anak kita," ujar Fabian sambil menatap istrinya dengan tatapan curiga.
Intan menjadi salah tingkah. Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa masuk ke dalam kantor polisi, karena dia merasa bahwa sama saja dengan mengantar nyawanya jika masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Namun, Fabian tidak membuang-buang waktu. Dia segera menarik tangan istrinya, dan membawanya masuk ke dalam kantor polisi. Intan berusaha keras agar bisa lepas dari tangan suaminya, tapi usahanya sia-sia. Dia tidak bisa melepaskan tangannya, meskipun dia sudah memberontak untuk bisa melepas tangannya dari tangan suaminya.
Mendengar suara kericuhan yang berasal dari arah pintu, sontak saja semua yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah tersebut.
"Ruby?" celetuk seorang wanita paruh baya, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sial! Kenapa dia bisa muncul lagi di hadapan kami? Bagaimana nantinya jika dia kembali hadir dalam hidup kami? Ah, sekarang aku tidak bisa tenang lagi, Rafael berkata dalam hatinya.
Begitu pula dengan Intan. Dia sangat terkejut ketika melihat dua orang yang sangat dikenalnya. Pasangan suami istri yang sedari dulu ingin dihancurkan dan dipisahkan olehnya.
"Rafael? Ayana?" gumam Intan dengan matanya yang terbelalak melihat pasangan suami istri di hadapannya.
Seketika Fabian mengikuti arah pandang istrinya. Dia merasa terpukul ketika mengetahui bahwa istrinya benar-benar mengenali kedua orang tua Adelia.
"Intan, apa benar kamu mengenal mereka?" tanya Fabian dengan serius, dan tanpa sadar tangannya mencengkeram kuat tangan istrinya.
Intan menatap suaminya dengan tatapan memohon, sembari menggelengkan kepalanya, berharap agar suaminya tidak memaksanya untuk masuk ke sana.
"Masuklah, Pak. Bawa istri anda duduk di sini," tutur Aksa yang baru saja keluar dari ruangannya.
Fabian pun menurutinya. Aksa, polisi yang dihubungi oleh Fabian untuk menanyakan alamat keluarga Adelia. Hanya Aksa lah satu-satunya polisi yang menjawab setiap pertanyaan Fabian dengan ramah dan sopan, sehingga dia memilih untuk bertanya tentang alamat keluarga Atmaja padanya.
Intan layaknya seorang anak yang ditarik oleh ibunya menghadap gurunya, karena kenakalannya, sehingga Fabian busa merasakan yang sebenarnya, meskipun Intan belum menceritakan masa lalunya.
Takut pada Ayana dan Rafael? Tidak. Sama sekali Intan tidak takut pada mereka berdua. Dia lebih takut jika ada polisi yang mengenalinya. Dia takut dihukum, dan tidak mau lagi masuk ke dalam jeruji besi.
"Perkenalkan, ini Bapak dan Ibu Atmaja. Mereka berdua merupakan orang tua dari Adelia," ujar Aksa sambil menunjuk ke arah Ayana dan Rafael.
"Dan ini adalah Bapak Fabian dan Ibu--"
__ADS_1