
"Ibu Arion menanyakan tentang foto-foto kita yang belum aku posting di media sosial," jawab Adelia disertai helaan nafasnya.
"Kita?" tanya Adelio sambil mengernyitkan dahinya.
Adelia kembali menghela nafasnya. Dia lupa jika belum menceritakan pada kakaknya tentang hari itu, hari di mana dia diajak Arion berkunjung di rumahnya. Kemudian dia berkata,
"Hari itu aku diajak Arion berkunjung ke rumahnya. Ibu Arion memintaku foto bersamanya dan menyuruhku untuk posting semua foto-foto itu ke media sosialku."
Dahi Adelio kembali mengernyit mendengar perkataan dari saudara kembarnya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa meminta hal itu? Aneh sekali."
"Entahlah Kak. Sampai sekarang aku belum melakukannya. Bukan sengaja sih, tapi memang Lia lupa," ujar Adelia sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya.
"Lalu, apa sekarang kamu akan menuruti perintahnya?" tanya Adelio dengan tatapan menyelidik.
Gadis cantik kembaran Adelio itu terlihat enggan melakukannya. Dia menatap layar ponselnya, tanpa mengoperasikannya. Jujur saja, dia tidak mau melakukannya. Akan tetapi, dia tidak bisa menolaknya. Semua itu membuat Adelia menjadi dilema.
"Jika kamu memang gak mau melakukannya, ya gak usah dilakukan. Kamu gak perlu merasa sungkan ataupun memikirkan perasaan orang lain. Kamu harus memikirkan perasaanmu sendiri," tutur Adelio sambil mengusap lembut rambut adiknya.
Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Lalu, bagaimana jika ibu Arion kembali menghubungiku, Kak? Jika dia bertanya tentang foto-foto itu tadi, aku harus menjawab apa?"
"Jawab saja jika akun semua media sosialmu di hack orang. Jika perlu, aku yang akan melakukannya," jawab Adelio sambil terkekeh.
Seketika mata Adelia berbinar. Dengan sangat antusiasnya dia berkata,
"Ide yang bagus. Kak Lio memang jenius."
Seperti biasanya, Adelia sangat bangga dengan saudara kembarnya. Dia selalu mengacungkan jempolnya saat Adelio memberinya saran yang membuatnya keluar dari kebingungannya.
Adelio terkekeh mendapatkan pelukan erat dari saudara kembarnya itu. Dia membalas pelukan adiknya dengan sangat erat, seolah mereka berdua tidak akan terpisahkan.
Tiba-tiba suara notifikasi dari ponsel Adelia kembali terdengar. Saat itu juga pelukan mereka terlepas. Pandangan mata mereka tertuju pada ponsel Adelia yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Ibunya Arion, Kak," ucap Adelia sambil menatap Adelio dan memperlihatkan wajah takutnya.
"Bilang saja seperti yang Kakak ajarkan tadi," tutur Adelio sambil tersenyum dan mencubit gemas pipi saudara kembarnya.
Dengan segera jemari lentik Adelia bergerak lincah, membalas pesan yang diterimanya dari Intan, ibu sambung Arion.
Gadis cantik tersebut menuruti perintah kakaknya. Dia mengatakan sama persis dengan yang dikatakan oleh Adelio, saudara kembarnya.
Hanya berselang beberapa detik saja, notifikasi pesan pun terdengar kembali. Adelia menatap pada kakaknya, seolah meminta persetujuannya dan bantuannya. Adelio pun menganggukkan kepalanya, seraya berkata,
"Bukalah. Jangan khawatir, Kakak pasti akan selalu membantumu."
Tanpa sadar jari tangannya yang lentik itu, membuka pesan tersebut. Adelia menatap Adelio dan tersenyum paksa membaca pesan tersebut.
"Ada apa? Apa yang sekarang dia inginkan?" tanya Adelio penasaran.
"Ibunya Arion meminta nama akun media sosialku," jawab Adelia sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya, tapi terlihat sangat terpaksa.
"Buat apa? Kenapa dia ingin tahu?" tanya Adelio sambil mengernyitkan dahinya.
Dahi Adelio mengernyit. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia bertanya,
"Apa Arion gak tahu nama akun media sosialmu?"
"Sepertinya gak, Kak. Mungkin juga dia tahu, tapi ibunya gak tanya sama dia," jawab Adelia sambil sedikit berpikir.
"Ya sudah. Kenapa harus ribet. Kasih tahu saja nama akun media sosialmu. Kakak jadi ingin tahu, apa yang sebenarnya akan dilakukannya. Mungkin saja dia ingin tahu, bagaimana kehidupanmu, bagaimana keluargamu dan bagaimana pergaulanmu," tutur Adelio sambil tersenyum tipis.
Tentu saja semua itu tidak bisa lepas dari pikiran Adelio. Dia merasa aneh dengan permintaan dari Intan.
Adelia membalas pesan Intan. Sesuai dengan perintah Adelio, dia memberikan nama akun media sosialnya.
Adelio menatap saudara kembarnya itu, seolah mencari tahu dari wajahnya. Dalam hatinya berkata,
Apa mereka sedekat itu, sehingga ibu sambung Arion berani meminta hal yang tidak dilakukan oleh orang lain? Atau mungkin dia mempunyai rencana lain pada Adelia?
__ADS_1
"Ada apa Kak?" tanya Adelia yang sedang menatap heran pada kakaknya.
"Sayang, apa kamu dengan ibunya Arion sangat dekat?" tanya Adelio menyelidik.
Adelia tampak berpikir. Dia mencoba mengingat-ingat kedekatan mereka pada hari itu. Kemudian dia berkata,
"Dibilang dekat, ya dekat. Kalau dibilang sangat dekat sih enggak."
"Hah?! Maksudnya apa, Sayang?" tanya Adelio dengan dahinya yang mengernyit.
"Waktu berada di rumah Arion, aku membantu ibunya memasak. Setelah itu kita makan bersama keluarga Arion. Lalu ibunya minta foto bersamaku. Kemudian aku meminta Arion untuk mengantarkan aku pulang," jawab Adelia sambil mengingat kejadian hari itu.
Adelio menyeringai mendengar jawaban dari adiknya. Kini keyakinannya akan pemikirannya terhadap ibu dari Arion, semakin membuatnya yakin. Adelio mencubit gemas kedua pipi Adelia dan berkata,
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Setiap ada apa-apa dari Arion dan keluarganya, kamu wajib memberitahukan pada Kakak. Ok, Princess?"
Kepala Adelia mengangguk diiringi dengan senyumannya. Seperti biasanya, dia tidak pernah khawatir akan apa pun. Dia sangat mengandalkan Adelio, Kakak kembarnya yang sangat memprioritaskan dirinya.
Di tempat lain, tepatnya di rumah yang ada di daerah perkampungan, seorang wanita paruh baya sedang sibuk dengan ponselnya. Intan, wanita yang masih terlihat sisa-sisa kecantikannya itu, kini sedang fokus pada layar ponselnya.
Dia sedang memperhatikan satu per satu foto yang ada di media sosial Adelia. Tampak sorot matanya yang tidak terlihat biasa saat ini. Sorot matanya itu terlihat penuh dengan amarah dan kebencian. Giginya mengerat dan dadanya bergerak naik turun seiring dengan nafas yang diiringi dengan kemarahannya itu.
"Ternyata memang benar, dia adalah anak kalian. Aku tidak usah mencarinya dengan susah payah. Aku akan segera memberi kalian kejutan, yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup kalian," ucap lirih Intan diiringi dengan seringainya.
Semua foto yang ada di akun media sosial itu pun diamati dengan seksama oleh Intan. Bahkan dia memperbesar setiap gambar Rafael, dan tersenyum ketika melihatnya.
Namun, matanya menatap bengis ketika melihat gambar Ayana, yang terlihat sekali binar kebahagiaan pada wajahnya.
"Lihat saja, kamu tidak akan lagi bisa tersenyum seperti itu, wahai wanita perebut milik orang lain," ujar lirih Intan sambil mengeratkan gigi-giginya, sehingga terlihat jelas kebenciannya pada Ayana.
Kini, tangannya bergerak lincah untuk menghubungi seseorang. Dia sangat menghafal nomor tersebut, sehingga nomor itu tidak pernah disimpannya.
"Halo, apa kalian masih mengenalku?" tanya Intan pada seseorang melalui teleponnya.
Halo, apa ini benar-benar kamu, Bos Ruby?
__ADS_1