
Mata Arion terbelalak ketika mendengar permintaan Adelia padanya. Bahkan dia merasa bingung saat ini untuk menentukan pilihannya, berjanji sesuai dengan keinginan Adelia atau tidak membuat janji itu, agar dia bisa menemuinya kembali.
Bagaimana ini? Jika aku gak mau janji seperti yang diinginkannya, sudah pasti dia tidak mau pergi makan malam denganmu sekarang. Apa aku setujui saja dan berjanji untuk sekarang, dan untuk selanjutnya, aku akan melihat situasi dan kondisi untuk mengajaknya kembali padaku, Arion berkata dalam hatinya.
Pemuda itu menatap wajah cantik Adelia yang masih memancarkan kekesalan padanya. Dia menghela nafasnya, menatap penuh harap pada Adelia dan dengan cepatnya dia meraih tangan gadis cantik itu, seraya berkata,
"Aku akan berjanji."
Adelia yang sedang sibuk melepaskan tangan Arion dari tangannya, seketika terkesiap. Dia menatap Arion dan berkata,
"Berjanjilah tidak akan lagi menggangguku ataupun bertindak seperti ini lagi. Ini yang terakhir kali kita berbicara di luar pekerjaan."
Sontak saja mata Arion terbelalak mendengar janji yang harus diucapkannya. Dalam hati dia kembali berkata,
Sial! Kenapa jadi seperti ini? Kenapa Adelia jadi begini? Biasanya dia sangat penurut dan selalu iba ketika melihatku mengiba padanya.
"Bagaimana? Jika kamu tidak bersedia, ya sudah. Tolong segera pergi dari sini, karena saya dan keluarga saya sudah lelah, kami ingin beristirahat," ujar Adelia dengan tegas, berbeda dengan Adelia yang biasanya.
"Tidak. Aku--"
"Ya sudah, silahkan pergi, dan tolong jangan pernah kembali ke sini," sahut Adelia sambil beranjak dari tempatnya.
Namun, tangan Adelia berhasil dipegang oleh Arion, sehingga Adelia menghentikan langkahnya. Dia memutar badannya, menghadap ke belakang dan menghempaskan dengan kasar tangan Arion yang memegangnya.
"Ada apa? Bukannya sudah jelas semuanya?" tanya Adelia dengan memperlihatkan wajah kesalnya.
"Sayang, aku hanya--"
"Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan Sayang! Kita gak punya hubungan apa-apa. Ingat itu!" sahut Adelia dengan kesalnya.
Arion menghela nafasnya dan terlihat sedang kecewa saat ini. Dia menatap Adelia dengan tatapan andalannya, mengiba pada Adelia, agar gadis cantik yang ada di hadapannya itu bisa luluh kembali padanya.
"Aku mau. Aku akan berjanji padamu. Aku akan menuruti semua yang kamu inginkan," ucap Arion yang terdengar sangat berat, layaknya orang yang terpaksa dan tidak ikhlas dengan ucapannya.
__ADS_1
Adelia menyeringai mendengar ucapan Arion. Terlebih lagi dia melihat Arion yang terlihat berat mengatakannya. Kemudian dia berkata,
"Berjanjilah, maka aku akan mempercayaimu."
"Apa setelah aku berjanji, kamu akan bersedia pergi denganku untuk makan malam bersama temanku dan pacarnya?" tanya Arion memperjelas perjanjian mereka.
Adelia menghela nafasnya yang terasa sangat berat di dadanya. Dalam hatinya berkata,
Aduh, kenapa aku tadi mengatakan itu. Aku tantang dia, malah dia menantang aku balik. Bagaimana ini?
Terdengar dering ponsel dari dalam saku Arion. Tangannya meraih ponsel tersebut dan melihat layar ponselnya. Dia menghela nafasnya ketika melihat nama si pemanggil telepon tersebut. Kemudian dia berkata,
"Ayo kita berangkat. Temanku sudah menghubungiku untuk yang kesekian kalinya. Kasihan dia dan pacarnya, pasti mereka berdua sudah sangat kelaparan karena menunggu kita sejak tadi di sana."
Sontak saja Adelia panik saat ini. Dia menoleh ke arah mobilnya yang terdapat anggota keluarganya sedang menggelengkan kepala padanya, sebagai tanda mereka tidak memperbolehkan Adelia ikut bersama Arion. Setelah itu dia melihat ke arah Arion yang menatapnya dengan tatapan mengiba.
Sepertinya aku memang harus ikut dengannya, agar masalah ini bisa cepat selesai, dan dia gak akan ganggu aku lagi, Adelia berkata dalam hatinya.
Seketika bibir Arion melengkung ke atas, tatkala mendengar perkataan dari Adelia. Dia meraih tangan gadis cantik itu, dan tersenyum senang padanya.
Namun, Adelia segera menghempaskan tangan Arion, dan menatap tajam padanya, seraya berkata,
"Aku akan berpamitan terlebih dahulu pada orang tuaku."
Arion pun menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman manisnya, untuk menanggapi permintaan Adelia.
Adelia kembali ke mobilnya. Dia masuk dan duduk di tempatnya semula. Semua tatapan mata orang di dalam mobil itu mengarah padanya.
"Lia akan memenuhi permintaannya," ucap Adelia dengan sungguh-sungguh dan menatap satu persatu ketiga orang yang sangat disayanginya.
"Tidak! Mama tidak akan mengijinkannya," ujar Ayana dengan tegasnya.
Adelia meraih tangan mamanya dan mengusapnya perlahan, seraya berkata,
__ADS_1
"Lia harus menyelesaikannya, Ma. Lia hanya sebentar saja. Setelah makan, Lia akan pulang."
"Sayang, tapi--"
"Lia janji, Ma. Ini semua agar dia tidak menggangguku lagi," sahut Adelia yang berusaha untuk memberi pengertian pada mamanya.
"My Princess, Papa juga tidak setuju. Biarlah dia dengan apa yang dilakukannya. Kamu tidak usah mengikuti kemauannya. Tenang saja, kami semua akan menjagamu," tutur Rafael dengan tegas pada putrinya.
"Pa, Lia bisa jaga diri. Lia akan baik-baik saja, karena Lia yakin jika Kak Lio tidak akan membiarkan Lia terluka sedikit pun," ucap Adelia sambil menoleh ke arah Adelio dan tersenyum padanya.
Adelio tersenyum tipis. Dia mengerti akan tatapan dan perkataan saudara kembarnya. Kemudian dia berkata,
"Biar Lio yang menjaga Lia, Ma, Pa."
Seketika bibir Adelia melengkung ke atas, setelah mendengar perkataan saudara kembarnya. Kemudian dia berkata,
"Tuh kan, Mama dan Papa tenang saja. Kak Lio akan selalu datang, ketika Lia sedang dalam bahaya. Jadi, Lia tidak pernah khawatir akan keselamatan diri Lia sendiri, sebab Kak Lio tidak akan membiarkan adiknya yang cantik ini terluka."
Ayana dan Rafael tersenyum mendengar candaan dari putri mereka. Sedangkan Adelio, dia terkekeh mendengar perkataan adiknya yang selalu membanggakannya, tapi dengan tujuan untuk mengingatkan tugasnya sebagai bodyguard princess keluarga Atmaja.
"Papa dan Mama tidak perlu khawatir. Seperti biasanya, Lio akan menjaga princess kesayangan kita ini," ujar Adelio sambil mengusap lembut rambut Adelia.
Ayana menoleh ke arah Rafael. Suaminya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah dia tahu akan pertanyaan yang ada di benak istrinya. Ayana memaksakan senyumnya dan menganggukkan kepalanya untuk menanggapi suaminya.
"Adelia, Sayang, kamu harus tetap waspada dam hati-hati meskipun ada kakak kamu di dekatmu, karena orang nekat pasti akan menghalalkan segala cara," tutur Ayana dengan serius.
"Jangan kuatir, Ma. Lia pasti akan baik-baik saja," ujar Adelia sambil mencium punggung tangan mamanya dan bergantian dengan mencium punggung tangan papanya.
Setelah itu, dia membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil tersebut dengan degupan jantungnya yang berirama cepat.
Sepertinya aku ragu dengan keberanianku. Kenapa aku sok banget bisa menyelesaikan masalah ini sendiri? Semakin ke sini, kenapa aku semakin takut? Adelia berkata dalam hatinya.
"Ayo kita berangkat sekarang," ucap Arion sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum pada Adelia.
__ADS_1