
Kaget? Sudah bisa dipastikan jika Mia saat ini sedang syok. Mulutnya sedikit terbuka sambil melihat ke arah Adelia dan Adelio yang sedang tersenyum padanya.
"Kalian ...," ucap Mia tanpa bisa meneruskan perkataannya.
Duo kembar itu tersenyum dan bersamaan menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat ekspresi Mia berubah. Dia merasa malu saat ini.
Melihat ekspresi wajah Mia, Adelia pun berkata,
"Mia, aku dan Kak Lia adalah saudara kembar. Nama kami saja hampir sama, Adelio dan Adelia. Kak Lio itu kakak kembar aku, Mia."
Wajah Mia semakin terlihat kaget saat ini. Tanpa sadar dia pun berkata,
"Kembar?"
Kenzo tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia terkekeh melihat Mia yang benar-benar kaget dan terlihat syok mendengar kenyataan bahwa sahabatnya itu memiliki kembaran. Terlebih lagi, kembarannya adalah laki-laki yang selama ini disangka oleh Mia sebagai pacar dari sahabatnya itu.
"Iya, kita kembar. Kenapa? Pasti kamu gak nyangka kalau kita kembar," ucap Adelio sambil terkekeh.
Mia gugup bercampur malu. Dia tidak bisa berkata-kata. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adelio. Dia telah salah sangka dan salah mengira pada hubungan Adelio dan Adelia.
Adelia menahan tawanya, dia merangkul pundak Mia dan berkata,
"Mia, sahabat baikku. Dia ini kakakku yang paling tampan se jagad raya. Pasti kamu setuju denganku kan?"
Mia tersenyum kaku. Dalam hatinya, dia merutuki kebodohannya yang sedari tadi telah sok menasehati Adelio.
Bodoh banget kamu Mia! Kenapa kamu sok kenal banget sama kakaknya Lia. Sok menasehatinya pula. Eh, tapi aku masih ada kesempatan untuk mendapatkannya dong. Sayangnya harapanku sepertinya sudah hangus. Kenapa aku sok banget menasehatinya, tanpa tahu hubungan sebenarnya dia dengan Adelia? Ya Tuhan, kenapa mulutku lancang sekali?
"Kata Mia, Kak Lio sangat tampan. Bahkan dia ingin sekali berkenalan dengan Kakak," ujar Adelia sambil tersenyum pada Adelio dan sedikit melirik Mia.
"Lia! Enggak. Bukan itu maksudku. Waktu itu aku, aku hanya--"
"Memuji? Atau tertarik pada Kak Lio?" tanya Adelia menyahuti perkataan dari Mia.
Sontak saja tersirat rona merah pada wajah Mia. Dia merasa malu karena kekagumannya pada Adelio di saat pertama kali melihatnya, kini telah dibongkar Adelia di depan Adelio.
Adelio berusaha keras menahan tawanya, tapi dia tidak bisa lagi menahannya. Bibirnya melengkung ke atas melihat Mia yang sekarang sedang tersipu malu karenanya.
"Benarkah itu, Mia?" tanya Adelio pada Mia.
Mia memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia berusaha untuk tidak bertatap mata dengan Adelio. Matanya tertutup rapat, agar tidak bisa melihat mereka semua yang ada di meja tersebut.
__ADS_1
"Benar kan, Mia?" tanya Adelia sambil tersenyum padanya.
Seketika mata Mia terbuka, ketika mendengar namanya disebut oleh Adelia. Dia kembali memberikan senyumannya yang terlihat terpaksa saat ini.
"Apa itu benar? Apa kamu tertarik pada--"
"Aku hanya asal ngomong saja. Gak ada maksud lain," sahut Mia dengan cepatnya.
Adelio terkekeh melihat kegugupan gadis manis yang menjadi sahabat adik kembarnya. Dalam hatinya dia berkata,
Sepertinya hari-hariku akan lebih seru dan menyenangkan jika ada dia.
Tiba-tiba datanglah dua orang waiter membawa pesanan mereka. Mata Mia terbelalak melihat banyaknya makanan yang dihidangkan di hadapannya saat ini. Tanpa sadar dia pun berkata,
"Kenapa banyak sekali makanannya?"
"Malam ini, pertama kalinya kita makan bersama. Jadi, apa salahnya kita merayakannya," jawab Adelia sambil tersenyum sumringah, memperlihatkan kebahagiaannya.
Mia kembali tersenyum kaku. Dia benar-benar malu saat ini. Apalagi ketika dia bertatap mata dengan Adelio. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang, tatkala Adelio tersenyum padanya. Akan tetapi, rasa malunya pada Adelio terlalu besar, sehingga membuatnya menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan kalian goda dia. Lihatlah, dia sedang malu. Lebih baik, sekarang kita makan dulu," tutur Kenzo seraya memberikan piring pada Adelia, berisi steak yang sudah dipotong-potong olehnya.
Adelia menerima piring tersebut dengan senang hati dan senyumnya yang merekah. Kemudian dia memberikan piring miliknya yang juga berisi steak pada Kenzo.
Mia yang sedang tersenyum melihat Adelia dan Kenzo, kini dia menundukkan kepalanya ketika matanya bertemu dengan mata pemuda tampan itu.
Adelio masih saja menatapnya. Dia tersenyum melihat Mia yang malu-malu padanya. Ingin sekali dia kembali menjahilinya, tapi diurungkannya karena dia tidak ingin gadis tersebut bertambah malu padanya dan tidak mau bersikap seperti sebelumnya.
Melihat Mia kesusahan memotong steak tersebut, Adelio segera memberikan piring miliknya pada Mia, seraya berkata,
"Makanlah ini."
Piring milik Adelio diletakkan tepat di depan Mia dan dia mengambil piring milik Mia yang berisi steak utuh, belum dipotong sama sekali, seraya berkata,
"Yang ini untukku."
Seketika Adelia dan Kenzo menatap ke arah mereka berdua, sehingga membuat Mia semakin gugup dan salah tingkah.
"Kalian teruskan saja makannya. Gak usah melihat ke sini. Biarkan sahabatmu ini makan dengan tenang," tutur Adelio sambil mengarahkan makanannya pada mulutnya.
Seketika gerakan Mia berhenti. Dia tidak berani melihat siapa pun. Matanya hanya melihat ke arah piringnya. Dalam hatinya berkata,
__ADS_1
Mengapa dia melakukan ini padaku? Apa dia sengaja ingin membalas sikapku yang sok tahu tadi?
"Tidak usah menggerutu di dalam hati, makan saja makanannya. Masih ada banyak makanan yang harus kita makan," ujar Adelio di sela kunyahan makannya.
Sontak saja Mia mengalihkan pandangannya pada Adelio yang berada di depannya dan sedang menatapnya. Saat itu juga dia melihat ke arah meja dan memandangi satu per satu menu makanan yang sudah terhidang di hadapannya.
Mulutnya sedikit terbuka melihat betapa banyaknya makanan yang masih ada di sana. Bahkan saat ini, seorang waitress datang dengan membawa berbagai macam dessert dan diletakkan di meja tersebut.
"Ayo dimakan Mia. Jangan sungkan-sungkan. Gak biasanya loh aku mentraktir kamu makanan sebanyak ini," ucap Adelia pada Mia yang masih melongo melihat begitu banyaknya makanan yang terhidang.
Mia pun melanjutkan makannya. Mereka bertiga sangat menyenangkan, sehingga Mia pun ikut larut dalam obrolan dan candaan mereka.
Tak terasa makanan mereka pun habis bersamaan dengan candaan dan obrolan mereka yang sangat seru dan menyatu.
"Kak, antarkan Mia pulang, ya," ujar Adelia pada Adelio.
"Beres, asalkan dia mau aku antarkan pulang," tukas Adelio menanggapi permintaan adik kembarnya.
"Mia pasti mau. Benar kan, Mia?" tanya Adelia meminta dukungan dari Mia.
Mia gugup. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dalam hatinya dia membenarkan perkataan Adelia. Akan tetapi, dia gengsi untuk mengatakannya.
Adelio tersenyum tipis melihat reaksi Mia. Dia beranjak dari duduknya, seraya berkata,
"Ayo aku antar pulang sekarang."
Mia menoleh ke arah Adelia. Sahabatnya itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum padanya dan berkata,
"Kami juga akan pulang sekarang."
Berjalanlah Mia bersama dengan Adelia. Sedangkan Kenzo dan Adelio berjalan di belakang Adelia dan Mia, layaknya pengawal kedua gadis tersebut.
"Bye Mia!" seru Adelia sambil melambaikan tangannya, ketika berpisah di tempat parkir dengan Mia.
Mia pun melambaikan tangannya mengiringi perpisahan mereka saat ini. Mobil mereka pun bergerak meninggalkan tempat tersebut dengan arah yang berbeda.
Di dalam mobil, Mia tidak mengatakan apa pun. Dia lebih memilih untuk diam, sehingga suasana dalam mobil tersebut sangat hening. Adelio melirik ke arah Mia. Dia tersenyum tipis melihat gadis tersebut yang seolah sedang menghindari bertatap mata dengannya.
"Kamu sudah lama berteman dengan Lia?" tanya Adelio memecah keheningan dalam mobil tersebut.
"Iya," jawab Mia lirih sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Adelio kembali tersenyum tipis mendengar suara lirih dari gadis manis yang sedang malu karenanya. Dia pun kembali menjahili gadis tersebut dengan bertanya padanya.
"Apa benar kamu menyukaiku?"