
Semua pasang mata yang berada di meja makan tersebut mengarah pada Kenzo. Mereka terkejut mendengar seruan Kenzo yang melarang Ayana ketika akan menghubungi calon besannya, yaitu mama dari Kenzo.
"Ada apa Ken?" tanya Ayana dengan tatapan herannya pada Kenzo.
"Tidak, Tan. Tidak ada apa-apa," jawab Kenzo dengan gugup.
"Kenapa kamu melarang Mama untuk menghubungi mamamu?" tanya Adelia, seolah sedang menyelidikinya.
Seketika Kenzo terkesiap. Dia baru menyadari sikapnya yang salah saat ini, hingga dia gugup dan berkata,
"Bukannya melarang, Sayang. Aku hanya ingin mengatakan nanti saja teleponnya. Lebih baik kita teruskan lagi saja makannya."
"Siapa tahu memang penting, Ken," tukas Adelia yang masih menatap Kenzo, mencoba untuk meyakinkannya.
Kenzo menghela nafasnya dan menatap mata Adelia, seraya berkata,
"Aku rasa tidak. Buktinya saja tidak ada lagi telepon kan?"
Adelia menoleh ke arah mamanya. Ayana menganggukkan kepalanya dan tersenyum padanya. Kemudian dia memandang ke arah papanya. Rafael pun melakukan hal yang sama dengan istrinya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tangan Adelio menggenggam tangan Adelia, ketika adiknya itu menatapnya. Dia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kita teruskan makannya," ucap Adelia sambil meraih kembali sendok dan garpunya yang diletakkan di atas piringnya.
Semua orang pun mengikutinya. Mereka semua meneruskan makannya dengan tenang, tanpa ada lagi suara atau pun candaan dari mereka.
Adelia mengunyah makanannya dengan pelan, seolah dia sangat menikmatinya. Akan tetapi, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh Kenzo? Kenapa dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu? Adelia berkata dalam hatinya.
Adelio pun merasakan hal yang sama. Dia merasa sikap Kenzo semakin membuatnya curiga. Bahkan dia kembali mengatakan niatnya dalam hati untuk lebih dalam lagi mencari tahu tentang Kenzo.
Setelah makan malam mereka selesai, semuanya berkumpul di ruang tengah. Seperti biasanya, Ayana dan Rafael mengumpulkan mereka untuk mengeratkan kebersamaan mereka.
__ADS_1
"Kenzo, Om dan Tante cuma ingin tahu saja, apa kamu menerima perjodohan ini?" tanya Rafael membuka obrolan santai di antara mereka.
"Dari awal kita bertemu di restoran saat itu, Kenzo sudah menerimanya, Om," jawab Kenzo dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana dengan perasaanmu pada Adelia, Ken?" tanya Ayana, seolah sedang menyelidikinya.
"Kenzo akui, sejak awal bertemu dengan Adelia, Ken tertarik padanya. Semakin hari, semakin mengenalnya, Ken tidak bisa melupakannya. Ken rasa itu yang dinamakan cinta," jawab Kenzo dengan penuh percaya diri.
Ayana dan Rafael tersenyum dan terlihat lega mendengar jawaban dari Kenzo. Bukan hanya karena jawaban dari Kenzo yang bisa membuat mereka merasa senang, tapi mereka melihat keyakinan dan kesungguhan dari Kenzo, sehingga membuat mereka bertambah yakin akan ucapannya.
"Adelia, bagaimana denganmu, Sayang? Apa Princess kesayangan kami, menerima perjodohan ini?" tanya Rafael dengan sungguh-sungguh.
Adelia yang tadinya duduk santai mendengarkan obrolan antara kedua orang tuanya dengan Kenzo, kini dia menundukkan kepalanya, seolah sedang menyembunyikan wajahnya.
Tersirat rona merah pada wajah cantik Adelia, sehingga membuatnya semakin terlihat cantik saat ini. Dia bersikap malu-malu di hadapan kedua orang tuanya, saudara kembarnya dan tentu saja di hadapan Kenzo.
Papa apa-apaan sih? Kenapa harus bertanya tentang perasaanku di hadapan Kenzo? Kan aku jadi malu, Adelia berkata dalam hatinya.
"Adelia, Sayang, jawab pertanyaan Papa," ucap Ayana mengingatkan dengan halus.
"Lia bersedia dijodohkan dengan Kenzo," ujar Adelia tanpa ragu-ragu.
Seketika bibir Kenzo melengkung ke atas. Dalam hatinya bersorak mendengar jawaban dari Adelia.
"Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya, Ken?" tanya Rafael dengan serius pada Kenzo.
Binar kebahagiaan terlihat jelas pada wajah Kenzo saat ini. Tidak bisa dipungkiri jika dia merasa sangat bahagia mendengar Adelia yang bersedia dijodohkan dengannya.
"Saya dan orang tua saya akan datang secepatnya ke sini, untuk melamar Adelia," jawab kenzo dengan mantap, tanpa ragu sedikit pun.
Ayana dan Rafael tersenyum senang mendengar rencana Kenzo untuk melamar putri mereka. Sedangkan Adelia, dia kembali menunduk, menyembunyikan rona malu di wajahnya. Berbeda dengan Adelia, saudara kembarnya, Adelio hanya tersenyum tipis mendengar rencana Kenzo untuk melamar Adelia. Bukannya dia tidak senang, hanya saja saat ini dia sedikit ragu pada Kenzo.
Namun, jujur saja jika dia juga bahagia mendengarnya. Sekuat hati dia mengenyahkan rasa curiga dan khawatir pada Kenzo, tapi masih saja tidak bisa. Sayangnya dia tidak bisa menanyakannya secara langsung pada Kenzo, cara satu-satunya adalah dengan cara menyelidikinya sendiri, agar dia bisa mengetahui seorang Kenzo yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, yang memberitahukan pada kedua orang tuamu, kami atau kamu, Ken?" tanya Ayana dengan sangat antusias.
"Sebaiknya sa--"
"Om saja yang memberitahukan pada papamu. Rasanya Om tidak sabar mendengar suara bahagianya," sahut Rafael sambil terkekeh mengambil ponsel miliknya yang ada di meja.
"Jangan Om!" seru Kenzo menghentikan Rafael.
Sontak saja tangan Rafael berhenti ketika hendak menyentuh ponsel miliknya yang ada di atas meja. Kemudian dia bertanya,
"Ada apa, Ken?"
"Lebih baik saya saja, Om yang memberitahukan pada kedua orang tua saya. Biar sekalian kami membicarakan untuk acara lamaran itu," jawab Kenzo sambil tersenyum, menutupi kegugupannya.
Gawat! Bisa batal lamaran jika sampai mereka menghubungi Mama atau Papa sekarang. Pasti mereka bilang jika tidak meneleponku. Pokoknya aku harus melarang mereka untuk menghubungi Mama ataupun Papa, Kenzo berkata dalam hatinya.
"Ya sudah, kalau begitu kamu saja Ken yang menyampaikan kabar ini pada kedua orang tuamu. Tolong sampaikan salam Om dan Tante pada kedua orang tuamu," tutur Rafael sambil bergerak kembali duduk santai, seperti sebelumnya.
"Baik Om, saya pasti akan sampaikan pada Mama dan Papa. Sekarang saya pamit dahulu, Om, Tante, Lio, Lia. Saya sudah tidak sabar untuk memberitahukan pada Mama dan Papa bahwa Adelia menerima perjodohan ini," ujar Kenzo sambil tersenyum.
Adelia beranjak dari duduknya, ketika Kenzo berdiri dan bersalaman dengan Ayana serta Rafael. Setelah Kenzo bersalaman dengan Adelio, gadis cantik itu berjalan bersama Kenzo meninggalkan ruangan tersebut, untuk mengantarkan keluar rumah.
"Sayang, aku pulang dulu. Aku akan menghubungimu setelah sampai rumah. Jangan kangen, kalau kamu kangen, langsung datang ke rumahku saja," tutur Kenzo sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Seketika wajah Adelia kembali merona. Dia berusaha menyembunyikannya, tapi sayangnya Kenzo sudah mengetahuinya.
"Gak usah malu, Sayang. Sebentar lagi kita juga akan menikah," ujar Kenzo sambil mengusap pipi Adelia.
"Sudah malam, pulanglah," ucap Adelia sambil mendorong tubuh Kenzo menuju mobilnya, yang berada tidak jauh dari mereka.
Kenzo terkekeh dan melambaikan tangannya, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya. Adelia masih berada di tempat itu, hingga mobil Kenzo hilang dari pandangannya.
Di dalam mobilnya, Kenzo teringat akan ponselnya. Dia menghentikan mobilnya dan mengambil ponsel dari dalam sakunya. Kemudian dia menekan tombol untuk menyalakan ponsel tersebut.
__ADS_1
Matanya kembali terbelalak, ketika ponselnya kembali berdering saat ponsel baru saja menyala.
"Halo. Kenapa kamu masih saja menghubungiku? Bukankah aku sudah melarang kamu untuk menghubungiku lagi?"