Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 39 Rencana Balas Dendam Intan


__ADS_3

"Apa kalian masih mengingat target yang dulu?" tanya Ruby, yang kini sudah menjadi Intan.


Apa mereka sepasang suami istri yang waktu itu, Bos? tanya seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan Intan melalui telepon.


"Iya, benar. Apa kalian bisa melakukan tugas yang sama?" tanya Intan dengan suara lirih dan melihat sekitarnya, layaknya seorang pencuri yang tidak ingin ketahuan dalam melakukan aksinya.


Bisa. Sangat bisa sekali Bos. Kapan kita akan memulainya? tanya laki-laki tersebut, yang terdengar sangat antusias.


"Akan aku berikan tugasnya secara rinci, serta fotonya," jawab Intan diiringi dengan seringainya.


Siap Bos. Akan segera kami laksanakan, setelah Bos memberikan perintah untuk bergerak, tukas laki-laki tersebut dari seberang sana.


Setelah itu, Intan menyudahi panggilan teleponnya dan segera mengirimkan foto pada orang yang baru saja dihubunginya. Selain itu dia juga memberikan perintah pada orang tersebut sesuai dengan keinginannya.


Bibirnya menyeringai, membayangkan keberhasilannya dalam membalas dendam yang sudah sejak lama ingin dilakukannya.


"Lihat saja, aku tidak akan gagal lagi. Cukup waktu itu aku gagal. Sekarang aku pastikan tidak akan gagal lagi," ucap lirih Intan diiringi seringai liciknya.


Wanita paruh baya yang masih terlihat sisa-sisa kecantikannya itu, kini merasa hidupnya sangat bersemangat. Dia seolah merasa hidup kembali dengan tujuan balas dendamnya, yang beberapa tahun hampir dilupakannya.


...----------------...


Pagi harinya, terdengar suara nyanyian Intan yang bersemangat dari dalam dapur. Bibir Fabian melengkung ke atas mendengar suara riang dari istrinya. Segera dia berjalan masuk ke dalam dapur untuk menghampiri istrinya.


Intan terhenyak ketika merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Bibirnya tersenyum tatkala meyakini jika tangan tersebut adalah tangan Fabian, suaminya.


"Sepertinya kamu sedang bahagia, Sayang," ucap Fabian yang sedang memeluk istrinya dari belakang.


Masih dengan kegiatannya mengaduk sayur dalam panci, Intan tersenyum mendengar ucapan suaminya. Kemudian dia berkata,


"Aku merasa sangat bersemangat sekali sekarang."


Fabian melepaskan pelukannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kedua bahu istrinya, menatap wajah istrinya dengan tatapan penasaran dan berkata,


"Apa ada sesuatu yang membuatmu sangat senang?"


"Sebentar lagi tujuanku akan tercapai," jawab Intan dengan wajah riangnya.

__ADS_1


Dahi Fabian mengernyit. Dia merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan istrinya. Ditatapnya wajah istrinya, seolah dia mencari jawaban dari wajah tersebut.


"Tujuan apa?" tanya Fabian dengan penasaran.


Intan tersenyum seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Tangannya mengusap lembut kedua bahu suaminya, seraya berkata,


"Nanti juga kamu akan tahu."


Jawaban dari Intan semakin membuat Fabian menjadi penasaran. Dia menatap istrinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Akan tetapi, dia masih mencari jawaban dari wajah istrinya.


Namun, Ruby yang kini menjadi Intan, masih tetap mempunyai bakat akting luar biasa. Bahkan Fabian yang sudah bertahun-tahun hidup dengannya pun tidak bisa membedakannya.


Dia mencintai Intan, dan itu membutakannya. Dia hanya bisa percaya dengan semua yang dikatakan oleh Intan padanya.


"Sudahlah Mas... tidak usah dipikirkan. Tunggu saja di meja makan, makanannya sudah siap. Aku akan menatanya di meja makan," tutur Intan sambil tersenyum manis pada suaminya.


"Biar aku bantu," tukas Fabian sambil meraih piring yang berisi lauk di tangan Intan.


Intan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia juga memberikan mangkuk sayur pada suaminya, untuk dibawa ke meja makan. Sedangkan dia membawa nasi dan teko yang berisi air putih, menyusul suaminya yang sudah berada di meja makan.


"Arion... Ayo cepat sarapan!" teriak Intan dari meja makan, sambil menata makanan tersebut.


"Apa Arion belum juga keluar, Sayang?" tanya Fabian sambil menoleh ke arah kamar putranya.


"Sepertinya belum. Aku belum melihatnya keluar kamar dari tadi malam," jawab Intan sambil mengambilkan nasi pada piring suaminya.


"Coba aku bangunkan dia," ucap Fabian sambil beranjak dari duduknya.


Seketika tangan Intan mencekal tangan Fabian, yang hendak meninggalkan tempatnya. Kemudian dia berkata,


"Biar aku saja yang memanggilnya. Lebih baik Mas minum kopinya saja dulu."


Fabian tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan istrinya. Dia kembali duduk dan menikmati secangkir kopi buatan istrinya.


"Arion... Arion... Bangun... Ayo kita sarapan sekarang!" seru Intan sambil mengetuk pintu kamar Arion.


Seruan itu kembali dilakukan oleh Intan setelah beberapa detik Arion tidak juga membuka pintunya. Tidak hanya itu saja, ketukan pintunya juga semakin keras diiringi seruannya.

__ADS_1


Namun, hanya dua kali saja dia melakukannya, Arion membuka pintu tersebut. Terlihat pemuda pemilik kamar tersebut sudah berpakaian seragam kerjanya. Akan tetapi, wajahnya memperlihatkan sesuatu yang berbeda.


"Arion, ada apa? Kamu terlihat tidak seperti biasanya. Apa ada yang kamu sembunyikan dari Ibu?" tanya Intan sambil menatap curiga pada putra sambungnya.


Arion tersenyum getir menanggapi pertanyaan dari ibu sambungnya. Dia masih enggan mengatakannya pada siapa pun.


Intan memegang pundak Arion. Dia menatap mata putranya dan berkata,


"Ibu tahu kamu sedang ada masalah. Apa Ibu bisa membantumu? Kamu tahu bukan, jika Ibu selalu bisa kamu andalkan?"


Arion menghela nafasnya, yang terasa berat menyesakkan dadanya. Hal inilah yang membuatnya tidak tega pada ibunya.


"Nanti saja Bu. Untuk saat ini Arion masih belum bisa untuk--"


"Apa ini ada hubungannya dengan Adelia?" tanya Intan menyelidik.


Sontak saja Arion terkesiap. Sudah bisa diduganya jika ibunya itu sangat bisa membaca tentangnya. Dia kembali menghela nafasnya dan membawa ibunya masuk ke dalam kamarnya.


Intan duduk di atas tempat tidur Arion, dan si pemilik kamar tersebut berlutut di depannya, seraya berkata,


"Sebenarnya kemarin malam Adelia menginginkan untuk memutuskan hubungan kami."


"Apa?!" celetuk Intan dengan membelalakkan matanya.


Arion tersenyum getir melihat ekspresi kaget dari ibunya. Sebenarnya dia tidak ingin memberitahukan hal ini pada kedua orang tuanya, karena dia tidak ingin kedua orang tuanya merasa sedih akan kandasnya hubungannya dengan Adelia.


"Kenapa bisa? Kenapa dia meminta hal itu? Apa ada masalah? Apa kamu membuatnya marah, sehingga dia ingin memutuskan hubungan kalian?" tanya Intan bertubi-tubi pada Arion.


Arion meraih kedua tangan ibunya. Dia menatap intens manik mata ibunya, dan tersenyum padanya, berharap bisa menenangkan ibunya.


"Ibu tidak perlu cemas. Saat ini, hubungan kami masih tetap seperti sebelumnya. Kami masih berstatus pacar. Jadi, Ibu tidak perlu mengkhawatirkan kami berdua. Ibu hanya perlu mengkhawatirkan kesehatan Ibu dan Ayah saja," tutur Arion untuk menenangkan ibunya.


Intan menghela nafasnya, melihat Arion yang tetap tidak mau jujur padanya. Dia menatap lekat manik mata putranya itu, seraya berkata,


"Katakan saja pada Ibu, apa alasan Adelia ingin mengakhiri hubungan kalian? Kamu tidak ingin Ayah dan Ibu terlalu berharap, bukan?"


"Sebenarnya... Adelia sepertinya sedang dekat dengan laki-laki lain Bu. Laki-laki itu kaya raya, dan sepertinya sudah akrab dengan keluarga Adelia," ucap Arion dengan memperlihatkan ekspresi sedihnya, membayangkan kembali Adelia sedang bersama dengan laki-laki yang dilihatnya waktu itu.

__ADS_1


"Apa? Sialan! Kenapa mereka tega melakukan itu pada anakku?!" ujar Intan dengan emosi yang menggebu-gebu.


__ADS_2